
Nelangsa TAKDIR
Bab 3
•Kediaman Eddith Eugene •
Di sebuah rumah sewa minimalis, para penghuni yang fokus dengan urusan masing-masing.
Beberapa minggu kemudian...
Bzzztt...
Mr. Dave: "Eddith, lebih baik sekarang kau pergi dari kota itu, ayah akan mengirimkan biaya tiket pesawatmu saat ini juga.."
Eddith: "Ayah, ada apa lagi ini? Mengapa ayah selalu bertindak sepihak seperti ini.." ucap Eddith, cukup kesal dengan sikap ayahnya tersebut.
Mr. Dave: "Aku tidak akan langsung mengerti, namun kutegaskan padamu, pria yang selama ini menjadi malaikat penolong ialah seorang bajingan kejam tanpa perasaan!" Teriak Mr. Dave.
Eddith: "Ayah, apa yang ayah katakan?" Eddith terkejut akan sikap ayahnya yang tak seperti biasa.
Mr. Dave: "Caleb Linch ialah pelaku pembakaran gudang ayah, dan dia ingin agar ayah menyerahkanmu padanya. Tentu ayah tidak akan rela, karena dialah yang telah menyebabkan derita keluarga kita, keluarganya sangat busuk!" Isak tangis Mr. Dave
Sejenak, Eddith mencoba untuk mencerna semua ucapan dari ayahnya.
Mr. Dave: "Eddith, ayah hanya ingin kau tumbuh menjadi wanita ceria tanpa harus lelah memikirkan keluarga, karena kau berhak bahagia. Namun, jika ada yang mengusik mu, ayah ialah orang pertama menghadapinya.." Isak Mr. Dave sedari tadi.
Eddith mulai berpikir sejenak, dan menyadari ada banyak kejanggalan akan pertemuannya bersama Caleb dsna segala tindak Caleb yang diluar nalar, sebagai orang baru pertama bertemu.
Mr. Dave: "Eddith, jika kau masih tidak mempercayai ayah, maka akan ayah tunjukkan rekaman suara percakapan kami, ketika bajingan itu datang untuk mengancam ayah.." Mr. Dave pun segera mengirim bukti rekaman antara dirinya bersama Caleb waktu itu.
Eddith: "Ayah, aku harus pergi kemana?" Isak Eddith dengan tubuh gemetar ketakutan dan tak menyangka akan kenyataan yang baru saja diketahuinya kini.
Mr. Dave: "Pergilah ke Kota X, disana ada kerabat dari mendiang kakekmu...--"
Setelah mendengarkan semua itu, Eddith bergegas untuk bersiap-siap untuk pergi meninggalkan negara perbatasan yang kini ditempatinya. Eddith akan pergi ke sebuah kota yang terletak paling ujung, sebuah kota kecil.
***
Eddith bahkan tidak membawa banyak barang, hanya membawa beberapa kebutuhan juga berkas penting miliknya.
Eddith menumpang di sebuah kereta tua untuk tiba di desa tujuannya. Eddith akan membantu nenek dari saudara pihak kakeknya, untuk mengurus sebuah usaha kecil dan terletak di sebuah kota kecil, hanya membutuhkan beberapa puluh menit perjalanan saja dari desa.
Kota X•
"Kediaman Mrs. Leah Eugene"
Sebuah rumah minimalis dengan desain klasik ala Jepan9, karena suami dari nenek Leah merupakan keturunan asli Jepan9
"Selamat pagi, nenek.." ucap Eddith menyapa seorang wanita tua yang sangat mirip dengan mendiang kakeknya.
"Eddith, cucu kami.." ucap nenek Leah, lalu mendekap Eddith.
"Lama sekali kita tidak berjumpa, nek.. maaf, baru sekarang aku menemui nenek.." ucap Eddith menangis haru di dekapan nenek Leah.
"Sudahlah, yang lama biarlah berlalu, saat ini terpenting kau sudah bersama nenek."
"Apakah nenek tinggal seorang diri?"
"Ah, nenek bersama Molly," ucap nenek Leah, sembari menyerukan nama Molly, yang ternyata seekor anjing lucu berbulu lebat.
"Nenek, sekarang aku akan terus bersama nenek.." ucap Eddith tak kuasa menahan rasa sedih, tatkala melihat seorang wanita tua renta harus tinggal seorang diri untuk merawat dirinya.
"Mulai besok, kau akan belajar mengurus usaha kecil kita di kota."
"Baik nek." Ucap Eddith.
Kini, Eddith telah berdua bersama Nenek Leah, dan membantu segala pekerjaan yang biasa dilakukan nenek sendiri.
Mereka memiliki usaha kecil dibandingkan usaha milik ayahnya di kota A. Sebuah penyedia jasa juga sebuah toko bunga beserta toko perabotan rumah tangga lainnya.
Jarak tempuh lima belas menit dari desa tempat tinggal menuju tempat usaha mereka. Eddith mengendarai sebuah mobil bak sederhana, sebagai media pengangkut barang.
Kota X•
•Happy Florist Shop•
Eddith memulai pekerjaan barunya sebagai pengelola toko bunga juga toko perabotan di sampingnya. Sembari berjaga toko, Eddith juga melakukan pekerjaan paruh waktu lainnya yang dilakukan secara remote.
Bzzztt... Beberapa kali sebuah panggilan datang mengusik fokus Eddith, hingga akhirnya Eddith pun menerima panggilan tersebut.
"Apakah sudah puas bermain petak umpet ya, sayangku.." ucap seseorang yang tentu saja Eddith mengenal suara tersebut.
Eddith bergegas untuk menutup panggilan, sementara tubuhnya masih terasa lemas akibat syok.
"Sial! Apa-apaan ucapan tidak tahu malu itu!" Gumam Eddith yang mulai kehilangan rasa aman.
***
Meski lelah seharian, Eddith tetap memilih untuk pulang menemui nenek Leah di rumah. Setiap kembali, semua hidangan lezat sudah tersaji di atas meja makan.
"Eddith, ada paket untukmu, nenek sudah letakan di atas nakas kamarmu."
"Baik nek, terimakasih." Ucap Eddith sembari membersihkan diri, kemudian duduk di atas tempat tidur.
Sebuah bucket bunga beserta paperbag yang berusia gaun indah berada di sana.
"Semoga harimu semakin baik, aku mencintaimu.." Tertanda Mr. C.L.
Sebuah inisial nama yang tentu saja Eddith kenali. Eddith ingin mengembalikannya, namun tak tahu harus kemana.
Bzzztt.. beberapa spam pesan masuk ke ponsel Eddith, dan mulai mengusik ketenangan yang selama beberapa waktu terakhir dinikmatinya.
"Besok aku akan menemui di Happy Florist Shop."
Eddith mengabaikan pesan tersebut dan menganggapnya sebatas ancaman belaka.
Hingga tiba hari esok...
***
•Happy Florist Shop•
Saat sedang menikmati secangkir teh panas, seseorang tamu tak diundang datang ke toko tersebut.
Yah, tidak lain, dia ialah Caleb dengan setelah mantel panjang berwarna hitam, topi hitam. Meski berpenampilan biasa, aura kekayaan dengan uang unlimited pun tak dapat ditutupi.
"Saya ingin bucket paling best seller di toko ini." Ucap Caleb pada salah seorang pekerja, sembari menatap ke arah Eddith.
"Baik Tuan, silakan duduk menunggu kami menyiapkannya."
"Saya ingin bertemu langsung dengan bos kalian, karena kami adalah teman lama, Eddith Eugene."
"Ah, baik tuan. Silakan masuk." Ucap mereka dengan ramah.
Disanalah pertemuan mereka setelah sekian lama.
Di ruang kerja milin Eddith.
"Aku mengalami sedikit kesulitan untuk dapat menemukanmu, namun itu merupakan tantangan tersendiri bagiku. Selama ini aku berusaha agar tetap menunggu dengan tenang, namun rasanya aku merasa semakin resah saja."
"Mengapa anda melakukan kejahatan pada keluarga saya dan bertindak seolah-olah malaikat penolong?"
"Ah, sangat berterus terang sekali, tapi aku suka." Caleb bangkit dari tempat duduknya menuju ke arah meja kerja Eddith.
"Jawab! Mengapa kalian sangat kejam pada kami?"
"Mengapa? Alasannya, hanya untuk bercanda saja."
"Brengsek!" Plakk... Eddith memukul wajah tampan Caleb.
"Penderitaan serta kesusahan orang lain kalian anggap sebatas candaan saja? Benar-benar manusia keji!" Ucap Eddith penuh amarah.
"Lantas, bagaimana denganku yang harus menunggu lama untuk sebuah janji palsu diakhiri pengkhianat dari ayah beserta anak perempuannya.."
"Apa maksud anda, jangan berlagak sebagai korban! Bajingan!"
"Eddith, sejak kecil kita pernah sangat dekat, Dave bersama ibumu bahkan berjanji untuk menjodohkan kita. Namun, ketika mendiang kakekku hendak menagih janji, ayahmu dengan lantang mengatakan, jika Eddith berhak memilih jalannya sendiri. Ah, kau juga sudah menyetujui perjodohan itu. Namun, setelah sepuluh tahun kemudian, kau bahkan tidak mengingat wajahku.." ucap Caleb dengan setengah tertawa.
"Hanya karena itu?"
"Hanya karena itu? Seluruh usaha ayahmu, keluargaku yang menjadi penyokong, namun setelah mendengar pengakuan angkuh Dave, kakek terkena serangan jantung, karena merasa sangat dikhianati. Lantas, Dave masih saja berkilah, enggan untuk mengatakan yang sebenarnya?"
"Pembohong! Aku bahkan tidak pernah mengenal keluarga kalian! Pergi dari sini!" Usir Eddith.
"Baiklah, setelah ini aku akan membuat Dave berkata jujur padamu. Akan kutunggu kau merangkak ke arah kakiku, Eddith Eugene pembohong!"

Eddith merasa ucapan dari Celeb membuat sesuatu dihati kecilnya terguncang, seakan pernah terjadi sesuatu dimasa lalu mereka.

Apakah yang dikatakan Caleb memang benar adanya?
***
Anda Mungkin Juga Suka





