Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nafkah Istri Pertama

Nafkah Istri Pertama

Demi mendapatkan keturunan yang belum juga hadir, seorang istri mengambil keputusan berat dengan mengizinkan suaminya berpoligami. Namun, niat tulus untuk melengkapi kebahagiaan keluarga justru berujung pada penderitaan. Pernikahan kedua sang suami ternyata membawa malapetaka yang menghancurkan kedamaian hidup mereka. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit dari pilihan yang semula ia anggap sebagai solusi bagi masa depan rumah tangganya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Ami, kenapa menangis? Apa yang sedang Ami pikirkan? Ayo ceritakan sama Abi."

Sentuhan tangan Arsyad di pundaknya dari belakang, sontak membuat Ika terkejut. Dia merasa lalai, mengapa tangisannya sampai bisa menarik perhatian sang suami.

Apa yang harus ia katakan? Ika bingung, haruskah ia menyampaikan keluh kesahnya? Tapi tidak, wanita itu masih bisa mengontrol hatinya. Walaupun beban batin yang ia pikul begitu berat, tapi setidaknya sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu.

"Tidak, Bi. Ami tidak apa-apa?"

"Tapi Ami menangis? Jangan bohong, Mi."

"Tidak, Ami baik-baik saja. Ini tadi mata Ami kelilipan. Makanya terasa sedikit perih."

"Kelilipan dimana?"

"Tadi tiba-tiba saja ada serangga yang terbang, eh tiba-tiba masuk ke mata Ami. Sudah, Bi. Tidak apa-apa."

"Sini, coba Abi lihat, siapa tahu serangga ya masih ada di dalam."

Ika bingung. Ia takut apabila Arsyad tidak menemukan tanda-tanda adanya bekas gigitan serangga atau semacamnya, karena memang matanya merah bukan karena hal itu.

"Sudah tidak ada lagi, Bi. Tadi sudah Ika keluarin serangganya."

"Beneran?"

"Iya, masa Ami bohong." Ika memaksa untuk tersenyum.

"Abi heran sama Ami pagi ini, kok kelihatan agak sungkan sama Abi," lanjut Arsyad.

Semula Ika mengira pertanyaan Arsyad akan berakhir, tapi nyatanya lelaki itu masih saja melontarkan pertanyaan yang lain. Membuat suasana hati Ika semakin tidak menentu.

"Arsyad, apa yang kau lakukan di sana? Ika bisa menyusun sayuran-sayuran itu sendiri di kulkas. Ia tidak perlu bantuanmu. Untuk apa kamu menunggunya di sana?"

Suara ibu mertua dari ambang pintu dapur. Sontak membuat pasangan suami istri itu terkejut.

"Ibu? Arsyad cuma duduk, tidak membantu apa-apa. Iya kan, Sayang?" Arsyad menoleh ke istrinya sebagai syarat minta pendapat.

"Iya Bu, Arsyad benar." Ika mengiyakan.

"Baiklah kalau begitu. Arsyad, tolong kamu menemani ibu mengambilkan pesanan, dan mengantarnya ke rumah Naura."

Arsyad terkejut.

Sedangkan Ika, setelah mendengar mertuanya menyebut nama Naura, ada rasa perih yang menusuk hati Ika. Ada rasa yang sulit diungkapkan mendengar nama perempuan yang mertuanya sebut "Naura".

"Pesanan apa, Bu? Kenapa harus mengantarnya ke rumah Naura?"

Arsyad sesekali melirik kearah Ika. Melihat reaksi istrinya. Namun saat sang istri tetap diam saja. Meski Ika terlihat tidak menanggapi ucapan Bu Melia, namun Arsyad bisa melihat wajah itu menunduk lesu. Ada gelagat yang tidak baik pada wajah sang istri.

"Arsyad, tidak usah terlalu banyak tanya. Ibu cuma minta tolong menemani Ibu mengambilkan pesanan dan mengantarnya ke rumah Naura. Itu saja."

Sesaat Arsyad diam, kembali ia menoleh pada Ika,

"Mi, boleh Abi pergi menemani Ibu sebentar?"

