Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nenek 70 Tahun yang Dihujat Dunia Maya

Nenek 70 Tahun yang Dihujat Dunia Maya

Demi membelikan tas sekolah baru untuk cucunya, seorang nenek berusia tujuh puluh tahun rela berjuang menjajakan bacang di pinggir jalan. Namun, langkah tulusnya terhenti saat ia bertemu dengan seorang jurnalis wanita berparas menawan. Berniat membagikan dagangannya dengan ramah, sang nenek justru terjebak dalam fitnah kejam keesokan harinya. Jagat maya digegerkan oleh berita viral yang menuduh lansia malang ini menjual bacang beracun dan mencoba menyuap wartawan demi menutupi kedoknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bu Jenny duduk di bangku kayu rumahku, terus-menerus menelepon. Dia menghubungi kerabat, teman, dan bahkan agen properti yang dulu membantu saat membeli rumah, meminta mereka untuk membantu meninggalkan komentar klarifikasi di kolom komentar "Meita Punya Cerita."

Namun, di depan seorang jurnalis selebriti dengan jutaan pengikut, meskipun kita bisa meminta bantuan seribu orang untuk membela, mereka hanya perlu mengklik untuk menghapus dan memblokir komentar, dan usaha kita akan lenyap begitu saja.

Pesan pribadi yang kukirimkan ke "Meita Punya Cerita" tenggelam begitu saja. Meskipun statusnya "sudah dibaca," tidak ada balasan apa pun sebagai tanggapan.

Karena dia tidak menjawab, aku pun tidak bisa lagi mengirim pesan baru kepadanya.

Untungnya, di halaman profilnya ada nomor telepon. Aku tidak ingin menunggu bodoh lagi, jadi aku langsung menelepon.

Pertama kali, tidak ada yang mengangkat.

Kedua kali, panggilan teleponku diputus.

Ketiga kali ....

Pada panggilan kelima, ketika aku nyaris putus asa, telepon terhubung.

Di sisi lain terdengar suara seorang pria, bukan Meita yang cantik dalam video itu.

"Halo, siapa ini?"

Aku menarik napas dalam-dalam, berkata, "Aku cucu dari penjual yang kalian sebut menjual bacang dengan telur asin palsu. Keluarga kami nggak pernah jualan bacang telur asin. Laporan kalian salah!"

Aku sangat takut dia akan memutuskan telepon begitu mendengarku memperkenalkan diri, jadi aku berbicara dengan cepat.

Dia tidak memutuskan telepon, malah tertawa dan berkata, "Kamu bilang nggak menjual, lantas bagaimana kamu membuktikannya?"

"Kalau aku nggak jual isian telur, bagaimana aku bisa membuktikan itu?"

"Kalau nggak ada bukti, kenapa kamu meneleponku?" katanya dengan nada mengejek. "Pedagang nggak bermoral seperti kalian sudah sering kutemui. Semuanya bilang nggak melakukan, tapi kalau memang nggak, kenapa ada orang yang melaporkan?"

Ada orang yang melaporkan?

Aku memegang harapan terakhir, berkata, "Kamu bisa bawa orang yang melapor itu, kita akan konfrontasi langsung!"

"Nggak bisa. Kami harus melindungi orang yang melapor. Kalau nggak, mereka akan kalian ganggu. Siapa lagi yang berani mengatakan yang sebenarnya?"

Aku sangat marah.

Dia ingin melindungi orang yang melapor, tetapi dia tidak memberikan bukti dan juga tidak memberiku kesempatan untuk membela diri?

Bahkan hakim pun harus mendengarkan pembelaan terdakwa, tetapi mereka bisa langsung memvonis.

"Kamu nggak punya bukti apa pun, ini hanya fitnah!" teriakku dengan marah di telepon.

"Nenekku cuma mau kasih bacang buat kalian, kalian malah bilang dia menyuap. Siapa yang mau menyuap dengan dua buah bacang?"

"Itu karena kalian miskin. Lagi pula, kenapa dia cuma kasih bacang ke Meita, nggak ke orang lain? Kamu bilang itu bukan suap, buktikan saja!"

Aku memegang telepon dengan lemas, tidak bisa berkata-kata lagi.

Orang ini sungguh pandai bermain kata-kata seperti seorang kreator konten. Aku tidak bisa menang dalam perdebatan ini.

"Hah, kalau sudah salah, mengaku saja. Kalau ada bukti, keluarkan. Kalau nggak ada bukti, ya terima akibatnya!"

Setelah itu, dia memutuskan telepon.

Bu Jenny yang mendengarkan sepanjang waktu juga marah hingga tangannya gemetar.

