
Ngaku-ngaku Jadi Istri Konglomerat
Bab 2
“I-iya! Albirru. Tepat!”
Setidaknya Keli akan berhenti dan membiarkanku pergi kali ini. – batin Kejora yang tampak lega setelah menyebutkan nama itu.
Kali ini, Keli malah makin penasaran dan jika kabar yang ia dengar dari Kejora itu benar, maka ekspresinya kali ini sangat mewakili kekagetannya pada teman sekolahnya itu.
“OMG! Putra konglomerat plus direktur di perusahaan Wijaya Group!” Keli mengguncang tubuh Kejora. “Elo, menantu mereka? Wow!” ucap Keli dengan mata yang membola, dan mulut yang terbuka.
“Biasalah ....” jawab Kejora sambil berakting tersipu dan mengibaskan tangannya di wajah Keli.
Meskipun tampak amatiran, setidaknya untuk saat ini Kejora memiliki bakat untuk berakting dan menipu temannya itu.
“Tapi ... kok dia masih izinin istrinya, kerja jadi karyawan di kantor biasa?” tanya Keli sekali lagi, dengan bumbu kecurigaan yang masih belum percaya dengan apa yang Kejora katakan.
Lihat saja, wajah puas Kejora seketika hilang dan kembali berpikir keras untuk memberikan alasan yang lebih meyakinkan untuk Keli.
“Emm ... gue, ‘kan, emang wanita karir. So ... setelah berdiskusi panjang, dia izinin gue buat terus kerja. Hitung-hitung, biar nggak bosen di rumah aja, gitu,” jawab Kejora enteng. Gadis berkaca mata itu tampak sudah semakin percaya diri dan berpikir Keli akan percaya padanya.
“Fix! Gue bakal kasih undangan couple buat kalian! Gue juga mau lihat kalian bareng, setidaknya itu sebagai bukti!” Keli lagi-lagi berulah, ia bahkan memberikan undangan yang baru untuk Kejora, dengan imbuhan nama Albirru di sampingnya.
“Dia nggak di Indonesia, Keli! Dia lagi ke luar negeri, entah kapan pulangnya. Jadi ... gue bakal datang sendiri aja,” ucap Kejora dengan tingkat kegugupan yang melonjak tinggi.
Bagaimana mungkin ia akan membawa pria itu. Sementara, selama ini bahkan Kejora tidak pernah berpikir ada manusia bernama Al itu. Yang ia tahu, hanya selebriti yang memiliki nama Al.
“Owh! Ke luar negeri. Ya ... ‘kan, acaranya dua pekan lagi, pasti dia udah pulang ‘kan? So ... persiapkan diri kalian, dan gue akan tunggu sampai Lo bawa si Albirru itu ke hadapan muka gue. Barulah nanti, gelar jomblo karatan Elo gue hilangkan.”
Keli benar-benar menguji kesabaran Kejora, lihat saja wajah Kejora kini sudah berubah menjadi merah padam dan sebentar lagi nampak ingin meledak menahan emosinya pada gadis bernama Keli itu.
Mendengar itu, Kejora jadi lemas. Tubuhnya bahkan sangat berat dijalankan, dan dengan langkah yang malas ia harus kembali lagi ke kantor, sebab masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
*
Ketika berada di perjalanan, ada sedikit kejadian yang kembali mengasah tingkat kesabaran seorang Kejora.
Brak!
Mobil yang Kejora kemudikan agaknya menabrak kendaraan yang ngerem mendadak di depannya. Sambil menyingsingkan lengan bajunya, Kejora pun turun dan memeriksa mobil kesayangannya itu.
“Oh! Aku bahkan belum gajian, dan sekarang bemper mobilku penyok! Ini pasti gara-gara mobil ini!” ucapnya sambil menendang keras bemper mobil berwarna hitam di depannya.
“Aw aw!” Sakit. Itulah satu kata yang tepat menggambarkan keadaan kaki Kejora saat ini dan membuatnya berjalan pincang dan menepikan diri di pembatas jalan.
Sementara, pria dengan pawakan tinggi dan tampan dengan berhiaskkan kaca mata hitam, yang bertengger indah di hidung bangirnya keluar dari sarang, setelah menutup penggilan dari ponselnya.
