Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Destiny (Pewaris untuk Sang Kaisar)

My Destiny (Pewaris untuk Sang Kaisar)

Demi kedamaian bangsanya, Putri Xiara dari Kerajaan Guangshu terpaksa menikahi Kaisar Li Qiang yang dikenal kejam. Di Istana Jin yang penuh intrik, ia harus bertahan hidup sendirian menghadapi kebencian para selir. Tak hanya berjuang melindungi diri, Xiara memikul beban berat untuk melahirkan pangeran penerus kekaisaran. Akankah ia berhasil melewati segala rintangan istana dan meluluhkan hati dingin sang penguasa demi memenuhi takdir yang telah ia terima?
Bab
Bagikan

Bab 3

Xiara melangkahkan kaki dengan penuh keanggunan menuju kediaman barunya. Gaun merah pernikahan bersulam benang emas yang dikenakannya melambai karena tiupan angin. Rambutnya yang disanggul sedemikian rupa dihias dengan jepit rambut emas yang ditaburi batu mulia. Wajahnya ditutupi riasan yang tidak berlebihan-bahkan bisa dibilang sangat pas. Membuatnya terlihat bak dewi yang turun dari langit.

Menghentikan langkahnya, Xiara mengamati papan yang ada di atas pintu sebuah paviliun yang akan menjadi tempat tinggalnya, tempat di mana ia akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai selir kaisar Jin.

"Salam kepada Wen Mingxing. Semoga Mingxing selalu diberkati dengan kebahagiaan yang tidak terbatas." Seorang dayang istana yang usianya tak lagi muda memberi hormat bersama dengan dayang-dayang lain yang semula menunggu di depan paviliun.

Ada perasaan yang tidak dapat dijelaskan saat Xiara mendengar gelar yang mereka sebutkan untuknya. Di Kekaisaran Jin ini, Kaisar mewakili matahari dan permaisuri mewakili bulan. Oleh karena itu, Selir Kaisar Jin dipanggil dengan gelar Mingxing yang mewakili bintang. Sesuai dengan nama keluarganya, semua orang di istana akan menyapa Xiara sebagai Wen Mingxing mulai sekarang.

Tidak ada lagi Putri Xiara dari Kerajaan Guangshu.

"Berdirilah!" perintah Xiara.

Mengikuti perintah Xiara, para dayang yang berjumlah delapan orang itu segera berdiri, namun kepala mereka masih menunduk untuk menunjukkan rasa hormat.

"Hamba, Kepala Pelayan Paviliun An, Yuan Jiaying akan selalu mengabdi dengan setulus hati pada Mingxing. Harap Mingxing mau menerima wanita tua ini." Dayang Yuan maju selangkah dan memberi hormat kepada Xiara sembari memperkenalkan diri. Xiara kembali mengukir sebuah senyuman di wajah cantiknya.

"Aku akan sangat senang memiliki dirimu di sisiku, Lao Yuan. Istana ini sangat luas, aku harap kau tidak keberatan mengenalkannya pada orang baru yang tak berpengalaman ini." Xiara menjawab dengan lembut.

Sikap yang murah hati dan sama sekali tak terlihat angkuh sebagaimana wanita bangsawan pada umumnya membuat Dayang Yuan memiliki kesan yang sangat baik pada junjungan barunya.

Selain itu, Xiara dengan terampil memanggil Dayang Yuan dengan sebutan Lao, yang merupakan sapaan untuk pelayan senior di istana. Ini membuat para pelayan yang awalnya berpikir Xiara tidak tahu banyak tentang kebiasaan dan aturan Istana Kekaisaran Jin menjadi kagum.

Sebelum kedatangan Xiara—sang selir baru, telah banyak rumor yang tersebar di istana. Rumor-rumor itu terutama terkait dengan keengganan Putri Guangshu untuk menikahi Kaisar dari Kekaisaran Jin. Kebanyakan rumor juga menyebutkan bahwa Xiara adalah putri dari kerajaan wilayah timur yang angkuh.

Dayang Yuan, yang sebelumnya juga memiliki beberapa prasangka akhirnya menghela napas lega. Diam-diam dia berpikir untuk tidak lagi percaya pada rumor buruk yang menyinggung Junjungan barunya itu. Karena jelas-jelas yang tengah berdiri di hadapannya sekarang adalah seorang gadis anggun yang lembut dan santun. Bahkan sikap Xiara sangat baik pada para pelayan seperti mereka. Itu membuktikan bahwa rumor yang beredar tidaklah benar.

"Hamba akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Mingxing." Dayang Yuan menjawab dengan mantap. Ia menunduk semakin dalam, menunjukkan rasa hormatnya yang kian bertambah.

Xiara lagi-lagi tersenyum. Melihat ekspresi para pelayan barunya tadi, ia tahu sebelumnya mereka pasti mengira dirinya adalah Putri dari Timur yang memiliki seluruh sifat buruk yang ada di bumi.

Sejujurnya Xiara sendiri tidak begitu memahami mengapa orang-orang selatan memiliki pandangan yang buruk terhadap orang timur dan begitu pula sebaliknya orang timur yang selalu menganggap orang-orang selatan buruk. Padahal setiap orang memiliki sifat baik dan buruk dalam diri mereka.

"Apa air mandiku sudah siap?"

"Sudah, Mingxing. Air mandi dengan aroma bunga anggrek kegemaran Kaisar sudah disiapkan untuk Anda menyegarkan diri."

***

Sebagai seorang selir, Xiara tidak perlu melakukan ritual pernikahan secara penuh. Ia hanya perlu melakukan ritual pengambilan sumpah seorang istri dan ritual pengangkatan selir kerajaan yang keduanya dilakukan secara sederhana di aula Istana Timur-bagian istana di mana para wanita kaisar tinggal.

Selain ritual yang tidak lengkap, ada banyak perbedaan antara pernikahan seorang selir dan pernikahan resmi kerajaan-pernikahan kaisar dan calon permaisuri. Misalnya, selir memakai gaun pengantin merah muda alih-alih merah cerah. Selain itu, hiasan kepala yang dikenakan juga lebih sederhana tanpa kain merah penutup kepala.

Akan tetapi, perbedaan yang paling mencolok ada pada peran sang kaisar. Pada upacara pernikahan seorang selir, kaisar tidak akan ambil bagian dan hanya akan mengamati jalannya upacara dari atas singgasana bersama keluarga inti kekaisaran. Sedangkan, dalam upacara pernikahan resmi kerajaan, kaisar akan mengambil peran penuh sebagai mempelai pria.

Menarik diri dari lamunannya, Xiara memandang ke luar jendela. Langit telah berubah warna menjadi kehitaman dengan hiasan cahaya putih dari bintang-bintang. Sekarang ia tahu ucapan Zhilin tentang negeri barat memang benar. Langit malam di sini tidak seindah langit selatan. Ia bahkan sudah merindukan rumah sekarang. Xiara bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan orang tuanya.

Apa kakaknya masih marah?

Lalu Zhilin, apa pelayan kecilnya itu masih menangisi kepergiannya?

"Mingxing, udara di sini terlalu dingin. Akan lebih baik jika Anda menunggu di dalam ruang tidur." Dayang Yuan berkata dengan sopan. Xiara menjauhkan dirinya dari jendela dan berbalik menatap Dayang Yuan yang tengah berlutut di atas permadani merah yang menutupi lantai ruang utama kediamannya.

"Lao Yuan, apa menurutmu Yang Mulia akan datang?" Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa bisa dicegah oleh Xiara. Meski ia tak begitu mengetahui tradisi masyarakat Jin, Xiara tahu seorang selir tidaklah memiliki hak untuk ritual malam pertama.

Menurut peraturan istana, kaisar bebas memiliki selir sebanyak mungkin dan tidak ada keharusan bagi sang kaisar untuk mengunjungi selir-selirnya, bahkan di malam pertama mereka sekalipun . Oleh karena itu, tak jarang seorang selir hanya menjadi bunga-bunga istana yang tak tersentuh sampai akhir hidup mereka.

Dayang Yuan menunduk dalam-dalam, tak berani memberi jawaban kepada Xiara. Ia tahu junjungannya itu berbeda. Xiara tidak seperti selir-selir lain yang dikuasai ambisi untuk menguasai istana dengan mendapatkan hati sang kaisar. Ia memiliki kelembutan dan kasih sayang dalam dirinya. Sesuatu yang akan membuat istana ini menjadi tempat yang teramat kejam baginya.

"Mingxing, seorang dayang dari Istana Yang meminta izin untuk menghadap."

Suara lantang dari luar kediaman Xiara mengakhiri keheningan yang terasa begitu menyiksa. Dayang Yuan segera bangkit dan berjalan ke dekat Xiara ketika junjungannya itu memberi perintah pada dayang istana itu untuk masuk.

"Ada apa?" tanya Xiara tanpa basa-basi setelah dayang istana selesai memberi hormat. Melihat raut cemas dan takut dari dayang barunya itu, Xiara tahu sesuatu yang tidak baik telah atau mungkin akan terjadi.

Dayang istana itu membenturkan kepalanya ke lantai dan menjawab dengan suara bergetar menahan tangis. "Awan hitam telah menyelimuti istana, Mingxing. Tu... tuan Putri Mei Xiu baru saja naik ke surga."

Xiara bisa merasakan sesuatu mengambil alih dunianya saat itu juga. Pekikan terkejut dari Dayang Yuan serta tangis dayang istana yang akhirnya pecah hanya mampu didengarnya samar-samar. Pandangannya menerawang ke tempat yang tak bisa dijangkaunya.

Xiara tahu betapa penting arti sang putri bagi Kaisar. Putri Mei Xiu bagaikan angin sejuk di musim panas yang membangkitkan keyakinan Kaisar Li Qiang untuk mendapatkan seorang penerus. Kepergian sang putri pasti menjadi pukulan tersendiri bagi Kaisar. Hantaman yang memberinya lebih dari sekedar rasa sakit.

"Buat persiapan! Aku akan ke paviliun Putri Mei Xiu."

Dayang istana itu kembali membenturkan kepala ke lantai. Dengan sisa suaranya yang mulai serak ia menjawab. "Mohon maafkan pelayan ini, tetapi Kaisar memerintahkan agar semua selir tetap berada di kediamannya."

***

Ritual pemakaman dilakukan esok harinya. Diiringi dengan tangis histeris Selir Yihua juga air mata dari hampir seluruh penghuni istana, Putri Mei Xiu menjalani ritual terakhirnya.

Seluruh penghuni istana mengenakan pakaian berwarna putih sebagai tanda berduka. Terkecuali sang kaisar yang tetap mengenakan jubah kebesarannya. Memimpin ritual bersama para pemuka agama, Kaisar Li Qiang terus menunjukkan ekspresi datarnya. Tidak ada yang tahu bagaimana tepatnya perasaan Kaisar saat ini. Bahkan Ibu Suri Juan yang kini tengah memeluk Selir Yihua  sekalipun.

Berlutut di barisan para selir membuat Xiara bisa mendengar dengan jelas tangisan wanita-wanita Kaisar, istri-istri suaminya. Anehnya, ia sama sekali tak merasakan ketulusan dari air mata mereka. Semuanya palsu. Istana ini menyimpan terlalu banyak kepalsuan.

Menguatkan hatinya, Xiara beralih menatap punggung Kaisar Li Qiang yang tengah berdiri di hadapan peti mati Putri Mei Xiu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hancur suaminya itu saat ini. Bahkan untuk sekedar menangisi kepergian putrinya saja ia tidak bisa. Statusnya sebagai seorang kaisar tidak mengizinkan dia menunjukkan sisi lemah di hadapan orang lain. Xiara tahu betul itu karena ayahnya pun dulu harus mengalami hal serupa ketika adik bungsunya meninggal dua tahun silam.

