
Nekat Mencintaimu Secara Ugal-ugalan
Bab 3
“Bukannya sudah kuperingatkan berkali-kali jika dalam proses cutting itu harus dilakukan dengan detail dan hati-hati? Dan apa yang saat ini kulihat? Apa ini pantas untuk dilanjutkan?” Alvida berteriak kalap ketika pagi ini saat melakukan pengecekan dia mendapatkan satu buah kain yang digunting secara serampangan hingga benangnya terulur padahal proses pemotongan untuk sentuhan akhir tidak boleh sembarang.
“Ma—maafkan saya Bu. Saya mohon, saya tidak akan mengulangi hal ini lagi. Karena itu berikan saya satu kesempatan lagi.” Seperti biasa bila Alvida memergoki kesalahan mereka, akan terjadi sebuah drama klasik berupa permohonan maaf dan juga air mata. Dalam situasi ini biasanya Alvida akan mulai disudutkan oleh semua pandangan karyawannya. Tapi wanita itu tidak peduli.
“Aku tidak membutuhkan maaf darimu. Daripada kau berpura-pura menangis didepanku seperti itu. Mestinya kau sadar diri dan bersihkan kekacauan yang sudah kau buat. Selesaikan dalam tiga puluh menit. Aku akan Kembali mengeceknya lagi nanti. Anggap itu sebagai kemurahan hatiku.”
Perempuan yang kena semprot Alvida hanya bisa meneguk salivanya saja dengan susah payah saat berhadapan dengan sang bos. Jantungnya terasa melompat keluar begitu dia dimarahi didepan semua orang dengan suara menggelegar. Ketika Alvida sudah keluar dari ruangan barulah mereka semua bisa bernapas lega.
“Hei kau tidak apa-apa kan?” Semua orang mulai mendekati sang korban.
“Aku tidak apa-apa,” jawabnya pasrah.
“Aku harap kau tidak masukan kata-katanya kedalam hati. Dia memang selalu seperti itu pada semua pegawai yang menurutnya pekerjaannya tidak sesuai dengan standart. Kedepannya tolong lebih detail lagi, karena Bu Alvida memang orang yang perfectionist.”
“Iya, aku mengerti. Memang ini salahku. Sudah untung dia tidak memecatku.”
Sementara itu setelah Alvida berbalik meninggalkan ruang kerja karyawan. Inspeksi pagi selalu menjadi momok yang kerap meninggalkan bekas mendalam terutama dalam hal emosi. Sakit kepala yang dia derita juga tak kunjung membaik karena mendapatkan tekanan dari semua aspek. Persiapan mereka cukup sibuk, tak jarang Alvida kerap begadang dan lembur untuk menyelesaikan beberapa rancangannya. Meski untuk beberapa rancangan telah dia serahkan pada karyawan seperti tadi. Karena riskan terjadi hal seperti tadi, makanya untuk beberapa rancangan Alvida sendiri yang menuntaskannya.
Menghempaskan dirinya sendiri diatas kursi kerja diruangan pribadi adalah hal yang paling bisa Alvida nikmati di kantor ini. Sebab hanya ditempat ini dia sedikit bisa menghembuskan napas lega, dan menikmati waktuku yang tak terbatas untuk bergelut dengan kertas dan pensil. Membuat sketsa dan bermain dengan imajinasi. Sejak pukul delapan pagi, dimana jam kerja kantor dimulai Alvida baru bisa kembali keruangannya pukul dua siang. Jam makan siang bahkan terlewatkan karena banyak kesalahan yang dia dapati dibagian produksi. Padahal semua pegawainya adalah orang-orang yang berbakat dibidang masing-masing dan mereka tidak berkerja dalam waktu satu hari. Mereka adalah satu team, dengan jam terbang lebih dari satu tahun. Semestinya mereka semua bisa professional. Namun apa yang Alvida dapatkan justru jauh daripada ekspektasinya sendiri. Masih bisa dimaklumikah orang-orang professional melakukan kesalahan sepele yang kerap dilakukan pemula? Sungguh, itu membuatku naik pitam.
Alvida adalah penganut semua hal serba sempurna. Detail kecil tak luput dari perhatian. Jadi, Ketika ada satu kesalah kecil sudah tidak bisa ditolerir lagi. Sebut saja bila ini adalah buah hasil yang ditanam keluarganya sejak kecil. Didikan memang tidak pernah salah. Alvida sudah terlalu biasa untuk menjadi yang terbaik diantara yang terbaik.
