
MY HUSBAND'S A HANDSOME CEO
Bab 3
"Oh maaf mama lupa, duh mungkin faktor usia kali ya," Ringis mama Rani kayak orang salah mengucapkan sesuatu namun berusaha di tutupin.
Ana mengangguk maklum, mungkin iya karena faktor usia jadi daya ingat sudah mulai menurun.
Selepas berbincang dengan mertua dan kakak ipar nya Ana masuk ke dalam rumah lagi membereskan laptop yang belum di masukkan ke dalam kamar.
Waktu sudah beranjak naik dan sudah mau masuk jam makan siang.
Kini Ana berkutat sama alat masak untuk memasak makan siang untuk dirinya dan suami.
Iya biasanya Devan pulang untuk makan siang bersama sang istri.
Dan semoga saja tidak seperti hari kemarin yang mana Devan tidak pulang bahkan tidak mengabari sama sekali.
"Ah selesai juga," Ana menata menu makan siang mereka di atas meja.
Devan selalu makan siang di rumah sejak aku menikah dengannya.
Cuma beberapa hari belakangan ini dia jarang pulang makan bahkan kadang lupa mengabari istrinya.
Jika di tanya dia menjawab lagi banyak kerjaan.
Bukan itu alasan cuma Ana merasa ada yang aneh, dulu sesibuk apa pun Devan selalu menyempatkan pulang untuk makan walau terkesan di buru-buru waktu.
"Semoga kamu nggak mengecewakan aku dad" Ana duduk di kursi melihat hasil masakan yang sudah matang dan asap masih keluar dari masakan yang aku buat.
Ana bahkan sudah membuat jus kesukaan suaminya yaitu jus mangga.
Semua semua sudah siap dan sang suami tercinta juga belum pulang.
Apakah dia tak pulang makan siang lagi?.
"Sabar ya sayang mungkin Daddy masih di jalan," Ana mengusap perut yang sudah mulai membuncit itu dengan pelan.
Ana selalu mengajak anak yang ada dalam kandungan itu untuk bicara.
Cuma dia teman bumil di rumah walau tidak belum ada respon sama sekali namun sudah cukup membuat bahagia dia sudah hadir di antara mereka untuk melengkapi kebahagiaan yang sudah ada.
"Kamu di mana dad?" Sedih Ana sebab sudah adzan tapi suaminya tidak pulang juga dan Ana memilih menutup makanan itu lalu masuk kamar untuk melaksanakan shalat Dzuhur seorang diri.
Biasanya jika tidak sibuk mereka akan shalat bersama lalu baru Devan buru-buru pergi lagi.
Tapi akhir-akhir ini Ana sudah mulai kehilangan momen seperti itu dan jika pun ada cuma waktu subuh saja.
Kadang Ana ingin menduga-duga tapi entah mengapa hati kecilnya menolak akan hal itu.
Mereka sudah lama kenal satu sama lain bahkan selama mereka menjalin hubungan tidak ada satu hal pun sifatnya yang membuat Ana tersinggung atau sakit hati.
"Kita makan dulu aja ya sayang, kasian kamu kalau harus nunggu daddy pulang," Akhirnya tanpa menunggu suaminya pulang Ana memutuskan makan sendiri lagi dengan perasaan sedih.
Suapan demi suapan makanan yang masuk ke dalam terasa hambar itu.
Seharusnya di masa kehamilan seorang bumil mendapat perhatian lebih agar mood tetap terjaga namun yang du alami sekarang berbeda bahkan ia sering merasa sedih.
Sejak mengetahui hamil cuma awal tahu Ana mengandung saja Devan perhatian lalu setelah itu secara perlahan sifatnya mulai berubah dan menjaga jarak.
Ingin rasanya berfikir dia memiliki perempuan atau selingan di luar sana.
Namun hati kecil nya menolak untuk hal itu.
Ia tau suami nya bukan lelaki mata keranjang yang akan mudah tergoda dengan barang bening.
Di tambah agamanya sangat bagus selama ini dan menuntun Ana hingga lebih baik dari yang dulu.
Malam menjelang sudah masuk waktu isya.
Tapi Devan belum pulang juga bahkan tak ada satu pesan pun yang di kirimkan untuk mengabarkan jika dia akan pulang cepat atau telat..
"Daddy kemana ya nak?" Bumil ini sudah duduk di sofa menunggu calon Daddy itu pulang.
Ia duduk di atas sofa masih menggunakan mukena dan membaca Al-Qur'an sambil menunggu kepulangan suami tercinta.
Segala pemikiran yang jelek menghantui fikiran itu dia tepis dengan kuat.
Ia tidak ingin berburuk sangka sama suami sendiri.
Sekali lagi Ana tau siapa suami ku sendiri.
Pagi hari.
"Dad kamu kenapa kok sering pulang malam bahkan makan siang pun nggak pernah pulang lagi? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Ana saat mereka sudah duduk di kursi untuk makan sarapan.
Ia harus tau alasan suaminya sering pulang telat bahkan sering saat dia sudah ketiduran dan tidak tau jam berapa dia pulang.
Ana menunggu jawaban Devan dan sangat berharap jawabannya bisa membuat perasaan dia tenang.
Sebagai seorang istri pasti mengkuatirkan suaminya yang telat pulang.
Sama halnya dengan yang Ana alami.
"Bisa tidak saat makan itu diam saja?" Ana terdiam di tempat saat bukan itu jawaban yang dia inginkan.
Bukannya selama ini Devan sama sekali tidak masalah pembicara saat makan.
Bahkan sering suami nya yang lebih dulu mengajak ngobrol saat makan.
Tapi kenapa sekarang beda lagi aturannya.
Dulu suami tampan nya yang mengusul agar saat makan jangan terlalu sunyi kayak kuburan.
Ana jadi tidak mengerti sama jalan fikir suaminya.
"Maaf dad," Ana tidak mau memperpanjang hal sepele menjadi sebuah pertengkaran dalam rumah tangga kami.
Bukannya lebih baik meniadakan masalah kecil dan mengecilkan masalah besar.
Tapi jangan di balik ya.
Tidak baik yang ada akan terjadi perang dunia.
Selesai sarapan Ana si bumil mengantarkan Devan ke depan seperti biasa.
"Dad nanti siang pulang kan?" Ana ingin makan siang bersama seperti biasa.
Dia sudah kangen masa itu.
Sudah lama juga tidak terjadi.
Sejak hamil ua sering makan sendiri baik makan siang atau makan malam.
Cuma sarapan mereka bertatap muka dan jika malam Devan selalu pulang saat istrinya sudah tidur.
Karena Devan membawa kunci serap dengan alasan dia tidak ingin mengganggu waktu tidur istrinya.
"Memangnya kenapa? Buat apa makan di rumah? Makan di mana pun kan sama, sama-sama makan dan perut kenyang," Jawaban apa itu? Bumil ini tidak menyangka akan mendapatkan jawaban yang membuat hati teriris.
Dulu bukan itu jawaban suaminya.
Dulu Devan akan menjawab dengan bijak ' masakan istri itu paling istimewa dari yang lain walau tampilan kalah sama restoran berbintang namun di dalamnya ada cinta dan kasih sayang saat memasak makanan itu, beda dengan masakan restoran yang hanya mementingkan rasa dan dapat uang'.
Saat itu dia meleleh mendengar jawaban suaminya beda dengan sekarang yang menusuk ke relung hati.
"Ya udah daddy hati-hati saat berangkat," dia mengulurkan tangan untuk menyalami nya namun sama seperti hari kemarin dia abai dan langsung berjalan menuju mobil dan meninggalkan perkarangan rumah tanpa membunyikan klakson mobil seperti biasa.
Mata bumil cantik memanas saat mobil itu sudah menghilang dari pandangan mata.
Dia mengusap ujung mata yang siap menumpahkan air yang sudah menggenang.
Kenapa dia jadi cengeng gini sih? Atau ini pengaruh hormon kehamilan yang membuat nya jadi mudah kebawa perasaan.
Iya mungkin karena ia hamil saja jadi bumil itu mudah baperan akan hal kecil.
Anda Mungkin Juga Suka





