
Nasip Sang GADIS MALANG
Bab 2
~~~~~~~~~
Kamar mandi menguap hangat ketika Abigel keluar, sehelai handuk mewah melingkar erat di tubuhnya, menyerap tetesan air yang masih menempel di kulitnya.
Udara dingin ruangan itu membuatnya merinding. Noah sudah menunggu, duduk di tepi ranjang dengan ekspresi yang sulit dibaca.
" Duduk sini dulu, sayang. Aku ingin memeriksamu. " ucap Noah, suaranya lembut namun mengandung nada yang membuat Abigel sedikit tegang.
Abigel membeku di tempatnya, tangan mengencangkan cengkeramannya pada handuk.
" M-Memeriksa apa? " tanyanya dengan suara bergetar penuh kegugupan.
Noah hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang membuat jantung Abigel berdetak tak beraturan.
Dengan gerakan yang cepat dan halus, Noah berdiri dan mendekati Abigel. Abigel yang sebelum sempat bereaksi, namun Noah sudah mengangkat tubuhnya dengan mudah.
Wanita itu hampir berteriak kaget, tangannya secara cepat mencengkeram kemeja Noah cukup erat karena takut terjatuh.
Dengan hati-hati, Noah mendudukkan Abigel di tepi ranjang, posisinya persis di hadapannya.
" Aku ingin memeriksa milikmu, sayang. " bisiknya, matanya tak lepas dari Abigel.
" Sepertinya kemarin kamu sangat kesakitan. "
Mendengar itu, dengan cepat Abigel merapatkan kedua kakinya, wajahnya memerah dan mengalihkan pandangannya ke karpet mewah di lantai.
Pikirannya melayang ke situasi yang terjadi kemarin malam.
" Udah tahu sakit, tapi masih di paksa. Dasar nggak punya hati. " batin Abigel mendengus kesal.
Tanpa banyak bicara, dengan lembut Noah mulai melepaskan handuk yang melindungi tubuh wanita itu.
Dengan ia hati-hati meletakkan kedua kaki Abigel di atas tempat tidur, membukanya perlahan untuk memeriksanya.
Abigel yang merasa malu dan terbuka, segera menutupi area itu dengan kedua tangannya.
" Jangan ditutup, sayang. " ucap Noah dengan suaranya yang tiba-tiba serak, penuh dengan hasrat tertahan.
Dengan lembut, Noah mulai memeriksanya.
" Apa ini sakit, sayang? " tanyanya yang terus memperhatikan milik Abigel.
Abigel menggeleng pelan, napasnya mulai tak teratur.
" E-enggak... cuma rasanya aneh aja. " jawabnya jujur.
Mendengar pengakuan itu, senyum kecil yang percaya diri sebuah smirk muncul di wajah Noah.
Tidak berselang lama, kegiatan panas itu terulang kembali. Namun kali ini Abigel tidak memberontak, melainkan mulai menikmatinya.
Hal itu membuat Noah merasa sangat senang dan penuh kemenangan, karena berhasil meluluhkan hati wanita itu perlahan lahan.
Dalam keheningan yang kembali menyelimuti kamar, Noah memeluk erat Abigel yang masih lemas.
" Terima kasih, sayang. " bisiknya lembut di telinga Abigel, suara yang kontras dengan perasaan aneh beberapa saat sebelumnya.
_
_
_
Jam dinding masih menunjukkan pukul 11:20 siang, ketika Abigel sudah selesai membersihkan tubuhnya untuk kedua kalinya
Pagi itu, udara masih terasa lembap dari uap air yang baru saja menguap. Abigel duduk di bangku meja rias, dengan tubuh masih sedikit lemas.
Di belakangnya, Noah berdiri dengan handuk lembut di tangan, penuh perhatian mengeringkan helai demi helai rambut Abigel yang masih basah.
" Maaf ya, sayang. " ucap Noah dengan suara rendah yang bergetar penuh emosi.