Sekali lagi Alvida menggoreskan pensil diatas kertas putih kosong di meja kerjanya. Kembali membuat satu rancangan baru sebagai pelengkap dari seluruh rangkaian busana yang akan diperagakan dalam kurun waktu satu bulan lagi. Mengingat Fashion Week musim ini adalah target yang dikejar, ada banyak hal kecil yang perlu dirampungkan secepatnya.
Imajinasi dan inovasi. Dua hal yang menjadi modalnya sejak menggeluti bidang ini. Cita-cita yang berhasil dia wujudkan meski dalam waktu yang tidak sebentar. Pelatihan, study, semua hal itu bahkan sudah menghabiskan separuh dari masa mudanya. Sampai titik dimana Alvida melewatkan kisah romansa, atau hal lainnya. Melajang dengan setumpuk pekerjaan tidak pernah terpikirkan menjadi kehidupan yang ia inginkan. Hanya seperti itu saja dan Alvida hanya mencoba menerima kemudian menjalaninya. BIla soal inspirasi dia sudah tahu jawaban paling baik untuk menjadi solusinya.
Satu-satunya hal terbaik yang bisa mendatangkan sebuah inspirasi hanya satu hal. Guru, sahabat, bahkan keponakannya sendiri kerap kali menceramahiku soal itu.
Hal yang mudah, tidak sulit, menyenangkan, tidak melelahkan, membuat hati jadi lebih bahagia, membawa banyak perubahan positif dalam hidup. Ya itulah yang Alvida butuhkan. Namun sejauh ini dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara untuk melakukannya. Tidak pernah..
Karena Alvida masih sering keliru memaknai arti dari cinta
***
“Hei Aunty, matamu itu cantik tapi kalau sudah berkantung mata dan berwarna hitam begitu jadi buruk sekali loh. Kau begadang lagi?” Alvida mengurut pelipisnya dengan jengkel. Didepannya sekarang telah duduk Bonney keponakannya yang dengan mudah bisa berkomentar buruk tanpa memikirkan konsekuensi ataupun Alvida akan suka padanya atau tidak. Dia terlihat melukis sebuah senyum penuh kemenangan dan begitu menikmati harinya seolah sedang mengejek Alvida atas perbedaan suasana hati yang begitu mencolok diantara mereka berdua. Belum sampai disitu, Bonney yang merasa mendapatkan sedikit perhatian dan kasih sayang dari Alvida kerap melakukan apapun yang dia suka. Termasuk membawa sang Bibi keluar dari kantornya disaat dia stress parah lantaran ulah bawahannya tadi siang di jam pulang kerja.
Saat ini mereka sudah duduk di sebuah kafetaria yang berada di pinggir jalan. Bonney memilih duduk di pinggir jendela agar mereka berdua bisa melihat suasana jalanan yang dipenuhi orang-orang berlalu lalang untuk kebutuhan mereka sendiri.
“Ayolah Aunty bergairahlah sedikit, maksudku kita sedang bersantai sekarang. Lagipula pekerjaanmu kan tidak begitu banyak. Dari yang aku perhatikan kau kan cuma menggambar saja.”
“Kalau saja pikiranku sesederhana milikmu. Dengar Bonney setiap pekerjaan itu harus dilakukan dengan kerja keras. Kau juga harusnya melakukannya hal yang serupa kalau tidak kau akan—"
“Astaga! No Aunty! Saat ini aku tidak ingin mendengar nasehat apapun oke? Kita berdua tidak sedang dikantor jadi tolong jangan bahas pekerjaanku. Apa Aunty tidak lihat kalau badanku sudah sangat kurus belakangan ini. Deadline sialan, tugas presentasi, ocehan dari atasan. Itu suda cukup membuatku stress, jadi tolong Aunty tidak melakukan hal serupa begitu.”
“Itu resiko pekerjaan, kau tidak mungkin akan mendapatkan teguran kalau kau melakukan pekerjaamu dengan sempurna.”
“Aunty~ tidak semua orang sepertimu.”
Bonney benar, Alvida memang diciptakan sebagai orang yang hebat.
Menurut anggapannya dan juga dari apa yang oranglain lihat dari dirinya. Berpendidikan tinggi, kaya, lahir dari keluarga elit, terhormat, cantik, anggun, jenius. Semua kalimat positif Alvida raup untuk dirinya sendiri sebagai penggambaran dari kesempurnaan tersebut. Dan satu hal lagi kepercayaan diri itu tidak datang dengan sendirinya. Namun melalui bukti-bukti konkret yang bisa dipercayai. Apapun yang dia lakukan selalu sempurna, jika dia sudah memulai maka dia tidak akan mengalami kegagalan. Sebab Alvida selalu berusaha hingga dititik darah penghabisan agar dia tidak merasakan situasi dan perasaan sebagai seorang pecundang.