Air mata kembali mengalir membasahi pipi Xiara yang seputih porselen. Ia hanya bisa menunduk dan menatap jubah Kaisar Li Qiang ketika pria itu berjalan melewatinya dengan membawa peti mati sang Putri yang akan segera dibawa ke bukit keabadian. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk sang Kaisar, menguatkannya, menjadi sandaran baginya. Akan tetapi, Xiara sadar Kaisar terlalu jauh dari jangkauannya. Terlalu jauh.

•••

Lao : panggilan resmi untuk dayang dengan posisi tinggi

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alice and The Blue Sea
8.6
Alice nyaris tewas terseret ombak sebelum diselamatkan oleh Archer, sosok pria misterius yang ternyata adalah seekor duyung jantan. Meskipun sempat tidak percaya, Alice akhirnya yakin setelah menyentuh langsung ekor Archer yang berotot. Pertemuan ajaib ini berujung pada sebuah permohonan bantuan dari Archer kepada Alice. Akankah kehidupan normal Alice berubah total setelah terlibat dalam takdir sang penghuni laut? Simak kisah fantasi romansa modern yang penuh keajaiban ini.
Sampul Novel Bisikan Abu
7.8
Di kekaisaran pemuja api, Asha menyamar sebagai gadis bisu saat dikirim ke kuil Ezen. Ia memiliki bakat terlarang membaca memori dari abu, mengungkap sejarah perang yang terkubur. Bersama Kael, pejuang penuh rahasia, Asha menelusuri asal-usulnya di tengah konspirasi besar. Hubungan mereka tumbuh saat pemberontakan pecah. Melalui ritual dan pelarian berbahaya, kekuatan Asha menjadi penentu apakah dunia akan bangkit kembali atau musnah selamanya dalam kehampaan.
Sampul Novel Ibuku Kuyang?
8.2
Sikap Ibu yang mendadak menolak makan bersama memicu kecurigaan besar dalam benakku. Situasi kian mencekam saat kabar hilangnya bayi secara gaib mulai menghantui desa. Setiap tengah malam tiba, Ibu selalu lenyap secara misterius tanpa jejak, seolah-olah ia bersembunyi dari pandangan dunia. Rahasia kelam apa yang sebenarnya ia sembunyikan dalam kegelapan? Aku mulai meragukan jati dirinya yang asli. Apakah sosok yang melahirkanku itu manusia ataukah siluman?
Sampul Novel Luna Tak Terikat
8.0
Lima tahun memimpin suku, Kaitlin masih menjaga kesuciannya. Saat kakaknya, Rosalyn, kembali tanpa anak, Phillip Elliott tiba-tiba meminta pewaris. Namun, Kaitlin hancur saat mendengar rencana rahasia Phillip: dia hanya dianggap sebagai rahim pengganti demi posisi Rosalyn. Merasa dikhianati, Kaitlin memutuskan hubungan dan kembali ke orang tua angkatnya. Anehnya, Phillip yang dingin justru berbalik memohon padanya untuk kembali dengan penuh keputusasaan.
Sampul Novel Pembalasan Sang Istri Tertindas
9.3
Amara bangkit dari kematian tragis untuk menuntut balas atas pengkhianatan Rafael dan kekejaman selingkuhannya, Isabella. Kembali ke masa lalu, ia bertekad menghancurkan mereka yang merampas harta serta nyawa anaknya. Di tengah misi balas dendam untuk membuat Rafael berlutut memohon ampun, Amara justru menemukan sosok pria masa lalu yang menawarkan perlindungan tulus. Kini ia harus memilih antara menuntaskan kebenciannya atau membuka hati bagi cinta yang baru.
Sampul Novel Pendekar Dataran Tengah
8.5
Jiu Cien nekat menikahi bibi gurunya meski ditentang keras oleh dunia. Namun, kebahagiaan mereka hancur saat sang istri yang tengah hamil dibantai oleh orang-orang iri. Terpukul oleh tragedi itu, Jiu Cien harus bangkit untuk membalas dendam pada para penghancur hidupnya. Ikuti perjuangan hebat Jiu Cien dalam menapaki jalan kependekaran hingga ia berhasil mencapai puncak tertinggi dan diakui sebagai sosok nomor satu dengan julukan Pendekar Dataran Tengah.