" Aku tidak bermaksud membuatmu kembali kelelahan. " lanjutnya sambil tangan terampilnya terus bekerja mengeringkan rambut wanita itu.
" Tapi aku tidak bisa tahan saat melihat milikmu yang indah itu. " bisiknya, merujuk pada tubuh Abigel yang baru saja ia lihat begitu sempurna di balik pancuran.
Abigel hanya diam membisu, matanya menghindari kontak dengan Noah melalui pantulan cermin.
Abigel memilih fokus pada sikat make-up di atas meja, daripada harus menatap pria yang baru saja membuatnya lemas lagi.
Noah membungkuk, mendekatkan wajahnya ke bahu Abigel. Satu tangannya bebas menyentuh lembut pipi wanita itu, sementara bibirnya mulai menciumi lehernya yang masih basah oleh percikan air.
"Mmm.. " Abigel mendesis pelan, matanya refleks terpejam saat sensasi familiar itu kembali menyebar.
" Aku selalu tidak bisa menahan diri jika bersamamu, sayang. " ucap Noah berbisik lagi, napasnya hangat di dekat telinga Abigel.
" Kamu sangat candu untukku. "
Tak cukup dengan itu, ia mulai menggigit lembut daun telinga Abigel, membuat wanita itu gemetar.
" No-Noah.. "
" Aku laper. " tuturnya.
Ucapan itu seperti menyiram air dingin untuk Noah. Ia langsung tersadar, karena memang mereka telah melewatkan waktu sarapan karena kesibukan mereka pagi itu.
" Maaf sayang, biar aku ambilkan makanan. Kamu disini saja. " ucapnya cepat, sebelum mencium sekali lagi leher Abigel dan bergegas keluar kamar.
Begitu pintu tertutup, Abigel segera membuka mata dan mendekatkan wajahnya ke cermin.
Dengan jari gemetar, ia menyibak rambutnya dan menarik napas pendek. Lehernya dipenuhi tanda merah bekas c!um4n dan gigitan yang Noah lakukan. Beberapa bahkan terlihat agak keunguan.
" Dia benar-benar gila. " gumam Abigel pada bayangannya sendiri, jari-jarinya menelusuri setiap tanda yang ditinggalkan pria itu.
Setiap jejak itu seperti stempel kepemilikan yang ia rasa semakin mengurungnya dalam dunia Noah yang begitu intens dan kadang membuatnya sulit bernapas.
Beberapa menit kemudian, Noah kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan yang berisi berbagai hidangan.
Aroma harum buah segar dan Croissant hangat memenuhi udara. Dengan hati-hati ia meletakkan nampan di atas meja kecil di depan sofa, kemudian mengambil mangkuk berisi salad buah yang penuh warna.
" Biar aku suapin kamu sayang. " ujarnya lembut, dengan sendok sudah terulur dari tangannya.
Abigel hanya duduk di sofa, dengan tubuh yang masih terasa lemas.
Matanya kosong menatap ke depan, membiarkan Noah menyuapinya tanpa perlawanan. Bibirnya membuka secara otomatis menerima suapan demi suapan itu.
Noah tak berhenti menyuapinya, suarnya tetap lembut penuh perhatian.
" Apa ada yang kamu inginkan, sayang? Mau jalan-jalan ke mana? Aku akan mengantarmu ke mana saja. " tawarnya, berusaha memancing respon dari Abigel.
Abigel mengunyah makananya dengan perlahan, dengan mata yang sengaja menghindari kontak dengan Noah.
" Aku... nggak mau apa-apa. Cuma ingin jalan-jalan di sekitar sini aja. " jawabnya datar.
Noah mengangguk, senyum tipis menghias bibir pria itu.
" Baiklah. Nanti akan kuantar kamu keliling halaman belakang. Di sana banyak tanaman buah yang sudah mulai mateng. " ucapnya.
Mendengar kata tanaman buah, tanpa sadar mata Abigel langsung berbinar.
