
Nafsu Kakak Tiriku
Bab 2
Laily segera bangun dan duduk, lalu merapikan penampilannya walau tak sepenuhnya.
Sedangkan pria yang oleh Laily diyakini Nando itu tampak berdiri dan melawan pria yang tadi menendangnya.
Laily tak tahu siapa pria yang telah menolongnya, sebab keadaan gelap.
Tubuh gadis yang masih berbalut mukenah namun berantakan tersebut gemetar hebat, apalagi melihat pergelutan dua pria yang masih tak tampak kedua wajahnya tersebut.
Ingin sekali Laily berteriak meminta pertolongan dan yang pertama memanggil bapaknya, namun rasa takut dan syok masih menguasai hingga ia tak kuasa mengeluarkan suara.
Sedangkan kedua pria di depan mushola itu masih saja bergelut.
"Brugh!"
Laily terkejut saat tubuh kekar seorang pria jatuh menindihnya, hingga posisi Laily yang awalnya duduk jadi terbaring.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba lampu mushola hidup.
"Itu dia, Pak RT, mereka yang mau melakukan hal tak bermoral di mushola tempat ibadah ini." Nando menunjuk ke dalam musholla.
Laily terkejut saat melihat ada Pak RT di depan musholla. Dan ada Nando juga.
Melihat itu, Laily semakin yakin kalau tadi pria yang hampir melecehkannya adalah Nando.
Lebih terkejutnya lagi, saat ia melihat pria yang terjatuh di atas perutnya itu adalah pria pemabuk yang sering dijumpainya.
Laily segera mendorong tubuh pria yang paling ditakutinya tersebut hingga bergulir ke samping.
"Ini tak bisa dibiarkan, Pak RT. Ini sudah melanggar hukum agama. Mereka mau berzina di tempat ibadah ini. Cuih!" Nando, pria yang hampir menodai Laily itu berludah seolah dirinya suci.
Iya, benar dugaan Laily bahwa pria yang hampir menodai dirinya itu adalah tak lain Nando. Anak bawaan dari istri kedua Pak Ilham, bapak Laily.
Namun Laily bingung, kenapa Nando berbicara seperti itu pada Pak RT.
"Saya tidak seperti apa yah dituduhkan oleh Mas Nando, Pak. Tadi memang ada seorang pria yang ingin berbuat tak baik pada saya." Suara Laily terdengar bergetar.
"Iya, benar. Dan pria itu adalah dia." Nando tanpa ragu menunjuk ke arah pria yang ada di samping Laily.
Sontak hal itu membuat wanita yang masih memakai mukenah itu terkejut dan menatap pria yang ada di sampingnya.
Pria itu duduk santai dengan tangan menyangga tubuhnya tampak cuek dengan keadaan yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya Pak Ilham yang baru saja datang dan terkejut saat melihat putrinya Laily sedang berduaan dengan seorang pria pemabuk itu tengah di tonton orang banyak di dalam mushola.
Iya, bersamaan Pak Ilham keluar, beberapa warga juga pada ikutan keluar untuk melihat apa yang sedang diributkan.
Laily segera beringsut turun dari mushola. Rasa takut campur terkejut membuat ia lupa untuk menjauhi pria yang paling ditakutinya itu tadi.
"Laily!" seru Pak Ilham menatap dengan ekspresi tak mengerti pada putrinya tersebut.
"Pak, tadi saat Laily sholat tiba-tiba—"
"Tiba-tiba pria itu datang untuk merayu Laily, lalu aku hadir untuk menolongnya namun aku malah mendengar Laily bukan dipaksa, melainkan ia mau sendiri, oleh karena itu aku urungkan niatku untuk membantunya, memilih untuk memanggil Pak RT yang kebetulan lewat." Nando memutar balikkan fakta. Apa yang sudah diperbuat ia balik tuduhkan pada pria pemabuk itu.
"Benar, Laily, seperti itu kejadiannya?" tanya Pak RT pada Laily.
Sontak dengan tubuh gemetar, efek ketakutan ditambah keterkejutan yang masih tersisa, Laily menggelengkan kepala.
"T-tidak, Pak. Laily di sini korban."
