Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Perfect Hero

My Perfect Hero

Raline terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan demi menjaga martabat keluarga. Ia harus menikahi Liam Bernardus Nelson, pria kaya raya yang ternyata berwatak dingin dan kejam. Meski awalnya menderita, Raline terkejut karena Liam selalu melindunginya di saat sulit. Namun, keharmonisan mereka terancam ketika Bora kembali untuk merebut Liam. Kini Raline harus berjuang mempertahankan posisinya sebagai istri sah di tengah konflik tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Seluruh rencana masa depan Raline seakan sirna setelah mendengar jawaban Liam. Raline sangat yakin jika pria itu akan menolak gadis sepertinya, tetapi Liam justru berkata lain. Membuat Raline tercengang heran hingga tidak dapat menahan diri untuk melakukan tindakan nekat tidak sayang nyawa: menarik tangan pria itu dan membawanya ke ruangan yang lebih sepi.

Liam tidak memprotes. Hanya mengikuti gadis itu dengan wajah datar.

Baru ketika mereka mendapatkan ruang yang lebih pribadi, Raline berhenti dan menghadap ke arahnya.

“Mengapa Anda menyetujui ide ini, Tuan?” tanyanya, lembut, tetapi terdengar heran.

Liam tidak menjawab. Alih-alih, pandangannya justru jatuh pada pergelangan tangannya yang masih digenggam Raline. Gerak-gerik itu membuat Raline tersadar dan melepaskan pria itu secepatnya.

“Memang kenapa?” Liam balik bertanya.

“Bukankah yang Tuan cintai adalah Kak Bora?” tanya Raline. “Kita tidak bisa menikahi orang yang tidak kita cintai. Tuan dan aku tidak bisa—”

“Kau tidak mau menikah denganku.” Liam menyela dengan sengit.

“Bukan seperti itu, Tuan!” Gadis itu cepat-cepat menyanggah. “Hanya saja, bagaimana nasib pernikahan kita nanti? Bagaimana bisa kita akan hidup bahagia jika menikah dengan orang asing?”

Liam mendengarkan, dan tidak setuju. Sejak awal, ia tidak peduli akan dijodohkan dengan siapapun. Meski Bora yang akan maju hari ini, ia juga tidak mengenalnya. Sehingga bagi pria itu, Raline maupun Bora tidak akan ada yang berbeda.

Ia hanya menikah karena desakan dari kedua orang tuanya, dan ia tidak peduli apakah mereka akan bahagia kelak. Apa yang ia lihat, gadis itu hanya mencoba mengada-adakan alasan untuk kabur dari tanggung jawab ini.

Sudut bibir Liam terangkat naik membentuk seringai kecil. Ia terlihat marah.

“Aku mengerti,” ujarnya. “Kau tidak bisa menikah denganku karena tidak mencintaiku.”

“Apa—”

“Kau tidak mencintaiku, karena itu kau tidak peduli dengan kehormatanku yang tercoreng akibat ulah keluargamu.” Pria itu melanjutkan dengan sengit.

Raline sontak membelalakkan mata. Liam benar-benar salah paham dengan perkataannya. Pria itu tidak mau mendengarkan Raline.

“Bukan begitu maksudku, Tuan.” Raline berkata santun. “Aku hanya ingin—”

“Dengar, Nona.” Pria itu kembali menyela dan mengambil langkah mendekati Raline. Sepatunya yang terantuk-antuk di lantai terdengar seperti ancaman bagi Raline.

“Apakah kau tahu siapa aku?” tanyanya, memandang ke arah Raline dengan dingin.

Gadis itu menelan saliva dengan ketakutan, kemudian menggeleng. “Tidak—”

“Tentu saja,” jawab Liam, masih mengikis jarak di antara keduanya. “Jika kau tahu, kau tidak akan berani mengatakan ini di depanku.”

Kini, pria berjas biru gelap itu hanya terpaut jarak beberapa inci di hadapan Raline. Ujung sepatu mereka bahkan telah bersentuhan dan Raline dapat mencium aroma parfum maskulin Liam.

“Aku, adalah seseorang yang bisa menghancurkan keluarga kecilmu,” bisik pria itu dengan nada mengancam. “Dan itu akan terjadi jika kau menolak pernikahan ini.”

Iris Raline terbelalak. Jantungnya seakan bergetar saking cepatnya berdetak dan nyaris meledak mendengar suara dalam Liam.

