
Not a Stuntman!
Bab 3
“Apakah sudah siap?” tanya seorang wanita yang ditunjuk sebagai bridesmaid Alin.
“Sudah!” jawab sang MUA.
“Mari, Nona!”
“Apa kamu mau membantu saya kabur dari pernikahan ini?” Alin menatap sendu pada wanita muda itu.
“Lupakan!” sambung Alin melihat wajah bingung dari pendampingnya itu.
Sempurna! Satu kata yang menggambarkan penampilan Alin. Semua mata tak berkedip saat sang pengantin menuruni anak tangga. Mereka sangat takjub melihat penampangan indah di depan mata. Mungkin, jika para tamu undangan tahu pengantin wanita secantik itu, mereka rela menunggu lebih lama lagi.
Melihat Alin yang turun, Evano merasa ada yang janggal. Bukankah Friska yang akan menikah dengannya? tapi kenapa Alin yang berbalut gaun pengantin. Ia melirik ke arah Riga yang kebetulan menatapnya. Riga menganggukkan kepala sembari tersenyum manis. Evano paham maksud sang papa, tapi ia merasa aneh dengan raut bahagia yang terpancar dari wajah Riga.
“Isterimu cantik sangat, Tuan!” bisik salah seorang tamu yang berdiri di dekat Evano.
Evano hanya tersenyum miring menanggapi ucapan orang tersebut.
“Apa kau ingin menikah dengannya?” tanya Evano.
“Jika ada kesempatan saya tidak akan pernah menolak, Tuan.” ucap orang itu tersenyum merekah.
Pernikahan Evano dan Alin menjadi pernikahan termegah sepanjang sejarah. Mereka bak pangeran dan putri dalam cerita dongeng, tampil sangat menawan. Namun, dari wajah mereka tak terpancar kebahagiaan sedikit pun. Alin yang tampak murung dan bersedih, sedangkan Evano yang bersikap dingin dan cuek.
Tisya juga menyaksikan pernikahan putra sulungnya itu dari balik layar televisi, ia tidak bisa menahan air mata yang jatuh ketika tahu Evano kini sudah menikah. Namun, tidak meminta restu, bahkan memberitahu pun tidak.
“Hampir 20 tahun, Van! Kamu tidak pernah mau bertemu dengan mama, bahkan enggan menatap mama. Sekarang kamu menikah tanpa memberitahu mama,” Tisya mengusap sudut mata yang berair.
“Sayang, kenapa menangis?” tanya suami Tisya—Sandro. Kemudian ia melihat apa yang di tonton istrinya.
“Itu pernikahan putramu?” tanya Sandro.
“Iya, Mas!” jawab Tisya lemah.
“Pestanya megah sekali,” tutur sandro.
Namun, Tisya hanya melirik tanpa ingin menanggapi.
Sejak Tisya memilih keluar dari rumah, baik Riga maupun Evano tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan Tisya. Mereka seperti memiliki dunia yang tidak saling terhubung. Walaupun takdir mempertemukan mereka, Evano dan Riga memilih berpura-pura tidak acuh.
Tisya menyesal telah meninggalkan Evano, demi hidup bergelimang harta ia menyia-nyiakan anaknya. Kini semua sudah terlambat, nasi sudah menajdi bubur. Tisya sudah kehilangan kepercayaan sang putra.
“Apa kamu ingin datang ke sana?” tanya Sandro merangkul sang isteri.
Tisya menggeleng pelan dengan air mata yang masih terurai.
Sandro dapat merasakan pilu sang isteri, tapi ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Tisya meninggalkan sang putra juga karena permintaannya dulu.
Sebelum memilih menikahi Tisya, Sandro tahu jika ia sudah memiliki suami dan seorang anak. Karena tahu suami Tisya tidak lebih baik darinya, Sandro semakin gencar mendekati Tisya. Sandro berjanji akan membahagiakan Tisya, jika bersedia menikah dengannya. Karena ingin merubah kehidupan yang pas-pasan, Tisya menerima lamaran Sandro meski harus kehilangan sang anak. Karena sandro tidak ingin Tisya membawa apapun dari mantan suaminya, termasuk Evano.
“Aku ke kamar dulu, Mas!” Tisya beranjak meninggalkan Sandro.
“Aku temani, ya?” tawar Sandro.
“Tidak perlu, Mas. Aku ingin sendiri.” Sandro merasa bersalah pada Tisya, secara tidak langsung ia sudah memutus hubungan ibu dan anak.
