
Nirmala Cinta
Bab 2
Aulia mengepak semua pakaian yang ada di dalam lemari ke dalam tas bepergian yang ia bawa saat datang pertama kali ke rumah suaminya. Pakaian Laras hanya bertambah sebanyak dua biji yang merupakan pakaian lebaran, selebihnya tidak ada pembelian baju baru.
Semua hasil usaha sang suami yang masuk ke ibu pria itu membuat ia harus menerima jika ia suaminya tidak memberi uang belanja. Dengan alasan sang ibu yang mengatur semua kebutuhan sehari-hari di rumah, Angga berpikir bahwa Aulia tidak membutuhkan uang, bahkan untuk membeli pembalut pun ia harus mengemis terlebih dahulu.
“Jika kau keluar dari rumah ini, maka jangan pernah berpikir untuk kembali lagi!” ujar Angga ke Aulia.
“Baik. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini lagi!” kata Aulia tanpa ragu.
“Pergi saja! Tapi, jangan pernah berharap kami akan membiayai perceraian yang kau inginkan,” tukas si ibu mertua.
Sejenak Aulia ragu dan berniat untuk kembali, namun saat melihat wajah culas sang mertua dan wajah manja suaminya, keraguan itu langsung menghilang.
“Jangan khawatir, aku tidak akan meminta uang pada kalian satu rupiah pun tidak akan,” kata Aulia dengan yakin.
“Memang kau punya uang untuk naik taksi?” tanya Angga, berpura-pura khawatir.
Tentu saja tidak ada, batin Aulia. Mana mungkin dia yang hampir tidak pernah dikasih uang oleh suaminya memiliki uang di dalam dompetnya. Meski begitu, ia tetap melangkah pergi dari rumah sang suami.
“Kenapa? Kau mau kasih uang aku untuk pulang?!” sindir Aulia.
“Untuk apa?!” tukas sang mertua. “Kau yang memilih untuk pergi, maka jangan harap kami akan memberi uang padamu, meski itu hanya sekedar untuk naik taksi,” imbuhnya.
Sudut bibir Aulia naik ke atas membentuk senyum sinis, ia tidak terkejut sama sekali. Kebaikan keluarga suaminya hanyalah sebuah isapan jempol belaka, mereka hanya berderma saat di hadapan banyak orang namun sejatinya mereka adalah orang kikir.
“Tidak perlu. Aku pasti bisa pulang meski tidak ada satu rupiah pun di dalam dompetku,” ucap Aulia.
Di bawah langit senja, ia berjalan keluar dari rumah besar milik keluarga Angga. Langit sore tidak membuat Aulia gentar apa lagi malu dilihat oleh para tetangga yang tampak tertarik melihat dia yang membawa tas besar juga tas ransel dan tas selempang kecil.
Bisik-bisik pun terjadi, namun ia mengabaikan hal itu. Aulia terus berjalan menuju jalan utama sambil memutar otak mencari cara dia untuk sampai ke rumah.
“Aku tidak bisa pulang ke rumah,” gerutu Laras.
Orang tuanya tidak akan membiarkan dia untuk mendapatkan kebahagiaan dengan melepaskan diri dari pernikahan yang menyiksa batin.
“Bisa-bisa mereka meminta aku untuk kembali ke rumah Angga, menyuruh memohon untuk menerimaku kembali,” ucap Aulia di tengah pandangan orang-orang.
Masih terukir dengan jelas di kepala dia saat ia menceritakan bagaimana ibu mertua juga suaminya memperlakukan dirinya. Sang ibu yang sangat peduli pada omongan orang bukan membesarkan hati dia malah menuduh dia manja. Dia diminta untuk menerima takdir yang telah ditetapkan untuknya dan bersyukur dengan dia masih dijamin untuk makan setiap hari meski tidak diberi uang belanja.
Air mata bergulir membasahi wajah tirus Aulia saat teringat sikap orang tuanya yang tidak mau ikut campur dengan kerumitan dia dalam berumah tangga, Mereka lepas tangan begitu saat setelah memaksa dia untuk menikah dengan pria yang tidak ia kenal sama sekali. Bahkan, saat ia mengatakan tidak bisa menikah dengan Angga setelah beberapa kali pertemuan, ibunya langsung menuduh dia sebagai anak durhaka karena melawan perintah orang tua.
“Mbak Aulia,” sapa salah seorang tetangga yang lewat.
“Ya?”
“Apa Anda mau pulang?”
