Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Absurd Ning

My Absurd Ning

Zora Alifia dikenal sebagai santriwati pembuat onar yang kerap memicu kekacauan di pesantren. Kelakuannya sering kali membuat Emir, sepupunya yang juga seorang Gus, merasa sangat kewalahan. Meski sering ditegur, Zora tetap membangkang hingga hubungan keduanya diwarnai ketegangan. Emir pun melontarkan ancaman pernikahan untuk menertibkan Zora. Ajaibnya, gertakan itu mulai mengubah sikap Zora menjadi lebih rajin dan taat menjalani kehidupan di pondok.
Bab
Bagikan

Bab 1

Seorang gadis berhijab putih yang di sampirkan ke pundaknya, nampak sedang makan dengan sebelah kakinya di angkat naik ke kursi.

Seorang laki-laki setengah baya datang sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya itu. Ia mendekati anak gadisnya sambil geleng-geleng kepala.

"Astaghfirullah Zora. Anak perempuan gak boleh gitu kakinya." Tegur sang Papah.

"Enak tau Pah pas makan kaki di angkat satu kaya gini. Lagian Zora kan udah terbiasa." Acuhnya.

Pria itu merasa kesal dengan perilaku putrinya yang nampak tak mau mendengarkan nasehatnya sama sekali. Mata pria itu terarah pada ujung hijab gadis itu yang kini di sampirkan ke pundak.

Ia pun menarik ujung hijab itu dan merapihkannya hingga pada posisi yang benar.

"Cara kamu berjilbab salah Zora. Kamu jangan ikut-ikutan trend anak jaman sekarang, yang harus kamu ikuti dalam berpakaian adalah ajaran Rasulullah. Rasullullah memerintahkan bagi seorang wanita untuk melebarkan jilbabnya agar menutup seluruh tubuh mereka. Bukan menjadikan jilbab kamu ini, hanya kain yang kamu kira untuk penutupi kepala saja." Gadis bernama Zora itu terdiam menunduk.

"Maaf Pah." Balasnya merasa bersalah.

"Ilmu agama adek tuh kurang Pah, pondokin ajalah." Seorang laki-laki tampan berperawakan tinggi datang sambil merapihkan almamater kampusnya.

"Apaan si Bang Aldan ih." Kesal Zora dengan Abang nya itu.

"Kelakuan kamu makin hari makin absurd tau gak. Jangan pikir kalo Abang gak tau kalo kemarennya kamu pulang di anterin cowok." Celetuk Aldan. Sontak Zora langsung melotot terkejut mendengar pernyataan abangnya itu. Tau dari mana dia?

Mendengar itu Respati sang Papah pun melotot terkejut. Apa iya Putri nya sampai nekad melanggar larangannya sampai ke hal yang selama ini paling di larangnya?

"Benar itu Zora?" Respati pun terbangun dengan hati dongkol. Matanya menatap tajam ke arah sang putri dengan serius.

"Enggak Pah." Sangkal Zora namun, di matanya masih bisa terlihat dengan jelas kebohongan yang Ia sembunyikan.

"Jawab jujur!" Sentak Respati membuat Zora kaget dan memejamkan mata.

Isak tangis terdengar dari mulutnya. Badannya bergetar ketakutan melihat Papahnya semarah itu. Makanan yang awalnya sedang Zora nikmati pun menjadi tak nafsu lagi rasanya.

"Pah udah pah." Almi sang Mamah pun datang dan mengelus pundak sang suami mencoba meredam amarahnya.

"Gimana Papah gak marah Mah? Zora pulang di anterin cowok loh. Papah kecolongan ini!"

Suasana menjadi panas dan menegangkan. Amarah Respati semakin memuncak dengan tatapan mengarah ke Zora yang kini sedang menunduk ketakutan.

"Jawab jujur Zora! Papah gak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong, kan?" Jantung Zora semakin terpacu mendengar sentakan Papah nya.

"I__iya Pah." Akui Zora akhirnya, walaupun gemetaran.

"Siapa dia?". Tanya Respati dengan nada rendah dan dingin.

Zora terdiam sesaat hingga akhirnya Ia pun mengumpulkan keberanian untuk menjawab.

"Rayan." Balas Zora.

"Dia siapa kamu?"

"Pacar."

Prang....

Mendengar ucapan yang keluar dari mulut putrinya, semakin membuat emosi Respati tak stabil. Ia sampai refleks tak sadar membanting piring.

Semuanya memekik terkejut dengan tindakan Respati barusan. Terutama Zora yang sudah terisak-isak.

Sedangkan Aldan sang Abang hanya terdiam dengan rasa bersalah. Ia pikir ucapannya tadi tak akan membuat masalah sebesar ini, Ia fikir Papahnya hanya akan memarahi Zora ringan dan menasehatinya saja. Tapi siapa sangka masalahnya malah menjadi serumit dan sepanas ini.

Ia pun awalnya menduga bahwa laki-laki yang bersama Zora hanyalah teman sekelasnya saja. Tapi Aldan benar-benar terkejut dengan pengakuan Zora barusan yang menyatakan bahwa laki-laki itu adalah pacarnya.

"Pah, istighfar turunkan emosi Papah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Nasehat Almi merasa tak tega melihat sang suami yang terpuruk dan sang Putri yang nampak ketakutan

"Astaghfirullah hal'adzim." Respati mengusap dadanya pelan sambil melafadzkan istrigfar beberapa kali.

Tiba-tiba saja terdengar isakan dari mulut Respati hingga membuat semuanya terdiam.

"Papah minta Maaf mah. Papah gagal dalam prihal mendidik Zora, Papah kecolongan. Papah minta Maaf." Respati menunduk dengan rasa bersalah. Melihat hal itu, Almi semakin merasa tak tega dengan suaminya.

Ia tau bagaimana hancurnya hati suaminya itu saat larangan yang selama ini selalu di wanti-wanti nya untuk tidak di lakukan kedua anaknya, kini di langgar oleh putrinya.

Sedari dulu Ia dan Respati selalu mewanti-wanti kedua anaknya untuk tidak berdekatan dengan lawan jenis secara berlebihan apalagi sampai menjalani hubungan haram semacam pacaran. Sedangkan kini tanpa sepengetahuan mereka, Zora melanggar larangan itu. Pantas saja, kan mereka marah dan kecewa?

Kini Almi yang mulai menatap Zora tajam. Tatapannya sangat mengintimidasi hingga membuat Zora kembali gemetaran.

"Mamah gak mau tau, putuskan pacar kamu sekarang! Dan mulai sekarang tidak boleh ada penolakan lagi untuk mamah dan Papah tempatkan kamu di pesantrennya Om Razka." Sontak mendengar itu Zora langsung menangis dan menghampiri Almi.

"Mah jangan dong Mah, Zora gak mau di pesantren... Zora mau di rumah aja." Zora menatap sang Mamah dengan tatapan memohon.

Almi memalingkan wajahnya tak mau termakan rasa kasihan lagi. Kali ini Ia harus tega demi kebaikan putrinya.

"Nurut atau Mamah nikahkan kamu dengan Emir." Ancam Almi.

"Kan Kak Emir sodara Zora Mah mana bisa?" Almi menatap ke arah Zora dengan ketus.

"Siapa bilang gak bisa? Dia bukan mahram kamu, lagian kalian juga sepupu jauh. Jadi sah-sah saja kalo Papah kamu nikahin kamu sama dia." Balas Almi santai.

"Mah jangan dong Mah." Mohon Zora sambil memegangi tangan Mamah nya mencoba membuatnya iba.

Almi dengan kesal langsung menarik tangannya membuat Zora terkejut dan mengerjap.

"Pokoknya kalo kamu gak mau putusin pacar kamu dan kamu gak mau masuk pondok, mau gak mau Papah akan menikahkan kamu dengan Emir. Biarkan dia yang memberikan pemahaman untuk kamu." Kini Respati kembali berbicara dengan tegas.

"Pah jangan dong Pah, Zora kan masih sekolah masa mau di nikahin." Zora kini berpindah memegang tangan Papah nya.

"Pilihan kamu hanya dua, masuk pesantren atau menikah dengan Emir." Zora berdecak malas dengan pilihan itu. Pilihan yang sama-sama tak Ia harapkan.

"Kalo kamu diam Papah anggap kamu memilih menikah. Okeh besok Papah ke rumah Om Razka dan meminta putranya untuk kamu." Sontak mendengar hal itu Zora langsung melotot.

"Papah.... Jangan dong Pah Zora gak mau nikah sama Kak Emir, Zora masih sekolah Pah. Lagian Zora juga gak cinta sama dia." Rengek Zora.

"Jadi kamu mau masuk pesantren?" Tanya Respati lagi. Dengan berat hati akhirnya Zora pun mengangguk saja.

"Putuskan pacar mu" kata Almi kali ini terdengar lembut.

"I__iya Mah"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dosa yang Tak Termaafkan
8.9
Dewi menemukan bukti perselingkuhan suaminya melalui tumpukan bon belanja barang wanita dan tiket bioskop yang mencurigakan. Meski ia berusaha berbicara dengan suara lirih, amarah besar terlihat jelas saat ia mengonfrontasi pengkhianatan yang terulang kembali. Dewi menegaskan bahwa batas kesabarannya telah habis; ia tidak akan memberi kesempatan kedua setelah peringatannya diabaikan. Hubungan pernikahan mereka kini berada di ambang kehancuran total.
Sampul Novel Kebersamaan Tanpa Cinta
9.5
Sepuluh tahun mendampingi Arga tidak pernah cukup bagi Amanda untuk meluluhkan hati pria dingin tersebut. Hubungan tanpa status itu menghasilkan seorang putri bernama Adele setelah satu malam tak terduga. Alih-alih memberikan pengakuan, Arga hanya mengasingkan Amanda ke sebuah vila dan melarang anak mereka memanggilnya ayah demi menjaga status lajangnya di mata publik. Kini, setelah kesepakatan sepuluh tahun mereka berakhir, Amanda bertekad membawa Adele pergi demi memulai hidup baru.
Sampul Novel Lovely Rivalry
8.5
SMA Melody menjadi saksi perseteruan Kayana Setyawan, sang Ratu Es kaya raya, dengan Naruga Indra, jenius fisika sederhana. Perbedaan kasta memicu konflik tajam hingga insiden berdarah di sekolah memaksa keduanya bekerja sama. Kayana mengandalkan hartanya sementara Ruga memakai logika murni untuk mengungkap misteri siswa koma. Di tengah rivalitas sengit, tumbuh cinta tak terduga yang menguji prinsip mereka. Mampukah integritas menyatukan dua dunia yang berbeda?
Sampul Novel Mencintai dia
8.6
Dalam mencari pasangan hidup, ketampanan atau kecantikan fisik bukanlah segalanya. Kisah ini mengingatkan kita bahwa paras menawan tidak menjamin kebahagiaan masa depan keluarga. Seorang pria harus menyadari bahwa anak-anaknya kelak tidak sekadar butuh ibu yang elok dipandang, namun sosok pendidik yang bijak. Fokus utama dalam hubungan ini adalah menemukan wanita yang mampu membimbing generasi penerus dengan nilai moral dan kasih sayang yang tulus.
Sampul Novel Persona
8.5
Gilang Angkasa dipuja karena pesona fisik dan kepribadiannya yang tampak sempurna. Citra tanpa cela ini memikat hati Safira Riana, gadis polos yang akhirnya menjadi kekasihnya. Namun, di balik topeng itu, Gilang menyembunyikan sisi gelap dan kebiasaan buruk yang mengejutkan. Kini, hubungan mereka diuji oleh berbagai godaan besar serta konflik internal yang pelik. Sanggupkah Safira mengubah tabiat buruk Gilang, ataukah rahasia tersebut akan menghancurkan cinta mereka?
Sampul Novel Rahasia Asrama Seni
9.8
Setelah menyelesaikan masa ospek yang melelahkan, seorang mahasiswa baru akhirnya bisa melepas rindu dengan kekasihnya yang sudah terpisah selama setengah bulan. Sang pacar yang tidak sabar segera memintanya datang ke asrama putri secara sembunyi-sembunyi. Dibantu oleh teman sekamar sang pacar, ia harus menyusun rencana rahasia agar bisa lolos dari pengawasan ketat ibu penjaga asrama. Mereka pun berhasil mengelabui petugas dan menghabiskan malam bersama di dalam kamar asrama tersebut.