
My Korean Girl
Bab 3
Author POV
Jinhye kini sudah berada di dalam pesawat yang menuju ke Bandara John F. Kenedy, Queens, NYC. Entah apa yang akan ia temui di New York nanti, atau apa yang akan ia lakukan nanti, Jinhye tidak banyak memikirkannya. Kini, ia hanya meyakini bahwa ayahnya berada di tempat yang alamatnya sudah dituliskan oleh Suk Gi dikertas yang kini digenggamnya erat.
Resort World Kasino, NYC.
Bahkan Jinhye tidak mengetahui dimana letaknya. Jinhye hanya merasa beruntung bahwa ia bisa berbahasa inggris dengan baik dan fasih. Setidaknya dia tidak akan ditipu orang. Baiklah, gadis itu memilih untuk memejamkan matanya. Perjalanannya masih panjang. Ia harus istirahat sekarang.
***
Alex keluar dari mobil sport-nya. Ia baru saja tiba di depan Lt. Ayza. co, perusahaan milik Fabio, sahabatnya. Seperti yang sudah mereka bicarakan, Alex akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Fabio diperusahaan laki-laki itu.
"Good morning, Sir. Ada yang bisa saya bantu?", sapa resepsionis di lobby kantor. Wanita muda itu nampak menarik. Alex tersenyum.
"Hai. Aku sudah membuat janji dengan Fabio. Apakah dia ada?", gadis resepsionis itu tersenyum.
"Atas nama siapa, Sir?"
"Alex, Alexander Craigh. Kau sebutkan saja namaku, dia pasti akan mengenaliku...", Alex menyandarkan badannya di meja resepsionis.
"Baik, tunggu sebentar, Sir...", gadis itu mengangkat gagang telpon, "Ya, Miss Subrata, ada tamu yang mengatakan bahwa ia sudah membuat janji dengan Mr. Ayze. Ya, miss. Ehm... namanya Mr. Craigh, Alexander Craigh. Baik, saya tunggu. Terima kasih, miss...", gadis itu kembali meletakkan gagang telponnya.
"Bagaimana?", Alexander tersenyum lebih manis.
"Tunggu sebentar, sir. Sekretaris Tuan Ayze akan segera memberitahu...", Alex mengangguk. Tak berapa lama, telpon dimeja resepsionis itu kembali berdering, "Ya, Miss? Oh... okay. Terima kasih...", pandangan gadis itu kembali ke Alex, "Silakan anda masuk, Sir. Tuan Ayze ada di lantai paling atas digedung ini", Alex mengangguk dan mengulurkan tangannya. Gadis itu menatap tangan Alex yang terjulur dengan bingung, "Sorry, sir???", Alex tertawa.
"May I know your name, sweety?", pipi gadis itu merona. Alex tersenyum.
berhasil!!! pikirnya. Benar saja, gadis itu akhirnya menjabat tangan Alex.
"Namaku, Clara, Clara Gloria, sir...", Alex mencium tangan Clara.
"Senang berkenalan denganmu, Nona cantik. Sampai berjumpa kembali...", Alex langsung memasuki lift dan menuju ke lantai teratas.
Sesampainya Alex dikantor Fabio, ia disambut oleh seorang gadis cantik bermata biru.
"Selamat pagii, Tuan Craigh. Saya Inara, sekretaris Tuan Ayze. Mari saya antarkan keruangan beliau...", gadis itu berkata ramah. Membuat Alex terpana. Lalu mengikuti langkah gadis itu tanpa sadar.
"Masuk...", jawab Fabio dari dalam setelah gadis bernama Inara itu mengetuk pintu.
"Permisi, Tuan. Tuan Craigh sudah tiba...", Fabio mengangkat wajahnya dan menatap Alex yang masih saja memandangi Inara.
"Kau boleh pergi, Inara...", Inara mengangguk lalu berlalu pergi. Alex masih menatap punggung Inara hingga gadis itu menghilang dibalik pintu.
"You have an angel, my friends", Alex masih menatap pintu tempat Inara berlalu, "Give me that girl!", Fabio seketika melotot.
"She's my secretary if you wanna know", Alex menggeleng.
"Kau bisa cari lagi wanita lain. I really-really wanna her", Alex menarawang, "And, think about it! how great the feel when she is on my bed. When I could take mine on her!!!", Fabio melemparkan penanya ke arah Alex. Wajahnya terlihat kesal.