Aulia mengangguk dengan air mata yang berderai.
“Apa perlu kami bantu untuk memanggilkan taksi?” Pasangan suami istri paruh baya itu menawarkan bantuan ke Aulia.
“Masalahnya adalah ….” Aulia tidak bisa memberitahu mereka mengenai ia yang tidak memiliki uang untuk membayar taksi.
Pasangan suami istri itu saling bertatapan dan seperti memahami kesulitan yang dihadapi oleh Aulia. Meski begitu, mereka tidak mempertanyakan dugaan mereka mengenai Aulia yang tidak memiliki uang sama sekali.
“Kalau begitu, apa ada ingin kamu hubungi untuk menjemput?”
Aulia teringat dengan sahabatnya dan ia pun teringat dengan ponsel yang ia masukkan ke dalam tas selempang kecil. Sayangnya, pulsa yang dikirim oleh sahabatnya telah habis ia gunakan untuk menelepon sang sahabat demi menghapus jejak kiriman pulsa dari dia.
“Aku hanya ingin memastikan nomor kamu tetap aktif,” kata Zahwa yang memiliki perasaan tidak enak dengan pernikahannya.
“Ada. Tapi, saya tidak punya pulsa telepon dan saya juga selalu menggunakan wifi, jadi …”
“Kalau begitu biar kami bantu untuk menghubungi,” Pasangan suami istri itu kembali menawarkan bantuan.
“Terima kasih,” ucap Aulia dengan tulus dan penuh syukur.
“Kalau begitu, sebaiknya Anda menunggu di rumah kami.”
Dia menangis penuh syukur dengan kebaikan sang tetangga yang bersedia mengulurkan tangan mereka untuk memberi tempat untuk dia berteduh di kala azan Magrib berkumandang.
“Terima, kasih,” ucap Aulia sekali lagi.
Aulia menghubungi Zahwa melalui ponsel suami istri tersebut dengan mengirim pesan singkat bertuliskan 'SOS’ dan peta lokasi di mana sahabatnya dapat menjemput dia.
Aulia menerima tawaran untuk melaksanakan salat Magrib sambil menunggu Zahwa yang sudah dalam perjalanan. Dalam diam dia menunggu, tuan rumah tidak bertanya lebih apa yang terjadi padanya dan Aulia benar-benar bersyukur dengan hal itu.
Tiga puluh menit berlalu, Zahwa akhirnya datang dengan setelan formal celana panjang.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Zahwa saat melihat bekas tangan di pipi tirus Aulia.
Aulia menangis dalam pelukan sang sahabat melupakan keberadaan tuan rumah yang terus memberi ruang padanya untuk menenangkan diri.
“Tidak apa! Aku sudah di sini! Ayo kita pulang!” tukas Zahwa sambil menepuk lembut punggung sahabatnya.
Zahwa mengucapkan terima kasih kepada tetangga Aulia yang sudah dengan baik hati memberi tempat untuk wanita kurus itu menunggu dengan aman dan nyaman.
“Terima kasih,” ucapnya.
Sebuah mobil sudah menunggu mereka dengan wanita muda yang duduk di kursi, langsung turun saat melihat mereka berdua keluar. Dengan sigap, wanita muda itu memasukkan tas besar dan ransel ke bagasi. Aulia masuk ke dalam mobil dengan tangis dan mata bengkak juga pipi yang memerah.
“Kita ke puskesmas terlebih dahulu,” kata Zahwa ke wanita muda yang mengemudikan mobil.
“Kenapa?” tanya wanita muda itu.
“Kita akan melakukan visum,” jawab Zahwa.
“Zahwa, tidak … aku tidak ….” Aulia tidak dapat merangkai kata yang tepat untuk menyatakan keberatannya.
“Bukankah kau ingin bercerai dari Angga?” tanya Zahwa.
“Ya, tapi ….”
“KDRT adalah alasan yang tepat untuk kau bercerai darinya dan kau membutuhkan bukti,” jelas Zahwa.
Aulia yang sangat ingin mengakhiri pernikahan mereka tidak lagi melawan saran sahabatnya. Meski pikirannya kacau, ia sadar jika alasan dirinya bercerai karena tidak rela di madu kurang kuat di hadapan hukum meski itu diperbolehkan, karena agama membolehkan. Akan tetapi, tidak dengan KDRT yang agama juga mengutuk suami yang ringan tangan pada istrinya.
Anda Mungkin Juga Suka





