
MY HUSBAND'S A HANDSOME CEO
Bab 2
"Dad kenapa akhir-akhir ini kamu selalu pulang malam? Bahkan aku nggak tau jam berapa kamu sampai rumah," Ana mengusap perut yang sudah mulai nampak membuncit itu.
Usia kehamilan Ana sudah memasuki bulan ke empat jadi sudah mulai nampak tonjolan di balik baju yang dia kenakan.
"Masih untung suami pulang, bagaimana jika aku nggak pulang atau pulang ke rumah mama dan kamu tidur sendiri di rumah," Jawaban itu membuat Ana tergugu di tempat.
Apa maksudnya bicara gitu? Aku ini istrinya jadi wajar jika aku bertanya akan hal itu.
Bukan hal aneh jika seorang istri bertanya pada suaminya kapan pulang atau jam berapa pulang? Apa dia tak tau walau sang suami bisa menjaga diri di luar sana tapi perasaan cemas itu tetap ada.
Wanita hamil itu meremas tangan kuat menandakan ada rasa nyeri dalam dadanya saat jawaban suami yang tak seperti biasa menjawab pertanyaan dia.
Biasanya dia akan menjawab dengan lembut bahkan sambil menggenggam tangan sang istri untuk menenangkan akan keterlambatan kepulangan ke rumah.
Bukan kasar seperti sekarang, dia bukan seperti suami Ana yang dulu.
"Maaf dad aku nggak akan bertanya lagi, ini sarapan nya," Ana tetap menyediakan sarapan dengan perasaan yang entahlah, dia sendiri juga tidak tau.
Ana tetap melakukan tugas sebagai seorang istri.
Dengan perasaan yang sulit di artikan.
Kenapa dengan suami nya, Ana terus berfikir keras akan perubahan sikap suami yang amat dia sayangi.
Mereka makan dengan tenang tanpa ada satu pun yang membuka suara.
Selesai sarapan Ana mengantarkan suami nya berangkat kerja hingga depan teras.
"Aku berangkat," Pamitnya setelah itu dia langsung pergi menuju mobil yang sudah terparkir depan rumah.
Bahkan tangan Ana menggantung di udara, padahal dia ingin mengalaminya seperti biasa sebagai bentuk wujud bakti istri pada suami.
Namun tangan itu di abaikan dan Devan berjalan tanpa melihat ke belakang.
Aku melihat tangan ku dengan tatapan nanar dan melihat mobil itu melaju dengan tatapan kosong.
Ana meremas baju yang aku kenakan di bagian dada.
Terasa sesak.
Wanita hamil ini biasa di panggil Ana dan suami nya Devan
Mereka sudah menikah sekitar empat tahun dan baru sekarang mereka di karuniai buah hati pertama.
Kata orang nama kami sama dan berarti jodoh.
Iya sih nama Ana dan Devan memiliki kemiripan dan mereka mengaminkan setiap doa baik yang di tujukan untuk mereka berdua.
Bahkan ada yang mengatakan jika nama mirip itu hanya maut yang memisahkan.
Semoga saja.
Ana juga ingin menikah sekali seumur hidup dan itu bersama dengan suaminya Devan yang menjadi cinta pertama Ana.
Mereka menikah bukan di jodohkan oleh para orang tua.
Jadi mereka menikah dengan saling mencintai dan menyayangi.
Setelah mobil itu tidak terlihat lagi Ana masuk ke dalam rumah untuk membereskan piring kotor yang masih ada di atas meja makan.
Walau sudah ada asisten rumah tangga tapi kadang Ana masih suka melakukan pekerjaan ringan.
"Daddy Devan kenapa ya? Apa kerjaan lagi banyak," Ana berusaha berfikir positif dan tidak mau ambil kesimpulan sendiri karena dia percaya suami nya.
Mungkin iya Devan lagi banyak kerjaan.
Devan memiliki usaha di bidang properti, perhotelan dan ekspor impor jadi mungkin iya Devan lagi banyak kerjaan hingga pulang malam serta sulit untuk mengontrol cara ngomong.
"Aku lanjutkan kerja saja," Ana memiliki kesibukan sendiri dalam dunia menulis.
Dari dulu Ana hobi membaca hingga jiwa halu dia timbul dari sana.
Dari membaca dia memiliki pemikiran atau kisah yang ingin dia tuangkan dalam bentuk tulisan.
Sebelum cerita itu cuma dia simpan dalam laptop bahkan sudah ada beberapa cerita yang dia buat namun masih tersimpan rapi dalam file di laptop.
Sejak menikah dia memang di larang sama suami nya untuk bekerja bukan melarang sebenarnya namun dia ingin istrinya tidak kecapekan saat pulang dan jatuh sakit.
Sebagai istri yang berbakti ia akan menuruti semua keinginan suami selama itu adalah hal baik.
"Ih mereka semua pada bikin gemas," Komentar pembaca saat melihat komentar ada di bab terakhir dia update cerita.
Ada saja komentar mereka yang membuat wanita hamil tersenyum sendiri.
Komentar mereka menjadi teman saat sendiri di rumah.
Ini yang Ana lakukan sebelum melanjutkan cerita dia akan membuka kolom komentar dan membalas agar mereka di anggap ada dan tidak cuma sekedar pembaca saja.
"Akhirnya selesai juga," Setelah satu jam lebih Ana berkutat di depan laptop akhirnya dia bisa update juga.
Cerita yang sekarang dia garap adalah tentang kisah anak sekolah yang lagi mencari jati diri dan di selingi dengan kisah percintaan mereka yang bisa berubah kapan saja.
Bahkan part yang ada adegan yang membuat orang meleleh atau geram maka di sana Ana melihat banyak komentar mereka beraneka ragam.
Tok...
Aku menoleh ke arah pintu saat di ketuk.
Aku akan mengunci pintu jika sendiri di rumah.
Dengan keadaan badan yang terasa kaku karena lama duduk Ana beranjak menuju pintu.
Sebelum membuka pintu Ana akan mengintip siapa yang datang.
Ana tidak mau membuka pintu untuk sembarang orang.
Itu pesan Devan sebelum berangkat kerja.
"Assalamu'alaikum," Sapa orang yang datang ternyata adalah mama mertua Ana mama Rani.
"Wa'alaikumsalam ma, ayo masuk," Ana menyalami mama Rani dan mengajak masuk ke dalam.
Ternyata dia datang bukan sendiri tapi bersama kakak perempuan Devan.
"Ayo masuk kak,"
"Silahkan duduk ma, kak," Ana mempersilahkan mereka duduk di sofa dan tidak lupa aku menepikan laptop yang tadi aku gunakan.
Dia pamit sebentar ke dapur untuk membuatkan mereka minuman serta membawa kue kering yang kemarin dia beli.
"Di minum ma, kak," dia meletakkan gelas yang berisi teh di depan mereka masing-masing.
Ana ikut duduk di sofa yang kosong.
Dia cukup heran kenapa mereka berdua datang siang hari dan di saat Devan tidak ada.
Biasanya mereka datang saat Devan saat sudah pulang kerja atau mereka yang di suruh datang ke rumah.
Tapi dia tidak apa karena sebagai anak wajar datang mengunjungi orang tua.
"Devan sudah lama berangkat kerja?" Ana terdiam di tempat saat mendengar saat bertanya tentang Devan.
Ana melihat mertuanya yang lagi bicara.
Seharusnya dia ingat jika jam segini anaknya sudah berangkat kerja.
"Sekitar satu jam lalu ma," tapi Ana maklum jika sang mertua bertanya.
Ana termasuk beruntung memiliki mertua yang baik dan perhatian bahkan hampir tiap hari di kunjungi atau sekedar bertanya kabar lalu balik lagi.
Mengingat Ana sedikit jauh tinggal dari kedua orang tuanya walau masih berada dalam satu kota yang sama, tapi lebih dekat rumah mertuanya.
Anda Mungkin Juga Suka