"Berhenti membayangkannya, bodoh!! Dan jangan sekalipun menyentuh sekretarisku!!!!"
"Hei, kenapa kau marah?!", ucap Alex tertawa menatap wajah kesal Fabio, "Atau jangan-jangan... kau... menyukainya juga hah?!", Fabio mendengus mendengar godaan dari Alex.
"Kenapa kau bertanya, liat, wajahnya sudah merah padam karena malu. Seperti kepergok maling!", Jonathan sudah muncul di kantor Fabio. Alex menatapnya serius.
"Kau benar menyukainya?!"
"Tidak! Mana mungkin aku menyukai dia...", Alex tersenyum.
"Baguslah kalau begitu...", Fabio menatapnya, "Jangan pernah menyukainya"
"Kenapa?"
"Karena aku menyukainya", senyum Alex mengembang. Ia benar-benar menyukai Inara.
Setelah pertemuan awalnya dengan Inara, saat itulah Alex memulai kerjasamanya dengan Fabio. Berbeda dengan Clara yang sepulang dari kantor langsung berhasil Alex ajak ke apartemennya. Untuk apa? Apalagi kalau bukan bercinta. Inara sepertinya bukanlah gadis yang gampang termakan bujukan.
Dan di sinilah keduanya kini, terlelap dengan masih tanpa busana satupun. Alex sudah terbangun lebih dulu dan menatap Clara yang masih tertidur.
"Ternyata kau sama saja dengan gadis-gadis yang sudah kutiduri!", ucapnya sarkas. Alex beranjak dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri.
Entah kenapa, sejak semalam ia bahkan tidak bisa melupakan senyuman Inara. Gadis itu bahkan menemaninya, mengisi pikirannya saat ia memasuki milik Clara. Membayangkan Clara adalah Inara, membuat nafsu dirinya menggebu.
"Honey, kau tidak membangunkanku? Aku bisa membuatkan sarapan untukmu?", Clara menyambut Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi. Clara cantik, tapi Alex tidak bisa berhenti membayangkan Inara meskipun sedang bergumul bersama Clara.
"Cepat kau pakai bajumu dan pergilah segera!", Alex meninggalkan Clara menuju closet pakaiannya. Mengambil kemeja dan celana hitamnya.
"Kenapa kau malah mengusirku?", gadis bernama Clara itu tetap keukeuh mengikuti Alex ke dalam closet. Alex mengacuhkannya, "Kau, membuatku tidur denganmu dalam satu malam. Dan sekarang kau menyuruhku pergi?!"
"Bukankah kau juga sudah tidak suci lagi saat tidur bersamaku? Artinya, kau juga tidak bisa melarangku menyuruhmu pergi kalau kau saja tidak menahan laki-laki yang sudah merenggut keperawananmu itu pertama kali!", Alex memakai jasnya. Masih, ia sama sekali tidak menoleh pada Clara sedikitpun.
"Alex, berhenti mengacuhkanku!!!!!", Alex menoleh. Sorot matanya menatap tajam kearah Clara. Gadis itu membentaknya.
"Kau... berani membentakku??!!", ucap Alex datar. Clara yang tidak memahami kemarahan Alex justru mendekat dan memegang tangan laki-laki itu.
"Aku menyukaimu, Alex. Kenapa kau tidak mengerti!", Alex menghempaskan tangan Clara. Sebagai gantinya, ia mencengkram keras lengan gadis itu, "Sshhh, Alex. S...sakiiit...", Clara meringis menahan perih dilengannya karena cengkraman Alex. Tapi, Alex bahkan tidak mengurangi kencangnya cengkraman tangannya itu.
"Kau! Dengarkan aku baik-baik!!", intonasi suara Alex datar, sorot matanya tajam seakan ingin membunuh Clara membuat nyali gadis itu menciut, "Aku tidak pernah menyukai, ataupun berhubungan dengan gadis yang sudah ku tiduri. Apalagi kau! Aku tidak punya alasan untuk menyukaimu. Jadi... sebaiknya kau sadar diri dan jangan muncul dihadapanku lagi!!"
"Shhh, Alex. Aku..."
"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun dari mulutmu yang kotor itu! Berani-beraninya kau membentakku! Jika kau melakukannya sekali lagi, akan aku pastikan, kau tidak akan pernah bisa melihat matahari esok pagi. Kau mengerti!!!!!", Clara terdiam. Sambil menahan tangis iapun mengangguk.
