Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Noda Darimu

Noda Darimu

Violetta Gilda terjebak dalam masalah besar setelah satu malam tak terduga bersama kekasih sahabatnya, Biantara Edzhar Martinez. Kejadian di pesta itu membuat Gilda hamil, hingga kakek Edzhar memaksanya menikah untuk menutupi aib. Carla yang murka bekerja sama dengan ibu Edzhar guna menghancurkan Gilda lewat skema pernikahan kontrak. Kini Gilda harus berjuang demi sang anak sambil memendam rasa cinta yang kian tumbuh pada Edzhar. Akankah cinta itu terbalas?
Bab
Bagikan

Bab 2

Selesai mencuci gelas di dapur, Gilda didatangi oleh sopir keluarga dari Martinez. Pria itu diperintahkan Mateo untuk mengantarnya pulang. Ia pun dengan rasa sungkan menerima perlakuan baik Mateo. Gilda begitu merasa bahwa dirinya sangat merepotkan, tapi Mateo selalu memaksanya.

“Jika kau tidak menerima perlakuan baikku, aku merasa gagal memperlakukan seorang tamu yang sudah kuanggap bagian dari keluargaku sendiri, Nak ...,” ucap Mateo sebelum dia melihat Gilda masuk ke dalam mobilnya. Pria tua itu melambaikan tangan hingga mobil putihnya menjauh dari halaman rumah, dan benar-benar tak terlihat. “Kau sungguh kuanggap seperti cucuku sendiri, Gilda. Seperti kasih sayang seorang kakek terhadap cucunya, aku pun tidak rela sesuatu yang terburuk terjadi padamu.”

*

Satu minggu penuh Gilda tidak pernah mengabari Edzhar apalagi bertemu. Gadis itu benar-benar tidak berani jika harus berhadapan dengan sahabatnya. Gilda takut kalau peristiwa malam itu kembali mengusik, dan membuatnya kembali kepikiran. Alhasil, dia hanya menyibukkan diri di toko roti. Edzhar sendiri juga tidak menghubunginya sampai detik ini.

Pagi-pagi sekali gadis itu sudah bergabung dengan para pekerja di ruang khusus produksi roti. Tugas Gilda adalah menimbang berat adonan roti satu-persatu dan membentuknya menjadi bulatan. Sementara dua karyawan di sekitarnya tengah mengisi adonan yang siap dihias dengan cokelat, kacang, dan berbagai topping lain. Satu pegawai laki-laki berdiri memasukkan roti yang sudah dihias ke dalam oven.

Gilda yang asyik membentuk adonan roti, mendadak dikejutkan dengan sang bibi yang masuk dan mengatakan, “Edzhar datang ke toko mencarimu.” Dengan kaget Gilda berdiri. “Temuilah, sepertinya ada hal serius yang ingin dia bicarakan.”

“E-Edzhar?” Dalila mengangguk. Dengan sangat gugup, Gilda berjalan ke wastafel, mencuci tangan sebelum menemui lelaki itu. “Apa mungkin Ed sudah ingat apa yang kami lakukan malam itu?” gumamnya di dalam hati sambil berjalan menuju pintu keluar.

Sampai di toko roti, pria berkemeja putih bersih itu membelakanginya. Dengan menarik napas panjang Gilda memanggil, “Ed?” Pria yang dipanggil itu menoleh. “Apa yang membawamu ke sini?” tanyanya seraya menghembuskan napas dan tersenyum.

“Aku ingin mengundangmu ke acara tunangan sekaligus lamaran.”

Gilda yang semula gugup, jadi bingung. Dengan dahi berkerut, dia bertanya, “Memangnya siapa yang akan bertunangan?”

“Sore nanti aku akan melamar Carla,” ungkap pria yang tengah tersenyum lebar itu. “Kakek dan aku akan mendatangi keluarganya. Kakek memintaku untuk mengajakmu, karena itulah aku langsung ke tokomu.”

“Untuk apa aku ikut? Aku bukan keluargamu, Ed. Aku tidak seharusnya ikut.”

“Kakek sudah menganggapmu sebagai cucunya, Gilda.” Edzhar dengan senyum tampannya mengambil salah satu tangan Gilda dan meneruskan, “Jadi, ikutlah ... aku juga akan senang kalau sahabatku datang di hari baikku. Kakek yang sudah mempersiapkan acara mewah ini, pasti beliau mengundang banyak orang.”

Gilda ber-oh ria. “Berarti acara lamaran kalian tidak privasi?” Edzhar menggeleng dengan senyum lebarnya.

“Bagaimana? Kau akan datang, ‘kan?”

Mendengar pertanyaan Edzhar dan melihat senyum cerah terpatri di wajah lelaki itu, entah mengapa tiba-tiba ada perasaan sedih yang bersarang di dalam hati Gilda. Hatinya terasa aneh, seperti ada rasa tak rela Edzhar melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama Carla. Jauh di lubuk hati Gilda, ia tak suka, dan tidak terima. Meski begitu, Gilda tetap mengangguk karena masih sadar bahwa dirinya cuma sahabat. 

“Aku tidak bisa menolak kalau kakek yang mengajakku,” ucap Gilda kemudian yang membuat Edzhar terkekeh. “Salah kalau aku melarangmu melamarnya, Ed. Kita bukan sepasang kekasih, dan ... malam itu adalah kesalahan yang memang tidak pantas kita lakukan ...,” sambung Gilda di dalam hati.

“Ah, aku lupa ... sebentar, kau tunggu di sini. Ada sesuatu untukmu dan tertinggal di dalam mobilku, akan aku ambilkan.”

“Oke,” jawab Gilda sambil mengangguk. 

Edzhar balik badan dan berlari kecil keluar dari toko roti Gilda. Pria itu kembali dengan membawa sebuah paper bag. Sembari memberikannya pada Gilda, dia berujar, “Itu untukmu, kakek yang membelinya, tapi aku belum melihat isinya.”

Gilda menerima paper bag yang disodorkan Edzhar padanya, dan bertanya, “Apa ini?”

Edzhar mengangkat bahu, tak tahu. “Sepertinya gaun untukmu yang harus kau pakai nanti sore,” dugaannya dengan mengelus pundak Gilda. “Baiklah, aku harus pergi. Kau harus datang, Gil. Aku tunggu kehadiranmu sore nanti,” pesannya yang dibalas Gilda dengan anggukan dan senyuman. “Tampillah dengan sangat cantik, supaya kau bisa menemukan laki-laki terbaik di acaraku nanti.” Sesudah mengatakan itu pria yang memakai kemeja putih lengan pendek itu benar-benar beranjak dari toko roti Gilda. Meninggalkan Gilda yang memandangi paper bag dari Mateo. 

“Itu apa?” tanya Dalila yang keluar dari ruang produksi dan menghampiri Gilda. Matanya tertuju pada tas berbahan kertas di tangan sang keponakan. “Baju?”

Gilda mengangguk. “Sepertinya gaun untukku, Bi. Aku lanjut kerja dulu,” pamitnya dan melewati sang bibi. Ia tak langsung bekerja, tapi masuk ke ruangan khusus untuknya dan sang bibi yang biasanya digunakan untuk beristirahat dan menghitung hasil penjualan. “Aku jadi penasaran seperti apa gaun pilihan kakek untukku ...,” gumamnya sambil meletakkan paper bag tersebut di atas sofa. Sesudah itu ia beranjak pergi dari sana dan masuk ke ruang pembuatan roti.

*

Gaun maxi berwarna merah tampak gemerlapan karena dipenuhi payet di bagian dadanya sampai perut, dan di sekitar pinggang. Gilda yang datang dengan tampilan memukau itu pun menjadi sorotan para tamu. Tak jarang para pria muda di sana mencuri pandang ke arahnya, dan Gilda yang berjalan dengan tidak nyaman, netra cokelatnya mulai mencari-cari tempat paling sepi.

“Kau sendirian, Nona?” tanya seorang pria yang tiba-tiba sudah berada di sisi kiri Gilda, dan perempuan itu lantas menoleh, lalu menganggukkan kepala. Tanpa Gilda duga, pria tampan itu mengulurkan tangan kanan pada Gilda sembari melanjutkan, “Kendrick Jonas Hernandez. Kau sendiri siapa?”

Gilda terdiam sebentar seraya melirik tangan itu, yang membuat ujung jarinya semakin maju ke arah Gilda. “Violetta Gilda,” jawab Gilda yang mau tidak mau memberikan senyum ramah untuk pria tinggi di hadapannya ini. 

“Kau yakin tidak datang bersama pasanganmu?”

Belum sempat Gilda menjawab, pembawa acara di sana menyapa para tamu dan acara pun sudah dimulai. Gilda lantas diajak Kendrick ke salah satu meja yang tersedia untuk dua orang, karena yang tersedia di acara itu hanya dua tipe meja, meja untuk empat orang dan dua orang saja. Kebetulan yang tersisa hanya tipe meja dengan dua kursi. 

“Kau yakin tidak datang bersama pasanganmu, Nona Violet?”

Gilda melirik Kendrick dan menggeleng. “Tidak. Lagi pula sebenarnya aku bukan keluarga dari Edzhar, kakek Mateo yang mengundangku ke acara ini. Ngomong-ngomong, nama panggilanku Gilda, panggil saja Gilda ....”

“Tapi aku suka dengan nama Violet, terdengar cantik dan cocok untukmu.”

Gilda dengan spontan mendelik dan ekspresi itu membuat Kendrick tertawa kecil. “Aku jarang sekali dipanggil Violet.”

“Baiklah, Gilda ... jadi, kau bukan saudara jauh Edzhar?”

Gilda menjawab ‘tidak’ dengan singkat dan memilih fokus pada MC yang membuka

sesi acara dengan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang datang.

Kendrick mengangguk paham dan lanjut bertanya, “Jika begitu, apa hubunganmu

dengan kakek?”

“Ed dan aku adalah teman kuliah hingga sekarang. Karena itu

kakek Mateo menganggapku sebagai keluarganya,” terang Gilda singkat.

Sesudah itu keduanya memerhatikan acara, dengan Kendrick yang tak bisa berhenti menatap Gilda sepenuhnya. Lelaki itu teramat kagum dengan pesona Gilda pada sore ini, dan berharap Mateo mengizinkannya untuk mengenal Gilda lebih jauh. Hanya Gilda yang benar-benar fokus pada MC di depan

sana.

Acara lamaran itu berlanjut pada sang MC yang menceritakan perjalanan kisah cinta Biantara Edzhar Martinez dan Carla Florine dengan cukup detail. Mulai dari berkenalan, berpacaran, sampai ada di titik ini. Mendengar

baik-baik semua itu, tanpa sadar air mata Gilda menetes. Menghapus air matanya dengan hati-hati, Gilda bangkit berdiri, dan pamit pada Kendrick, “Aku ingin ke kamar kecil.”

“Kau ingin kutemani?”

“Tidak perlu, sepertinya aku akan lama,” jawab Gilda yang langsung pergi. Buru-buru Gilda keluar dari ruang khusus acara dan memilih lari ke taman depan rumah Carla. Kebetulan taman tersebut sepi. Semua

orang benar-benar sedang di dalam, dan Gilda merasa sangat lega setelah duduk di salah satu bangku hitam dengan napas panjang berhembus dari hidungnya.

“Seharusnya kau tidak boleh begini ...,” bisik Gilda pada dirinya sendiri sambil menatap langit yang mulai gelap di atas sana.

“Kau mencintai Edzhar?” tanya pria yang baru dikenalnya tadi itu dengan wajah datar. Ia mendekati Gilda dan berakhir duduk di sebelahnya.“Kau tidak tahan mendengar kisah mereka, bukan? Oleh sebab itulah kau memilih menyendiri di sini.”

“Sebaiknya kau tidak perlu tanya. Bukan urusanmu untuk tahu,” balas Gilda yang langsung bangkit dari bangku dan hendak meninggalkan Kendrick. Belum sempat mengayunkan kakinya lebih jauh, Kendrick menarik tangannya dan membuat Gilda jatuh di atas pangkuan Kendrick. “Apa yang kau

lakukan?!” bentak Gilda saat kedua tangan Kendrick melingkari pinggangnya.“Lepaskan aku!” sentaknya yang kali ini dengan nada lebih tinggi.

“Tentu menjadi urusanku, karena aku tidak akan membiarkan gadis secantik dirimu merasa sedih hanya karena seorang Edzhar," balas Kendrick yang bukannya menyingkirkan tangan dari pinggang ramping Gilda, tapi makin memeluk erat. “Dia tidak pantas untukmu, Violet ...,” bisik Kendrick yang seketika itu membuat Gilda merinding dan menelan ludahnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sang Ladyboy
8.4
Vanya adalah ladyboy menawan yang kecantikannya mengancam wanita tulen. Di sebuah klub, ia terpikat pada Ricardo Esteban, namun ragu akan statusnya. Pesonanya sebagai penari juga memicu obsesi Peter Hallmark, miliarder New York, serta Don Salvatore, bos mafia Italia yang ingin mengubahnya. Di balik karier MUA, Vanya terjebak dalam gelapnya perdagangan manusia. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan cinta sejati di tengah badai penderitaan tersebut?
Sampul Novel Cinta yang Terpendam: Rahasia Suamiku
9.1
Sonia terjebak tipu daya calon mertua hingga terpaksa menikahi Verdi, paman tunangannya yang lumpuh dan sakit-sakitan. Meski awalnya mengira hidupnya akan hancur, Sonia justru dihujani kemewahan dan kasih sayang. Namun, rahasia besar terungkap saat ia menyadari Verdi hanya berpura-pura sakit demi mengawasinya. Saat kedoknya terbongkar, pria yang dikenal kejam ini rela berlutut memohon ampun demi menjaga perasaan istrinya yang tengah mengandung.
Sampul Novel His Darling Debtor
9.2
Dunia Clara runtuh saat ayahnya kabur membawa uang milik Tuan Blackwell. Tanpa pilihan lain untuk menebus utang tersebut, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya dan menjadi wanita simpanan sang miliarder. Di balik perjanjian dingin ini, Clara terjebak dalam pusaran emosi terlarang dan rahasia masa lalu yang perlahan terkuak. Hubungan penuh konflik ini pun menjadi ujian berat yang akan mengungkap seberapa kuat ikatan sejati di antara mereka berdua.
Sampul Novel IMPERFECT BOSS
8.1
Kehidupan Elgar sebagai bos sempurna hanyalah topeng belaka. Kedamaiannya terusik sejak Lea, karyawannya sendiri, mengetahui rahasia kelam yang ia sembunyikan rapat-rapat. Takut reputasinya hancur, Elgar melakukan segala cara demi membungkam gadis itu. Namun, tekanan yang ia berikan justru memicu rasa bersalah karena telah menindas sosok yang lemah. Seiring berjalannya waktu, kebencian Elgar luluh dan benih cinta mulai tumbuh mekar di hatinya yang dingin.
Sampul Novel Istri Rahasia Sang Miliarder
9.4
Mimpi Arabella Balqis untuk dicintai hancur saat Leonard Abraham datang membawa dendam. Leonard menyelinap ke rumahnya, namun justru memutarbalikkan fakta hingga warga memaksa mereka menikah siri akibat fitnah tersebut. Sebagai yatim piatu, Arabella terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh penderitaan. Di tengah nasib buruk yang kian mengepung, mampukah ia bertahan menghadapi kekejaman suaminya dan menemukan kebahagiaan yang selama ini ia idamkan?
Sampul Novel Oh My CEO
8.1
Restu Kanaya Putri tak percaya pernikahan, namun ia sangat mendambakan kehadiran buah hati. Sebagai pengasuh pribadi sekaligus sahabat Alvian Saga Majendra, sang atasan yang pucat, Reres nekat mengajukan permintaan gila agar pria itu menghamilinya. Tanpa ragu, ia mengajak Saga menghabiskan tujuh malam penuh gairah di Bali demi mewujudkan mimpinya. Akankah misi rahasia ini berhasil? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka setelah malam-malam panas tersebut berlalu?