Pria itu tampak dingin dan tanpa senyuman melihat keadaan mobilnya. Dan ia juga terkejut, melihat seorang gadis yang terduduk di pembatas jalan dan trotoar. Siapa lagi jika bukan Kejora, gadis itu kini sedang memeriksa kakinya yang merah akibat menendang bemper mobil mewah itu.
Kejora yang menyadari pemilik mobil yang membuatnya mengalami dua kerugian, langsung berdiri. Dan dengan langkah yang sedikit pincang, gadis pemberani itu menghampiri pria berjas hitam itu dan menjentikkan jari jempol juga telunjuk di depan wajahnya.
“Tuan kacamata hitam yang terhormat,” ucapnya terjeda dan mulai menarik nafasnya dalam. “Hah! Saya tidak akan berlama-lama menjelaskan dan saya harap Tuan mendengarkan penjelasan saya dengan baik!”
Kejora sudah menunjuk bemper miliknya. “Tuan sadar nggak? Kalau mobil si --- maksud saya, mobil mewah Tuan ini menyebabkan bemper mobil saya penyok. Tuan tahu? Ini karena rem mendadak yang Tuan lakukan!”
Cukup panjang Kejora menjelaskan, tapi pria itu hanya menatapnya dari balik kacamata, tanpa satu kalimat pun yang ia katakan.
“Tuan tuli ya? Atau ... mau menghindar dari masalah dengan diam? Gaya kuno! Saya tidak akan melepaskan manusia yang menyebabkan kerugian bagi saya, lihat saja!” ucap Kejora dengan kesabaran yang sedikit goyah.
“Anda lihat? Mobil saya juga penyok, menurut saya itu impas! Dan saya, tidak punya waktu untuk melayani gadis bringas seperti Anda. Permisi!” tukas pria itu yang langsung melenggang pergi.
Kejora bahkan jadi bungkam dan menatap kesal ke arah pemuda yang masuk ke dalam mobilnya itu. Kekesalannya kini memuncak. Daripada terjadi hal yang tidak-tidak, Kejora memilih diam dan tidak mengejar pria itu. Namun, suatu hari nanti ia pasti akan meminta ganti untung dari pria itu.
“Ke ujung duniapun, kalau aku ketemu sama pria itu aku akan tagih ganti untung untuk mobil kesayanganku ini. Enak aja, setelah melakukakan kesalahan, bukannya minta maaf malah enak-enakan pergi, tanpa maaf atau basa-basi!” cicit Kejora kesal sambil memukul setir mobilnya.
*
Setibanya di kantor, Kejora kembali mendapatkan sedikit cobaan. Pasalnya saat ini ada sosok bertubuh gempal, yang sudah bersiap menyemburkan air aki dari mulutnya, untuk Kejora. Sebenarnya bukan air aki sungguhan, hanya Kejora yang menyebutnya demikian.
“Alamat lagi! Ini makhluk pluto kenapa lagi?” cicit Kejora yang baru saja keluar dari mobilnya.
“Siang, Pak ....” ucapnya mencoba santai dan hendak melenggang masuk ke dalam kantor.
Rupanya usaha gadis ayu itu sia-sia saja. Sang bos yang memiliki kekuatan untuk mengangkat seseorang, langsung menarik kerah kemeja Kejora. Dan akibat dari tarikan super itu, kini Kejora sudah berdiri sambil menunduk di hadapan sang bos.
“Kenapa bisa telat baliknya, Kejora?!” ucap pria botak nan gempal itu dengan nada yang cukup tinggi.
Kejora saja sampai terhenyak dan jantungnya memburu mendengar bariton itu. Walaupun itu sudah biasa, tapi Kejora tetap saja kaget. Namanya juga manusia biasa, begitulah yang gadis itu pikirkan.
“Bapak bisa lihat, mobil saya mengalami kecelakaan, Pak. Emangnya Bapak nggak iba begitu sama saya?” ucap Kejora dengan nada sendu sambil menggaruk punggung tangannya yang tidak gatal, untuk mendapatkan perhatian dan rasa iba dari bosnya.
“Itu tandanya kamu perlu pendamping hidup. Cantik iya, berpenghasilan besar iya. Apa yang membuat kamu belum menikah, sih, Kejora?!” tanya bos gendut itu yang membuat Kejora memutar bola matanya malas.
Pertanyaan seperti itu cukup bahkan sangat sering ia dengarkan, dari orang tua, teman, bahkan sampai bosnya, yang acap kali membuatnya muak.
Anda Mungkin Juga Suka