" Benarkah? Ada buah apa aja? " tanyanya dengan nada yang tiba-tiba antusias, seolah lupa sejenak pada semua kekakuan antara mereka.
Noah tersenyum semakin lebar, senang melihat reaksi antusias Abigel.
" Banyak, ada Strawberry, Blueberry, Anggur, bahkan Pir. Semua kutanam untukmu, sayang. " ujarnya penuh arti.
Tiba-tiba Abigel terdiam mendadak, ekspresinya berubah sedikit.
" Jadi.. semua ini udah ia rencanakan sejak dulu? " batinnya, merasa seperti ada sesuatu mengganjal di dadanya.
Noah terus menyuapi dengan lembut, matanya tertuju pada bekas c!um4n yang masih jelas terlihat di leher Abigel.
" Masih ada yang ingin kamu tanyakan tentang halaman belakang? " tanyanya lagi.
Abigel menggeleng, menundukkan kepalanya.
" Nggak. " jawabnya singkat.
Senyum smirk muncul di bibir Noah. Jarinya menyentuh lembut bekas ciuman di l3h3r wanita itu.
" Kamu terlihat sangat cantik dengan tanda ini. " bisiknya, suara rendah penuh kepuasan.
Abigel hanya diam, menahan perasaan campur aduk yang membuatnya ingin menangis.
Sementara Noah masih terus menyuapinya dengan penuh perhatian, seolah tidak ada yang salah dengan situasi mereka yang rumit itu.
Setiap suapan terasa seperti simbol kontrol dan kepemilikan, bukan sekadar gesture kasih sayang.
_
_
_
Di halaman belakang rumah mewah yang luas itu, Noah dan Abigel berdiri di antara hamparan kebun buah yang tertata rapi.
Dengan sedikit lirikan matanya yang tajam, Noah memberikan isyarat halus kepada para pelayan yang sedang beraktivitas di sekitar area tersebut.
Seketika, semua pelayan itu memahami pesan nonverbal itu dan segera beranjak pergi, meninggalkan mereka berdua sendirian di tengah kebun.
Abigel terlihat tampak sangat antusias berjalan pelan di setiap petak kebun, matanya berbinar-binar memandangi buah-buahan yang sangat menggoda untuk di petik.
Dengan perlahan Noah mendekat dari belakang, langkahnya pasti namun tidak tergesa-gesa.
" Kamu boleh petik dan makan semua buah itu sepuasmu, sayang. " ucapnya dengan suara lembut namun penuh makna.
" Semua itu memang untukmu. " lanjutnya.
Abigel menoleh ke arah pria itu, kemudian senyum kecil mengembang di bibirnya.
" Ini beneran nggak apa-apa? " tanyanya, masih sedikit ragu.
Noah mengangguk, pandangannya penuh kepastian.
" Iya sayang, semua yang ada di rumah ini juga milikmu, karena kamu nyonya rumah ini. " jawabnya sambil mendekat lebih erat.
Tanpa diduga, Noah memetik satu buah strawberry merah sempurna dan membawanya ke bibir Abigel.
Namun alih-alih menyuapkannya dengan tangan, pria itu membawa buah tersebut dengan mulutnya sendiri, mendekatkannya ke bibir Abigel.
Tangannya dengan lembut meraih pinggang wanita itu, menariknya semakin dekat hingga tubuh mereka hampir bersentuhan.
B!b!r mereka pun menyatu dalam sekejap, berbagi rasa manis strawberry yang sedikit asam.
Rasa buah itu terasa semakin manis dan panas di antara pertukaran napas mereka yang semakin memburu.
Dalam momen itu, di antara rimbunnya tanaman buah dan hawa hangat yang menyelimuti, seolah hanya ada mereka berdua yang saling berbagi kehangatan dan rasa kepemilikan yang begitu kuat.
~~~NEXT~~~
Anda Mungkin Juga Suka





