Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Never Move On

Never Move On

Nico dan Nina berpisah saat kuliah akibat restu orang tua hingga Nico pindah ke Amerika. Enam tahun berselang, Nina yang kini yatim piatu dan kehilangan tempat tinggal terpaksa bekerja menjaga sebuah apartemen kosong. Tak disangka, sang pemilik adalah Nico yang baru saja pulang. Karena Nina tak punya tujuan lain, Nico mengizinkannya menetap. Terjebak dalam satu atap, mantan kekasih ini harus berbagi ruang dengan berbagai aturan demi menjaga jarak profesional.
Bab
Bagikan

Bab 3

-Nina.-

Pagi-pagi sekali aku sengaja pergi sebelum Nico bangun, mengirim lamaran dan menemui beberapa teman, berharap bisa mendapatkan pekerjaan, atau setidaknya tempat tinggal. Tapi sayangnya mereka semua tidak bisa menampungku dengan macam-macam alasan.

Dan hari ini aku pulang dengan tangan kosong lagi, sialnya saat aku melewati toko roti dan melihat Croissant di sana, aku teringat pada Nico, pria itu sangat menyukai roti yang terbuat dari adonan puff pastry itu.

“Tidak apa-apa, siapa tahu bisa meluluhkan hatinya dan mengijinkan aku menginap semalam lagi.” Aku menepuk pelan kantongku.

“Hai..” Aku tersenyum kecut, baru melihat dia duduk di ruang tamu saja sudah membuatku gugup, “Kau habis olahraga?” tanyaku ketika menyadari dia sangat berkeringat.

Nico menggeleng.

“Sudah makan? Aku membawa Croissant matcha.” Aku menunjukkan plastik berisi Croissant di tanganku. “Aku ingat kau sangat suka Croissant matcha kan?”

Nico mendengus, “kau pikir aku masih mahasiswa ingusan?”

“Ku pikir masih suka.” Aku merengut.

“Kau darimana saja? Pulang malam begini?”

“Mencari kerja, dan menemui beberapa teman.” Jawabku. “Ini untukmu, aku akan ganti baju dulu.” Kataku lalu pergi setelah menyerahkan seplastik roti padanya.

Dan begitu aku akan mengambil pakaian di dalm koper yang ku letakkan di perpustakaan, aku tidak menemukan semua tas dan koperku di sana.

“Hei, kau keluarkan barang-barang ku?” tanyaku dengan kesal, sangat kesal, (dia pria kejam,) pikirku. “Aku memintamu memberiku waktu, aku juga sedang mencari tempat tinggal baru.”

Nico hanya makan roti yang ku belikan tanpa menjawabku.

“Hei kau ini tidak bisa mengingatbkebaikan orang ya?” aku melanjutkan kemarahanku. “Bagaimana pun juga dulu kan aku sering membantumu, aku bahkan sangat perhatian padamu, aku bahkan oernah merawatmu saat kau sakit, kau ini tidak tahu terimakasih ya?”

Pria itu hanya mengangkat bahu tanpa beban, tanpa rasa bersalah.

Aku menghela nafas, “Baiklah, lupakan saja, kau memang tidak punya hati.” Kataku. “Kau kemanakan barang-barang ku? Kau buang kemana? Dasar tidak sopan.”

Kali ini ia memandangku dengan tatapan acuh tak acuh. “Disana.” Katanya menunjuk sebuah ruangan atau lebih tepatnya itu adalah salah satu kamar kosong disini.

Aku segera pergi untuk menyelamatkan tas dan koperku yang mungkin sedang terjungkal di lantai.

Namun saat ku buka pintu, kamar itu kelihatan sangat berbeda dengan yang terakhir kali ku lihat, seprainya baru, gorden abu-abu, sekarang bahkan ada ada tanaman dan lampu hias juga.

“Kau bisa tidur disana, perpustakaan bukan tempat untuk tidur.” Suara Nico yng tiba-tiba muncul di belakang mengagetkan aku.

Aku langsung mengatupkan bibir, merasa bersalah dan malu.

“Bukankah seharusnya kau berterima kasih?” katanya.

Aku tersenyum getir lagi. “Maaf, dan terimakasih.” Ucapku malu.

“Aku tidak punya hati? Tidak sopan?” sindirnya.

“Ku tarik kembali.” Kataku. “Tadi aku marah, hanya asal bicara.”

“Biasanya saat marah seseorang akan mengeluarkan isi hati yang sebenarnya.”

“Tidak, tidak.” Aku mengibaskan tangan di depannya. “Kau itu baik, yang terbaik.”

