Sampul Novel Dinikahi Mas Pandu

Dinikahi Mas Pandu

7.8 / 10.0
Pasca lamaran kilat dan pernikahan yang digelar dalam empat jam, Zita memulai babak baru bersama Pandu di kota tempat suaminya bekerja. Zita sering merasa jengkel pada Pandu, bahkan bersumpah tak akan menyerah pada rayuan suaminya yang masih menanti malam pertama mereka. Namun, pertahanan Zita diuji saat sikap Pandu yang terlalu baik pada orang lain justru memicu rasa cemburu. Akankah ia tetap teguh pada pendiriannya atau justru luluh karena perasaan tersebut?

Dinikahi Mas Pandu Bab 1

"Mas! Ini serius boleh di tanamin bunga sama aku?" teriak Zita sambil memegang skop kecil dan bibit bunga di tangannya.

"Hm," jawab Pandu sembari bermain game di ruang tengah rumah mereka di kota Dumai.

"Bibit bunganya hidup nggak di tanam di sini?! Nanti mati belum keluar pucuknya?" Masih berdiri di pintu ruang tamu, Zita menatap suaminya yang mengangguk.

"Mas!" Panggil Zita lebih kencang. Pandu menoleh.

"Tanam aja, kalau mati, tanam lagi yang baru." Sahutnya santai dengan nada suara beratnya.

"Aku tanam bunga bangke sekalian aja kalau gitu." Ambek Zita.

"Ide bagus, Zit! Kamu bisa masuk TV karena rumah kita viral, ada bunga bangkenya." Sahut Pandu lagi. Zita kesal, baru pindah setelah satu minggu menetap di hotel, mendadak ia emosi karena Pandu terlalu cuek, santai dan masa bodoh dengan apa saja yang istrinya lakukan itu dengan semua yang ada di rumah.

Zita senang menanam bunga, beruntung halaman rumah itu masih bisa ditumbuhi rerumputan walau cuacanya panas terik. Ia belum sempat berkenalan dengan tetangga, karena lagi-lagi, Pandu mager kalau udah di rumah.

Tak lama kemudian....

"Zit! Zita!" Panggil Pandu dari dalam rumah. Wanita yang sadar namanya di panggil, sontak mematikan keran yang tersambung dengan selang, karena ia sedang menyiram bibit tanamannya.

"Ya," jawab Zita sudah berdiri di dekat suaminya itu.

"Makan, Zit, laper." Tatap Pandu sembari tersenyum. Pandu tak lagi brewokan, sesuai janji, suaminya itu mencukur hal yang membuat Zita sebal.

"Makan mie instan mau? Kamu tau kan aku--"

"Nggak bisa masak. Tau, yaudah bikinin, pake telor, cabe rawitnya tiga."

"Ya." Zita lalu berjalan melewati Pandu yang melirik seraya mengulum senyum. Kegiatan Zita di dapur masih bisa dilihat Pandu, rumah itu tak besar. Ruang tamu kecil, ruang tengah yang jadi satu dengan ruang makan, lalu dapur, ruang jemur baju di dekat dapur, dan dua kamar, rumah type 36 itu cukup bagi mereka.

"Zit, aku udah ngurus surat numpang nikah, tapi nggak bisa bulan depan ke Yogyanya, gimana?" Pandu bertanya dengan mata menatap layar televisi 52 inch dengan stik PS di tangannya.

"Gimana apanya?" Zita balik bertanya. Pandu menekan tanda henti sementara dibenda yang sedang ia pegang.

Saatnya isengin Zita. Ucap Pandu dalam hati.

Grep.

Tangan Pandu memeluk pinggang istrinya dari belakang. Zita berdiri mematung.

"Lepas. Mas! jangan sampai nih air kuah mienya tumpah ke mana-mana." Kesal. Zita jelas kesal, karena perjanjiannya kan, harus nikah sah di negara baru ada kegiatan enak-enak. Lagi pula, surat keterangan nikah agama dan sementara itu, juga tak bisa dilaporkan ke kantor untuk catatan fasilitas kesehatan dari kantor Pandu untuk Zita.

"Terus kapan, Zita sayang," ledek Pandu. Ujung hidung bangir Pandu menggesek wajah Zita yang memilih menjauhkan wajahnya dari hadapan Pandu.

"Mas! Ih! Jangan ngarep sebelum aku pegang buku nikah." Ia melepaskan pelukan tangan Pandu.

"Oke. Gini aja kalau gitu." Pandu menangkup wajah Zita. Dengan cepat pria itu mengecup berkali-kali bibir Zita. Dasar modus. Awalnya iseng, ujung-ujungnya nyosor. Zita protes, ia menghapus jejak bibir suaminya dengan punggung tangan. Kedua matanya menatap tajam. Ia menginjak kaki Pandu sekuat tenaga lalu membawa mangku berisi mie rebus telor extra rawit tiga ke meja makan. Pandu cekikikan, tapi seketika ia syok. Zita menikmati mie rebus requesannya dengan santai. Mengabaikan dirinya yang lapar.

"Heh anak kecil! Aku yang minta. Sini!" tegur Pandu. Zita melirik sinis, ia memunggungi suaminya. Menikmati mie rebus yang buru-buru ia tiup lalu menikmatinya. Pandu menelan ludahnya, ia lapar, auto ngiler.

"Zita..." bujuknya.

"Ngalah sama anak kecil, bikin sendiri sana." Oceh Zita. Pandu bersedekap.

"Oh, gitu. Dosa kamu lho, nyuruh-nyuruh suami."