"Bagaimana kalau Ika ikut?" usul Ika.

"Apa? Ikut? Pekerjaanmu di rumah masih belum selesai. Maaf Ika, lebih baik kamu selesaikan dulu pekerjaanmu." timpal Ibu Mertua.

"Ya sayang, lagian Abi cuma sebentar. Boleh ya?"

"Ya silakan, Bi." Ika menjawab pendek.

"Halah, Arsyad. Mau ambil pesanan saja pake pamit ke Ika. Sering Ibu bilang sama istri tidak perlu berlebihan. Biasa-biasa saja." sela Bu Melia.

"Ya, Ibu benar. Abi seharusnya mendengar apa kata ibu."

Arsyad menghirup nafas panjang, lalu mengelahnya perlahan.

"Kalau begitu, Abi pergi ya, Sayang. Sebentar saja habis ngambil pesanan dan mengantarkannya, Abi akan segera pulang."

"Ya, Bi pergilah."

***

Dalam perjalanan, Arsyad terus kepikiran pada istrinya. Membayangkan bagaimana apabila Ika mengetahui rencana sang ibu. Sikap Arsyad yang lebih banyak diam. Membuat Bu Melia dongkol.

"Arsyad? Apa Ika benar-benar telah menguasai hatimu? Sehingga membuatmu jarang bicara seperti ini. Kamu cuma diam saja, mengabaikan Ibu kandungmu sendiri."

Arsyad tertegun. Dia tidak menyadari kalau dari tadi Bu Melia mengamati gerak geriknya.

"Ah tidak Bu. Arsyad cuma merasa tidak enak saja sama dia."

Mendengar jawaban itu, Bu Melia semakin kesal.

"Tidak enak kenapa? Apa yang membuat perasaanmu terlalu condong sama Ika, dibanding sama Naura? Tidakkah kamu liat perbedaannya begitu besar di antara mereka?

"Tentu saja karena dia istriku, Bu." Jawab Arsyad cepat.

"Oh jadi karena dia istrimu, kamu lalu mengabaikan aku yang merupakan ibu kandungmu? Sekarang ibu tanya sama kamu, kamu lebih menyayangi Ika atau Ibu?"

pertanyaan Bu Melia membuat Arsyad berada dalam dua pilihan yang berat. Karena memang kedua-duanya merupakan wanita yang ia sayang.

"Tidak usah membuatkan aku pilihan seperti itu. Ibu maupun Ika sama-sama aku sayangi. Sama-sama aku cintai."

"Sepertinya kamu menyejajarkan posisi ibu dan Ika. Tidak bisa, Arsyad. Aku adalah ibumu, yang harus kau hormati. Kau tentu sudah tahu dengan pepatah yang mengatakan "Jasa Ibu tidak akan terbalaskan". Kau dan ibu terikat dengan ikatan darah yang kuat. Sedangkan kau Dan Ika hanya terikat dengan satu akad pernikahan. Dan bisa terpisahkan kapan saja. Apakah kamu masih menyejajarkan posisi ibu dan Ika di hatimu?"

Arsyad bukannya tidak tahu dengan pepatah yang disebutkan oleh ibunya. Memang Arsyad tidak menyalahkan pepatah itu. Memang jasa Ibu tidak akan pernah terbalaskan. Tapi tidak berarti semua perintah seseorang ibu harus dituruti. Karena ia sadar seorang ibu juga adalah manusia biasa. Tidak semua kemauan seorang ibu bisa dibenarkan.Termasuk perintah ibunya saat ini. Sungguh menikahi Naura adalah sebuah keputusan yang berat.

"Kemana kita harus mengambil pesanannya?"

"Kita tidak langsung mengambil pesanannya, tapi terlebih dahulu kita ke rumah Naura."

"Lha, tadi kata ibu mau ambil pesanan dulu?"

"Tidak usah nanti kalian saja yang ambil."

"Kalian siapa yang Ibu maksud?"

"Kau dan Naura."

"Apa? aku dan Naura? Kenapa harus kami berdua?" Arsyad melotot keheranan. Hatinya bertanya-tanya ada apa lagi kah ini?"

