Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MURIDKU KENIKMATAN KU

MURIDKU KENIKMATAN KU

BERISI ADEGAN HOT++ Seorang duda sekaligus seorang guru, demi menyalurkan hasratnya pak Bowo merayu murid-muridnya yang cantik dan menurutnya menggoda, untuk bisa menjadi budak seksual. Jangan lama-lama lagi. BACA SAMPAI SELESAI!!
Bab
Bagikan

Bab 2

Pertanyaannya membuatku terkejut. Ada keinginan yang tak terduga dalam suaranya, dan aku bisa merasakan denyut jantungku semakin kencang.

"Lebih dari itu?" tanyaku, berusaha menggali maksudnya.

Siska mengedipkan matanya, seolah bermain-main dengan kata-katanya. "Ya, seperti berbagi cerita, dan mungkin... lebih dekat. Kita bisa melakukan banyak hal bersama. Aku paham bapak pasti kesepian"

Ucapannya yang menggoda itu membuatku merasa terjebak antara keinginan dan batasan. Namun, matanya yang bersinar penuh harapan membuatku berpikir, apakah mungkin ada jalan di antara kami yang lebih dari sekadar guru dan murid?

"Aku... tidak tahu, Siska. Itu terasa sangat berisiko" jawabku, meskipun suara hatiku berbisik untuk mencoba.

"Tapi kadang kita perlu mengambil risiko, Pak. Bukankah hidup ini terlalu singkat untuk tidak mencoba?" Dia bersikeras, dan aku bisa melihat semangatnya di balik tatapan itu.

Sekali lagi, kami terdiam, dan suasana di antara kami semakin tegang. Saat itu, aku menyadari bahwa kami berada di tepi jurang yang tak terduga. Bagaimana jika aku mengambil langkah itu? Mungkin Siska benar, hidup terlalu singkat untuk menahan diri dari apa yang mungkin bisa menjadi sesuatu yang lebih.

"Bener juga sih, Baiklah," jawabku pelan, merasakan keberanian tumbuh dalam diriku.

"Kalau begitu, apa yang kamu inginkan, Siska?"

Dia tersenyum lebar, dan aku bisa melihat bahwa kami akan memasuki babak baru dalam hubungan ini, sesuatu yang bisa menjadi indah sekaligus berbahaya.

Rasa terpesona terhadap Siska semakin membara dalam diriku. Meskipun dia masih duduk di bangku SMA, sikap dan pemikirannya yang dewasa membuatku terpesona. Ada kedalaman dalam matanya yang menunjukkan bahwa dia lebih dari sekadar remaja yang ceria dan centil. Siska paham dengan situasiku, dan itu membuatku merasa ada ikatan yang tak terucapkan di antara kami.

"Pak, aku tahu mungkin ini terdengar aneh." Siska memulai, suaranya pelan dan penuh kerentanan.

"Tapi aku ingin bapak tahu bahwa aku menghargai keberanianmu. Tidak banyak orang yang mau berbagi tentang perasaannya. Itu membuatku semakin ingin dekat denganmu, Pak."

Aku terdiam, meresapi kata-katanya. Keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya membuatku merasa dihargai dan dimengerti.

"Kamu benar, Siska. Banyak yang takut untuk membuka diri, terutama tentang hal-hal yang menyakitkan," balasku, mencoba menjaga nada suaraku tetap tenang.

Dia tersenyum lembut, kemudian melanjutkan,"Iya... Dan mungkin, kita bisa saling mengisi. Aku tahu bapak seorang duda, dan pasti ada banyak yang bapak rasakan. Aku bisa menjadi teman yang bapak butuhkan, dan lebih dari itu jika bapak mau"

Kata-katanya mengalir begitu natural, dan hatiku bergetar mendengar tawaran itu. Namun, ada rasa takut yang menggelayut di benakku,"Tapi kamu masih muda, Siska. Kita datang dari zaman yang sangat berbeda. Apakah kamu yakin ini yang kamu inginkan?"

Dia menatapku, matanya bersinar penuh keyakinan,"Umur bukanlah halangan, Pak. Yang terpenting adalah perasaan dan saling pengertian. Aku merasa ada sesuatu yang spesial antara kita. Dan aku siap untuk itu, jika bapak beneran mau"

Ketika dia mengucapkan kata-kata itu, aku merasakan seolah semua dinding yang menghalangi kami mulai runtuh. Bagaimana bisa seorang murid, yang seharusnya menjadi tanggung jawabku, bisa membuatku merasakan hal ini? Namun, di balik semua keraguan itu, ada hasrat yang semakin menguat, membuatku ingin lebih dekat dengan Siska.

