Sampul Novel My Possessive Sugar Daddy

My Possessive Sugar Daddy

9.6 / 10.0
Terhimpit kemiskinan dan tekanan kaum elit, Fahira terpaksa mengesampingkan prinsip hidupnya demi menjadi sugar baby milik Fatih. Meski batinnya berontak, tawaran sang CEO tampan itu menjadi satu-satunya jalan keluar dari jerat nestapa. Kehidupan Fahira pun berubah drastis berkat gelimang harta, namun kemewahan tersebut nyatanya membawa petaka baru. Ia kini harus menghadapi berbagai sabotase licik dari saudara sepupunya sendiri yang berusaha menghancurkannya.

My Possessive Sugar Daddy Bab 1

Suara batuk yang tak biasa dari sang ibu, membuat Fahira yang sedang memasak air di dapur, langsung berlari menghampiri ibunya di kamar. Sesampainya di sana, Fahira langsung duduk di tepi ranjang. Dan, betapa terkejutnya ia, saat melihat bercak darah di tangan ibunya yang tadi menutupi mulut itu saat terbatuk. “Ibu, batuk Ibu berdarah. Ibu harus periksa ke dokter,” ujar gadis manis bermata bulat itu, dengan raut paniknya.

“Tidak, Nak. Ibu baik-baik saja. Nanti juga sembuh sendiri. Uhuk! Lagipula, kita tidak ada uang untuk ke dokter. Berikan Ibu teh hangat saja. Nanti akan membaik dengan sendirinya,” ucapnya, menenangkan Fahira.

Tapi, Fahira bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi. Ia tahu, kalau ibunya itu hanya sedang berusaha menenangkannya saja. Namun, meskipun demikian, Fahira tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia tak ingin membuat ibunya yang napasnya kini tersengal-sengal itu, terlalu banyak bicara. Gadis itu hanya bisa menuruti permintaan sang ibunda. “Ya sudah, aku buatkan ibu teh hangat dulu.” Fahira lalu bangkit dari duduknya, dan membawa langkahnya keluar dari kamar, menuju ke dapur.

Sesampainya di dapur, dengan segera, ia membuatkan teh hangat untuk sang ibunda. Saat hendak membawa secangkir teh hangat itu ke kamar ibunya, Fahira tiba-tiba terdiam, memikirkan sesuatu. “Aku tidak boleh diam saja, aku harus melakukan sesuatu. Sakit Ibu pasti sudah parah, dan aku harus segera membawa Ibu ke rumah sakit.”

Fahira kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar ibunya, dengan secangkit teh hangat yang ia bawa. “Bu, ini teh hangatnya. Aku mau keluar sebentar,” ucapnya, sambil menaruh secangkir teh hangat itu di atas meja, di sebelah ranjang ibunya.

“Kau mau pergi ke mana, hujan-hujan begini, Nak?” tanya Marni, dengan suaranya yang sedikit serak.

“Ada perlu sebentar, Bu,” jawabnya. “Diminum tehnya, ya. Nanti aku kembali. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Gadis itu pun, bergegas pergi dari hadapan sang ibunda. Fahira meraih payung bercorak bunga-bunga ungu yang menggantung di dekat pintu, sebelum ia keluar. Karena di luar sedang hujan deras. Gadis itu pun, pergi. Ia berjalan di bawah guyuran air hujan, sambil melindungi tubuhnya dengan payung yang sambungan sebelah kanannya sudah patah-patah, hingga tak mampu melindungi tubuhnya dari guyuran air hujan, dengan sempurna. Namun, keadaan itu tak lantas menghentikan langkah Fahira untuk pergi ke suatu tempat.

Fahira, gadis manis berusia 20 tahun. Tak hanya manis, Fahira juga penyayang dan memiliki hati yang lembut. Dia juga gadis yang mandiri dan pekerja keras. Fahira harus kehilangan ayahnya, di saat usianya masih 10 tahun. Dan kini, dia hanya tinggal berdua dengan sang ibunda di sebuah gubuk kecil. Kehidupan Fahira dan ibunya, bisa dibilang serba kekurangan. Fahira hanya mampu bersekolah sampai tamat SD, dan tak mampu untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Sehingga ia kesulitan mencari pekerjaan.

Dan sehari-harinya, Fahira dan ibunya, mengais rezeki dari menjual barang-barang bekas yang mereka kumpulkan. Setiap pagi, Fahira dan ibunya pergi ke tempat pembuangan sampah akhir, untuk mencari barang bekas yang bisa mereka jual.

Kemiskinan Fahira dan ibunya, membuat mereka sering sekali mendapat cemoohan dari beberapa tetangga. Bahkan, dari kerabatnya sendiri. Dan terkadang, Fahira merasa tak tahan dengan cemoohan-cemoohan itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Memang kenyataannya seperti itu, dia hanya gadis miskin yang mencari rezeki dari sampah.

Jika bisa menawar, Fahira pun tidak ingin hidup miskin. Ya, semua orang juga ingin hidup bergelimang harta. Atau setidaknya, berkecukupan. Tapi, setiap manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Dan mungkin, di mata manusia, takdir Fahira sangat buruk. Sehingga membuat gadis itu dan ibunya selalu dikucilkan.

