Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia

Negeri Ini Dikuasai Mafia

Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Belajar dari kematian Sarko yang membawa rahasia pribadi, termasuk rahasia hati dan pikirannya ke alam baka, Setro telah menceritakan kisah hidupnya kepada empat anaknya. Bukan hanya sekali dua kali Setro bercerita, tapi berkali-kali. Setro berharap kalau ada satu anaknya lupa, maka yang lainnya ingat.

Mereka harus ingat bahwa ayah mereka sebenarnya bukan kere, bukan orang miskin andai kata haknya tidak dirampas orang lain. Orang yang merampas haknya itu sebenarnya tidak layak disebut orang lain karena masih ada garis keturunan dengan ayah mereka. Orang yang merampas hak Setro itu Sarko, paman Setro.

Anak-anak Setro memanggil Sarko dengan sebutan Mbah Sarko, atau Kakek Sarko. Basudo, Setiyono, Setiyani, dan Tarnoto mungkin benci setengah mati pada Sarko. Namun mereka tidak bisa memungkiri bahwa Sarko adalah kakek mereka.

Bagi Setiyono, Setiyani, dan Tarnoto, mungkin penderitaan Setro tidak begitu menoreh luka di hati. Namun bagi Basudo, perampasan hak tanah milik Setro oleh Sarko membuat Basudo sangat terluka hatinya. Kemiskinan yang mendera, membuat Setro bekerja apa saja demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya.

Setro bekerja sebagai tukang parkir gelap di Pasar Bubudan bagian timur. Pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Tawangtalun menyebutnya tukang parkir liar. Penderitaan Setro berimbas pada Basudo.

Basudo ikut menderita karena sejak kecil sudah harus bekerja membantu ibunya. Basudo bekerja membantu ibunya demi menghidupi ketiga adiknya. Dengan keadaan seperti itu, Basudo bisa lulus SMK jurusan mesin, sudah merupakan anugerah Tuhan yang tak terkira.

Luka hati Basudo membuatnya dendam pada Sarko. Ingin suatu saat nanti dia membalas dendam pada Sarko. Hanya saja, Basudo tidak bisa melampiaskan rasa dendamnya kepada Sarko karena Sarko sudah keburu mati!

Brengsek! Kenapa Sarko mati sebelum aku balas dendam pada si tua bangka itu?Umpat Basudo dalam hati saat melayat di rumah Sarko. Andaikata Sarko panjang umurnya, aku bisa menyiksa batinnya dengan caraku sendiri.

Pada saat Sarko masih hidup, Sarko sering menserviskan sepeda motornya di Bengkel Bleduk milik Sigrak. Basudo kerja di Bengkel Bleduk. Letak Bengkel Bleduk di sebelah timur Pasar Bubudan, tidak jauh dari tempat kerja Setro.

Setiap kali Sarko ke Bengkel Bleduk, Basudo berupaya mengerjakan sepeda motor orang lain, bukan sepeda motor Sarko. Kebenciannya terhadap Sarko sudah tidak bisa ditutupi lagi. Bagi Basudo, haram rasanya menservis sepeda motor Sarko!

“Kamu jangan seperti itu pada Paman Sarko!” nasehat Setro kepada Basudo suatu hari. Ketika keduanya makan siang di warung. Warung makan itu terletak di timur Pasar Bubudan.

“Apa pun kelakuannya pada kita,” lanjut Setro, “dia tetap saja kakekmu. Dia juga pelanggan di Bengkel Bleduk. Kalau kamu bersikap seperti itu pada Paman Sarko, lalu dia pindah ke bengkel lain, maka bosmu akan kehilangan satu pelanggan.”

“Kehilangan satu pelanggan sama saja berkurang penghasilan Bengkel Bleduk,” Setro menjelaskan. “Kalau kejadian itu makin hari makin bertambah, maka Bengkel Bleduk bisa banyak kehilangan pelanggan.”

“Akibat terburuk Bengkel Bleduk menjadi bengkel yang tidak laku dan tutup. Kamu mau kerja di mana kalau sampai bengkel tutup?” tanya Setro.

“Di sebelah timur Pasar Bubudan,” jawab Basudo dengan nada ringan. Lalu Basudo tersenyum, “Hanya bercanda, Pak. Baiklah, sejak besok Basudo tidak akan memperlihatkan perasaan bencinya pada Sarko.”

Sengaja Basudo tidak menggunakan panggilan ‘Kakek’ atau ‘Mbah’ ketika menyebut nama Sarko. Hal itu sebagai ungkapan ketidaksenangan Basudo pada Sarko.

“Nah, itu baru anak Bapak. Basudo…, kalau kamu ingin melakukan balas dendam pada Paman Sarko. Boleh-boleh saja, tapi jangan menggunakan kekerasan.”

“Jangan pula kamu melakukan sesuatu yang mencolok,” nasihat Setro. “Kamu bisa melakukan balas dendam dengan cara yang tidak kelihatan. Kamu bisa membuatnya sengsara seumur hidup tanpa diketahui bahwa kamulah yang menyebabkannya.”

“Caranya bagaimana, Pak?”

“Kamu kok seperti anak kecil saja, Basudo! Gunakan cara halus. Bahkan cara yang paling halus. Terserah bagaimana caranya, kamu bisa merancangnya sejak sekarang.”

Setro menambahkan, “Sejak sekarang, kamu bisa pikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa dekat sama Paman Sarko. Setelah kamu dekat, kalau suatu saat kamu melakukan balas dendam, tidak ada yang mencurigaimu.”

Basudo mengikuti saran ayahnya. Namun keinginan Basudo untuk membalas dendam tidak terlampiaskan. Sarko meninggal dunia.

