Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nona Hujan, Cobalah Diriku!

Nona Hujan, Cobalah Diriku!

Akibat dosa masa lalu, Kerajaan Meng didera kekeringan hebat selama puluhan tahun. Di tengah penderitaan rakyat, Putra Mahkota Li Yun Zhu mencari cara menyelamatkan negerinya. Harapan muncul pada sosok Su Yu Er dari Suku Chang'o yang konon mampu mendatangkan hujan. Namun, Yun Zhu terjebak dilema besar. Ia harus memohon bantuan kepada keturunan bangsa yang pernah dibantai keluarganya sendiri. Akankah dendam lama menghalangi keselamatan seluruh kerajaan?
Bab
Bagikan

Bab 3

****

Rombongan pria berkuda menghentikan laju kuda tepat di depan halaman rumah keluarga Su. Seluruh warga mulai tampak berkerumun ketika pria-pria tampan itu turun dari kuda dan menyapa sang tuan rumah.

"Maaf Tuan, apakah benar di sini adalah rumah keluarga Su?" tanya Li Yun Zhu dengan sopan pada pria tua yang kini tengah menghampirinya.

Raja kerajaan Meng mengenakan hanfu sederhana warna hitam, rambutnya diikat tinggi dengan tali seadanya. Pria itu tengah menyamar menjadi rakyat biasa demi mendekati keluarga Su.

"Benar, Anak muda. Siapa dirimu? Sepertinya kau seorang yang terpelajar," tebak Su Murong berdiri di hadapan Li Yun Zhu dengan tubuh kurusnya.

Li Yun Zhu menyipitkan bola mata, menelisik penampilan sederhana pria tua yang dianggap sebagai pimpinan suku Chang'o.

"Saya ada keperluan dengan Tuan Su Murong," ucap Li Yun Zhu lalu tersenyum dengan ramah.

"Kalau begitu masuklah ke dalam rumah. Kita bisa berbicara sembari meminum anggur," sambut Tuan Su Murong dengan hangat sembari menepuk bahu pria tersebut.

"Baik Tuan," patuh Li Yun Zhu segera masuk ke dalam rumah sederhana milik keluarga Su.

Dengan diikuti beberapa pengawal setia, Li Yun Zhu memasuki rumah dan memilih duduk dengan tenang. Sepertinya keluarga Su begitu ramah dan tidak berbahaya, itulah kenapa ia memilih untuk menyingkirkan berbagai senjata dari tangannya.

"Anak muda, katakan apa keperluanmu?" tanya Su Murong ketika duduk tepat berhadapan dengan Li Yun Zhu.

Sang raja tersenyum samar, ia lalu menatap pria tua tersebut dengan tatapan ramah.

"Tuan Su, aku diperintahkan Raja Li Yun Zhu untuk-,"

TRANG.

Suara pedang mendadak diangkat dari sarungnya, seluruh keluarga Su yang turut hadir mendadak berdiri sambil mengangkat pedang tinggi-tinggi. Hal itu membuat Li Yun Zhu merasa kaget luar biasa. Sebegitu sensitifnya-kah jika Suku Chang'o mendengar Kerajaan Meng?

Su Murong mengangkat tangannya, meredakan kemarahan pasukan suku Chang'o yang mendadak membara.

"Ayah, apa yang kau lakukan? Kita sudah tidak pernah menerima tamu dari Kerajaan Meng," tegas Su Li Jong marah.

"Benar Ayah! Sampai titik darah penghabisan, kami tidak akan menerima bagaimana raja terdahulu mereka membantai leluhur kita," imbuh Su Moran tak kalah kesal.

"Turunkan pedang kalian! Biarkan dia melanjutkan ucapannya," ucap Su Murong dengan tenang seraya menatap tajam ke arah Li Yun Zhu.

Raja Kerajaan Meng menghela napas ketika satu per satu dari mereka menurunkan pedang dan bersedia mendengar penjelasan darinya.

"Lanjutkan ucapanmu, Anak muda!"

"Aku diperintahkan Yang Mulia Li Yun Zhu untuk membawa titisan Dewi Hujan ke istana. Kekeringan yang panjang harus segera berakhir maka dari itu Raja Li Yun Zhu meminta bantuan pada keluarga Su akan kemurahan hatinya," ucap Li Yun Zhu lalu membungkukkan badan.

"Ayah, aku tidak bersedia jika ia membawa Su Yu Er pergi," sahut Su Li Jong pada ayahnya.

"Aku juga Ayah. Mereka pantas mendapatkan kekeringan panjang, itulah akibatnya jika tidak menghargai suku Chang'o. Kesalahan masa lalu tidak bisa ditebus oleh apapun," tegas Su Moran mengimbuhkan.