Mulai, seminggu ini senjata andalan Pandu kalau Zita menolak ini itu bawa-bawa dosa. Zita yang tau, ia pun kesal. Di sodorkannya mie yang masih banyak isinya ke arah Pandu, ia melirik sinis lalu beranjak. Beralih ke panci bekas membuat mie yang ia cuci bersih, tak lupa merapikan piring-piring juga.

Pandu tersenyum sembari menikmati mie rebusnya. Zita akan membalas keisengan Pandu. Ia sudah menyediakan air minum juga untuk suaminya itu, semakin membuat Pandu tersenyum. Istrinya melangkah menjauh, tapi mendekat ke PS 5 yang sedang dimainkan suaminya.

"Zita, jangan coba-coba..." tegur Pandu. Zita berjalan santai, lalu,

Sret.

Dengan santai mencabut sambungan listrik yang otomatis mematikan televisi dan PS 5 itu. Ia berjalan cepat ke teras. "Rasain! Balasa dendam itu menyakitkan, kapten!" teriaknya. Pandu hanya bisa pasrah sembari mengusak rambutnya kasar. Kesal dengan balas dendam istrinya itu, tapi ia tak menampik jika level kematangan mie rebus dan telor buatan Zita, baginya sempurna dan sesuai seleranya.

***

"Belanja seperlunya. Jangan boros." Belum apa-apa Pandu udah bawel, padahan Zita mengambil barang sesuai dengan daftar yang sudah ia catat dari rumah. Pandu merangkul bahu Zita yang tinggi tubuhnya hanya seketiaknya. Tapi hal itu yang membuat Pandu gemas.

"Jangan pegang-pegang, belum halal seratus persen." Tegur Zita.

Pandu cuek, ia justru kembali modus dengan berdiri di belakang istrinya yang lagi memilih deodoran untuknya, dengan meletakkan dagu di atas kepala Zita.

"Berat, Mas," keluh wanita itu yang menghindarkan kepalanya dari dagu Pandu.

"Pendek, sih. Kirain ganjelan dagu." Lalu Pandu berjalan sambil mendoring keranjang belanjaan.

"Pindik sih, kiriin ginjilin digi. Modus banget!" Dumel Zita. Ia sudah memilih deodoran yang wanginya ia sukai. Pandu udah bilang kalah ia suka merek R, tapi Zita tak suka, ia mau Pandu memakai merek N. Pandu ngalah karena Zita berbicara ...

Emang kamu suami siapa? Yang nanti tiap hari tidur sambil peluk kamu siapa? Yang usel-usel siapa? Cewek lain? Nggak kan, aku. Yaudah, ini aku suka wanginya.

Pandu ngalah, dari pada misi mencoblos Zita gagal tanpa menunggung buku nikah, maka ia turuti kemauan istrinya itu. Mereka sudah berdiri di kasir, keranjang cukup penuh, kedua mata Pandu melirik ke kotak durex dan sutera. Ia kembali iseng.

"Zit," bisik Pandu ke telinga Zita. Wanita itu menoleh, begitu dekat jarak wajahnya dengan wajah tampan juga dewasa suaminya itu. "Ada kondom. Beli, yuk. Kita cobain, kata orang-orang, masih bisa kerasa enak kok, yuk, cobain."

Usaha terusss, Mas Pandu emang. Membuat Zita goyah, namun ia ingat ucapannya.

"Boleh, Mas, tapi, tunjukin buku nikahnya, mana?!" Pelotot Zita dengan suara penuh penekanan.

Gagal modusnya, Pandu hanya membuang napas kasar. Kedua matanya menangkap sorot mata Zita yang melihat video boyband korea yang sedang diputar di layar televisi besar. Istrinya senyum-senyum, membuat gerah Pandu. Lagi-lagi, ide iseng Pandu muncul. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Zita.

"Joged-joged doang aku juga bisa, apalagi goyang-goyang gitu, mau cobain nggak, Zit, yuk, di atas kasur kita."

Usaha lagi, namun Zita bergeming, ia seolah budeg mendadak dengan ocehan suaminya. Pandu kesal, ia menatap sinis ke layar televisi, dan seolah para anggota boyband itu bernyanyi dan berjoged meledeknya puas dengan goyangan pinggul ke bawah.

Asyem. Keluh Pandu dalam hati.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Dinikahi Mas Pandu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
9.5
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica selalu percaya pada alasan pekerjaan suaminya, Rio Aditya, setiap hari ulang tahun pernikahan mereka. Namun, sebuah rahasia kelam terungkap saat Jessica mendengar pengakuan Rio yang berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya karena kehilangan rasa cinta pasca-keguguran. Di hari yang sama, Jessica justru divonis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa dendam, ia pun memutuskan untuk pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.7
Disiksa kejam oleh penculik demi melindungi sang ayah, seorang gadis meregang nyawa dalam kesendirian. Di momen terakhirnya, panggilan teleponnya justru ditolak dengan penuh kebencian oleh ayahnya yang sedang merayakan ulang tahun putri adopsinya. Sang ayah mengutuk kelahirannya yang merenggut nyawa ibunya. Jasadnya kemudian ditemukan tragis di depan kantor polisi. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli otopsi memimpin penyelidikan tanpa menyadari bahwa korban mutilasi keji tersebut adalah putri kandung yang sangat ia benci.
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Mira Aditya terjebak dalam perjodohan orang tuanya dengan Rafiq Jaya. Alih-alih bahagia, ia justru menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya telah menikahi kekasih lamanya, Elena Faris, secara rahasia. Menjadi sosok yang terpinggirkan dalam rumah tangganya sendiri, Mira harus menanggung luka batin yang mendalam. Di tengah kehampaan dan rasa kecewa yang kian menggunung, Mira kini dihadapkan pada pilihan sulit antara terus bertahan atau pergi mencari kebebasan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan