
MY Nerdy Wife
Bab 2
Sehari, dua hari, tiga hari berlalu nyatanya tak ada panggilan dari nomor tak dikenal maupun nomor luar negeri di ponselnya membuat keresahan Arcella perlahan menghilang dan berganti kelegaan. Kecerobohan-nya kemarin itu ternyata dilindungi Tuhan, mungkin memang benar kata orang alau doa orang teraniaya itu banyak di kabulkan.
Salah satunya doa Arcella beberapa hari kemarin yang continue. Meski lega tapi gadis itu juga merasakan kekecewaan, dia lega karena pada akhirnya dia tak perlu berpikir keras untuk mencari alasan untuk menjelaskan kenapa sampai dia menelpon tunangan-nya yang seperti iblis pencabut nyawa bagi Arcella.
Tapi di sisi lain hati Arcella pun dipenuhi kesedihan, dengan lelaki itu tak menghubungi dirinya itu juga berarti kalau Arcella memang tak pernah dianggap oleh lelaki itu. Lelaki itu masih menyimpan kebencian yang memuncak pada Arcella, padahal Arcella sebenarnya tak bersalah apa pun.
“Huh! Emang kamu siapa, Cella?! Di mata lelaki itu kamu itu seperti parasit yang sudah merusak kehidupan sempurnanya bersama rubah betina itu. Dan sekarang apa yang kamu harapkan?” kata Arcella dalam hati sembari menatap langit Jerman malam itu yang dipenuhi bintang.
“Jangan terlalu berharap banyak, Cella! Perlahan lupakan saja dia, Cella!” kata gadis cantik itu lagi pada dirinya sendiri. “Tapi apa iya kamu bisa melupakan dia? Adanya Auriga saja di samping kamu, tetap tak bisa membuat kamu lupa dengan lelaki itu!” lanjut Arcella sembari menghembuskan nafasnya putus asa.
“Aaagggrhrhh,” pekik Cella kesal. “Ya sudahlah jalani saja Cella! Mau dia suka atau gak! Mau dia jahat atau gak! Pokoknya jalani saja! Biarkan tangan Tuhan yang mengatur semuanya!” kata Arcella pada akhirnya pasrah dengan semua keadaannya yang serba tak nyaman.
Jantungnya berdetak cepat ketika ponselnya berdering nyaring, bayangan lelaki yang paling tidak ingin dia temui muncul seketika. “Siapa itu? Tuhan please! Kumohon bukan orang itu” batinnya dalam hati lalu perlahan mendekati ponselnya yang terletak di atas meja ruang tamu dengan perasaan tak karuan.
Dengan sisa harapan Arcella pun perlahan melongok dengan mata sedikit tertutupnya untuk mengintip nama yang tertera di layar ponselnya. Hembusan nafas lega kini keluar dari Cela. Dengan senyuman kecilnya yang dipenuhi kelegaan setelah melihat nama yang tertulis di sana adalah nama sahabatnya Vano ,dengan penuh semangat dia pun mengangkat nya. “Hallo Van,” sapa Arcella penuh senyuman bahagia.
“How are you?” tanya Vano.
“Fine, kamu gimana? Apa Jakarta baik-baik saja?”
“Hmm, semua baik,” kata Vano di seberang sana dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal, lelaki itu sedikit merasa tak nyaman karena sebenarnya di hatinya saat ini tengah terganjal sesuatu dan sialnya itu juga berkaitan dengan Arcella.
Tak mau membuat Arcella curgia dan merasakan ketidak nyaman-nya, Vano pun akhirnya mencoba bersikap wajar dan memulai perbincangan ringan diantara keduanya.
Lelaki keturunan Thailan, Cina dan Jerman itu pun akhirnya menceritakan tentang nyonya Gina- ibu Arcella yang sudah menempati rumah Arcella. Sang mama setuju dengan permintaan Arcella untuk menetap di rumahnya setelah dia kembali ke Jakarta.
Tak seorang pun tahu kepulangan Arcella kecuali ibu, kakak, sahabat-sahabatnya dan keluarga Vano. Semua sengaja Arcella lakukan karena banyak hal, terutama dia ingin menghindari keluarga Zale, tunangan terpaksanya. Nyonya Gina yang selama ini bertahan di rumah keluarga Calluella akhirnya menyudahi semua kesabarannya, beliau pun mengikuti jejak kedua anak yang selalu berada di sisinya.
Sesuai kesepakatan mereka bertiga (Cella, Cairo, dan mama nya) beliau pun menuruti semua perjanjian yang mereka buat sebelum kedua anak-nya pergi meninggalkan rumah. “Aku minta bantuan kak Ronald buat ngurusin semua,” ucap Vano.
“Kak Ronald?” pekik Arcella kaget, Ronald adalah kakak Vano yang berprofesi sebagai pengacara, jadi lelaki itu bisa melindungi nyonya Gina secara hukum dari kejahatan keluarga Caluella. “Apa mereka mempersulit mama, Van?” tanya Arcella khawatir.
“Sedikit, seperti biasanya nenek lampir sama siluman rubah bertingkah nyusahin tante Gina.”
“Apa yang mereka lakukan Van?”
“Udah gak usah dipikirin! Yang penting tante Gina udah tenang sekarang dan mereka gak bisa menyentuh tante Gina karena ada bang Ronald.”
“Terima kasih Van! Maaf Van aku jadi merepotkan kamu sekeluarga.”
“Gak Cel, kami juga udah gak tega liat tante diperlakukan seperti itu sama nenek dan papa mu, terus sekarang ditambah kelakuan kakak perempuanmu itu yang merasa dirinya itu ratu sejagat.”
“Dia bukan kakak perempuanku! Dia adiknya mas Cairo!” kilah Cella yang memang sudah muak sekali dnegan kakak pertamanya itu. Sebenarnya Cella tak pernah membenci sang kakak, tapi lebih kearah udah gak respek saja.
Apalagi setelah melihat Vanesa kakaknya itu lebih membela papa dan keluarga besar sang papa yang selama ini selalu menjadi benalu di dalam keluarganya hingga sang mama harus mengalami banyak penderitaan. Cella leboh tersakiti lagi ketika melihat bagaimana Vanesa tega menganggap sang mama seperti pembantu dan dengan terang-terangan mengatakan kalau dia malu punya ibu seperti nyonya Gina.
“Van, apakah selama ini mama sangat menderita? Katakan sejujurnya padaku Van! Aku tahu kamu menutupi semua karena permintaan mama kan? Dan, aku bisa tebak, kalau yang kamu ceritakan padaku selama ini itu pasti hanya bagian kecilnya saja bukan Van.”
“Maaf Cel, tante melarangku, aku gak sanggup berbohong padamu makanya aku- seperti yang kamu bilang, hanya secuil yang kuceritakan”
“Aku tahu! Kau gak salahin kamu, setidaknya kamu memberi aku info meski hanya kode saja.”
“Sorry, aku udah terikat janji sama tante.”
“Oke, sekarang bisa kan ceritakan semuanya dengan detail?” pinta Arcella yang baru saja menyelesaikan kegiatan hari ini berbenah dan mengepak semua barang-barangnya ke kardus untuk dia paketkan ke Indonesia.
Tak lama setelahnya Vano pun menceritakan semua hal yang dia ketahui tentang nyonya Gina kepada Arcella. Kali ini tak satu pun yang ditutupi oleh Vano, semua lelaki itu jelaskan secara gamblang dan terang. Hati Arcella rasanya seperti di remas, gadis itu memang sudah bisa menebak apa saja yang akan nyonya Gina terima selama beliau masih tinggal di rumah keluarga Caluella.
Tak jauh beda seperti yang Arcella lihat ketika masih tinggal di rumah neraka itu. Tapi entah apa yang membuat nyonya Gina memilih terus bertahan daripada pergi keluar dari rumah itu, sebuah rahasia yang belum bisa Arcella dan Cairo pecahkan.
“Sejak kepergian kamu dan kak Cairo perlakuan mereka semakin buruk sama mama kamu, mereka menyalahkan mama kamu karena kak Cairo pergi dari rumah. Karena itu juga mereka semakin membuat mama kamu seperti pembantu di rumah itu, terutama si nenek lampir yang tak henti-henti nya memfitnah mama kamu, dan seperti biasa papa kamu tak pernah membela beliau.” Vano menceritakan keadaan nyonya Gina.
“Yang semakin membuat aku dan keluarga aku muak itu si mak lampir! Tingkahnya malah semakin menjadi! Dia seenak udelnya aja ambil uang di butik tanet Gina buat dia foya-foya! Tante Gina jadi gak enak akhirnya mama kamu memilih keluar dari butik dan menyerahkan butik pada kakak iparku, mama kamu hanya dapat share profit saja.”
Air mata turun deras membasahi pipi Arcella, gadis itu sungguh merasa sangat bersalah pada nyonya Gina karena tak berada di samping beliau ketika beliau mederita. Inilah yang tak di sukai Vano dan tak diinginkan oleh nyonya Gina ketika dia harus menceritakan secara gamblang nasib beliau, air mata Arcella terlalu berharga bagi nyonya Gina.
“Mama, mulai sekarang aku akan buat mama bahagia!” janji Arcella dalam hati penuh keteguhan. “Aku beneran gak tahan Van! Aku mau percepat kepulanganku aja! Pokoknya aku bakalan bawa mama pergi jauh dari tempat itu Van, gak aku ijinin mereka seidkit pun menyentuh mama!” kata Arcella penuh kemarahan.
“Iya Cel! Kan sekarang juga udah kamu bawa pergi, Cel! Jadi please jangan menangis lagi ya? Sudah cukup, mama-mu sudah aman sekarang beliau sudah tinggal di rumah kamu jadi jangan khawatir, aku juga sudah memberikan dua orang pembantu untuk menjaga tante,” kata Vano menenangkan Arcella.
“Makasi Van.”
“Kaya sama siapa aja, Cel! BTW kakak-mu sudah aku kasih kabar setelah pulang dari Jepang dia akan segera kembali ke rumahmu, oh ya Cel, tante minta tolong kak Xavier buat mengurus tentang perceraian.”
Bak disambar petir Arcella mendengar kabar itu, dia sungguh tak pernah menyangka kalau pada akhirnya nyonya Gina mengambil keputusan itu. Sebuah keputusan yang sangat final, meski Arcella tak suka dengan sang papa tapi dia juga tak ingin keluarganya tercerai berai. “Apa?”
“Aku gak tahu Cel, tante kemarin minta kak Xavier untuk mengurus tentang perceraian, makanya aku telepon kamu, apa tante ada bercerita?”
“Gak, mama gak cerita apa pun sama aku soal cerai, mama hanya bilang akan ikut dengan aku dan mas Cairo saat kami sudah sukses.”
“Baiklah Cel, mungkin tante punya pemikiran sendiri, nanti saat kamu udah balik kamu harus tanya sendiri sama beliau.”
“Hmm, meski itu berat tapi aku dan mas Cairo sebenarnya sudah bisa menduga hal ini. Hanya saja kami berdua masih berharap papa bisa kembali seperti dulu! Kata mas Cairo, dulu papa itu lelaki paling penyayang yang pernah mas Cairo lihat.”
“Hmm, aku pernah dengar itu juga dari kaka Xavier dan kak Ronald. Papa kamu itu lelaki idaman para istri, karena papa kamu itu selalu menjadikan mama kamu ratu dan kalian anak-anaknya sebagai putri dan pangeran.”
“Iya kata mas Cairo papa begitu penyayang, tapi setelah nenek pindah tinggal di rumah dan om Hasto masuk ke perusahaan semua perlahan berubah. Rumah itu menjadi seperti neraka buat mama dan papa hanya bisa terdiam tak bisa bertindak tegas untuk melindungi mama.”
“Ya sudah, aku udah kasih tahu kamu, tolong persiapkan diri kamu saat kamu kembali ke Indonesia.”
“Oke, I’ll do it, thank you.”
Panggilan itu pun berakhir, kini Arcella merasa sangat bingung dia tak tahu mengenai perihal perceraian, sesungguhnya di dalam hatinya dia tak ingin memiliki keluarga yang tercerai berai namun dia juga tak ingin melihat penderitaan sang mama.
Arcella memang meminta mama nya meninggalkan rumah itu tapi hanya meninggalkan bukan untuk bercerai. "Apa yang harus aku lakukan?apakah ini baik? Apakah mama bercerai karena aku? Ah... Aku gak mau menjadi penyebab perceraian kedua orang tuaku, dia tetap ayahku juga” guman Arcella.
Kesedihan nampak jelas di wajah ayu-nya tetesan air mata mulai menuruni pipi nya, hatinya sangat sakit saat harus mengingat semua hal di masa lalu, kehidupan yang meninggalkan sakit dan trauma. Dia tahu pasti jika dia akan mengalami hal-hal buruk saat kembali ke Indonesia.
Bayangan pertemuannya dengan keluarganya, juga bayangan bertemu dengan cinta pertamanya yang membencinya- Zale, juga bayangan bertemu dengan lelaki yang sangat mencintainya dan memberinya harapan untuk kembali bangkit tapi menghianatinya - Auriga. Entah lah Arcella hanya bisa menekan dadanya yang terasa nyeri saat mengingat masa lalu.
Tempat itu memberiku banyak kenangan buruk, tapi tempat itu juga tempat di mana aku harus bertahan demi mama ku,” ucapnya lagi dengan penuh kesedihan. “Bagaimana nasibku ke depannya ya Tuhan? Apakah aku harus menjadi istri lelaki itu? Akan kah ada kebahagiaan untukku? Ya Tuhan, hanya engkau yang tahu jalan hidupku, aku ikhlas ya Rabb.” kata Arcella berpasrah.
“Semaksimal mungkin aku harus menyembunyikan kepulangan aku! Aku harus menunda pernikahan itu bagaimana pun juga!” ucap nya lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