Warna kemerah-merahan mulai menghiasi langit, Alin semakin gelisah. Ia tidak sabar untuk mengunjungi sang kakak di rumah sakit. Evano menyadari keresahan Alin, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk bertanya.
Setelah para tamu bubar, Alin segera menghampiri Riga untuk meminta izin menjenguk Friska. Awalnya Riga tidak memberi izin, ia menyuruh Alin menunggu sebentar lagi. Namun, Alin tetap ingin pergi sekarang, Riga terpaksa memberi izin dengan catatan harus diantar supir.
Rumah Sakit
Alin tergesa-gesa menyururi lorong rumah sakit, ia memacu langkah agar segera mencapai ruangan sang kakak.
“Bagaimana keadaan kak Friska, tante?” tanya Alin ketika melihat Heera memandang Friska di balik kaca.
Heera mengepalkan tangan ketika mendengar suara wanita yang sangat ia benci. Wajah memerah menahan emosi, ia berbalik menatap nyalang pada pemiliki suara.
PLAK!
PLAK!
Pipi kanan dan kiri Alin di tampar sangat keras, bahkan ada darah di sudut bibir wanita yang baru menikah itu.
“Kenapa tante menamparku?” tanya Alin memegang pipi yang terasa memanas.
Heera tersenyum sinis, “Masih bertanya kenapa? Dasar wanita busuk!” tudingnya.
“Kamu sudah merebut posisi putri saya! Kamu menghancurkan kebahagiaannya,” teriak Heera.
“Aku juga tidak mengingikan ini tante, tapi aku tidak punya pilihan lain.” Suara Alin bergetar menahan tangis.
“Sok polos!” Heera ingin menampar Alin lagi, tapi suara seseorang menghentikan aksi Heera.
“Berani sekali anda melukai menantu saya, Nyonya!” Aura Riga terlihat sangat menakutkan.
“Tuan?” Heera membeku, perlahan ia menurunkan tangannya.
“Ternyata anda sangat kejam, Nyonya!” seru Riga saat telah berada diantara mereka. Ia sendirian, sedangkan Evano tidak bisa datang karena memiliki kepentingan lain.
“Dia pantas mendapatkannya!” ketus Heera.
“Heh ... saya bersyukur putra saya tidak jadi menikah dengan putri dari wanita kejam seperti anda,” cibir Riga.
“Jaga ucapan anda, Tuan!”
Riga bersidekap dada, menatap Heera mengintimidasi.
“Anda menyalahkan Alin atas semua ini, padahal kalian sendiri yang menyebabkan pernikahan Alin dan Evano terjadi.
“Alin tidak bersalah! Dia melakukan atas permintaan saya. Mungkin ini takdir, agar putra saya mendapatkan isteri yang baik.”
Riga membawa Alin pergi dari sana, ia tidak akan membiarkan wanita jahat seperti Heera menyakiti putri sahabatnya.
“Om! Alin harus menengok keadaan kak Friska,”
“Ibunya tidak menginginkan kehadiranmu, jadi tidak perlu memaksakan diri.” Riga berkata dengan tegas.
Heera mengumpat dan memaki mereka, ia bersumpah bahwa Friska akan mendapatkan kembali posisinya.
“Aku akan membuatmu menderita, Alin! Dan kau tuan Riga Xander, saya pastikan Friska akan menikah dengan putra anda.” Heera tersenyum jahat dengan tangan yang mengepal.
Alin sedang berada di dalam mobil bersama Riga, ia sangat prihatin dengan kondisi sang menantu. Riga mengobati pipi Alin dengan pelan, ia memperlakukan Alin seperti putri sendiri. Riga juga berjanji dalam hati akan melindungi Alin dari orang-orang yang akan menyakitinya.
“Om?” Alin memegang tangan Riga.
“Panggil saya papa! Sekarang kamu juga putri saya,” Riga membelai lembut rambut Alin.
Mata Alin berkaca-kaca dengan perlakuan Riga, ia seperti mendapatkan kembali kasih sayang seorang ayah.
“Boleh aku memeluk pa−pa?” tanya Alin.
Riga merentangkan tangan mengisyaratkan agar Alin memeluknya. Tanpa menunggu lama, Alin menubruk tubuh kekar itu.
Setelah berada di rumah, Alin diantar Riga menuju kamarnya bersama Evano. Alin sangat gugup karena baru kali ini ia berada di ruangan tertutup dengan seorang laki-laki. Evano berdiri dan mendekati Alin.
Bersambung ...
Anda Mungkin Juga Suka





