
My Perfect Hero
Bab 3
Raline gelisah.
Gadis berambut panjang bergelombang itu duduk cemas di sisi ranjang. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah kamar mandi, tempat Liam sedang membersihkan diri. Setiap gemericik air yang menyentuh lantai menambah kengerian dalam benak Raline. Jantungnya berdegup cepat hingga rasanya dapat meledak kapan saja.
Ia tidak siap. Belum pernah ada pria yang menyentuhnya selama ia hidup, dan Raline tidak siap untuk itu. Terlebih, lawan mainnya kali ini adalah Liam, pria arogan yang terlihat tidak memiliki belas kasihan.
Apa lebih baik dia berdalih sedang sakit?
Raline segera menggeleng terhadap ide itu. Liam akan lebih murka jika tahu ia berbohong. Situasinya justru akan bertambah rumit dan tidak menguntungkan.
Namun, Raline juga tidak ingin berhubungan badan dengannya.
Raline sekali lagi menatap ke arah kamar mandi. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Seakan singa yang lapar bisa keluar dari sana kapan saja.
Bahunya terlonjak kaget saat notifikasi pesan terdengar. Itu dari Chelsea. Pesan yang dikirim sahabatnya masuk bertubi-tubi.
“Kamu serius pergi ke hotel?”
“Raline?”
“Kamu tidak sedang melakukan 'itu' sama dia, ‘kan?”
“Please, Lin. Jawab pesan aku. Kamu benaran baik-baik saja, ‘kan? Aku khawatir.”
“Suami baru kamu kayaknya bukan orang baik-baik, Lin. Kamu tidak apa-apa, ‘kan?”
Gadis itu bergidik ngeri membaca pesan yang terakhir. Untuk sekarang, ia mungkin baik-baik saja, tetapi ia tidak tahu akan jadi apa ia saat pria itu keluar.
Detik berikutnya, ponsel itu berdering. Tertulis nama Satyadikara yang dibubuhi emotikon cinta. Pria itu meneleponnya.
Wajah Raline berubah pucat seketika. Mengapa harus sekarang?
Ragu hendak menolak atau menjawabnya, Raline terus menatap layar ponsel dengan sorot cemas. Tidak menyadari derap langkah kaki yang sedang mendekatinya.
“Siapa dia?”
Raline menjerit, kaget bukan main saat melihat Liam telah berdiri di belakangnya. Tangannya sontak melempar ponselnya ke sembarang arah, tetapi dering itu terus terdengar hingga mengundang kerutan dalam di dahi Liam.
Tanpa mengatakan apa-apa, pria yang terbalut mantel mandi itu berjalan menjauh dan memungut ponselnya. Membaca nama yang tertera di layar menyala itu.
Raline memejamkan mata ketakutan. Habislah dia. Liam tidak akan segan melempar ponsel itu jika tahu pacar Raline mengganggu mereka.
Namun, bunyi itu kemudian berhenti.
Raline membuka mata dan kaget melihat baterai ponselnya telah dibongkar lepas.
“Apa yang Tuan lakukan?!” tanyanya dengan nada sedikit protes.
“Kau lebih suka melihat aku membantingnya?” Liam bertanya dengan tajam, kemudian menaruh kasar baterai dan ponsel Raline di meja.
“Mulai sekarang, jangan ada telepon apapun saat kita bersama,” titahnya.
Raline hanya bisa menatap iba pada nasib ponselnya. Biasanya, dia selalu menjawab setiap kali mendapat telepon dari Satyadikara. Kini, ia jadi tidak bisa dihubungi total. Pria itu pasti akan mencurigainya.
Tunggu, mengapa ia justru memikirkan masalah tidak penting? pikir Raline. Jantungnya seakan jatuh ke lambung saat menoleh dan mendapati Liam tengah menelisik dirinya. Menatap Raline dengan tatapan buas.
“Kau tidak memiliki baju lain?” tanyanya, merasa aneh dengan Raline yang masih mengenakan kebaya.
Gadis itu menggeleng. Napasnya seakan tercekat di tenggorokan.
“Aku tidak sempat menyiapkan pakaian apapun,” jawabnya, berusaha terlihat tegar meski telapak tangannya tidak berhenti berkeringat.
“Tidak masalah,” jawab Liam, “Toh malam ini kau tidak membutuhkan pakaian apapun untuk menutupi tubuhmu.”
Wajah kaku Liam terlihat ganas saat bibirnya tersenyum miring seakan menikmati kecanggungan Raline.
Dalam satu serangan, pria itu merangkul tubuh Raline dan menjatuhkannya di ranjang. Tepat di bawah tubuhnya.
“Tunggu–!” Raline berseru panik. “So–soal ini, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”
Liam terdiam. Bola matanya berputar acuh tak acuh sementara ia menahan diri di atas tubuh gadis itu.
“Katakan.”
“Se–sebenarnya, kau tahu, seharusnya Kak Bora yang pergi ke hotel hari ini. Karena itu, aku sebenarnya, kau tahu, sebenarnya aku–”
“Langsung ke intinya!” damprat Liam.
“Aku belum siap!” ujar Raline. Dia mengatakannya dengan mata tertutup karena takut.
“Aku belum siap melakukan ini, dan aku belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun, jadi tolong beri aku waktu.” Raline melanjutkan dengan intonasi memohon.
Rahang Liam bertambah kaku dan mata cerdas pria itu menatapnya dengan sorot tajam. Tidak mungkin gadis seusia Raline belum pernah melakukan ini.
“Kau bukan hanya beralasan karena tidak ingin tidur denganku?” tembaknya.
Raline membelalakkan mata dan menggeleng. “Tidak, bukan. Aku ummh–”
Ucapan gadis itu terhenti saat Liam tiba-tiba menyerang bibirnya. Mengisap dan melumat kasar bibir mungil Raline.
Napas Liam terdengar memburu, sementara Raline tersentak beberapa kali oleh desakan pria itu.
“Kumohon… Tuan…. Jangan… sentuh aku–ummh!”
Liam kembali meraup bibirnya, kali ini menggigit dan mengisapnya dengan buas seakan tidak peduli dengan Raline yang mulai gemetar ketakutan.
Sementara Liam melahap bibirnya, tangan besar dan dingin pria itu bergerak untuk melepaskan kebaya Raline. Menjadi tidak sabar dan justru merobek lepas kebaya itu. Membuat Raline semakin ketakuan.
“Jangan, Tuan,” isaknya saat berhasil meloloskan diri dari lumatan kasar Liam. Akan tetapi, pria itu lebih berkuasa.
“Hmmh!” Geraman jengkel terdengar saat Liam mengangkat dan menahan kedua tangan Raline di atas kepala. Membuat gadis itu semakin takluk di bawah penguasaannya.
Lidah buas dan basahnya mulai turun ke arah leher Raline dan bergerak terus menuju puncak dada gadis itu.
“Akh! Tuan… Jangan sentuh aku…. Kumohon….” Raline terisak. Napasnya tercekat di tenggorokan dan air mata panas mulai meleleh di wajahnya.
Gadis itu terus bergeliat, berusaha melepaskan diri dari kungkungan Liam meski sia-sia sebab penguasaan pria itu jauh lebih dominan.
Liam terus mendesak bermain di dadanya. Membuat Raline menangis sambil sesekali tersentak oleh sensasi.
“Tuan….” Suara gadis itu terdengar lirih.
Pandangan Raline mulai buram akibat air mata yang memenuhi kelopaknya dan Raline pikir dia akan tamat malam itu juga, tetapi Liam tiba-tiba berhenti.
Pria itu beringsut bangkit dan melepaskan genggamannya dari tangan Raline.
“Membosankan,” katanya dengan suara tajam dan sorot mata yang terlihat lebih gelap. “Turun dari ranjangku!”
Sambil terisak, Raline bangkit, merapikan kebaya yang sudah tidak berbentuk dan mengekspos bagian tubuhnya, kemudian beringsut turun. Kakinya gemetaran bahkan hanya untuk sekedar berjalan beberapa langkah.
“Tidur di sofa dan jangan sekali-kali mencoba mengganggu waktu tidurku!” kecam Liam sebelum pria itu menjatuhkan diri dan mematikan lampu.
Sisa-sisa keberanian Raline menyusut seketika. Ruangan telah menjadi gelap dan gadis itu terduduk lemas di lantai.
Ia berusaha berhenti menangis, tetapi air mata justru terjatuh lebih banyak. Tangannya terangkat untuk menutupi mulut, menahan isak tangis yang tidak dapat dihentikan. Puncak dadanya terasa membengkak dan berdenyut-denyut.
Raline sudah sekacau ini, tetapi Liam justru tertidur tenang di ranjang. Seakan tidak peduli dengan kondisi mental dan fisik Raline yang sudah ia acak-acak.
‘Apa salahku?’ pikir Raline. Mengapa orang tuanya memaksa ia untuk menikah dengan pria seperti Liam? Akan jadi apa hidupnya jika terus-menerus berada di sisi pria kejam itu?
Raline terus terisak dan matanya mulai terasa berat hingga tanpa sadar ia tertidur di lantai. Sepanjang malam.
***
Liam, kamu ngga kasihan sama Raline apa? :")
Anda Mungkin Juga Suka