Melihat anggukan penuh ketakutan dari wajah Clara membuat Alex akhirnya melepaskan cengkaman tangannya. Ia mendorong Clara hingga terjatuh.
"Kau kemasi barang - barangmu dan segera pergi dari apartemenku!", bentak Alex kemudian berlalu meninggalkan Clara yang menangis.
***
Jinhye terbangun dari tidurnya. Tubuhnya masih sangat lelah. Setelah tiba di Bandara JFA, Queens, Jinhye langsung mencari penginapan terdekat. Tak lupa ia juga mengambil city map yang terletak di lobby bandara untuk melihat kemana ia harus pergi.
"Imo, maafkan aku baru menelpon..."
"Kau dimana, Jinhye-ah. Apa kau baik-baik saja?", tanya Suk Gi diujung sambungan telpon.
"Aku baik-baik saja, Imo. Aku menginap dipenginapan semalam. Pagi ini rencananya aku akan mencari abeoji ke tempat kerjanya. Tapi ku dengar, kasino itu hanya buka sore hingga dini hari. Jadi, aku akan mencari penginapan disekitaran kasino itu saja untuk mempermudah aksesku"
"Baiklah kalo begitu, Jinhye-ah. Kau hati-hati. Dan jangan lupa untuk selalu menghubungiku!", Jinhye tersenyum.
"Iya, Imo. Bagaimana Ji Geum. Apa dia menanyakanku?"
"Ya. Dia mengeluh karena kau tinggalkan. Tapi, aku menyuruhnya untuk tinggal saja dirumahku selama kau pergi. Daripada dia menginap dirumah temannya"
"Jeongmal gomawo, Imo. Aku tidak tau harus membalas kebaikanmu dengan apa...", Jinhye sedikit terharu. Ia sangat bersyukur Tuhan mengirimkan seorang bibi sebaik Suk Gi padanya.
"Sudahlah, kau tidak perlu berterima kasih"
"Ya sudah, aku tutup dulu, Imo. Nanti ku telpon lagi. Annyeong", Jinhye memutuskan sambungan telpon.
City map yang diambilnya kemarin ternyata sangat berguna. Jinhye langsung menaiki angkutan umum menuju Kasino. Beruntung, Jinhye langsung bisa menemukan penginapan murah didekat RWC.
Setelah menunggu hari sore, Jinhye akhirnya memberanikan diri memasuki Kasino. Penampilan Jinhye sangat sederhana, berbeda sekali dengan pengunjung kasino yang lain. Sebenarnya, kasino ini lebih banyak dipenuhi oleh para lelaki yang hanya sekedar ingin minum atau berjudi. Beberapa wanita bisa Jinhye lihat hilir mudik didalam kasino, siapa lagi mereka kalau bukan wanita sewaan untuk menemani para lelaki itu.
"Permisi Nona, apa anda mencari seseorang?", Jinhye dikejutkan dengan sapaan seorang security.
"Oh, eh... maaf. Aku... aku hanya ingin mencari ayahku. Ehm... apakah... anda mengenal Park Bo Geum? Aku mendapat kabar bahwa ayahku bekerja disini", security itu nampak terkejut.
"Anda... putri Tuan Park, nona?", tanyanya tak percaya. Jinhye mengangguk.
"Kau mengenal ayahku? Jadi benar dia bekerja disini?", security itu menggeleng.
"Tidak, Nona Park. Tuan Park hanya pengunjung setia kasino ini. Biasanya dia kesini diatas pukul 8 malam...", Jinhye tersenyum. Setidaknya ia bisa menemui Ayahnya malam ini.
"Oh, terima kasih atas informasinya, Tuan. Kalau begitu, saya akan menunggunya di dalam...", Jinhye baru saja akan melangkah masuk kedalam kasino kalau saja tangannya tidak ditahan security itu. Jinhye menoleh kembali.
"Sebaiknya anda tidak menunggu di dalam, Nona. Tempat ini tidak aman untuk anda jika sendirian. Pulanglah, lalu kembali lagi pukul 8...", wajah security itu sangat serius.
"B... baiklah. Jika begitu menurut anda, a...aku akan pulang d...dulu. Terima kasih...", Jinhye akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Jinhye tidak benar-benar paham apa yang dimaksud dengan ucapan security kasino itu padanya. Tapi, melihat raut serius diwajahnya, nyali Jinhye pun ciut. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika sendirian di dalam kasino itu. Ia bahkan tidak mengenal siapa-pun.
Seperti yang sudah dikatakan oleh security kasino, Jinhye kembali lagi ke kasino itu pukul 8 malam, hampir 9. Berbeda dengan suasana sore hari, Jinhye pun tidak lagi disambut oleh security yang tadi sore menghalanginya. Kasino sudah lebih ramai. Meskipun hatinya ragu, tapi Jinhye akhirnya memberanikan diri melangkahkan kaki memasuki kasino.
Semua mata tertuju pada Jinhye. Laki-laki disana langsung menaruh minat lebih pada Jinhye, menatapnya penuh nafsu seakan Jinhye adalah santapan yang lezat. Malam itu, Jinhye mengenakan dress tanpa lengan selutut berwarna putih dipadukan dengan jins navy panjang. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan polesan make up natural. Sebenarnya penampilan Jinhye lebih terlihat jauh dari kesan seksi, namun kepolosannya, membuat para lelaki itu tau bahwa tubuh mulus Jinhye pasti belum pernah dijamah oleh siapapun.
Ditengah ketakutannya karena menjadi pusat perhatian, Jinhye melihat sosok yang sangat dikenalnya, bahkan sangat ia rindukan sedang fokus dengan permainan dihadapannya.
"Abeoji?!", ucap Jinhye pelan. Senyumnya tersungging manis dibibirnya yang tipis. Tanpa menunggu waktu, Jinhye langsung menghampiri ayanya, "Appa???", sapa Jinhye penuh bahagia. Laki-laki yang dipanggil Jinhye 'appa' itu menoleh. Wajahnya sedikit terkejut melihat kehadiran Jinhye di kasino itu malam ini.
"Jinhye-ah??", air mata Jinhye seketika mengalir karena sudah bertemu dengan sosok yang sangat dirindukannya. Ia segera menghambur kepelukan Bo Geum.
"Appa, aku merindukanmu...", ucap Jinhye ditengah tangisan bahagianya. Bo Geum tertegun. Tanpa Jinhye sadari, seorang laki-laki tampan, bertubuh atletis dengan wajah dipenuhi bulu-bulu halus yang menjadi lawan main ayahnya kini sedang menatapnya dengan tatapan... entahlah, tertarik?
"Jinhye-ah, kenapa kau kemari?", Bo Geum melepaskan pelukan anaknya.
"Aku sengaja mencarimu, appa"
"Tapi kau tidak seharusnya kemari. Ayo kita pergi!", saat Bo Geum baru saja akan menarik tangan Jinhye yang menatap ayahnya bingung menjauhi meja permainan, sebuah suara menghentikan langkah Bo Geum.
"Tunggu dulu Tuan Park. Urusan kita belum selesai!!", laki-laki yang tadi menatap Jinhye kini telah berdiri. Bo Geum menoleh, begitu juga dengan Jinhye, "Kau belum membayar taruhanmu. Kau sudah berhutang banyak padaku sejak satu minggu yang lalu", Bo Geum menelan ludahnya.
"Aku akan membayar semuanya nanti, Tuan Craigh!", ucap Bo Geum sedikit ragu. Alex tertawa. Ya. Saat ini, bahkan sejak satu minggu yang lalu, Park Bo Geum selalu bermain judi dengan Alex Craigh. Tapi juga selalu kalah.
"Kapan kau akan membayar semua hutangmu, Tuan Park?! Atau jika aku bisa tambahkan, dengan apa kau akan membayarnya?!", Bo Geum menelan ludahnya. Alex benar. Ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi.
"Aku...a...aku akan m...mengusahakannya segera, Tuan Craigh", Alex tertawa lagi. Kemudian menatap Park Bo Geum tajam.
"Aku ingin uangku sekarang, Tuan Park!!!", baik Bo Geum ataupun Jinhye sama-sama tersentak. Suara Alex sangat menakutkan.
Tiba-tiba saja, tatapan tajam Alex tertuju pada Jinhye. Bibirnya mengulas senyum misterius. Entah kenapa, Park Bo Geum merasa jiwa Jinhye terancam. Tangannya refleks menarik Jinhye ke belakang tubuhnya, mencoba melindungi anak gadisnya dari tatapan menyeramkan Alex.
"Ehm...", Alex sedikit terbatuk. Ia membersihkan kerongkongannya kemudian berjalan mendekati Park Bo Geum, "Sepertinya kau memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik, Tuan Park...", tubuh Jinhye membeku. Laki-laki menakutkan itu menaruh perhatian padanya.
"K... kau mau apa d...dengan putriku, Tuan Craigh?!", Alex menyeringai.
"Kau tau hutang-hutangmu sangat banyak bukan?", Alex kini sempurna berdiri dihadapan Park Bo Geum, "Bahkan nyawamu saja tidak bisa membayarnya. Tapi aku punya solusi untukmu, Tuan Park!", Alex menatap lurus kearah Park Bo Geum.
"A...apa m...maksudmu?!"
"Serahkan anakmu padaku. Maka hutangmu akan lunas!", Jinhye sontak meremas tangan ayahnya. Ia sangat takut melihat tatapan laki-laki yang dipanggil ayahnya dengan sebutan 'Tuan Craigh' ini.
"TIDAK!!! Aku tidak akan menyerahkannya, Tuan Craigh!", seringai Alex terhenti mendengar bentakan Park Bo Geum.
"Aku akan memintanya secara baik-baik, Tuan Park. Kau tau, aku sangat tidak suka ditentang!", Park Bo Geum melindungi putrinya.
"TIDAK!! AKU TIDAK SUDI MENYERAHKANNYA PADAMU!!"
Cukup. Alex mengangkat tangannya, meminta anak buahnya untuk menyelesaikan urusannya dengan Park Bo Geum yang ternyata tidak mampu diajak bicara baik-baik.
"APPA!!!! Stop it!!!", Jinhye hanya bisa menjerit ketakutan saat melihat ayahnya dipukuli habis-habisan oleh orang-orang suruhan Alex. Saat ia mencoba mengusir orang-orang itu dan menutupi tubuh ayahnya dari tendangan serta pukulan yang membabi buta, orang suruhan Alex yang lain menariknya dengan paksa bahkan lebih kepada menggendongnya karena Jinhye merasa tubuhnya melayang, kakinya tidak mampu menapak dilantai kasino.
"Lepaskan aku!!!", Jinhye terus meronta , mencoba melepaskan diri dari orang yang membawanya entah kemana. Ia hanya melihat, orang ini mengikuti laki-laki bernama Tuan Craigh itu.
"Lepaskan aku!!!!", Jinhye meronta sekuat tenaganya. Tapi percuma saja, kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan laki-laki itu.
"Masukkan dia! Ikat tangan dan kakinya agar dia tidak menyusahkan aku! Jangan lupa sumpal mulutnya yang berisik itu!!!"
"Tunggu, lepaskan a... hmmphh!!!", teriakan Jinhye tertahan. Mulutnya sudah sempurna tersumpal. Setelah kaki dan tangannya terikat, ia dimasukkan kedalam mobil bersama dengan Tuan Craigh.
***
Alex menyeringai. Ia menatap gadis yang terikat disebelahnya. Wajah gadis itu sangat ketakutan. Alex sedikit merasa... kasihan? Tapi wajah gadis itu sangat menarik. Apakah rasa miliknya juga nikmat? Ah, Alex sudah tidak tahan untuk mencicipi mainan barunya ini.
"Mulai malam ini, kita akan bersenang-senang cantik. Kau persiapkan dirimu!!", ucap Alex sambil menyeringai. Jinhye menatapnya penuh takut. Air matanya sudah mengalir sejak tadi.
Alex membawa Jinhye kerumahnya. Rumah, bukan apartemen yang biasa dia gunakan untuk menikmati satu malam bersama wanita-wanita jalang yang ia temui dijalanan.
"Bawa dia ke kamar!!", perintah Alex pada anak buahnya.
"Errgghh, ehmmppph!", Jinhye masih berusaha memberontak. Alex menyeringai lagi.
"Selamat malam, Tuan. Apa anda ingin saya siapkan makan malam?", Holdy, ketua pelayan di rumah Alex menyapa majikannya.
"Ya, Holdy. Mulai hari ini kau siapkan makan pagi, siang dan malam untukku dan juga gadis yang ku bawa tadi!", Holdy mengangguk, "Aku akan keatas membersihkan diri".
***
Alex POV
Aku berjalan kearah kamarku. Entah apa yang sedang dilakukan gadis Korea itu sekarang. Aku menyeringai. Gadis itu, akan aku nikmati sepuas hatiku. Jika aku sudah bosan nanti, akan aku kirimkan ia kembali pada ayahnya yang miskin dan tidak tahu diri itu.
Aku membuka pintu kamarku dan berjalan masuk. Ku edarkan pandanganku keseluruh ruangan tidurku yang sudah sangat jarang aku gunakan itu. Gotcha!!! Disana dia rupanya. Meringkuk ketakutan.
"Kau mandilah! Aku tidak sudi menidurimu jika penampilanmu acak-acakan seperti itu!", gadis itu sedikit terkejut kemudian semakin rapat memeluk lututnya, membelakangiku. Kulihat punggungnya bergetar.
"Berhentilah menangis!", bentakku lagi. Aku berjalan mendekatinya. Ku tarik tubuhnya dengan paksa dan ku dudukkan di tempat tidur. Ku buka ikatan dimulutnya dengan paksa. Sedikit takut, gadis itu menatapku.
"T...tolong lepaskan aku, T...Tuan Craigh...", aku mendengus.
"Sesuai permintaanmu, Nona Park", aku mengambil gunting yang ku letakkan dilaci sebelah kasur dan mendekatinya lagi.
"K... kau mau apa, T...tuan?!", gadis itu mulai memundurkan badannya. Aku menyeringai.
"Bukankah kau minta aku melepaskanmu?", aku menarik kakinya yang terikat.
"Aaakkh...", teriaknya.
"Berhenti berteriak, bodoh!!!", bentakku. Aku menggunting ikatan di tangan dan kakinya, "Sekarang kau sudah terlepas. Cepat!! Bersihkan dirimu!", gadis itu bangun.
"Aku... aku ingin pulang, T... tuan...", aku tertawa mendengar ucapannya.
"Ini rumahmu, Nona. Kau sudah menjadi milikku!"
"T...tolong, maafkan a...ayahku, Tuan. Aku... aku akan membayar semua hutangnya padamu", aku mendekatkan diriku padanya. Semakin dekat.
"Dengan cara apa?", aku menatap matanya dan terus melangkahkan kakiku. Sedangkan dia, semakin aku mendekatinya, ia semakin melangkah mundur. Dan... langkahnya tertahan kasurku,
"A...aku akan b...bekerja, T...tuan", aku mengunci tubuhnya.
"Dimana?", gadis itu menatapku dengan takut. Sial, wajah gadis ini lumayan cantik. Aroma tubuhnya bahkan membuat sebagian diriku meremang.
"A...aku akan s...segera mencarinya", ku dekatkan wajahku dengan wajahnya.
"Kau tidak perlu bersusah payah, Nona. Disinilah kau akan bekerja. Denganku, di ranjangku. Setiap hari..."
"TIDAK!!!", gadis itu membentak. Ia memaksakan diri mundur kembali namun malah membuatnya terjatuh ke kasurku. Dadaku bergemuruh. Aku sangat tidak suka dibentak, ditentang. Apalagi gadis ini melakukan keduanya secara bersamaan. Aku menindih tubuhnya, "Akh, lepaskan aku!!!", aku menatapnya tajam. Tanganku menahan tangannya dengan mencengkram secara kuat.
"Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak suka ditentang Nona Park!!!", mataku menyusuri setiap jengkal wajahnya. Bibirnya tipis berwarna pink merona. Pasti bibir ini belum dijamah sama sekali, seperti bibir milik Inara. Ah, sial!!! kenapa aku membayangkan gadis itu lagi.
"T...tolong lepaskan aku, T... tuan Craigh"
"Alex, panggil aku Alex, Nona muda", aku mulai menciumi wajahnya. Gadis ini mengelak membuatku semakin semangat untuk mencumbunya. Aku menciumi kening, hidung, pipi dan terakhir bibir ranum gadis itu. Ku kulum penuh nafsu. Gadis itu terus menolak.
"Alex, akhu...hmpph", saat ia akan mengatakan sesuatu ku gunakan kesempatan itu untuk memasukkan lidahku kedalam mulutnya, mencari lidahnya dan menyusuri setiap jengkal mulutnya yang terasa manis itu.
Tak ketinggalan, tangan kananku meraba dadanya yang ternyata cukup berisi itu sambil tangan kiriku tetap memegangi kedua tangannya keatas.
"Hmmmmmppphhh!!", gadis itu menggeleng. Menandakan ia menolak semua perlakuanku. Tubuhnya terus mengelinjang mencari celah untuk melepaskan diri. Dengan kasar aku segera menarik dress putihnya keatas.
"Tuan Alex, lepaskan akhu...hmmpph", aku kembali melumat bibirnya. Kini tanganku dengan cepat menarik kaitan branya hingga terlepas. Aku tertegun. Bukit kembarnya cukup mengundang nafsuku. Putingnya bahkan berwarna pink merona. Tanpa menunggu lagi, segera ku lahap pucuk payudaranya itu. Ku kecup, ku jilat dan ku hisap dengan rakus.
"Akh, sakit, lepaskan aku, Tuan!!!", aku tidak menghiraukan teriakan gadis itu. Meskipun ia terus mencakar, menendang, atau mendorong tubuhku, aku tidak peduli. Kekuatannya jauh dengan kekuatanku.
Aku terus menghisap dan mengigit puting payudaranya, sedangkan tangan kananku asik memilin, memutar dan menarik ujung puting yang satunya. Gadis itu terus memberontak. Ciumanku pun turun menuju perutnya. Tak lupa tanganku dengan cepat dan kasar melepaskan kaitan jinsnya dan segera menarik turun celananya. Hingga ia hanya memakai celana dalam berwarna hitamnya saja.
Aku kembali melahap bibirnya sambil menurunkan celanaku. Setelah aku lepaskan celana dan celana dalamku, tubuhku segera menghimpitnya lagi. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Tangan kananku segera turun dan mengelus miliknya dari luar celana dalam yang ia kenakan.
"Hmmpphhh", ia menggeleng keras. Aku tersenyum. Segera ku turunkan celana dalamnya dan ku elus sesuatu di dalam sana.
"Kau, nikmati saja permainanku, cantik"
"Janganhhmmpph", kembali ku kulum dan kuhisap bibirnya. Tanganku mulai menarik miliknya dan memasukkan jemariku ke milik gadis itu yang terasa sempit.
"Ehmmmpphh", kakinya memberontak.
"Punyamu sepertinya sempit sekali. Aku sudah tidak tahan!!", aku segera mengarahkan milikku ke depan miliknya yang mulus tanpa ditumbuhi bulu-bulu itu. Milik gadis itu masih berwarna pink menggairahkan. Saat aku sudah siap menusukkan milikku, gadis itu kembali meronta.
"Diam!!!", ia menggeleng keras.
"Jangan, aku mohon jangan lakukan itu!!", aku tidak peduli. Aku segera melahap kembali bibirnya. Namun, saat aku sudah siap menghujamkan milikku, aku merasakan aliran air hangat membasahi mulutku. Sial!!! Gadis ini menangis!!
Aku menghentikan perbuatanku dan menatapnya. Gadis itu benar-benar menangis. Ia menutup matanya erat tapi air matanya mengalir deras. Tangannya yang satu mencengkram punggungku dan yang satu lagi mencengkram sprei. Hatiku seketika terasa nyeri.
Aku memang sering meniduri wanita lalu meninggalkannya. Tapi, aku tidak pernah memaksa mereka untuk mau tidur denganku. Mereka akan dengan rela melakukannya. Tapi gadis ini, ia menangis. Seakan aku ini adalah manusia tanpa hati, penjahat kelamin yang tidak punya perasaan. Aku merasa kesal setengah mati.
Akhirnya kuputuskan untuk berdiri dan memakai celanaku kembali. Aku menarik selimutku dan menutupi tubuhnya.
"Berhentilah menangis! Kau segeralah mandi!", bentakku. Mendengar dan melihat tangisannya entah mengapa hanya membuatku sakit hati.
"Hiks... hikss....", ia terus terisak. aku menghela nafas kesal.
"Aku bilang berhenti atau aku akan memperkosamu tanpa ampun saat ini juga!!!", gadis itu langsung meredam tangisannya dengan tangan dan selimutku. Mungkin dia benar-benar takut. Akupun langsung meninggalkannya sendiri di kamar. Aku harus mencari pelampiasanku malam ini.
Anda Mungkin Juga Suka