Arsyad menerka-nerka bahwa sang Ibu mengajaknya ke rumah Naura, pastilah ada niat tertentu menyangkut perjodohan yang ingin beliau lakukan. Dalam hati Arsyad memohon pada yang kuasa semoga saja Bu Melia terbuka hatinya dan menarik keinginan untuk menyuruh anak lelakinya menikahi Naura.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akibat Cinta Semalam dengan CEO
9.7
Pasca mutasi ke kantor pusat, Jeanne terjerat skandal satu malam dengan CEO barunya tepat saat ia masih terikat hubungan asmara. Nasib malang kian memuncak ketika terungkap bahwa bos tersebut adalah Alan Rasya Purnama, sepupu dari mantan kekasihnya sendiri. Kini, Jeanne terjebak dalam situasi pelik karena Alan mendadak sangat terobsesi untuk menguasai seluruh aspek hidupnya, mulai dari raga hingga jiwanya, tanpa memberikan celah untuk Jeanne melarikan diri.
Sampul Novel Bangkit dari Kematian Palsuku
8.7
Sepuluh tahun pernikahan dikhianati saat Mahendra berselingkuh dengan Kiana. Setelah disiksa hingga cacat permanen akibat ulah mereka, aku dibiarkan sekarat dalam kecelakaan tragis. Dibantu Prakoso, aku memalsukan kematian di sebuah kebakaran demi memulai hidup baru sebagai pelatih balap legendaris di luar negeri. Tiga tahun berlalu, aku telah sukses dan berada di puncak karier. Tiba-tiba, Mahendra muncul dengan penuh penyesalan dan memohon kesempatan kedua.
Sampul Novel Cinta Sedalam Doa
9.2
Penyesalan mendalam menghantui hidupku setelah mencampakkan Naira demi Qirani, yang justru mengkhianatiku usai lulus kuliah. Meski mencoba meniti karier di Pekanbaru untuk melupakan luka, hatiku tetap tertambat pada Naira. Saat mendengar pernikahan Naira batal, aku berjuang keras memperbaiki diri dan memohon doa agar hatinya melunak. Setelah setahun penuh perjuangan dan kesabaran, Naira akhirnya membuka hati. Kami pun menikah dan hidup bahagia bersama putri kecil kami.
Sampul Novel Ex-Husband Or Mr. Ceo
9.4
Pasca kegagalan rumah tangganya, Leira bertekad bangkit demi masa depan sang putra. Ia memutuskan kembali ke Chicago untuk mengejar karier di sebuah perusahaan penerbitan. Namun, situasi menjadi rumit saat ia harus bekerja di tempat yang sama dengan mantan suaminya. Di sisi lain, Leira terjebak dalam kesalahpahaman dengan sang CEO. Akankah ia mampu menjaga hatinya tetap tegar, atau justru menemukan cinta yang baru di tengah konflik ini?
Sampul Novel Malaikat Cinta: Jadilah Mamaku yang Baru
7.8
Lima tahun pernikahan Daryl hanya menyisakan luka hingga suaminya tega menyerahkannya pada pria lain. Di tengah kehancuran, muncul bocah laki-laki berumur lima tahun yang mengembalikan keceriaannya. Ketegangan memuncak saat hasil tes DNA mengungkap fakta mengejutkan bahwa anak itu adalah darah dagingnya bersama Zack, sang CEO dingin, dari kenangan malam masa lalu. Kini Daryl harus menghadapi takdir baru yang mengubah seluruh jalan hidupnya yang kelam.
Sampul Novel Sang Pengantin Pengganti: Membuat Kenangan Tentang Kita
8.9
Demi melunasi utang, seorang wanita terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi pria berkuasa yang ditakuti layaknya iblis. Di tengah keputusasaan, ia terjebak dengan sosok suami yang kejam dan tidak sabaran. Namun, pesona sang istri perlahan meluluhkan kekerasan hati pria itu hingga ia terjerat dalam gairah yang adiktif. Saat sang pria tak lagi mampu melepaskan diri, akankah hubungan yang berawal dari nafsu dan paksaan ini berubah menjadi cinta sejati?