Ia menghela nafas. “Kau membuatku kelelahan, aku memindahkan barang-barang mu sendirian.”

“Maaf, kupikir kau akan mengusir ku makanya aku buru-buru cari tempat lain.” Kataku lalu ku lirik croissant di meja. “Itu ada lima, boleh ku minta satu?”

“Katanya diberikan padaku?” Ia menyembunyikan seplastik croissant dalam dekapannya.

“Seharian aku pergi berkeliling untuk mencari pekerjaan, aku juga lapar.” Aku memelas.

“Kalau lapar makan yang benar, kenapa minta roti ku?”

“Astaga.. itu juga kan aku yang beli.”

“Satu saja nih.” Katanya memberikan satu potong croissant nya padaku.

“Asikk..” cepat-cepat ku ambil dan ku makan.

“Nin.” Ucapnya ragu-ragu, “aku tidak masalah..”

“Apa?”

“Tidak masalah kau tinggal disini.” Sambungnya. “Lagipula aku perlu pembantu.” Ia duduk bersandar dan mengunyah roti lagi.

Kata pembantu sungguh membuatku tersinggung, tapi ku tabahlan hati dan lapangkan dada, menerima kata-katanya yang menyebalkan, dari dulu Nico memang cenderung menyebalkan.

“Terimakasih.” Ucapku. “Sebenarnya dari dulu setiap kali aku kesulitan kau selalu ada untukku, ku pikir kali ini aku tidak punya tempat untuk berlindung, tapi sepertinya kau memang di kirim untuk menyelamatkan aku ya.”

Wajahnya memerah.

“Kenapa wajahmu merah?” aku meledeknya.

“Tidak, wajahku putih.”

“Tapi jadi merah.” Aku semakin meledek. “Hei apa kau punya pacar?”

Ia tersedak. “Kenapa tanyakan itu?”

“Kau masih saja mudah gugup hqnya karena kata-kata seperti itu, mana bisa pacaran.”

“Pacaran bukan soal kata-kata.” Protesnya.

“Lalu apa?” tanyaku. “Hubungan fisik?”

Ia menatap tajam dan kesal padaku. Entahlah sejak dulu memang kami seperti ini, saling membuat kesal bahkan setelah enam tahun berpisah.

“Eh iya bagaimana kalau nanti pacarmu datang? Ada aku disini?” aku mendadak cemas.

“Akan ku bilang kau pembantuku.” Katanya lalu pergi.

“Mau kemana?” tanyaku. Mengambil plastik yang masih berisi tiga croisant di dalamnya.

“Itu mulikku,” katanya.

“Iya, hanya akan ku bereskan.” Aku mencibir.

“Kemari kau.. Aku akan menjelaskan peraturan di rumah ini.”

Aku mengikutinya ke ruang tengah.

Nico duduk bersandar di sofa sambil melipat kedua tangannya.

“Peraturan pertama adalah tidak menggangu kencan satu sama lain.” Nico menyebutkan syarat pertamanya.

“Apa?” Aku menatap sinis padanya.

“Bagaimanapun juga kita adalah mantan, jika kau masih memiliki perasaan padaku itu urusanmu, tapi kau tetap tidak bisa mencampuri urusan cinta kita masing-masing.” Katanya dengan ekspresi penuh percaya diri dan sikap yang sangat menyebalkan. “Kenapa? Tidak ada masalah kan? Ini baik untuk kita berdua.”

Aku melipat kedua tangannya dengan kesal, “Hei kupikir kau masih belum juga bisa mengerti, sedikitpun aku tidak punya perasaan yang tersisa untukmu hingga aku bisa keberatan tentang hubungan cintamu dengan wanita lain, silahkan saja, tidak perlu kau katakan pun aku memang tidak peduli.”

“Dengar,” Aku sedikit mencondongkan tubuhku kedepan untuk menekankan setiap kata-kataku. “Aku tidak peduli kau berkencan ataupun menikah dengan seseorang. Well, tapi aku setuju, memang lebih baik melegalkan peraturan ini. Setuju, aku benar-benar setuju.” Kataku lalu bersandar sambil mengangguk-angguk. Entah kenapa aku mendadak kesal lagi.

“Jika kau melanggar aturan ini, maka kau harus angkat kaki dan akan kuberikan sangsi yang berat.” Kata Nico dengan mengatupkan giginya, mungkin kesombongannya terluka oleh sikap angkuhku.

Aura negatif bertebaran dimana-mana, dan udara dingin seakan menambah kengerian akan situasi perang dingin ini.