“Aku itu ya bukan tipe yang menikmati hal-hal dalam sangkar emas. Aku suka kebebasan dan juga pria-pria tampan,” lanjut Bonney lagi.
“Tidak mengherankan untukmu.”
“Wow, apa itu barusan? Aunty itu terlalu kaku tahu. Pantas saja kalau sampai sekarang tidak ada yang mau menjadi kekasihmu. Begini saja, kau harus pergi ke salon lalu kita ke sauna! Bagaimana?”
“Kau bilang hanya untuk makan saja kan? Jadi itu yang akan aku kabulkan. Setelah ini aku akan kembali ke kantor.”
“Kau mau kembali kesana? Aunty ini sudah jam pulang! Waktunya beristirahat. Kenapa kau ini suka sekali bekerja?”
Perdebatan berakhir ketika seorang pelayan menghampiri meja mereka. Dia membawa sebuah nampan berisi beberapa kudapan yang sudah mereka pesan. Pelayan pria itu langsung menatanya di atas meja. Suasana terasa lebih hening padahal kedua wanita itu beberapa saat lalu sibuk bercengkrama.
“Silahkan pesanan anda,” pelayan berambut gondrong itu melirik kearah Alvida sedikit terhenyak tapi cepat-cepat dia mengubah ekspresinya. Alvida sendiri tidak begitu menghiraukan pria yang melayaninya, dia fokus melihat keluar jendela dimana semua orang nampak bergandengan tangan bersama pasangan mereka. Kebahagiaan yang penuh ilusi itu, Alvida harap mereka tetap terjebak dalam delusi itu hingga akhir.
“Hei tampan masih ingat aku?” sapa Bonney.
“Tentu saja, saya selalu ingat para tamu yang cantik seperti Anda.” Setelahnya ada tawa kecil Bonney yang menggelegar diudara sebagai balasan untuk pelayan itu.
Mau tak mau mendengar keponakannya sedang berusaha untuk menggoda seorang pria antah berantah dan dibalas dengan rayuan serupa membuat Alvida mendengus geli. Tapi itu tidak sepenuhnya salah si pelayan. Toh, keponakannya sendiri yang terang-terangan merayunya duluan. Setelah ini Alvida bertaruh bahwa muka Bonney akan berseri-seri layaknya bocah SMA baru pubertas.
Tadinya Alvida pikir mereka akan berhenti sampai disana, tapi menyadari bahwa percakapan itu semakin panjang lantaran dia selalu saja meladeni apapun yang Bonney katakan. Ini jelas tidak bagus. Waktu istirahatnya sudah hampir habis, dan dia sendiri juga tidak betah lama-lama ditempat ini. Alvida tidak punya pilihan untuk mengusir pelayan itu pergi agar dia bisa menikmati makanannya dengan tenang.
“Apa kau tidak bisa kembali bekerja? Apakah ditempat ini tidak ada etikanya?”
Percakapan diantara kedua mahluk berbeda gender itu akhirnya berhenti. Alvida melirik kearah si pelayan dia terperangah, tapi Alvida tidak memberikan reaksi. Beberapa detik setelahnya kepala pelayan itu tertunduk.
“Tidak langsung pergi?” tuntut Alvida lagi.
“Aunty jangan begitu. Ya ampun maafkan dia, terkadang dia memang selalu impulsive. Tapi dia orang yang baik kok,” Bonney serta merta membela pria itu. Apa dimata mereka perkataan Alvida disinyalir terdengar kasar?
“Anu… Nona, untuk yang kemarin malam… mohon maafkan saya,” Alvida mengerutkan kening saat dia mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa yang dia katakan beberapa menit lalu. Kemarin malam?
“Sudahlah.” Meski tidak paham tapi Alvida tidak ingin memperpanjang ini lagi. Tapi begitu pria itu menatap matanya dengan lurus saat itulah Alvida menyadarinya. Dia pria yang telah memukul Marco kemarin malam. Sungguh dunia ini begitu sempit.
“Tapi kemarin malam saya—”
“Aku tidak datang kemari untuk itu. Tidak perlu membahasnya lagi saat aku bilang itu tidak masalah. Kau tidak perlu mengatakan maaf berulang kali, karena bisa saja aku jadi muak dan menarik kembali kata-kataku semalam.”
Mendengar hal itu si pelayan langsung mengangguk pelan dan kembali ke posisi kerjanya. Seharusnya sejak tadi dia melakukan itu karena Alvida tidak suka sesuatu yang mengulur-ulur waktu dan tidak punya manfaat apapun untuk keberlangsungan hidupnya. Tapi dampak dari itu, dia melihat keponakannya menatap dia tidak suka.
