
NAJIS JADI MADUMU, MAS!
Bab 3
Tanpa menunggu lama, karena pesan yang ia kirimkan tidak mendapatkan jawaban, maka Erina langsung komen status pacarnya tersebut. Daripada dirinya selalu diliputi rasa curiga dan prasangka yang tidak benar kepada calon suaminya itu, lebih baik dia meluapkan saja rasa penasarannya daripada menduga-duga yang justru akan berakibat terjadinya berprasangka buruk dan menuduh yang tidak tidak mengenai kekasihnya itu.
[Kenapa kamu, Mas? Kenapa bikin status kayak gitu? Acara apa yang kamu maksud?]
Gadis itu benar-benar sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya, seperti sebuah teka-teki sulit yang harus dia pecahkan, bahkan hatinya pun masih saja merasa perih dan juga kecewa, akibat pernikahannya yang batal dilangsungkan hari ini. Apalagi orang-orang sudah berkata yang sangat tidak enak, membuat semuanya terasa begitu berat dan juga pahit untuk dirinya lewati.
Lelaki itu belum kunjung membalas. Semakin membuat Erina resah pastinya. Ia kemudian menelepon Zaid, hingga pada akhirnya panggilan itu diangkat setelah 2 panggilan tidak terjawab.
Karena lelaki itu sangat sulit dihubungi dan setelah bisa dihubungi benar-benar membuat dirinya merasa begitu lega. Walaupun hanya sebuah panggilan, tetap saja membuat dirinya merasa begitu tenang. Kabar dari lelaki itu memang selalu dirinya tunggu.
Dan, jembatan itu pun entah kapan akan direnovasi lagi dirinya belum mengetahui dan pastinya akan memakan waktu yang cukup lama.
"Untuk apa kamu membuat status seperti itu? Bukannya hari ini acara pernikahan kita batal karena jembatan putus? Lalu ucapan Alhamdulillah semuanya lancar itu untuk apa?" tanya Erina saat panggilannya berhasil tersambung.
Erina saja sampai tidak mau membuka sosial media, karena sangat malu pasti akan banyak teman-temannya yang menanyakan kenapa acara pernikahannya batal dilangsungkan hari ini dan dirinya yakin diantara yang bertanya tersebut hanya mereka hanya ingin tahu saja, bukan ingin memahami dirinya.
"Oh, aku bikin status buat aqiqahan anak temen aku, Erina. Mending aku hibur diri dengan pergi ke acara teman ketimbang meratapi pernikahan kita yang gagal hari ini," balasnya to the point.
Zaid si lelaki kaya pemilik kebun teh dari desa manggis itu mengakui kegelisahannya dan berusaha untuk mengalihkan perhatian dalam mencari kegiatan lain. Erina mendengarkan dengan seksama. Erina berpikir positif, kalau ini adalah alasan tervalid kenapa Zaid susah dihubungi sejak tadi.
"Aku boleh tahu nggak, Mas? Kalau begitu video call saja," pinta Erina.
"Jangan dulu, ya, karena aku lagi mau ngobrol dengan mereka, karena udah lama tidak bertemu, lain kali saja, ya," tolak Zaid.
Erina sudah melakukan sambungan video call, berakhir dengan penolakan dari lelaki itu.
Lalu Zaid mematikan telepon secara sepihak tanpa menunggu respon Erina lagi.
Erina semakin kesal dan perasaannya campur aduk saat ini. Dirinya bersandar kepada sofa, kenapa sih suaminya itu tidak merasa menyesal karena pernikahan mereka batal bahkan lelaki itu tidak berusaha untuk menghiburnya. Justru kenapa Zaid bertingkah aneh seperti ini? Semuanya benar-benar sangat di luar dugaan.
Setelah sambungan telepon dari calon suaminya itu putus, Erina kembali mengambil ponselnya lagi yang baru saja ditaruh di meja. Dirinya langsung saja menelepon Ibu Jamilah alias calon mertuanya. Karena dirinya sudah melihat jika nomor ponsel dari calon mertuanya itu sudah aktif, maka ia langsung tergesa-gesa untuk menghubunginya dan bertanya mengenai Zaid. Pasti wanita itu mengetahui dimana keberadaan dari calon suaminya tersebut.
"Halo, Bu. Sekarang Mas Zaid ada di mana ya, kok dari tadi sulit dihubungi?" tanya Erina setelah panggilan telepon tersebut tersambung. Dirinya benar-benar begitu penasaran karena semuanya sangat buram dan tidak ada kejelasan sama sekali.
"Zaid ada di rumah dan ibu juga di rumah, kenapa, Erina?"