"Orang seperti ini bisa jadi jurnalis?" Dia menggertakkan gigi, "Ibu akan pergi menemui kepala sekolah. Kita juga akan cari jurnalis!"

Aku menatap Bu Jenny yang makin kesal, meraih pergelangan tangannya, dan berkata, "Bu, aku akan lapor polisi."

"Lalu, aku juga akan melakukan siaran langsung."

Dia bilang soda api dan plastik bisa membuat kuning telur palsu, 'kan?

Aku ingin menunjukkan kepada semua orang, apa yang terjadi jika kedua bahan itu dicampur!

Meskipun suaraku kecil, aku harus bersuara.

Di laboratorium kimia sekolah, aku duduk di meja eksperimen. Di sampingku ada guru kimia, dan di seberang ada Bu Jenny.

Bu Jenny memberiku isyarat semangat, lalu menekan tombol mulai siaran langsung.

Tiba-tiba, pintu laboratorium terbuka, dan kepala bagian akademik, Pak Joko, datang dengan tergesa-gesa, "Kalian sedang apa?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "B47612" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B47612
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pembantu Kalian
9.2
Sudah lebih dari tujuh bulan lamanya, keluarga iparku menumpang dan hidup layaknya benalu di kediamanku. Mirisnya, mereka justru memperlakukanku seperti seorang pelayan di rumahku sendiri. Di sisi lain, suamiku merasa tidak tega untuk mengusir mereka keluar. Karena kesabaranku telah habis, kini aku memutuskan untuk menyusun rencana cerdik demi membuat mereka merasa tidak nyaman dan segera pergi selamanya dari kehidupanku yang tenang ini.
Sampul Novel Cinta wanita kutubuku
8.6
Elia menghabiskan hari-harinya bekerja di sebuah gedung perkantoran megah tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, segalanya berubah saat ia dipertemukan dengan Edward, putra dari pemilik perusahaan tersebut. Keduanya mulai menjalin kedekatan intens karena harus mengelola sebuah proyek besar yang sama. Tanpa disadari, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Elia terhadap Edward, dan ternyata sang pewaris kaya itu pun merasakan hal yang sama.
Sampul Novel Fake Marriage
9.3
Dikhianati calon suaminya tepat sebelum hari bahagia, Lunar melarikan diri hingga sebuah insiden menyeretnya ke dalam pernikahan kontrak dengan Arkan, pebisnis kaya raya. Di sisi lain, Arkan terpaksa membatalkan rencana lamaran bagi kekasihnya demi kesepakatan ini. Saat sandiwara mereka perlahan berubah menjadi perasaan tulus, keduanya terjebak dalam dilema emosi yang rumit. Akankah ikatan palsu ini berakhir menjadi kebahagiaan sejati bagi mereka?
Sampul Novel GHAFFAR PENAKLUK AKHWAT
8.2
Ghaffar memutuskan merantau ke Jakarta demi menimba ilmu. Namun, kehidupan pemuda ini berubah total saat ia mulai berinteraksi dengan deretan wanita di ibu kota. Perjalanan yang semula fokus pada pendidikan justru membawanya ke dalam lika-liku hubungan yang tak terduga. Kisah romansa modern ini mengandung konten dewasa yang ditujukan bagi pembaca bijak. Ikuti bagaimana Ghaffar menghadapi dinamika sosial dan godaan di tengah kerasnya kehidupan Jakarta.
Sampul Novel Melupakan Pria Berengsek
9.5
Tepat sebelum hari pernikahan, sebuah kecelakaan tragis yang didalangi oleh teman masa kecil tunanganku hampir merenggut nyawaku. Ironisnya, tunanganku dan kekasih sahabatku—seorang selebritas terkenal—justru mengabaikan kami demi merawat wanita yang sama. Setelah berhasil melewati masa kritis di rumah sakit, kami berdua sepakat untuk membatalkan rencana pernikahan kami. Keputusan sepihak ini seketika membuat kedua pria yang mengkhianati kami kehilangan akal sehat mereka.
Sampul Novel Menceraikan Suamiku yang Menghamili Wanita Lain
8.5
Memasuki bulan keempat perjuangan menjalani program bayi tabung, seorang istri justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Tetangga sebelah rumah yang merupakan teman masa kecil suaminya mengunggah foto kehamilan dengan takarir menyakitkan tentang keluarga bahagia mereka. Di dalam foto tersebut, tampak jelas tangan sang suami yang membentuk simbol hati bersama wanita itu, lengkap dengan cincin pernikahan yang masih melingkar di jarinya, mengonfirmasi pengkhianatan yang tak termaafkan.