
Nikah Siri : Cinta Dibalik Bayang-Bayang
Bab 2
Aku duduk di lantai kamar, menundukkan kepala dan membiarkan air mataku jatuh begitu saja. Rasa sakit yang datang begitu mendalam, lebih dari yang pernah aku bayangkan. Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam seperti itu, hanya berusaha menenangkan diri, tapi setiap kali aku memikirkan wajah Dimas, dan tatapan kosong dari Nadia, rasa sakit itu datang lagi. Seolah ada lubang besar yang menganga di dadaku, menyedot semua harapan dan kebahagiaan yang pernah ada.
Setelah beberapa waktu, aku bangkit dengan susah payah. Kamar ini, yang dulunya terasa begitu hangat dan penuh kenangan indah, kini terasa asing. Setiap sudutnya seolah mengingatkanku pada kebohongan yang telah dipendam, pada janji-janji manis yang kini terasa kosong.
Aku menghapus air mata yang membasahi pipi, mencoba untuk berpikir jernih. Aku harus membuat keputusan. Tidak mungkin aku terus hidup dalam kebingungan seperti ini, terus terperangkap dalam pengkhianatan yang telah mengoyak hatiku. Tapi, entah mengapa, pikiranku kembali teringat pada Dimas. Apa yang membuatnya begitu tega melukai aku dan memilih Nadia? Apakah dia benar-benar mencintaiku? Atau semuanya hanya kebohongan belaka?
Aku keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang tamu. Di sana, Dimas dan Nadia masih duduk, berbicara pelan, namun aku bisa merasakan ketegangan yang semakin menebal di udara. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan lagi padaku. Hati mereka mungkin penuh penyesalan, tapi itu tidak cukup untuk menghapus luka yang kini menganga di hatiku.
"Nadia, Dimas," aku memanggil mereka dengan suara serak. "Aku ingin tahu satu hal." Aku berhenti sejenak, mencoba menenangkan diriku, tapi air mata yang tak kunjung berhenti membuat kata-kataku hampir terhenti. "Kenapa kalian berdua memilih jalan ini? Kenapa harus menyembunyikan semuanya dariku? Apa aku tidak cukup berarti bagimu, Dimas?"
Dimas menatapku dengan mata penuh penyesalan, namun itu tak mengurangi rasa sakit yang ada di hatiku. "Rina, aku tahu aku salah. Aku benar-benar menyesal," katanya dengan suara parau. "Ini bukan keputusan yang mudah. Aku terjebak dalam keadaan yang sulit. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku masih mencintaimu. Aku hanya... aku hanya merasa bingung, dan aku tidak tahu bagaimana cara keluar dari semuanya."
"Benarkah?" jawabku, suara penuh kepahitan. "Kamu merasa bingung, dan itu membuatmu menikahi Nadia secara diam-diam? Bagaimana dengan semua janji yang kamu buat? Apa kamu hanya berkata seperti itu agar aku bisa memaafkanmu begitu saja?"
Nadia menunduk, tidak berani menatapku. "Rina, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti kamu. Tapi... aku mencintai Dimas. Kami berdua... kami berdua hanya ingin punya anak, dan itu yang membuat kami mengambil keputusan ini. Aku tahu ini salah, dan aku minta maaf."
Tapi aku tak bisa mendengarnya lagi. Kata-kata itu tak lagi berarti apa-apa. "Kamu tahu, Nadia," aku berkata dengan suara yang teramat keras, "saat aku melihat kalian berdua tadi, aku merasa seolah ada sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku yang hilang begitu saja. Aku merasa sangat bodoh, sangat naif, telah mempercayakan persahabatan kita. Aku tahu kamu sahabatku, tapi ternyata kamu bukan orang yang bisa aku percayai."
Aku merasakan sesuatu yang sangat pedih di dadaku saat mengucapkan kata-kata itu. Aku tak pernah menyangka sahabat yang kuanggap sebagai saudara akan mengkhianatiku seperti ini. Aku merasa sangat kehilangan, dan dalam perasaan itu, aku mulai merasa kebingungan. Bagaimana bisa aku begitu terperangkap dalam semua ini? Bagaimana bisa seseorang yang pernah aku anggap sebagai teman, serta suamiku, bisa melakukan ini padaku?
Dimas mendekat, ingin meraih tanganku, namun aku menarik tangan itu begitu cepat, tidak memberi kesempatan padanya. "Jangan, Dimas," aku berkata dengan nada terputus-putus. "Jangan coba mendekat. Aku sudah lelah dengan semua ini."
Aku berjalan menuju pintu depan, berusaha menenangkan diri. "Aku butuh waktu," aku melanjutkan, dengan suara yang tegang. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Aku... aku tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja."
Dimas berdiri terpaku, wajahnya penuh penyesalan, namun aku bisa melihat ada sedikit keputusasaan di sana. "Rina, jangan pergi. Tolong, kita bicarakan ini," katanya dengan suara parau. "Aku benar-benar mencintaimu. Ini semua... aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Jangan katakan itu padaku, Dimas," jawabku tajam. "Kamu sudah memilih jalanmu, dan aku harus memikirkan apa yang terbaik untuk diriku. Cinta yang kamu tawarkan sekarang... tidak cukup untuk menghapus rasa sakit ini."
Aku membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Aku tidak ingin melihat mereka berdua lagi. Tidak sekarang. Hanya keheningan yang menemani langkah kakiku. Setiap langkah terasa berat, dan aku tahu aku tidak bisa kembali ke kehidupan yang dulu. Semua telah berubah.
Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan yang sama beratnya. Aku duduk di pinggir tempat tidur, mencoba memikirkan langkah berikutnya, namun semuanya terasa kabur. Aku tak bisa lagi mempercayai apa yang ada di sekitarku. Dimas, Nadia, dan bahkan diriku sendiri. Semuanya terasa asing.
Aku meraih ponsel dan membuka pesan yang belum sempat kubaca semalam. Ternyata ada pesan dari teman-temanku, yang merasa khawatir setelah tidak mendengar kabar dariku. Aku hanya membalas dengan kata-kata singkat, memberitahukan mereka bahwa aku sedang baik-baik saja. Padahal, di dalam hati, aku benar-benar bingung. Tidak ada yang baik-baik saja. Semuanya terasa gelap.
Aku tahu aku harus memilih. Terus bertahan dalam hubungan yang penuh luka ini atau memilih untuk meninggalkan semuanya dan mencari kebahagiaanku sendiri. Tetapi bagaimana jika aku sudah terlalu terluka untuk mempercayai cinta lagi?
Anda Mungkin Juga Suka