Mendengar jawaban dari calon mertuanya itu justru membuat Erina semakin aneh saja, kenapa jawaban di antara keduanya tidak sama. Erina merasa begitu bodoh dan tertipu. Entah siapa sebenarnya yang berbohong di antara mereka berdua. Lantas, dirinya harus mempercayai siapa sekarang?
Zaid mengatakan jika dia sedang berada di tempat temannya, lalu ibunya mengatakan jika Zaid ada di rumah.
"Bu, kenapa sepertinya di rumah ramai sekali ya?" tanya Erina.
Wanita itu hanya mengatakan jika saudara mereka yang tadi hendak datang ke acara pernikahan, belum pulang dan masih menetap di rumahnya. Maka dari itu sangat ramai.
Erina yakin jika Zaid seperti menyembunyikan sesuatu di tengah musibah yang menimpa mereka berdua.
Calon mertuanya itu langsung saja menutup sambungan teleponnya karena mengatakan tidak enak dengan para saudaranya yang masih menetap.
Ibu Erina kemudian datang dan duduk di samping putri semata wayangnya itu. Wanita bernama Abidah tersebut mengusap punggung tangan Erina.
"Kamu harus sabar ya, Nduk, kamu tidak perlu mendengarkan omongan-omongan orang. Yakinlah pada dirimu sendiri, ini cuma musibah dan setelah jembatan diperbaiki semuanya akan baik-baik saja. Kamu dan Zaid bakalan menikah secepatnya," ujar Bu Abidah.
Erina memaksa tersenyum. Memang benar saat-saat seperti ini hanya ibunya lah yang mampu menjadi tumpuan bagi dirinya dan dijadikan tempat untuk mengadu serta berkeluh kesah.
"Iya Bu, Ibu juga yang sabar. Pasti Ibu terpukul banget karena kejadian ini."
Wanita itu mengangguk lalu terus saja memberikan semangat untuk putrinya agar tetap bisa melanjutkan hidup. Ini semua hanyalah sebuah musibah yang harus mereka lewati, anggap saja sebagai ujian pernikahan untuk dirinya dan Zaid.
"Ibu mau beresin sisa-sisa makanan di sini. Mau ngasih ke warga yang lain juga daripada basi nantinya."
Erina mengangguk, lalu dirinya juga membantu sang ibu untuk membereskan sisa-sisa pesta yang tidak jadi dilaksanakan tersebut. Memang sebagian masakan sudah dibawa pulang oleh para tetangga yang membantunya, lalu kue-kue yang mudah basi pun sudah dibagikan kepada semuanya. Namun, masih juga ada sisa yang wajib disortir kepada masyarakat yang belum dapat di desa tersebut ketimbang mubazir.
Entahlah jembatan itu pun pasti pembangunannya tidak akan sebentar dan memakan waktu, daripada busuk dan berjamur lebih baik dibagikan saja.
***
Jam sebelas malam dirinya belum bisa tertidur. Kejadian tadi, benar-benar mengguncang jiwanya, bahkan ia juga tidak bisa berpikir dengan tenang. Erina iseng menghubungi Zaid karena entah kenapa seharian ini lelaki itu tidak ada menghubungi yang lebih dulu.
Padahal biasanya pacarnya itu selalu rutin menghubunginya, jika ia tidak membalas pesannya pasti langsung menelpon. Namun, berbeda dengan hari ini. Lelaki itu seperti berubah dan tidak memiliki waktu lagi untuk dirinya. Erina ingin menanyakan apakah Zaid juga tidak bisa tidur karena peristiwa hari ini atau justru dia anteng-anteng saja seperti tidak terjadi sesuatu. Erina juga ingin bercerita tentang banyak sekali orang-orang yang sudah mencemoohnya.
Tak butuh waktu lama, Zaid pun langsung mengangkat telepon.
Suasana hening sekali, berbeda saat siang tadi. Karena tadi juga Erina tidak mampu mendengar dengan jelas suara pria yang masih berstatus sebagai tunangannya tersebut, sebab begitu bising.
"Kamu di mana, Mas?" tanya Erina.
"Aku sudah pulang dan sekarang aku lagi istirahat, Erina."
"Emmm, aku mau ceri-"
Belum sempat Erina menyelesaikan ucapan, tiba-tiba saja terdengar suara lembut nan asing dari seberang sana. Ya, lebih tepatnya di lokasi Zaid berada saat ini.
"Kamu teleponan sama siapa, Mas?" Begitulah yang Erina dengar.
Jantung Erina serasa melompat. Sedetik kemudian telepon itu sontak mati. Suara perempuan mana itu?
Anda Mungkin Juga Suka