“Usaha furniture ayahmu bisa aku buat bangkrut seketika, dan aku dengar ibumu baru merintis usaha katering, ya? Menurutmu, bagaimana reaksinya jika dia mendapat reputasi buruk di mata para pemesan? Dan pacarmu yang mahasiswa itu—”

“Oh, kumohon jangan lakukan itu, Tuan!” sergah Raline, tidak kuasa mendengar seluruh ancaman menyakitkan itu.

“Maka, ikuti perintahku dan jangan buat malu keluargaku!” pungkas Liam.

Raline mengangguk cepat karena ketakutan. “Aku mengerti. Aku telah berbuat lancang dan aku bersedia menikahimu. Mohon maafkan aku, Tuan!” ujarnya sambil menahan Isak tangis yang nyaris keluar.

“Bagus! Aku tunggu kamu di ruang depan,” pungkas Liam, kemudian pergi meninggalkan Raline dengan langkah kesal.

Gadis itu langsung jatuh tersungkur di lantai. Kakinya seakan berubah menjadi agar-agar. Tangannya tidak berhenti gemetar dan napasnya tidak terkendali saat ia menatap ke arah perginya Liam.

Pria itu belum pernah berkumpul dengan keluarganya, bagaimana dia tahu seluruh seluk-beluk keluarga Raline?

Raline masih belum mengenal pria itu, tetapi dia tahu jika Liam bukan pria sembarangan. Salah sedikit, dan Raline akan jatuh ke dalam kuasa pria itu.

***

Seperapat jam kemudian, Raline datang memasuki ruangan ditemani Pandu dan Sabrina. Semua orang terkejut dan berpandang-pandangan dengan heran.

Liam Bernardus Nelson dan Bora Adine Gabriel adalah nama yang tercetak saat Pandu dan Sabrina mengundang mereka, tetapi yang duduk di sisi pria tampan itu justru Raline.

Bahkan Chelsea, sahabat Raline, membelalakkan mata melihatnya, tetapi Raline berusaha tidak peduli. Begitupun Liam yang hanya menatap lurus pada penghulu seakan mengabaikan semua orang.

Proses ijab kabul mulai dilakukan dan anehnya, pria itu tidak melakukan kesalahan ucap apapun saat menyebutkan nama gadis itu yang jelas-jelas tidak mengandung nama keluarga Gabriel. Raline Haqq, bukan Raline Gabriel.

Bagaimana mungkin pria itu mengetahuinya?

Liam tidak sedikit pun menatapnya, terkecuali saat Raline menyentuhkan punggung tangan pria itu di dahinya--dengan amat terpaksa. Menunjukkan bukti mutlak bahwa ia akan selamanya mengabdi kepada pria itu. Ia hampir menangis putus asa saat melakukannya.

Semua orang menggumamkan 'sah' pada proses ijab kabul itu dengan khidmat dan memberi selamat, kecuali Ayah dan Ibu Liam yang langsung bergegas pergi seakan tidak terima.

Raline ingin menanyakan sesuatu kepada Liam, tetapi tidak berani mengatakan apa-apa pada suaminya yang berwajah tegas. Hingga mereka tidak saling bicara sampai acara itu selesai.

***

“Gila kamu, Raline!” ujar Chelsea, seraya membanting pintu kamar Raline hingga terbuka.

“Kenapa malah kamu yang muncul dan jadi pengantin?!” sergahnya. Merasa terkejut sekaligus kesal.

Namun, sahabatnya itu tidak menjawab apa-apa. Hanya duduk dan menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan pedih.

“Pasti ada sesuatu yang terjadi, 'kan? Terus, Satyadikara bagaimana, Lin?” kejar Chelsea, tidak tahan dengan kebisuan sahabatnya.

Mendengar itu, Raline hanya memejamkan mata dan menggeleng. Nasibnya sudah menjadi sebegitu buruk dengan pernikahan tiba-tiba ini. Dia tidak kuasa memikirkan kekasihnya yang sudah menjadi mantan itu. Raline tidak ingin air matanya jatuh lagi.

“Raline!” seruan lainnya kembali terdengar. Pandu tengah berdiri di ambang pintu, seketika membungkam Raline dan Chelsea.

“Kenapa kamu masih di sini? Liam sudah menunggu kamu di mobilnya. Cepat, samperi dia!”

Tanpa membantah, gadis itu buru-buru mengambil ponsel dan dompetnya, kemudian bergegas keluar ruangan. Meninggalkan Chelsea yang penuh dengan tanda tanya. Namun, sedetik setelah Raline menghilang di pintu, ponsel Chelsea bergetar.