“Apa?” Alvida mendelik.
“Apa yang baru saja kau lakukan? Aku masih ingin mengobrol dengan dia Aunty!” Bonney menumpahkan kekesalannya, tapi Alvida acuh tak acuh menanggapinya.
“Kau bisa mengobrol dengannya sesukamu setelah aku pergi, aku cuma ingin menyantap makanan ini dengan nikmat tanpa gangguan dari orang asing. Lagipula aku lihat dari interaksi kalian kau sudah mengenal dia kan?”
“Ya memang, tapi menurut Aunty dia tampan kan?” tiba-tiba Bonney memutar pembicaraan mereka.
“Tidak. Biasa saja.”
“Ck, kau ini memang tidak menarik. Terus yang bagaimana yang menurutmu tampan? sampai kapan Aunty mau setertutup ini? kau akan semakin tua dan keriput loh.”
“Berisik, aku tidak perlu mencari. Suatu saat akan ada yang datang padaku. Aku yakin Kakek sudah punya rencana kearah sana. Dia pasti akan menyuruhku menikah dengan pria pilihannya.”
“What? Aunty mau mau saja menerima perjodohan tanpa tahu bagaimana rasanya letupan dan gairah cinta?”
“Aku tidak bilang akan menerimanya. Aku akan melihat dia dulu. Lagipula, aku senditi tidak peduli dengan namanya perasaan melankolis menjijikan itu.”
“Apa yang terjadi diluar sepengetahuanku? Apa kau bertemu pelayan tampan itu disuatu tempat?” Selidik Bonney tiba-tiba. Alvida hanya menghela napas lelah.
“Bukan hal penting. Makan saja makananmu aku akan secepatnya menghabiskan ini lalu pergi dari sini.”
Alvida tidak begitu menghiraukan Bonney yang kembali bertingkah tidak pada tempatnya. Dia terlihat asyik memandangi si pelayan yang sedang berkeliling dari satu meja kemeja lain untuk melayani para tamu yang datang. Jika melihat dari suasana kafe-nya memang padat. Tapi range usia dan didominasi oleh para gadis muda menunjukan seberapa terkenalnya pelayan yang Bonney bilang tampan pada Alvida barusan. Jika diperhatikan Alvida bisa setuju pada pendapat keponakannya, pelayan itu memang punya wajah diatas rata-rata. Dengan modal itu dia bisa mendaki karir yang lebih mapan. Jadi artis atau model misalnya? Melihat tubuhnya juga bagus.
“Antar aku ke kantor Bonney. Kita kemari karena kau memaksaku, jadi aku tidak bawa mobil.” Setelah menemai keponakannya yang kurang kerjaan itu. Maka titah demikian keluar dari mulut Alvida.
“As you wish my Aunty.” Untungnya suasana hati Bonney nampak lebih baik.
Tiba di kantor semua orang nampaknya sudah pulang. Tersisa beberapa pegawai bagian keamanan dan cleaning service saja. Alvida langsung menuju keruangannya dan memeriksa banyak hal sebelum pulang. Dia tidak bisa tidur jika belum memastikan semua halnya sempurna. Mengingat pekerjaan ini punya peluang besar dan bisa memenangkan tender yang nilainya milyaran.
Matahari bergerak turun, suasana semakin sepi dan malam telah menyelimuti. Alvida tidak menyadari seberapa banyak waktu telah bergulir. Dia selalu terlalu larut dalam dunianya sendiri jika sudah menyangkut berkas dan beberapa laporan dari bawahannya. Terakhir dia menghabiskan waktu agak lama di pemeriksaan bahan-bahan yang akan dieksekusi keesokan harinya. Ketika dirasa sudah cukup, Alvida akhirnya memutuskan untuk bergegas pulang. Dia benar-benar ingin berendam di bath tube berisi air hangat dilengkapi dengan lilin aroma terapi kesukaannya. Jangan lupakan pula kelopak bunga mawar yang bertaburan di airnya nanti. Air hangat akan membantunya untuk memanjakan seluruh sendi dan tulang-tulang ditubuhnya yang lelah dan pegal sekaligus mengusir stress yang membuat kepalanya penat.
Seluruh skenario itu tersusun rapi dipikirannya sampai kemudian pandangan matanya tertuju pada sebuah lampu ruangan yang masih menyala.
Masih ada entitaskah disana?
Tanpa sadar langkah kakinya sudah mencapai pintu depan ruang Direktur Utama. Tapi dia tidak bisa mendengar suara apapun dari sini.
Haruskah dia mengetuk pintunya?
Anda Mungkin Juga Suka