Aku mulai ragu, tetapi tatapan matanya menguatkan tekadku,"Baiklah, mari kita lihat ke mana ini akan membawa kita"

Siska tersenyum lebar, dan matanya berbinar. Aku tidak tahu apakah langkah ini benar atau salah, tetapi ada dorongan kuat untuk menjelajahi apa yang mungkin ada di antara kami. Dia telah membangkitkan kembali rasa hidup dalam diriku, dan aku merasa terombang-ambing antara rasionalitas dan perasaan yang mendalam.

Kami melanjutkan obrolan, dan setiap detik terasa berharga. Siska dengan lincah mulai berbagi cerita tentang hidupnya, harapannya, dan pandangannya tentang dunia. Ada kecerdasan dan ketulusan yang membuatku terpesona. Dia berbicara tentang impiannya untuk kuliah di luar negeri, tentang bagaimana dia ingin menjalani hidup yang penuh petualangan dan pengalaman.

"Aku ingin bisa melihat dunia, Pak. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa mengajakmu untuk berkeliling. Kita bisa menjelajahi tempat-tempat baru bersama," ucapnya, mengalihkan fokus ke arahku dengan penuh harapan.

Aku membayangkan semua itu, dan jantungku berdebar dengan cepat.

"Siska, itu akan menjadi perjalanan yang indah," balasku, merasakan kehangatan di antara kami.

"Bisa jadi, Pak," jawabnya sambil menggigit bibirnya dengan manis.

"Tapi untuk sekarang, aku ingin kita berbagi momen ini. Momen di mana kita bisa saling memahami, lebih dari sekadar guru dan murid."

Dengan kata-katanya, aku merasa seolah terjebak dalam arus yang tak terhindarkan. Apa yang terjadi selanjutnya bisa mengubah hidup kami selamanya, dan aku hanya bisa berharap bahwa pilihan ini adalah langkah yang tepat. Kami berada di ambang sesuatu yang baru dan mungkin, sesuatu yang berbahaya, tetapi sekaligus menantang.

Suasana di ruang tamu terasa semakin intim, dan jantungku berdebar-debar. Momen ini terasa begitu berharga, dan aku tahu sudah saatnya untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di dalam hatiku. Setelah beberapa saat terdiam, aku memberanikan diri untuk mengambil langkah itu.

"Siska," ucapku, suaraku sedikit bergetar.

"Bapak ingin jujur padamu. Sejak kita mulai berbicara, aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan guru dan murid. Aku ingin kamu menjadi kekasihku. Biar bapak gak kesepian"

Aku memperhatikan reaksi Siska, dan saat mendengar kata-kataku, wajahnya tiba-tiba memerah. Dia menundukkan kepala, dan aku bisa melihat senyumnya yang malu-malu.

"Pak... aku tidak tahu harus berkata apa," ujarnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Hatiku bergetar, mengira bahwa mungkin aku telah melangkah terlalu jauh. Namun, sebelum aku bisa mengungkapkan kekhawatiranku, dia mengangkat wajahnya kembali,"Tapi... aku ingin bapak tahu, aku juga merasa sesuatu yang khusus. Rasanya seperti kita terhubung dengan cara yang berbeda. Dan aku mau menjadi teman sepimu, Pak"

Senyumnya yang lebar kembali menghiasi wajahnya, dan jantungku berdegup kencang mendengar kata-katanya.

"Jadi, kamu mau menjadi kekasihku?" tanyaku sekali lagi, ingin memastikan bahwa aku tidak salah mendengar.

Dia mengangguk pelan, dan ada keraguan yang sedikit menggelayuti tatapannya,"Ya, aku mau. Tapi kita harus hati-hati, Pak. Ini semua baru dan... kita harus menjaga perasaan satu sama lain"

Kata-katanya membuatku merasa lega sekaligus bahagia. Aku mengulurkan tangan untuk meraih tangannya, dan saat telapak tangan kami bersentuhan, aku merasakan aliran listrik yang membuatku bersemangat,"Terima kasih, Siska. Aku berjanji akan menghargai perasaanmu dan menjaga semuanya dengan baik"

Kami duduk bersebelahan di sofa, suasana semakin hangat. Momen ini seolah membawa kami ke dimensi baru dalam hubungan kami. Siska menggenggam tanganku, dan rasanya seperti ada ikatan yang tak terputus antara kami.

"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya dengan nada penuh semangat, matanya berkilau penuh rasa ingin tahu.

"Aku rasa kita bisa mulai dengan saling mengenal lebih baik," jawabku sambil tersenyum.

"Kita bisa berbagi cerita, impian, dan harapan. Dan mungkin, kita juga bisa mencari cara untuk menghabiskan waktu bersama tanpa membuat orang lain curiga."

*****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU
8.6
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Mas Yusuf, kecurigaan mulai menghantui benakku. Suamiku itu menyimpan rahasia besar di balik sebuah pintu kamar yang selalu terkunci rapat. Keganjilan semakin terasa saat aku memergokinya mengendap-endap setiap malam, membawa baki makanan serta minuman ke dalam ruangan misterius tersebut. Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan Yusuf dariku? Misteri di balik bilik terlarang itu kini mengancam ketenanganku.
Sampul Novel Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed
8.5
Kisah ini dituliskan dengan latar belakang sejarah seorang wanita bangsawan kelas atas pada abad ke-15 di Eropa Timur, saat ini letak Cachtice Castle berada di dekat kota Bratislava, Slovakia. Tokoh-tokoh nyata yang berada dalam sejarah seperti Elizabeth Bathory de Ecsed, Raja Matyas, Gyorgy Thurzo, dll., berdampingan dengan tokoh fiksi seperti Benca, Lorant, Arpad, Ivett, Gustav, dll. Atas laporan dari berbagai pihak termasuk pendeta Lutheran Istvan Magyari, serta saksi-saksi lain, Raja Matyas memerintahkan Gyorgy Thurzo untuk melakukan penyelidikan terhadap Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, dia dinyatakan bersalah, termasuk mereka yang membantu kegiatan pembunuhan gadis-gadis muda secara sadis tersebut. Dorka (Doratia Dentez), Anna Darvula, juga suster Illona Joo dan Johanness Ujvari, mendapatkan hukuman mati dari Raja Matyas, sedangkan Countess Elizabeth Bathory de Ecsed yang berstatus bangsawan, memiliki kekebalan terhadap hukuman mati. Maka dia ditahan di dalam kastilnya sendiri dengan hanya diberi sedikit celah untuk bernafas, dan makanan. Pada 21 Agustus 1614, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, meninggal dunia, ditandai dengan makanan yang tidak disentuhnya sama sekali. Maka setelah diperiksa, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, ditemukan sudah tidak bernyawa. Hingga saat ini, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, sering disebut sebagai Blood Countess, atau putri berdarah yang disinyalir telah membunuh lebih dari 600 gadis perawan dalam upayanya untuk menjadi tetap muda belia, dengan melakukan ritual mandi darah gadis perawan. Kisah kekejaman maupun kegiatan ritual sex bebas yang dilakukan di dalam kastil Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, tercatat dalam sejarah kelam Roman Empire di Hongaria. Namun kisah ini hanyalah fiksi dengan latar belakang kekejaman sang putri berdarah yang menjadi inspirasi terhadap kisah vampire di Eropa.
Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME
8.7
Pasca menikah di Pakistan, Adiba dan Syden menetap di Rusia. Gangguan mistis mulai menghantui Adiba serta ibu mertuanya di rumah baru mereka, namun Syden terus bersikap skeptis. Tragedi besar terjadi saat Adiba keguguran, memicu amarahnya untuk menuntut balas atas kematian sang buah hati. Sambil bersumpah demi Allah, wanita Pakistan ini tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Siapakah dalang keji di balik teror yang menghancurkan hidup Adiba?
Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku
9.2
Alana terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar akibat teror mimpi buruk. Tatapannya terpaku penuh ketakutan pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan sekadar benda biasa, melainkan pemicu berbagai kejadian mistis di luar nalar. Ia bertekad menjauhkan kain itu dari hidupnya karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kebaikan yang murni.
Sampul Novel Rahasia Gelap Istriku
9.7
Terus didesak sang ibu untuk menikah, Satria akhirnya jatuh hati pada Kinanti, janda cantik mendiang Pak Lurah yang wafat secara misterius. Namun, sebuah syarat aneh diajukan Kinanti: ia harus tidur sendirian di kamar belakang setiap malam Jumat Kliwon. Didorong rasa cinta, Satria menyetujui tanpa bertanya. Namun, rasa penasaran mulai menghantui benaknya. Rahasia mengerikan apa yang sebenarnya disembunyikan sang istri di balik pintu kamar tersebut?
Sampul Novel Rahasia Kelam Suamiku
8.8
Liburan di vila Puncak menjadi mimpi buruk saat aku menemukan adik Baskara yang dikira mati ternyata masih hidup. Suamiku dan orang tuaku justru merawat anak hasil hubungan rahasia mereka. Selama lima tahun, aku hanya dijadikan alat untuk menutupi skandal ini. Kini, Baskara berniat menjebloskanku ke rumah sakit jiwa. Setelah membakar vila demi melarikan diri, aku terpaksa meminta bantuan pada rival terbesar Baskara demi membalas pengkhianatan mereka.