"Bohong. Dia berbohong," sela Nando dengan jari telunjuk menuding Laily.
"Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa perempuan itu sama-sama mau saat diajak berzina oleh pria pemabuk itu!" Suara Nando terdengar nyaring dan tegas seolah ingin menunjukkan pada semua orang bahwa apa yang dikatakannya itu adalah sebuah kebenaran.
"Apa benar seperti itu, Abdi?" Pak Ilham yang tak tahan langsung menanyakan pada pria pemabuk itu.
Saat Pak Ilham menunggu jawaban Abdi penuh harap disertai cemas, Abdi si pria pemabuk itu malah acuh tak acuh.
Melihat itu, Nando yang sempat khawatir langsung merasa lega.
"Kenapa Paman malah menanyakan pada pria tukang mabuk itu. Tentu saja dia tak akan menjawab. Lebih-lebih saat ini otaknya mungkin sudah tak begitu sadar sebab efek minumannya.
"Duh, tidak menyangka dengan Laily. Ternyata apa yang kita lihat selama ini tak seperti apa yang kita lihat dan pikirkan," ucap seorang ibu-ibu yang mungkin sudah percaya dengan fitnah Nando.
Melihat itu senyuman sinis Nando mengembang.
"Benar, apa yang kita lihat sekarang ini tak seperti apa yang kita lihat selama ini. Laily yang rajin ibadah, puasa, seorang guru ngaji bahkan istiqomah menghadiri pengajian agama. Namun malam ini…." Nando tersenyum sinis sambil berkacak pinggang sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Dia hendak berzina di mushola yang dijadikan tempat ibadah dan mengajar ngaji anak-anak." Suara Nando lantang saat mengucapkannya.
Air mata Laily menetes deras. Bahkan saat ini ia sesenggukan. Ia tak menyangka akan mendapat fitnah keji dari Nando.
"Benar, Nak Laily. Apa yang telah dituduhkan Nando bahwa Nak Laily telah—"
"Demi Allah tidak, Pak RT." Dengan suara yang masih gemetar hebat, Laily menyela pertanyaan Pak RT.
"Saya memang didatangi seorang pria saat sedang sholat dan pria itu hampir melakukan hal tidak baik—"
"Dan pria itu siapa? Apa kamu bisa menjawab." Nando dengan lantang saat menanyakannya, memotong perkataan Laily.
Kali ini Laily menatap tajam ke arah Nando. Ingin sekali ia berteriak lantang juga menyebut nama Nando yang telah hampir menodai dirinya.
Namun hal itu Laily tahan, sebab ia tak punya bukti kuat untuk menuduh Nando sebagai pelaku yang hampir melecehkannya.
"Kau tidak bisa jawab, kan?" Nando tersenyum sinis.
"Bukan tak bisa jawab, namun aku tidak bisa menuduh dengan tanpa adanya bukti seperti halnya kamu menuduh aku ingin berzina." Laily menatap tajam ke arah Nando. Rasa benci dan takut pada pria itu bercampur menjadi satu.
"Tadi lampu musholla mati. Jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas. Namun aku sempat mendengar suara pria itu. Dan itu adalah kamu," ucap Laily dengan suara masih gemetar, efek ketakutan yang masih tersisa dalam dirinya.
"Eh, Laily. Berani sekali kamu menuduh anak saya yang sekaligus saudara kamu meskipun tiri." Maryam, ibu Nando segera menyahuti. Tampak tak terima.
"Kamu itu udah mau ditolong malah fitna anak saya," hardik Maryam.
"Saya tidak fitnah, Bik, walaupun keadaan gelap, namun Laily masih bisa mendengar dengan jelas suara pria itu. Dan itu suara Mas Nando."
"Ha ha ha …." Nando yang sempat tegang kini malah tertawa.
"Kamu halu, ya, Li? Kamu memang mendengar suaraku, tapi niatku ingin menolongmu. Tapi gak jadi setelah dengar suara kamu yang tampak menikmatinya dengan apa yang diperbuat pria pemabuk itu."
"Itu fitnah!" teriak Laily dengan air mata semakin deras menetes.