Su Murong masih saja terdiam, sepertinya ia tengah menimbang-nimbang jawaban apa yang pantas untuk ia katakan.

"Apakah kau tahu Anak muda, suku Chang'o memiliki perseteruan dengan Kerajaan Meng. Raja terdahulu telah membantai leluhur kami, bagaimanapun hal itu paling menyakitkan buat suku kami. Anak muda, kekeringan yang menimpa Kerajaan Meng adalah karma. Kami suku Chang'o tidak terlibat dalam hal ini jadi sampaikan pada rajamu, kami hanya rakyat kecil dan kami tidak memiliki titisan dewi tersebut," ujar Su Murong dengan serius dan hati-hati.

"Tuan Su, apakah kau tidak takut jika suatu hari nanti Raja Li Yun Zhu datang dan mengobrak-abrik sukumu dikarenakan kau telah menolak keinginannya?" pancing Li Yun Zhu seraya menyipitkan matanya.

"Sekuat apapun Kerajaan Meng, suku Chang'o tidak gentar. Katakan hal itu pada rajamu!" sahut Su Moran masih beringas.

Li Yun Zhu melirik sejenak ke arah Su Moran, dalam benaknya ia tengah menandai pria tersebut jauh di dalam hatinya.

Menghela napas berat, Li Yun Zhu membungkuk hormat sejenak. Jika ia menyerang karena emosi sesaat maka kedoknya yang berpura-pura sebagai rakyat biasa akan mudah terbongkar. Berdiri di tengah suku Chang'o jika tidak berhati-hati maka ia akan celaka sendiri.

"Baik Tuan Su, aku akan kembali ke istana dan melaporkan jawaban Anda. Terimakasih sudah bersedia menyambutku," pamit Li Yun Zhu tenang.

Pria berwajah rupawan itu segera berdiri, membungkuk dengan hormat ke arah ketua suku Chang'o, Su Murong.

Tak kalah hormat, pria tua tersebut membalas penghormatan Li Yun Zhu dengan membungkuk juga. Mereka bertatapan sejenak sebelum Li Yun Zhu keluar dari kediaman sederhana Keluarga Su.

Berjalan pelan keluar rumah, Li Yun Zhu mengabaikan beberapa pengawalnya yang bergumam karena kecewa. Tatapan mata pria itu membawa sejuta perasaan tak tertebak. Entah apa lagi yang harus ia rencanakan untuk mengakhiri kekeringan di wilayahnya.

Tatapan Li Yun Zhu beralih ketika ia berpapasan dengan sosok berjubah hitam. Jubah itu-,

Memori otak Li Yun Zhu mengingatkan pria 24 tahun itu akan peristiwa penyusupan beberapa tahun lalu di kediaman Naga Merah. Jubah itu hampir sama dengan yang dikenakan sosok tersebut.

Menoleh ke arah sosok yang didampingi wanita tersebut, perasaan Li Yun Zhu mendadak berdebar. Meski sang Sosok tidak menoleh ataupun memperlihatkan wajahnya, Li Yun Zhu yakin dan masih  mengingat akan wajah perempuan tersebut.

"Yang Mulia, ada apa?" bisik salah satu pengawalnya ketika menyadari langkah Li Yun Zhu terhenti dan terus mengamati sosok tersebut.

"Ah...tidak apa-apa. Mari kita pergi!"

****

Sesampainya di istana Meng, wajah Li Yun Zhu terlihat mendung. Berjalan cepat menuju ke kediaman Naga Merah, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia pastikan.

Beberapa prajurit yang berjaga membungkukkan badan ketika mendapati Li Yun Zhu melewatinya. Pria itu terlihat ambisius, ia harus melihat jubah itu. Jubah hitam milik seorang perempuan yang telah berani mengambil kalung langsung dari lehernya.

Sesaat setelah sampai di depan kediaman Naga Merah, pria bermanik kelam segera membuka pintu dengan rasa tidak sabar. Pandangannya yang tajam hanya tertuju pada satu lemari dimana ia telah menyimpan jubah tersebut dan memutuskan untuk membungkam kasus penyusupan beberapa tahun lalu.

"Yang Mulia, apakah hamba bisa membantu Anda mencari sesuatu?" tanya pelayan setelah membungkuk hormat dengan wajah ketakutan.

"Pergilah! Tinggalkan aku sendiri," instruksi Li Yun Zhu tegas. Para pelayan serentak membungkukkan badan lantas pergi dari hadapan Li Yun Zhu.

Sang Raja membuka lemari, mencari jubah hitam dibalik tumpukan pakaian-pakaiannya. Mata pria itu melebar, ia mengambil jubah hitam dari tempatnya dan memeriksanya sekali lagi.

"Jubah ini sama seperti yang dipakai sosok itu. Mungkinkah dia orang yang sama pada saat penyusupan kala itu?" gumam Li Yun Zhu pada dirinya sendiri.

Li Yun Zhu kembali mengamati jubah hitam. Terlintas di otaknya siapa sosok dibalik jubah tersebut, seorang perempuan dengan rambut yang bersinar di kegelapan. Bagaimana bisa wanita itu merampas kalung dari lehernya?! Kenapa wanita itu harus senekat itu demi mendapatkan kalung tersebut.

"Sepertinya aku harus segera menyelidikinya."

*****

Kedatangan tamu dari kota beberapa saat lalu membuat suku Chang'o sedikit menegang. Ancaman dari kota tidak bisa diabaikan apalagi diremehkan. Hal itu tidak berlaku untuk Su Yu Er, justru gadis itu dengan tenang memasuki kamarnya seolah tidak terjadi apapun.

Melepaskan jubah hitam yang menutupi tubuhnya, Su Yu Er tampak mengeluarkan beberapa biji buah-buahan yang ia kumpulkan dari semak-semak. Dengan hati-hati ia menaruh di meja, tanpa sepengerahuan ayahnya ia bisa makan buah dari semak-semak dengan leluasa.

Namun belum sempat ia memakannya, Su Li Jong masuk ke kamarnya tanpa permisi. Satu hal yang sangat ia tidak sukai dari kakaknya.

"Yu Er, apa yang kau lakukan?" tanya Su Li Jong sembari memeluknya dari belakang.

Karena goncangan yang hebat dari Su Li Jong, beberapa buah tersebut menggelinding jatuh ke lantai.

"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membuatku mati kehabisan napas?" ujar Su Yu Er seraya mencoba melepaskan diri dari pelukan sang Kakak.

Su Li Jong melepaskan pelukannya, ia lantas duduk di samping adiknya dan mengamati beberapa buah yang menggelinding jatuh ke lantai.

"Wah kau menyukai buah rasberry ya? Kenapa kau tak mengatakannya padaku?" ucap Su Li Jong berbinar ketika mendapati buah Rasberry menggelinding ke arahnya. Tanpa rasa bersalah, ia mengambil buah itu dan memasukkannya ke dalam mulut.

"Kakak, hentikan! Jangan makan buahku. Aku sudah bersusah payah menyembunyikannya dan kau justru datang hanya untuk memakannya," dengkus Su Yu Er sembari memunguti buah yang tersisa.

"Aku bisa mencarikannya untukmu," tawar Su Li Jong membuat tatapan Su Yu Er beralih ke arahnya.

"Dan kau akan membongkar kebiasaanku mencari buah secara diam-diam pada Ayah, iya kan?" sahut Su Yu Er mengandung rasa tak percaya.

Su Li Jong terdiam, ia menelan buah rasberry yang ia makan lalu meraih jemari adiknya. Mengamati sejenak tangan Su Yu Er yang penuh goresan akibat semar berduri, Su Li Jong menatap manik mata adiknya.

"Aku bisa memberikan buah Rasberry yang kau sukai sepanjang waktu tanpa harus ketahuan Ayah. Lihatlah tanganmu penuh dengan goresan duri," ucap Su Li Jong merasa khawatir ketika mengamati luka di tangan Su Yu Er.

"Sudahlah, keluarlah dari kamarku. Aku ingin beristirahat," ucap Su Yu Er seraya melepaskan genggaman tangan kakaknya.

Gadis itu berpura-pura memunguti buah yang jatuh dari meja namun Su Li Jong kembali meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

"Yu Er, aku menyukaimu."

Tatapan keduanya bertemu. Perasaan Su Yu Er mendadak tidak nyaman, gadis itu sebenarnya selalu menghindar dari kakak-kakaknya namun entah kenapa sepertinya waktu tidak pernah mendukung keputusannya.

"Yu Er aku benar-benar menyukaimu," ucapnya sekali lagi seraya menatap Su Yu Er begitu dalam.

Mengatasi rasa canggung dan tak ingin menyinggung perasaan kakaknya, Su Yu Er perlahan tersenyum manis. Gadis itu melepaskan perlahan tautan tangan kakaknya.

"Kakak, jangan menakutiku dengan mengatakan sayang secara berlebihan. Kita dilahirkan dari satu rahim, sudah sewajarnya jika kita saling menyayangi."

Su Yu Er lalu mengambil Rasberry, pura-pura mengamati agar terhindar dari tatapan mata Su Li Jong.

Pria itu menghela napas sedikit berat, "Kita sudah dinikahkan. Apa kau lupa?"

Su Yu Er terdiam, bibirnya bergetar karena merasa bingung harus menjawab seperti apa. Tangannya gemetar, ia sungguh tak mampu menawan rasa takut di dadanya.