Sarko telah pulang ke alam keabadian, terbebas dari balas dendam. Basudo berada dalam penyesalan yang tiada ujung. Penyesalan seumur hidupnya.

Sekitar jam delapan Basudo bangun tidur. Ada sebuah rencana besar yang akan dia lakukan saat ini. Hari ini. Sebuah rencana yang telah dirancang selama tiga hari.

Dengan cara yang akan dilakukannya nanti, dia berharap persoalan yang dihadapi Setiyani selesai. Selesai tanpa menyisakan masalah lain. Selesai tanpa ada beban batin.

Kegiatan yang dilakukan Basudo seperti hari-hari sebelumnya. Bangun tidur setelah jam tujuh, mandi, sarapan, berangkat kerja dengan naik sepeda motor jenis bebek empat tak. Warna hitam sepeda motornya makin tampak kusam karena catnya sudah mengelupas dan berkarat.

Walau sepeda motornya sudah bermesin tua, tetapi terawat. Sepeda motor itu masih mampu melaju di atas sembilan puluh kilometer per jam. Basudo memakai helm warna hitam ke Bengkel Bleduk.

Memakai helm ketika ke Bengkel Bleduk merupakan sesuatu yang lain dari biasanya. Dalam keseharian, dia tidak memakai helm karena jarak dari rumah ke Bengkel Bleduk hanya beberapa ratus meter. Kelakuan Basudo yang lain dari biasanya, tidak mengundang kecurigaan siapa pun.

Setelah makan siang, Basudo pamit pada Sigrak. Dia pamit ke Tawangtalun untuk membeli gandum. Sigrak mengijinkan dengan pesan, “Setelah selesai keperluanmu, segera kembali ke bengkel!”

“Ya, Mas,” jawab Basudo singkat.

Basudo memenuhi pesan Sigrak. Tidak lebih dari tiga jam, Basudo sudah kembali ke Bengkel Bleduk. Bekerja seperti biasanya.

Sigrak sibuk menservis belasan sepeda motor. Dia tidak tahu pasti berapa lama Basudo pergi. Dia hanya memperkirakan kepergian Basuda sekitar satu sampai dua jam.

Kenyataannya, Basudo ke Tawangtalun sekitar tiga jam. Padahal kalau waktu normal, bepergian ke Tawangtalun hanya untuk membeli gandum, paling lama hanya membutuhkan waktu satu jam. Sigrak, atau siapa pun orang yang berada di Bengkel Bleduk, tidak menduga. Juga tidak menyangka apa yang sebenarnya dilakukan Basudo selain membeli gandum pesanan ibunya.

Basudo memang membeli gandum merk khusus yang tidak ada di Pasar Bubudan. Basudo langsung memulangkan gandum untuk bahan membuat makanan gorengan sebelum kembali ke Bengkel Bleduk. Namun ada suatu urusan selain urusan gandum.

Sesuatu yang lain telah dilakukan Basudo tadi. Suatu tindakan yang kelak sangat berpengaruh bagi peruntungan Basudo. Suatu tindakan yang menjadi dasar Basudo merajut jalinan kisah hidupnya. Kisah hidup yang penuh dengan genangan darah seiring melayangnya ribuan nyawa manusia…!

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Captain's Ravenge
9.4
Arya Bimantara terpaksa meninggalkan posisinya di perbatasan Kalimantan setelah menerima berita duka yang mendadak. Aryo, saudara kembarnya, ditemukan tewas bersama istrinya tak lama setelah mereka saling berkirim pesan. Saat pulang untuk menghadiri pemakaman, Arya mencium adanya kejanggalan. Penyelidikan mandiri mengungkap bahwa pasangan itu sebenarnya dibunuh secara terencana. Kini, sang kapten harus melacak pelaku di balik tragedi berdarah ini demi membalaskan dendam keluarganya.
Sampul Novel DI ATAS RANJANG MAFIA
9.7
Michele Lazzaro Riciteli adalah pemimpin mafia Roma yang kejam dan memiliki kondisi medis langka. Dirinya kebal terhadap rasa sakit fisik, namun ia juga tidak mampu merasakan kepuasan seksual. Hidupnya berubah drastis setelah terlibat cinta satu malam dengan Meghan Crafson, wanita yang secara ajaib bisa menyembuhkan disfungsinya. Demi mempertahankan sensasi yang selama ini hilang, Michele nekat memerintahkan penculikan Meghan. Apa rahasia di balik identitas Meghan sebenarnya?
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Marlina kehilangan segalanya demi ambisi pendidikan, termasuk kehormatan dan status sosialnya. Terbuang dari masyarakat, ia terjerumus ke dunia gelap narkoba di kota besar sebagai pengedar cantik yang diperebutkan para bandar. Meski berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival mengirimnya ke penjara. Setelah mendalami agama di balik jeruji, Marlina justru kembali menghadapi penolakan keras saat bebas. Kini ia harus memilih: kembali ke jalan haram atau teguh berhijrah.
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa saat mengarungi Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu tersebut. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Isamu kini memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah, yang ternyata adalah mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel menjalani hidup penuh hinaan sebagai menantu yang dipaksa memakan sisa hidangan keluarga istrinya di lantai. Penindasan kejam dari Shirley dan kerabatnya membuat Marcel putus asa hingga ia nekat menenggak formula rahasia peninggalan orang tuanya. Bukannya tewas, cairan itu justru membangkitkan kekuatan luar biasa dalam dirinya. Kini, sang ahli obat yang dulunya dianggap sampah telah bangkit untuk membalikkan keadaan. Akankah mereka yang merendahkannya bersujud memohon ampun?