
Nasip Sang GADIS MALANG
Bab 3
~~~~~~~~
Di dalam mobil mewah yang meluncur cepat, Noah duduk di belakang kemudi dengan satu tangan dengan santai memegang setir, sementara tangan lainnya terentang di sandaran kursi penumpang, hampir menyentuh bahu Abigel.
Suara mesin yang halus hampir tidak terdengar, menciptakan suasana yang sunyi dan tegang di dalam mobil itu.
Noah menoleh sebentar ke arah Abigel, matanya menyapu wajah wanita itu yang nampak kelelahan.
" Nanti di kantor, kamu bisa beristirahat di privat room-ku, sayang. " ujarnya dengan suara datar namun mengandung unsur perintah yang tak terbantahkan.
Abigel mengangguk lemas, kepalanya terasa berat.
"Em." jawabnya singkat, suaranya hampir tak terdengar.
Noah melanjutkan, nadanya sedikit lebih tegas.
" Dan jangan keluar dari ruangan itu tanpa izinku. Aku tidak ingin ada yang mengganggumu."
Abigel hanya menutup matanya, bersandar ke bahu pria itu dengan lelah sambil menghela nafas pelan.
" Hmm..." gumamnya, karena merasa terlalu lelah untuk memberikan respons yang lebih jelas.
Noah melirik Abigel yang tampak lemas, suaranya tiba-tiba menjadi lembut.
" Kamu masih lemas? Maafkan aku sayang, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diri. "
Abigel tidak menjawab, hanya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dari gemuruh pikiran yang mengganggunya.
_
_
_
Sesampainya di kantor megah milik Noah, suasana langsung berubah drastis. Pria itu keluar dari mobil dengan gesit, kemudian langsung merangkul pinggang Abigel dengan posesif, menariknya dekat ke tubuhnya.
" Stay close to me, sayang. " bisiknya, suara rendah namun penuh kuasa.
Para karyawan yang melihat langsung berbisik-bisik pelan.
" Wah, siapa itu? Kok Boss terlihat sangat protektif sekali. " gumam salah satu karyawan.
" Mungkin adiknya? Tapi kok rasanya nggak mirip. " Karyawan lainnya membalas dengan suara pelan.
Dari kejauhan, karyawan lain mengamati dengan cermat.
" Lihat cara Boss memandangnya. Pasti ini wanita spesialnya."
Noah tiba-tiba memandang tajam ke arah karyawan yang berbisik, membuat mereka langsung terdiam dan menunduk ketakutan.
Abigel berusaha menunduk, wajahnya memerah karena malu.
" Noah jangan pegang terlalu erat di sini. " pintanya dengan suara kecil.
Noah mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu, berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya.
" Tidak ada yang berhak protes, sayang. Mereka harus tau bahwa kamu itu milikku. "
Tanpa melepas rangkulannya, Noah terus memandu Abigel dengan posesif menuju lift khusus, meninggalkan para karyawan yang masih saling pandang dengan penuh keheranan dan rasa penasaran.
Setiap langkah mereka diikuti oleh pandangan tak percaya dan bisik-bisik yang tak berani diucapkan terlalu keras.
~~~~
Di dalam lift yang sepi dan mewah, suasana tiba-tiba berubah menjadi intim dan mencekam.
Noah tak membuang waktu. Tangannya yang hangat dengan lembut mendongakkan wajah Abigel, memaksanya menatap matanya yang gelap penuh intensitas.
Sebelum Abigel bisa bereaksi, bibir pria itu sudah menyambut bibirny4 dalam sebuah ciumsn yang dalam dan penuh klaim.
Abigel hanya bisa memejamkan mata, menyerahkan diri pada kemauan Noah. Tubuhnya sedikit gemetar ketika bibir atas dan bawahnya bergantian dilumat dengan penuh hasrat oleh pria itu.
Tangannya yang besar menekan tengkuk Abigel, memperdalam ciumanny4 hingga tak ada celah antara mereka.
" Enghh..." lenguh Abigel lemah, nafasnya mulai tersengal-sengal.
Namun Noah tak berhenti. Ciumannya bergerak turun ke leher Abigel, meninggalkan jejak panas di setiap jengkal kulit yang disentuhnya.
Pria itu terus mencium dan menggigit lembut kulit leher Abigel yang masih sensitif, membuat wanita itu merinding.
" Noah... udah.." protes Abigel lemah, tangannya mencoba mendorong dada Noah tanpa keberhasilan.