“Aku akan menjelaskannya nanti.”

Pandu benar. Tepat di depan pintu masuk rumahnya, sebuah mobil hitam mengkilap telah menunggu.

“Maafkan aku karena terlambat,” ujar Raline setelah bergegas masuk. Suaminya sudah menunggu di dalam, masih dalam balutan jas biru gelap. Wajah tegasnya tidak berubah saat melihat Raline tiba.

“Jalan.” Dia memerintah, dan mobil anggun itu bergerak maju.

Raline menatap ke sekitar dengan bingung. “Kita mau ke mana?”

“Hotel,” jawab Liam, singkat.

Mata gadis itu menegang. Ia menelan saliva dengan gugup.

Hotel. Mereka… tidak akan melakukan 'itu', bukan?

***

Pernikahannya aja dipaksain, gimana malam pertamanya coba? Yuk, jangan lupa tinggalkan komentar di sini, ya!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayo Bercerai!!
8.4
Adeline telah mencapai batas kesabarannya setelah terus-menerus dianggap remeh oleh Devon. Baginya, pria itu kini lebih buruk dari sampah yang tak bernilai. Ketegangan memuncak di ruang makan saat Devon mendengar hinaan Adeline secara langsung. Dengan amarah yang meluap, sang tuan muda mencengkeram dagu Adeline dan memberikan peringatan keras agar ia tidak mencoba bermain api. Namun, Adeline tidak lagi takut untuk melawan dominasi dingin suaminya tersebut.
Sampul Novel Bos Mencuri Ciuman dari Istrinya yang Hamil Setelah Bercerai
8.3
Penderitaan akibat keluarga memaksa Kayshila Zena menikahi Zenith Edsel, pria paling berpengaruh di Jakarta. Namun, tuduhan mencederai kesetiaan di hari pernikahan membuat hubungan mereka hancur. Usai melahirkan dan menandatangani perceraian, Kayshila menghilang. Bertahun-tahun berlalu, ia kembali membawa sang buah hati dan melamar sebagai dokter pribadi Zenith. Sang miliarder yang dingin justru dengan sengaja menerima kehadirannya, bahkan menyayangi anak misterius tersebut seperti darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Bukan Mantan Istri Biasa
9.2
Tiga tahun Laura mengabdi sebagai istri yang penurut, namun Nikolas Riyadi justru membalasnya dengan dingin karena wanita lain. Sadar pengorbanannya sia-sia, Laura akhirnya memilih bercerai. Kabar kembalinya status lajang sang ahli waris kaya ini langsung menggemparkan publik, memicu persaingan para CEO tampan untuk meminangnya. Saat Nikolas memohon kesempatan kedua di depan umum, akankah Laura luluh atau tetap pergi meninggalkan masa lalunya?
Sampul Novel Dosen Suamiku
9.8
Adara Adila Calista, mahasiswi berusia 22 tahun, terkejut saat mengetahui wasiat mendiang kakeknya. Ia harus menikah dengan cucu sahabat sang kakek, yang ternyata adalah Rafka Shaquile Zhafran, dosen yang selama ini sering membuatnya kesal. Rafka, seorang CEO muda berusia 24 tahun, menerima perjodohan ini demi kebahagiaan keluarga, meski ada ancaman kehilangan warisan. Bagaimana nasib pernikahan Adara dengan dosen yang ia benci dalam ikatan wasiat ini?
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta Pada Sugar Daddy
8.6
Terdesak kebutuhan finansial, Anggita yang berusia 20 tahun nekat mendaftar di aplikasi Sugar Baby. Meski sempat diabaikan karena fisiknya, pengacara sukses bernama Devano Abimanyu justru tertarik padanya. Devano bersedia membiayai hidup Anggita dengan syarat ketat: dia memegang kendali penuh, menjanjikan kenikmatan luar biasa, dan melarang Anggita jatuh cinta. Akankah Anggita mampu bertahan tanpa melibatkan perasaan, atau justru terjebak dalam aturan yang sengaja dilanggar?
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Hanna sangat membenci Will Greyson, pria angkuh yang langsung meminta kontak fisik saat pertama kali mereka bertemu. Kegilaan Will berlanjut ketika ia tiba-tiba melamar Hanna demi menjadikannya sarana terapi pribadi. Meski ditolak mentah-mentah, miliarder sombong ini tak mau menyerah begitu saja. Hanna yang geram berniat memberi pelajaran keras pada pria asing itu, sementara Will bertekad menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya tersebut.