"Yu Er, aku yakin kita sudah sama-sama dewasa. Ayah juga sudah menua dan tidak sekuat dulu lagi. Yu Er, aku harap kau membiarkan aku mengunjungimu lebih sering lagi," ungkap Su Li Jong pelan.

Wajah Su Yu Er merebak merah, ia sungguh tidak bisa menyembunyikannya. Perlahan Su Li Jong merapatkan duduknya, menyentuh wajah Su Yu Er dan menatap bola matanya yang indah.

"Yu Er, aku benar-benar menyukaimu. Benar-benar mencintaimu," bisik Su Li Jong seraya mendekatkan wajahnya ke hadapan Su Yu Er.

Gadis itu menegang, ia tidak bisa menerima ciuman kakaknya dengan alasan apapun.

" Su Li Jong, beri aku sedikit kebebasan. Bagaimanapun aku adalah adikmu. Jangan memaksaku atau aku akan pergi dari hidupmu."

Su Li Jong menghentikan dirinya, ia mengurungkan niat untuk mencium adiknya. Menghela napas, Su Li Jong kembali berbisik, "Ya, aku mengerti."

**********************

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dekapan Gairah Mafia Kejam
9.7
Isabella Moretti kehilangan segalanya saat Lorenzo Ricciardi, mafia sadis, menghabisi orang tuanya. Bukannya dibunuh, Isabella justru dijadikan tawanan pribadi sang penguasa dunia bawah tanah. Meski Lorenzo dikenal kejam, sisi lembutnya mulai meluluhkan hati Isabella hingga tumbuh gairah di tengah dendam. Namun, situasi rumit saat Isabella hamil anak Lorenzo. Kini ia terjebak antara misi balas mati keluarga atau menyerah pada cinta sang iblis yang telah mencuri hatinya.
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Letnan Imam mengutamakan tugas negara, namun pengkhianatan Serda Resti menghancurkan janji suci mereka. Meski Resti telah menjadi milik orang lain, bayangannya tetap ada. Pasca kecelakaan, Imam menemukan cinta baru pada Dokter Utami. Namun, penugasan ke Lampung mempertemukannya dengan Lita, pelajar yang mirip Resti. Saat kesetiaannya diuji, Utami memilih berpisah sementara Lita sudah memiliki kekasih. Siapakah yang akhirnya akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel Fulfi
8.6
Fulfi, model cerdas berusia 20 tahun yang hidup sebatang kara, mendirikan yayasan wanita demi mencegah penderitaan serupa menimpa orang lain. Namun, hidupnya hancur setelah menjadi korban pemerkosaan hingga hamil. Saat berjuang menata ulang karier di tengah sabotase pihak yang membencinya, Fulfi justru berhadapan dengan ancaman besar yang menyeretnya bertemu dalang di balik tragedi masa lalunya. Mampukah ia bertahan dan kembali meraih kesuksesan di dunia modeling?
Sampul Novel Gadis Milik Tentara Arogan
9.3
Amore Acresia terpaksa pulang ke Kudus akibat pandemi global saat menempuh studi di Los Angeles. Namun, kepulangannya berujung petaka ketika ia tak sengaja menabrak Alexander Yudha, seorang tentara arogan yang sedang bertugas. Ponsel Alex hancur terlindas mobil akibat insiden itu, memicu kemarahan sang prajurit yang menuntut pertanggungjawaban penuh dari Acre. Meski berawal dari konflik tajam, benih asmara mulai tumbuh di antara mereka sebelum tugas memisahkan keduanya.
Sampul Novel Istriku Disiksa Sampai Gila
9.4
Kepulanganku yang tak terduga dari Taiwan ke kampung halaman justru disambut oleh kenyataan pahit yang menghancurkan jiwa. Aku menemukan istri tercintaku telah kehilangan kewarasannya, sementara buah hati kami dikabarkan sudah tiada. Di balik duka ini, muncul kecurigaan mendalam terhadap kebenaran yang ada. Benarkah semua kesaksian dari pihak keluargaku bisa dipercaya? Aku harus mengungkap misteri kelam di balik tragedi yang menimpa keluargaku.
Sampul Novel Mantan Istriku yang Penurut Adalah Seorang Bos Rahasia?!
9.4
Tiga tahun Emilia mengabdi sebagai istri penurut Brandon berakhir sia-sia demi wanita lain. Namun, setelah bercerai, ia muncul kembali sebagai sosok tangguh yang jauh berbeda. Brandon terkejut saat mengetahui identitas rahasia Emilia sebagai peretas, dokter, hingga pembalap. Saat pria itu berusaha mengejarnya kembali, Emilia justru menikmati kebebasan dan menunjukkan keahliannya yang tak terbatas. Kini, Brandon harus menghadapi kenyataan bahwa mantan istrinya adalah bos rahasia.