Setelah berjalan cukup jauh di bawah guyuran air hujan, ia pun, sampai di depan gerbang sebuah rumah yang cukup mewah. Fahira lalu masuk ke dalam, dan membawa langkahnya ke pintu masuk rumah itu. Gadis itu menaruh payungnya di atas teras, lalu berjalan beberapa langkah mendekati pintu kayu bercat putih itu.

Dengan tergesa-gesa, Fahira mengetuk pintu dengan buku tangannya. Gadis itu lalu memeluk tubuhnya yang kedinginan. Karena sebagian tubuhnya basah terkena air hujan, dikarenakan payungnya yang sudah patah.

Tak lama, pintu pun terbuka. Seorang wanita berambut pendek, menyambut kedatangan Fahira dengan senyuman sinis, sambil menyilangkan tangan di dadanya. Seraya ia bertanya, “Mau apa kau ke mari?”

“Aku ... aku ingin bicara dengan Paman,” jawab Fahira, dengan bibir yang sedikit bergetar karena kedinginan.

“Mau apa? Pasti mau pinjam uang,” cibirnya.

“Riana, ku mohon. Izinkan aku bertemu dan bicara pada Paman,” pinta Fahira.

“Hmm ... baiklah. Tunggu di situ. Aku akan panggil Papa,” ujarnya, ketus. Lalu melenggang pergi dari hadapan Fahira.

Fahira pun, menunggu sang Paman datang. Sambil menahan rasa dingin yang semakin menjalar di tubuhnya.

“Pah, ada si anak miskin tuh, di luar. Katanya mau bicara sama Papa. Palingan juga mau pinjam uang,” selorohnya, lalu duduk di sofa sisi lain.

Ridwan menghela napasnya, lalu beranjak dari tempat duduknya. Dan membawa langkahnya pergi dari sana, untuk menemui Fahira yang sudah menunggunya.

“Ada apa?” tanya Ridwan, dengan raut angkuhnya, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Paman, Ibu sakit. Aku ... aku mau pinjam uang buat bawa Ibu ke rumah sakit,” tuturnya.

“Memangnya, kau bisa bayar?” tanya Ridwan, dengan nada merendahkan.

“Insyaallah bisa, Paman. Aku akan mengumpulkan uang sedikit-sedikit untuk membayar hutangku, nanti,” balasnya.

“Baiklah, aku akan memberikanmu pinjaman. Tapi, dengan syarat bunga 10%.”

“Bunga 10%? Paman, apa bunganya bisa dikurangi? Aku takut tak bisa membayarnya kalau bunganya sebesar itu.” Fahira mencoba bernegosiasi dengan pamannya.

“Ya itu terserahmu. Kalau kau setuju dengan bunga 10%, aku akan memberikan pinjaman padamu. Tapi, kalau kau keberatan, maaf, aku tidak bisa meminjamkan uangku padamu.”

Fahira terdiam, sambil berpikir. “Duh, bagaimana ini? Bunganya besar sekali. Tapi, Ibu harus segera dibawa ke dokter sebelum batuknya semakin parah,” batinnya. Ia mulai bimbang, haruskah ia ambil, atau tidak? Jika diambil, Fahira takut tak akan mampu untuk membayar. Tapi, jika tidak diambil, dirinya tidak akan bisa membawa ibunya ke dokter. Hingga pada akhirnya, dia pun memutuskan, “Baiklah, aku mau, Paman.” Fahira tidak punya pilihan lain, selain menyetujui. Demi bisa membawa ibunya ke dokter.

“Kau mau pinjam berapa?” tanyanya, datar.

“Dua juta, Paman.”

Ridwan tersenyum mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Ya sudah, tunggulah sebentar. Aku akan mengambil uangnya.”

Fahira mengangguk. Dan Ridwan pun, kembali masuk ke dalam rumah, untuk mengambil uang itu.

“Ya, Allah. Tolong berilah aku rezeki, supaya nanti aku bisa membayar hutang pada Paman.” Fahira berdo’a dalam hatinya.

Tak lama, Ridwan kembali, dengan lembaran uang di tangannya. Ia lalu menyodorkan uang itu pada Fahira. Sambil berkata, “Ingat, bunga 10%!” Begitu tegas, kalimat itu diucapkan.

“Baiklah, Paman.” Fahira menerima uang itu, meskipun terasa sangat berat untuknya.

Setelah mendapatkan uang itu, Fahira pun bergegas pergi dari sana. Karena terburu-buru, Fahira tak melihat kanan-kiri saat menyeberang jalan. Sehingga ia tak melihat ada kendaraan yang sedang mengarah ke arahnya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi My Possessive Sugar Daddy

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
9.6
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kepergian mendadak itu membuat nenek Cherish syok hingga muntah darah dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Kecewa mendalam, Cherish langsung mengakhiri hubungan mereka. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon dimaafkan dan berjanji menyerahkan segalanya demi mendapatkan kembali hati Cherish.
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.7
Disiksa kejam oleh penculik demi melindungi sang ayah, seorang gadis meregang nyawa dalam kesendirian. Di momen terakhirnya, panggilan teleponnya justru ditolak dengan penuh kebencian oleh ayahnya yang sedang merayakan ulang tahun putri adopsinya. Sang ayah mengutuk kelahirannya yang merenggut nyawa ibunya. Jasadnya kemudian ditemukan tragis di depan kantor polisi. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli otopsi memimpin penyelidikan tanpa menyadari bahwa korban mutilasi keji tersebut adalah putri kandung yang sangat ia benci.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan