Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Destiny (Pewaris untuk Sang Kaisar)

My Destiny (Pewaris untuk Sang Kaisar)

Demi kedamaian bangsanya, Putri Xiara dari Kerajaan Guangshu terpaksa menikahi Kaisar Li Qiang yang dikenal kejam. Di Istana Jin yang penuh intrik, ia harus bertahan hidup sendirian menghadapi kebencian para selir. Tak hanya berjuang melindungi diri, Xiara memikul beban berat untuk melahirkan pangeran penerus kekaisaran. Akankah ia berhasil melewati segala rintangan istana dan meluluhkan hati dingin sang penguasa demi memenuhi takdir yang telah ia terima?
Bab
Bagikan

Bab 1

Suara langkah kaki yang terdengar semakin jelas membuat semua orang yang tengah berlutut di dalam ruangan menunduk dalam-dalam. Jubah putih bersulam emas menyapu lantai kayu yang ditutupi permadani hijau ketika sang empunya berjalan memasuki ruangan.

"Bagaimana?" Suara berat penuh wibawa pria itu memecah keheningan, membuat beberapa wanita berpakaian khas tabib istana yang berlutut di dekat tirai penyekat menunduk semakin dalam.

"Seorang putri, Yang Mulia." Wanita paruh baya yang berlutut di bagian terdepan menjawab dengan tubuh bergetar, takut jika jawaban yang ia berikan akan membuat marah sang penguasa Kekaisaran Jin.

Kaisar Li Qiang menarik napas panjang. Ia sangat bahagia ketika mengetahui salah seorang selirnya akhirnya mengandung. Namun, pada akhirnya ia harus kembali menelan kekecewaan karena jenis kelamin bayi yang dilahirkan selirnya. Kaisar Li Qiang bukannya tak bahagia dengan anugerah yang telah diberikan Sang Kuasa, hanya saja ia dan kekaisaran ini membutuhkan seorang pangeran. Putra mahkota yang kelak akan meneruskan kejayaan leluhurnya.

Sudah delapan tahun sejak Kaisar Li Qiang diangkat menjadi penguasa Kekaisaran Jin, namun sampai hari ini ia belum juga memiliki seorang pewaris. Hal itu tentu saja membuat rakyat dan para petinggi Kekaisaran Jin cemas. Ditambah lagi Kaisar Li Qiang adalah putra tunggal dari mendiang kaisar terdahulu, yang artinya jika garis keluarga terputus pada Kaisar Li Qiang, maka Kekaisaran Jin akan menemui keruntuhannya.

Awalnya Kaisar Li Qiang berencana untuk memberikan gelar permaisuri pada Selir Yihua jika selirnya itu melahirkan seorang pangeran. Bukan tanpa alasan, Kaisar Li Qiang sudah mencoba mendapatkan keturunan dari keenam selirnya. Namun, hanya di rahim Selir Yihua benihnya dapat berkembang. Sehingga ia berpikir sudah sepantasnya ia memberikan penghargaan pada sang selir. Akan tetapi, sepertinya rencana itu tak akan terwujud.

"Yang Mulia ...." Suara yang sangat familier membuat Kaisar Li Qiang mengalihkan atensi pada pemiliknya yang baru saja memasuki ruangan.

"Ibunda," sapa sang kaisar dengan senyum datarnya. Ibu Suri Juan hanya menghela napas. Ia tahu putranya tengah dilanda rasa kecewa saat ini setelah mengetahui jenis kelamin bayi yang baru saja dilahirkan Selir Yihua dan karena itu juga ia datang.

"Saya ingin meminta waktu untuk berbicara dengan Yang Mulia. Ini mengenai pangeran pewaris," ucap Ibu Suri Juan tanpa mau berbasa-basi.

Kaisar Li Qiang sama sekali tidak terkejut dengan sikap sang ibu. Sejak masih menjadi seorang ratu, Qie Juan Ying mamang terkenal tegas dan cekatan. Ia banyak membantu mendiang kaisar terdahulu dalam mengambil keputusan yang bersangkutan dengan pemerintahan. Alasan itu juga yang membuat kaisar Li Qiang menyerahkan kekuasaan istana dalam pada sang ibunda setelah kematian Permaisuri Jia, istrinya.

"Mari kita lihat Yihua terlebih dahulu, Ibunda. Setelah itu baru kita berbicara di Istana Yang." Kaisar Li Qiang mendahului ibundanya yang hanya mengangguk setuju setelah mendengar jawaban darinya. Ia menyibak sekat sutra putih yang menjadi batas ruang tidur Selir Yihua.

"Yang Mulia!" Selir Yihua hendak bangkit ketika menyadari kehadiran Kaisar Li Qiang, tapi sang kaisar segera mencegahnya.

"Berbaringlah, Fang-hua! Aku hanya ingin melihat putri kita," ucap Kaisar Li Qiang dengan wajah tanpa ekspresi. Nada bicaranya tetap dingin seperti biasa, sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan atas kehadiran sang putri.

Selir Yihua mencengkeram selimut sutra yang menutupi sebagian tubuhnya. Selama dia hamil, Kaisar sangat bahagia dan selalu memanggilnya dengan namanya dengan lembut. Mendengar Kaisar menyebut gelarnya sebagai Fang-hua saat ini, jelas bahwa dia telah gagal memenuhi harapan Kaisar.

Bukan lagi rahasia bahwa Kaisar Li Qiang mengharapkan kelahiran seorang putra, bukannya seorang putri yang tidak dapat mewarisi takhta.

"Maafkan hamba, Yang Mulia." Selir Yihua meneteskan air mata palsunya, mencoba mendapatkan simpati dari sang kaisar.

Kaisar Li Qiang hanya tersenyum tipis. Ia mengambil alih putri kecilnya dari gendongan seorang dayang yang merupakan dayang pribadi Selir Yihua.

"Jangan meminta maaf. Melahirkan putri yang cantik dan manis bukanlah sebuah kesalahan dan aku tidak akan senang jika orang lain menganggap kelahiran putriku sebagai sebuah kesalahan." Kaisar Li Qiang berucap dengan ekspresi datarnya. Meski begitu, Selir Yihua tahu betul sang kaisar tengah memberinya peringatan saat ini.

"Yang mulia benar, Fang-hua. Anakmu adalah anugerah yang diberikan untuk Kekaisaran Jin. Jangan menganggapnya tidak berharga hanya karena ia seorang perempuan." Ibu Suri yang baru memasuki ruang tidur Selir Yihua segera menimpali.

Selir Yihua menggigit bibir bagian bawahnya. Sejak dulu ia tak pernah menyukai ibu dari suaminya itu. Ia selalu merasa Ibu Suri Juan tidak pernah menyukainya. Setiap ada kesempatan, Ibu Suri pasti akan selalu menyudutkannya. Seperti sekarang ini.

"Kepala Kasim Lim! Sampaikan perintah ke balai penyimpanan harta istana untuk mengirim perhiasan baru dan gulung kain sutra kualitas terbaik. Bagikan juga hadiah untuk seluruh dayang dan pelayan istana!" Kaisar Li Qiang memberi perintah pada Kepala Kasim Lim yang sejak tadi setia mengikutinya. Bagaimanapun kelahiran sang putri adalah kabar yang membahagiakan dan patut untuk dirayakan.

Kepala Kasim Lim segera mengiyakan titah sang kaisar dan meminta ijin untuk melaksanakannya.

"Nama apa yang akan Anda berikan pada Putri, Yang Mulia?" Ibu Suri Juan bertanya dengan senyum terkembang ketika melihat bayi mungil yang tengah tertidur di gendongan Kaisar Li Qiang.

Kaisar Li Qiang tersenyum sembari memandangi wajah cantik putrinya. "Mei Xiu, namanya adalah Wu Mei Xiu."

Selir Yihua akhirnya bisa tersenyum setelah mendengar nama yang diberikan sang kaisar. Nama itu memiliki makna yang indah, yang menunjukkan kasih sayang Kaisar untuk putri merekam.

Meski dia tidak melahirkan pangeran yang dia impikan. Selama Kaisar masih menyayangi putri kecil ini, Selir Yihua percaya dia akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menguasai posisi selir kesayangan Kaisar di masa depan.

***

"Aku memang berniat menjalin hubungan dengan kerajaan itu, Ibunda. Akan tetapi, tujuanku bukanlah untuk mendapatkan apa yang Ibunda maksudkan. Aku hanya ingin mengambil keuntungan dari tanah mereka yang kaya akan rempah-rempah dan hasil alam." Kaisar Li Qiang kembali menegaskan.

Akan tetapi, Ibu Suri Juan tetap bersikukuh pada pendiriannya.

"Apa pun tujuan Anda, ini adalah kesempatan emas, Yang Mulia. Kerajaan Guangshu berada di Timur dan bunga yang mereka miliki sudah tersohor akan kecantikan dan keharumannya. Apa salahnya jika kita mencoba membuktikan ucapan peramal itu." Ibu Suri Juan berkata panjang lebar. Bagaimanapun juga ia harus bisa meyakinkan putranya kali ini.

Kaisar Li Qiang terdiam sejenak. Ia kembali mengingat ucapan para menterinya yang memintanya untuk segera memperluas harem. Mungkin memang tidak ada salahnya jika ia menuruti mereka kali ini.

"Baikla, kali ini aku akan melakukannya demi Ibunda." Kaisar Li Qiang akhirnya luluh.

"Lakukanlah demi Kekaisaran Jin, Putraku. Bagaimana pun juga kekaisaran ini membutuhkan seorang penerus."

***

Seorang gadis belia berlari dengan tergesa-gesa di lorong Istana Kerajaan Guangshu. Ia mengangkat rok biru pucat yang ia kenakan guna mempermudah langkanya. Napasnya sudah mulai terengah, tapi gadis itu sama sekali tak terlihat ingin berhenti untuk sekedar mengambil napas.

"Ada apa, Zhilin? Kenapa kau begitu terburu-buru? Kepala Pelayan akan menghukummu jika ia sampai tahu kau mengangkat gaunmu dan berlari seperti itu." Seorang gadis yang tampak lebih dewasa menghentikan langkah Zhilin ketika dia sampai di sebuah taman yang ada di istana dalam. Dia tampak kebingungan melihat tingkah gadis bernama Zhilin yang tidak seperti biasanya.

Zhilin yang biasanya selalu ceria itu kini terlihat cemas dan ketakutan. Seolah-olah sesuatu yang buruk telah terjadi.

"Itu tidak penting lagi, Putri. Yang Mulia Ratu telah memerintahkan saya untuk segera membawa Anda ke Aula Faguang," jawab Zhilin dengan napas yang masih tersengal-sengal.

Gadis yang dipanggil 'putri' itu menaikkan alisnya. "Hal penting apa sampai Ibunda memanggilku ke Aula Faguang?"

Zhilin menunduk, meremas ujung lengan gaunnya dengan gugup. Suaranya hampir tidak terdengar saat ia menjawab. "Itu ... sebenarnya, Putri baru saja mendapatkan sebuah lamaran."

•••

Fang-Hua : Bunga yang harum.

Nama khusus yang diberikan Kaisar Li Qiang pada Selir Yihua. Dianggap sebagai anugerah dari Sang Kaisar.

*Kaisar hanya akan memberikan nama khusus pada selir-selir tertentu-biasanya selir yang berhasil menarik perhatian kaisar-dimana kedudukan para selir akan dinilai berdasarkan arti dari nama tersebut karena tidak adanya rangking/tingkatan bagi mereka di istana. Selir yang tidak mendapat anugerah ini secara formal akan dipanggil dengan nama keluarga mereka dan kebanyakan dari mereka sama sekali tidak memiliki pengaruh di istana.

Mingxing : bintang - Sebutan untuk selir-selir Kekaisaran Jin.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alice and The Blue Sea
8.6
Alice nyaris tewas terseret ombak sebelum diselamatkan oleh Archer, sosok pria misterius yang ternyata adalah seekor duyung jantan. Meskipun sempat tidak percaya, Alice akhirnya yakin setelah menyentuh langsung ekor Archer yang berotot. Pertemuan ajaib ini berujung pada sebuah permohonan bantuan dari Archer kepada Alice. Akankah kehidupan normal Alice berubah total setelah terlibat dalam takdir sang penghuni laut? Simak kisah fantasi romansa modern yang penuh keajaiban ini.
Sampul Novel Bisikan Abu
7.8
Di kekaisaran pemuja api, Asha menyamar sebagai gadis bisu saat dikirim ke kuil Ezen. Ia memiliki bakat terlarang membaca memori dari abu, mengungkap sejarah perang yang terkubur. Bersama Kael, pejuang penuh rahasia, Asha menelusuri asal-usulnya di tengah konspirasi besar. Hubungan mereka tumbuh saat pemberontakan pecah. Melalui ritual dan pelarian berbahaya, kekuatan Asha menjadi penentu apakah dunia akan bangkit kembali atau musnah selamanya dalam kehampaan.
Sampul Novel Ibuku Kuyang?
8.2
Sikap Ibu yang mendadak menolak makan bersama memicu kecurigaan besar dalam benakku. Situasi kian mencekam saat kabar hilangnya bayi secara gaib mulai menghantui desa. Setiap tengah malam tiba, Ibu selalu lenyap secara misterius tanpa jejak, seolah-olah ia bersembunyi dari pandangan dunia. Rahasia kelam apa yang sebenarnya ia sembunyikan dalam kegelapan? Aku mulai meragukan jati dirinya yang asli. Apakah sosok yang melahirkanku itu manusia ataukah siluman?
Sampul Novel Luna Tak Terikat
8.0
Lima tahun memimpin suku, Kaitlin masih menjaga kesuciannya. Saat kakaknya, Rosalyn, kembali tanpa anak, Phillip Elliott tiba-tiba meminta pewaris. Namun, Kaitlin hancur saat mendengar rencana rahasia Phillip: dia hanya dianggap sebagai rahim pengganti demi posisi Rosalyn. Merasa dikhianati, Kaitlin memutuskan hubungan dan kembali ke orang tua angkatnya. Anehnya, Phillip yang dingin justru berbalik memohon padanya untuk kembali dengan penuh keputusasaan.
Sampul Novel Pembalasan Sang Istri Tertindas
9.3
Amara bangkit dari kematian tragis untuk menuntut balas atas pengkhianatan Rafael dan kekejaman selingkuhannya, Isabella. Kembali ke masa lalu, ia bertekad menghancurkan mereka yang merampas harta serta nyawa anaknya. Di tengah misi balas dendam untuk membuat Rafael berlutut memohon ampun, Amara justru menemukan sosok pria masa lalu yang menawarkan perlindungan tulus. Kini ia harus memilih antara menuntaskan kebenciannya atau membuka hati bagi cinta yang baru.
Sampul Novel Pendekar Dataran Tengah
8.5
Jiu Cien nekat menikahi bibi gurunya meski ditentang keras oleh dunia. Namun, kebahagiaan mereka hancur saat sang istri yang tengah hamil dibantai oleh orang-orang iri. Terpukul oleh tragedi itu, Jiu Cien harus bangkit untuk membalas dendam pada para penghancur hidupnya. Ikuti perjuangan hebat Jiu Cien dalam menapaki jalan kependekaran hingga ia berhasil mencapai puncak tertinggi dan diakui sebagai sosok nomor satu dengan julukan Pendekar Dataran Tengah.