"Ini bukan fitnah. Tapi semua kebenaran. Dengar semuanya." Nando mengangkat kedua tangannya dan menghadap ke arah orang yang berkumpul.
"Saya Nando Fikram. Bersumpah demi Tuhan, telah melihat pria pemabuk itu dengan Laily melakukan hal tidak bermoral di mushola tempat ibadah tersebut. Saya bersaksi bahwa mereka hendak berzina namun langsung kepergok oleh diriku."
Laily terhenyak mendengar sumpah yang diucapkan Nando. Ia tak menyangka Nando akan seberani itu membawa nama Tuhan dalam kebohongannya.
"Kalau begitu, beri sanksi pada Laily dan pria itu, Pak RT," ucap salah satu warga pada Pak RT yang telah mempercayai fitnah Nando.
"Iya, Pak RT. Jangan biarkan pezina seperti mereka dibiarkan saja. Sudah begitu Laily itu, kan, terkenal alim, disebut wanita malam sebab selalu bangun malam untuk ibadah, putri dari ketua kampung dan imam masjid lagi. Apa kata yang lain jika sampai tahu perbuatan Laily yang dilakukan dengan pria pemabuk itu."
"Iya, benar. Maka jangan dibiarkan saja, Pak RT."
Suara warga bersahutan agar memberi Laily sanksi. Tentu saja hal itu membuat Nando tersenyum puas.
"Jangan, Pak RT. Putri saya Laily tak mungkin melakukan hal itu. Saya kenal betul dengan putri saya, begitupun juga dengan Pak RT saya rasa." Pak Ilham yang sedari tadi terdiam buka suara untuk membela anaknya.
Pak RT tak segera menjawab. Ia benar-benar sangsi terhadap apa yang telah dituduhkan oleh Nando dan apa yang telah ia nilai sendiri bagaimana tentang Laily yang selama ini ia kenal baik. Bahkan ada niatan untuk menjadikan Laily sebagai menantu.
Melihat keraguan yang ada pada Pak RT, Nando segera bergerak ke arah mushola, lalu mengambil Al Qur'an dan digenggamnya erat.
"Jika Pak RT masih ragu dengan kesaksian saya, lihat ini, saya bersumpah bahwa apa yang telah saya lihat dan saya katakan adalah sebuah kebenaran!" Suara Nando lantang saat mengatakannya. Membuat Laily bergetar mendengarkannya.
'Sungguh berani', hanya kata itu yang terucap dalam hati Laily. Nando membawa nama Allah dan Al qurannya dalam dustanya.
"Apa Pak RT masih tidak percaya dengan kesaksian seorang yang telah membawa nama Tuhan dan Al Quran-Nya?" tanya salah satu warga.
"Iya, sedangkan kami percaya. Oleh karena itu, beri mereka hukuman, Pak RT. Kami tak mau orang seperti mereka dibiarkan saja di kampung kita."
"Iya, saya setuju. Beri mereka hukuman!"
"Pak RT jangan diam saja. Jangan mentang-mentang Laily ingin sekali dijadikan menantu oleh Pak RT dan Pak Ilham adalah teman Pak RT, jadi tak menjalankan amanah. Yaitu keamanan rukun tetangga."
Suara warga ricuh saling bersahutan.
"Baik, harap tenang semuanya." Pak RT berusaha mengamankan warganya. Setelah melewati dilemanya.
"Saya tidak akan diam saja. Saya tetap akan menjalankan hukum yang berlaku di desa ini, memberikan sanksi pada orang yang telah berlaku tidak bermoral di kampung kita."
"Setuju, hukum keduanya, Pak RT."
"Iya, usir mereka."
Menetes air mata Pak Ilham mendengar teriakan para warga. Begitupun juga dengan Laily. Di sini hanya Nando yang tersenyum penuh kemenangan.
Sedangkan pria mabuk itu masih acuh tak acuh tak terbawa oleh keadaan. Masib tenang seolah tak ada yang terjadi.
"Atau kalau tidak nikahkan saja mereka berdua."
Laily begitu terkejut mendengar usulan salah satu warga. Bahkan tak hanya Laily, kali ini Nando juga ikutan terkejut mendengarnya.
_______
Anda Mungkin Juga Suka