Noah mengangkat kepalanya, matanya yang gelap menatap langsung ke dalam mata Abigel.
" Setiap melihat bibirmu ini, " bisiknya dengan suara serak.
" Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melumatnya, sayang. Bibirmu ini sangat candu buatku. "
Sebelum Abigel bisa merespons, Noah sudah kembali menangkupkan bibirnya pada bibir Abigel, melumatnya dengan sebuah intensitas yang membuat kaki wanita itu melemah seakan kehilangan kekuatanya.
Di dalam lift yang terus bergerak naik, mereka terisolasi dalam dunia mereka sendiri, sebuah dunia dimana Noah memerintah dan Abigel hanya bisa pasrah menerima setiap bentuk posesifitas dan ketagihan yang ditunjukkannya.
TING!
Pintu lift terbuka dengan halus, memperlihatkan koridor mewah lantai eksekutif yang sepi.
Noah dengan enggan melepaskan bibirnya dari Abigel, namun lengannya tetap erat melingkari pinggang wanita itu seolah takut akan menghilangnya.
" Ayo, sayang. " bisiknya suara serak, menuntun Abigel untuk keluar dari lift.
Dani sang asisten yang sudah menunggu di depan pintu kantor, hampir tak bisa menyembunyikan keheranannya melihat wanita mungil di samping bosnya itu.
Matanya membelalak sesaat sebelum akhirnya kembali fokus.
" Selamat pagi, Tuan. Ada beberapa dokumen yang perlu..."
Noah tak menghiraukan laporan asistenya itu, langkahnya tak melambat saat melewati Dani yang menyapanya dengan sopan.
" Buka pintunya, Dan. " perintahnya singkat tanpa menoleh.
Dani buru-buru membukakan pintu itu, dengan perlahan lahan.
" Baik, Tuan. " jawabnya patuh.
Di dalam ruangan yang luas dan megah, dengan lembut Noah menuntun Abigel ke sofa kulit hitam yang besar.
" Duduklah di sini, sayang. Lebih nyaman. " ujarnya sambil menekan bahu wanita itu perlahan.
Abigel hanya menurut, tubuhnya ringkih tenggelam di bantal sofa empuk.
Matanya kosong menatap keluar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota yang sibuk.
Noah berjalan ke meja kerjanya yang megah, mengambil posisi di kursi eksekutif.
" Dan, siapkan camilan, buah potong dan susu dingin untuk istriku. " perintahnya tanpa melihat ke arah asistennya.
" Baik, Tuan. " jawabnya sebelum beranjak pergi.
Noah kini memandangi Abigel yang masih terpaku pada pemandangan di balik jendela.
" Kamu baik-baik saja, sayang? " tanyanya, suaranya berusaha lembut.
Abigel tetap diam membisu, tak bergerak sedikitpun.
Dani yang masih berdiri di dekat pintu pun, memberanikan diri untuk bertanya.
" Apakah perlu saya panggil dokter, Tuan? Nona terlihat... "
" Tidak perlu . " jawab Noah dengan suara rendah.
" Dia hanya lelah. Sekarang lakukan perintahku. " lanjutnya.
Dani pun segera keluar, meninggalkan mereka berdua.
Noah kemudian beranjak dari kursinya, mendekati Abigel yang masih terpaku.
Ia duduk di sofa, menarik tubuh wanita itu dengan mudah ke pangkuannya. Tangan besarnya mengelus pipi pucat Abigel dengan lembut.
" Kamu mau apa sayang? " tanyanya lagi.
" Aku pengen pulang, tapi kalau aku bilang gitu, juga percuma. " batin Abigel tanpa suara.
Ia hanya menggeleng pelan, kemudian dengan pasrah menyandarkan kepalanya di dada Pria itu. Noah langsung tersenyum puas, tangannya mulai mengelus lembut rambut panjang Abigel yang tergerai indah.
" jika menginginkan apapun, bilang saja sayang, aku akan menurutinya. " bisiknya, sebelum menambahkan dengan nada yang tiba-tiba tegas.
" kecuali pergi dariku! " tegasnya.
" Tuh kan..." lirih Abigel dalam hati, mata yang tadi kosong kini berbinar pelan oleh cairan keputusasaan yang mulai menggenang.
Ia benar benar merasa sudah terikat dan tak ada lagi jalan keluar dari tempat itu.
~~~NEXT~~~
Anda Mungkin Juga Suka