“Kedua, jangan pernah mengajak temanmu untuk menginap, apalagi seorang pria.” Nico menyebutkan peraturan selanjutnya, “Ingat, kau hanya menumpang disini.”

Aku hanya menggeleng tidak percaya Nico bisa mengatakan hal seperti itu padaku. Mood nya mudah sekali berubah dan tak terkendali, sesaat ia baik sesaat kemudian menyebalkan.

“Ketiga, jangan pernah masuk ke kamarku . Ada atau tidak aku di rumah, kau jangan pernah masuk ke sana.” Kali ini Nico yang mencondongkan tubuhnya kepadaku untuk menekankan kata-katanya.

Dan hanya itu persyaratan yang Nico ajukan, sedangkan aku tidak mengajukan persyaratan apapun, yang ku pikirkan hanya bagaimana caranya agar aku bisa cepat mendapatkan pekerjaan dan pergi dari sini.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GFW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GFW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kehilangan Bayiku
8.5
Maya selalu setia mendampingi Reza meski terus diabaikan dan tak diakui. Namun, kesabarannya hancur saat ia terpaksa melahirkan sendirian hingga kehilangan bayinya. Tragedi maut itu memadamkan cinta Maya dan membuatnya ingin pergi. Di sisi lain, Reza baru menyadari besarnya rasa sayangnya setelah segalanya terlambat. Saat Reza berusaha mengejar kembali hati sang istri, ia menghadapi kenyataan bahwa Maya telah berubah menjadi sosok dingin yang tak lagi membutuhkannya.
Sampul Novel Cinta Melawan Syarat
9.4
Demi kesembuhan sang ayah, Helena terpaksa menggantikan saudara tirinya menikahi pewaris kota yang tuli. Namun, malam pertama mereka justru diawali peringatan dingin bahwa pernikahan ini hanyalah bisnis. Helena harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sulit ditebak. Meski banyak yang meramal kehancurannya, sang suami justru menjadi pelindung utama. Saat kontrak usai dan Helena bersiap pergi, pria itu memohon sambil menangis agar ia tetap tinggal.
Sampul Novel Harga Cinta Terpendam
9.0
Demi menyelamatkan Bram, aku pernah menghancurkannya. Kini ia kembali sebagai pengacara kejam yang ingin merampas putriku, Kania. Bram tak tahu Kania adalah darah dagingnya, atau bahwa aku sedang sekarat karena leukemia. Saat aku berjuang melawan maut dan tuntutan hukum, Bram justru menjadi senjata yang menghancurkanku. Di akhir hayat, aku menyerahkan segalanya demi Kania dan meninggalkan surat yang akan meruntuhkan dunia sempurna pria yang kucintai.
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Dua tahun berlalu sejak Sari tiada, Mas Duda menjalani hari-harinya sebagai guru SD dengan penuh kesederhanaan. Meski mencintai profesinya, pria berusia 35 tahun ini tak mampu menghalau rasa sepi yang kian menghimpit batinnya. Tekanan dari keluarga dan sahabat untuk mencari pendamping baru pun mulai berdatangan. Namun, di tengah kekosongan jiwa tersebut, ia masih didera keraguan dan belum sepenuhnya siap untuk membuka kembali pintu hatinya bagi cinta yang lain.
Sampul Novel Langit Jam 4 Sore
8.2
Divia Putri Gayatri adalah gadis pemimpi yang mengagumi kedamaian langit pukul empat sore. Ia berharap takdir hidupnya akan seelok cakrawala itu. Tanpa diduga, Divia justru menemukan tambatan hati saat ia tidak sedang mencari cinta. Pertemuannya dengan Arman yang begitu sinematik meninggalkan kesan mendalam yang tak terlupakan. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu mulai mengancam kebahagiaan mereka, mampukah cinta mereka bertahan melawan ujian takdir yang berat?
Sampul Novel Nasib Seorang Wanita Proyek
8.4
Kehidupan di lokasi proyek ternyata jauh dari bayangan privasi yang biasa bagi protagonis Nasib Seorang Wanita Proyek. Tinggal di mes dengan sekat yang sangat minim membuat setiap suara terdengar jelas. Ketika sepasang suami istri di ranjang sebelah—yang jaraknya bahkan kurang dari dua meter—mulai melakukan hubungan intim tanpa henti, keheningan malamnya terusik. Suara yang terus terdengar itu memicu ketegangan dan membangkitkan hasrat tersembunyi yang sulit ia kendalikan sendirian di tengah malam.