Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Funiest Husband

My Funiest Husband

Galih adalah penulis muda penuh humor yang terpaksa menjalani takdir unik saat dirinya 'dikutuk' untuk menikahi seorang dokter. Garis hidup membawanya bertemu dengan Galuh, dokter cantik yang berusia enam tahun lebih senior darinya. Di tengah luka hati Galuh yang baru saja kandas dalam asmara, Galih hadir dengan segala kekocakannya. Akankah perbedaan usia dan latar belakang mereka berujung pada kebahagiaan? Ikuti perjalanan cinta yang penuh tawa ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Jangan pernah menanyakan padaku tentang seberapa besar cintaku padamu. Tapi, cukup Allah yang tahu seberapa sering namamu kusebut dalam doaku.

***

Aku segera menjauhkan wajah dari Galuh setelah mendengar suara dari balik pintu kamar.

"Galih...!"

Haduh, mami mengganggu saja.

Aku nyaris terlonjak kaget padahal posisi tanganku sudah menyentuh resleting bajunya.

"Iya Mi, sebentar," Refleks aku melompat menjauh dari istriku. Elah, kek pasangan nganu yang ketangkap razia aja.

"Lih, kamu sama Galuh mau dimasakin apa? apa mau masak sendiri?" suara mami dari balik pintu.

Ternyata walaupun tidak kukunci, mami tidak masuk ke dalam kamar. Mungkin sudah paham kalau anaknya ini sedang ingin mempraktekan pelajaran reprod*ksi.

Aku menoleh pada Galuh. "Kamu ingin makan apa Luph?"

"Aku nggak biasa sarapan pagi. Biasanya cuma minum jus buah saja. Kamu ingin kumasakin apa, Ngab?"

"Nasi goreng deh. Beneran nggak apa-apa kamu yang masakin?"

Galuh mengangguk dan meraba b*birnya. Pipinya merona.

"Enak ya. Entar lagi diulang yuk. Sekarang kita keluar kamar dulu deh," kataku tersenyum.

"Ya sudah, kalau gitu kita keluar kamar bareng ya. Aku ke dapur dan kamu mandi." Tukasnya.

"Eh, sebentar, kamu pakai baju apa? biar aku siapin," tawarnya.

"Hm, nggak usah repot-repot. Aku bisa pilih baju sendiri. Nanti aja kalau kamu sudah siap kamu yang lepasin bajuku," aku nyengir.

Galuh tersenyum malu. Kami lalu bergandengan tangan menuju pintu. Uhuy. Ada yang gandengan tapi bukan truk nih!

"Biar Galuh yang masakin Mi," tawar Galuh setelah membuka pintu kamar.

"Oh, gitu. Ya sudah. Ayo masak sama-sama," sahut mami

Galuh menurut dan mengikuti langkah mami menuju dapur.

Sedangkan aku dengan bersiul-siul happy karena telah berhasil melepas segel di b*bir menuju kamar mandi.

Sesampai disana, aku segera membuka kaus dan mengaca.

"Hm, sebenere emang gue ganteng, rajin menabung, sholih, sayang sama orangtua dan membuang sampah pada tempatnya. Jadi wajarlah kalau dapat rejeki bini cakep," Aku mengelus-elus pipi sendiri.

Lalu melihat otot perut. "Huft, sayang banget aku kerempeng. Kapan perut gue jadi kotak-kotak kek cita-cita gue selama ini," gumamku sambil memilin-milin kulit di perut.

"Lih, kamu di dalam bertapa apa gimana? nggak kedengaran suara air sama sekali. Papi kebelet nih," Terdengar suara papi menggedor pintu kamar mandi.

"Lah, kan bisa pake kamar mandi dalam di kamar papi. Galih juga lagi semedi biar tambah ganteng!" Aku tak mau kalah.

"Kamar mandi dalam di pakai mami, ayo Lih, buruan dah. Entar mbrojol di luar nih. Emang kamu mau ngepel bekasnya?" Ancam papi dari balik pintu.

"Waduh Pi, tunggu bentar!" Aku bergegas mandi secepat mungkin. Duh, hilang sudah kesempatan untuk mengagumi diri sendiri sebagai salah satu makhluk Tuhan paling keren di depan kaca.

Aku keluar dari kamar mandi tanpa kaus dan hanya mengenakan celana kolor selutut.

Kudapati papi tersenyum-senyum saat membuka pintu.

"Cie yang semalam nggak ngapa-ngapain?" ledeknya.

"Elah, papi malah membahas penderitaan anaknya," batinku.

"Daripada papi, sudah berumur tapi keramas mulu kalau subuh," balasku membuat papi mendelik.

Aku mengedikkan bahu seraya tertawa lebar dan berlalu dari kamar mandi langsung menuju kamar untuk ganti baju.

Setelah kaus warna biru navi dan celana jeans terpasang, aku menyisir rambut dan menyemprot parfum.

"Biar Galuh semakin tersepona," gumamku lalu menyambar tas ransel dan menuju ruang makan.

Terlihat Galuh yang baru saja selesai menata piring di meja. Matanya membulat saat menatapku.

"Dih, kenapa liatin aku mulu. Suami kamu ini emang kerennya level akut," tukasku bangga.

Galuh tertawa, "resletingmu Ngab, masih kebuka,"

"Ya ampun!" aku menunduk dan segera membetulkan resleting. Untung saja ketahuan di rumah, kalau ketahuan di kampus, pasti dikerubutin cewek-cewek.

"Makasih Luph udah ngasih tahu," aku memandangnya mesra lalu duduk disebelahnya.

"Iya sama-sama,"

"Dih pengantin baru, dunia serasa milik berdua ya. Yang lain ngontrak," seru mami saat keluar dari kamarnya lalu duduk di hadapan kami.

Papipun juga keluar dari kamar mandi dan langsung bergabung ke ruang makan.

"Hm, mami kek nggak pernah ngalamin," aku mencebik.

"Iya deh, kamu ngampus hari ini?" tanya mami sambil duduk di hadapanku dan Galuh. Lalu mengambil nasi goreng buatan Galuh.

Aku pun tak mau kalah ikut mengambil sarapan.

"Iya Mi, ada tugas presentasi,"

"La Galuh gimana?"

"Galih bawa juga ke kampus dong. Mau pamer ke temen-temen asyiknya nikah muda," tukasku.

"Hm, terus kalau kamu pas ada kelas, Galuh nunggu dimana dong,"

"Di kafe kampus bisa kok. Ada wifinya, viewnya bagus lagi,"

"Duh, manten baru pamer terosss," tukas mami.

"Iyalah, biar temen-temenku pada mupeng semua. Terus minta dikutuk nikah muda sama emaknya masing-masing," aku tertawa.

"Kalau makan jangan ketawa, entar keselek lo," Sela mami.

"Hm, ini udah keselek. Keselek cinta," tukasku melirik Galuh.

"Uhuuukkk, uhuuukk,"

Elah, aku yang ngomong sambil makan, istriku yang tersedak. Emang kita saling melengkapi. Eh.

"Minum dulu Luph," aku menyodorkan segelas air putih pada Galuh karena uhuk-uhuknya yang tak kunjung usai.

"Makasih Ngab," kata Galuh usai meminum air pemberianku.

Papi dan mami berpandangan. "Sebentar, kamu manggil apa tadi ke Galuh?"

"Luph," jawabku singkat.

"Hah? apaan tuh maksudnya?" papi jadi nimbrung.

"Kepanjangan dari I luph you," sahutku nyengir.

"Terus tadi Galuh manggil kamu apa?"

"Ngab, Mi," kata Galuh tersipu.

"Astaga Lih, kamu tuh ya. Jangan ngajari mantu mami macam-macam ah. Entar ikutan aneh kek kamu," mami tidak terima.

"Biar beda Mi dan bikin mesra," Aku mengedipkan mata pada mami.

"Dasar bocil! dulu mami ngidam apa sih waktu hamil kamu,"

"Yee, tapi aku keluar sehat dan ganteng kan. Ngomong-ngomong, nasi goreng buatanmu enak banget luph, coba dikit. Aaaaa..,"

Aku mengulurkan sesendok nasi ke arah Galuh.

Galuh dengan malu membuka mulutnya dan memakan nasi yang kusendokkan.

"Cie, suap-suapan. Jadi nganan!" seru mami melirik papi.

"Ayo sini Mi, papi suapin juga. Kita jangan mau kalah," seru papi bersemangat menyuapi mami.

Jadilah pagi itu seperti adegan lomba saling menyuapi istri masing-masing.

"Hm, heak ha hahi horeng huatan Haluh," (Hm, enak ya, nasi goreng buatan Galuh) kata mami sambil mengunyah makanannya.

"Lo..lo..mami aja ngunyah sama ngomong," sindirku.

Mami tersenyum malu.

"Ehem," papi berdehem. Kami menoleh pada papi.

Pria satu itu selalu berusaha menyelamatkan mami jika dalam posisi terpojok.

"Nama kamu Galih, istri kamu Galuh, apa jangan-jangan entar kalau punya anak namanya Galah?" Tanya papa.

Aku dan Galuh berpandangan. "Wah, ide bagus tuh Pi. Biar deh entar cucu papi namanya Galah," tukasku santai setelah meminum air putih karena nasi gorengku telah habis.

"Wah, jangan Lih!" papi menukas keberatan.

"Masak cucu dari kakek yang mirip sama Roy martin ini namanya Galah,"

"Makanya papi jangan ngasih ide yang aneh-aneh," tukasku lalu berdiri dan mencium punggung tangan mami dan papi diikuti Galuh.

"Galih berangkat dulu, Assalamualaikum," pamitku.

"Waalaikumsalam,"

Aku bergegas ke garasi dan mengeluarkan motor sport warna merah kesayangan lalu menaikinya lebih dulu.

"Kuy naik," kataku memindah tas ransel ke depan dada.

Galuh ragu. "Tapi entar aku duduknya nyungsep ke kamu, gimana," tanyanya bingung memandangi sadel motor.

"Emang itu yang bikin enak," aku tertawa nyengir.

Galuh tersipu lalu ikut naik di boncengan belakang.

"Pegangan ya luph,"

Aku melajukan motor dengan kencang lalu mengerem mendadak. Dan puuukkk, sesuatu yang empuk menabrak punggungku.

"Kamu sengaja ya," semprot Galuh menggelitiki pinggangku.

Aku tertawa. Emang!

"Dasar Ngab m*suuuuuum!" Galuh memprotes tapi tidak kupedulikan.

Tetap kulajukan motor dengan kencang dan mengeremnya mendadak berulangkali.

"Asiiikkk, pengantin baru lewaaat, tarikkk siiiiiist,"

next?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JFX" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JFX
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU
8.6
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Mas Yusuf, kecurigaan mulai menghantui benakku. Suamiku itu menyimpan rahasia besar di balik sebuah pintu kamar yang selalu terkunci rapat. Keganjilan semakin terasa saat aku memergokinya mengendap-endap setiap malam, membawa baki makanan serta minuman ke dalam ruangan misterius tersebut. Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan Yusuf dariku? Misteri di balik bilik terlarang itu kini mengancam ketenanganku.
Sampul Novel FATED (Tuan Mafia dan Nona Badut)
9.5
Raline merasa hidupnya penuh kesialan setelah dua kali gagal menikah. Mantan kekasihnya, Aksa dan Heru, justru menikahi wanita lain meski sudah lama menjalin hubungan dengannya. Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya dengan Axel Delacroix Adams. Kakak dari rivalnya yang merupakan seorang mafia itu melamar Raline hanya dalam empat menit. Akankah ini menjadi akhir penderitaannya atau awal masalah baru? Sebuah kisah tentang rahasia jodoh yang datang tepat waktu.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Menjadi sekuel dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, kisah ini mengeksplorasi dilema horor yang tak biasa. Mana yang lebih menakutkan: teror makhluk halus atau desakan menikah setiap hari? Bagi sang protagonis yang baru saja menyandang status sarjana, tekanan sang ibu yang sangat ambisius mencari menantu jauh lebih mencekam daripada gangguan gaib. Ikuti perjuangannya menghadapi tuntutan keluarga di tengah situasi yang penuh komedi dan nuansa misteri.
Sampul Novel Kelahiran yang Menghancurkan
8.2
Menjelang persalinan, Alana justru disekap di ruang medis bawah tanah oleh suaminya sendiri, Alexander Santoso. Sang wakil kepala mafia tega menyuntikkan penahan kontraksi agar Alana tidak melahirkan sebelum Elisa, janda kakaknya. Terikat sumpah darah masa lalu, Alexander bertekad mengamankan warisan wilayah Teluk Barat Jaya untuk anak Elisa. Meski Alana memohon demi keselamatan bayinya dan menyatakan cintanya, Alexander yang buta konspirasi menuduhnya serakah. Penantian kejam semalam suntuk itu berakhir dengan kepedihan mutlak saat Alexander menyadari bahwa keputusannya telah merenggut nyawa istri dan anaknya sendiri.
Sampul Novel MENGGODA MANTAN ISTRI
9.1
Alan adalah sosok suami idaman, namun sikapnya yang terlalu ramah kepada semua orang menghancurkan hati Valeria hingga ia memilih bercerai dan pindah ke London. Saat kembali ke Indonesia demi menyelamatkan bisnis ayahnya yang terancam bangkrut, Valeria justru terjebak situasi pelik. Alan muncul menawarkan bantuan finansial, tetapi dengan syarat yang merendahkan: Valeria harus menjadi kekasih gelapnya. Akankah Valeria menerima tawaran sang mantan?
Sampul Novel Pasutri Jadi-Jadian
8.0
Jaka dan Nuning adalah sahabat masa kecil yang sangat berbeda. Jaka tak pernah sudi menikahi Nuning yang dianggapnya aneh. Namun, Nuning mendadak minta dinikahi agar bisa merantau ke Jakarta bersamanya. Meski Jaka mati-matian menghindar hingga Nuning hampir menyerah, Jaka tiba-tiba muncul dan setuju untuk menikah. Nuning yang ambisius tak peduli apa alasan di balik perubahan sikap Jaka, baginya yang terpenting adalah menikah sekarang dan urusan cinta belakangan.