Sampul Novel MURIDKU KENIKMATAN KU

MURIDKU KENIKMATAN KU

8.2 / 10.0
Ringkasan MURIDKU KENIKMATAN KU
Baca Selengkapnya

MURIDKU KENIKMATAN KU Bab 1

Namaku Bowo, usia 35 tahun, dan sudah lebih dari satu tahun aku menjalani hidup sebagai duda. Setelah pernikahanku berakhir, aku mencoba membangun kehidupan yang baru, mengisi hari-hariku dengan kesibukan mengajar di sebuah SMA di Bandung. Tapi, meskipun sibuk, ada kalanya aku merasa sepi. Rumah terasa sunyi, dan di saat-saat tertentu, kesepian itu datang menghantam lebih keras dari biasanya.

Di sekolah, aku mengajar banyak murid, dan di antara mereka ada beberapa yang menarik perhatianku. Sebagai seorang guru, aku tahu batasan yang harus kujaga, tapi kadang, godaan itu terasa begitu dekat. Salah satu murid yang sering membuatku tak tenang adalah Siska. Gadis ini memiliki pesona yang berbeda dari teman-temannya. Dia berusia 17 tahun, tetapi cara bicaranya, caranya berpakaian, dan tatapan matanya yang centil seolah-olah sengaja diarahkan untuk menarik perhatianku.

Setiap kali dia ada di kelas, aku bisa merasakan kehadirannya. Cara dia duduk di bangku paling depan, cara seragamnya sedikit lebih ketat dibandingkan murid lainnya, dan senyum kecil yang sesekali dia lemparkan ke arahku, semuanya terasa seperti godaan yang sulit diabaikan.

Siang itu, saat jam pelajaran hampir selesai, pikiranku mulai terusik lagi. Siska terlihat lebih mencolok dari biasanya, duduk di barisan depan sambil sesekali menatapku dengan tatapan yang sulit kuabaikan. Aku berusaha fokus pada materi yang kuajarkan, tapi pikiranku terus melayang pada hal-hal yang tak seharusnya.

Saat bel istirahat berbunyi, aku memutuskan untuk memanggilnya.

"Siska, nanti setelah istirahat, tolong ke ruang guru ya. Ada yang Bapak ingin bicarakan."

Dia hanya tersenyum tipis, sedikit mengangguk, lalu beranjak keluar dari kelas. Aku tahu apa yang sedang kupikirkan seharusnya tidak terjadi. Aku tahu peran sebagai guru harus tetap dijaga. Namun, kesepian dan perasaan yang tak terkatakan kadang mengambil alih logika.

Di ruang guru, aku menunggu sambil memikirkan apa yang akan kubicarakan dengannya. Aku berusaha mencari alasan yang tepat agar pertemuan ini tidak terlihat mencurigakan. Setelah beberapa menit, akhirnya Siska muncul, mengetuk pintu dan melangkah masuk dengan tatapan yang seolah tahu apa yang sedang terjadi.

"Kamu tahu kenapa Bapak panggil ke sini?" tanyaku, berusaha terdengar tenang meski ada ketegangan dalam suaraku.

Dia hanya tersenyum, lalu duduk di kursi di depanku.

"Apa Bapak merasa ada yang salah dengan saya?" jawabnya, nadanya menggoda, penuh kepercayaan diri.

Aku terdiam sejenak. Situasi ini semakin sulit dikendalikan, dan aku tahu aku harus menjaga jarak.

"Kamu sering terlihat berbeda di kelas. Cara kamu bertingkah, kadang terlalu... mencolok," jawabku, mencoba membingkai permasalahan tanpa terlalu terang-terangan.

Dia mendekat sedikit, menatapku dengan tatapan tajam,"Mencolok? Atau Bapak tertarik?"

Di ruang guru ini, suasana terasa sedikit lebih hangat ketika Siska, muridku yang centil dan ceria, duduk di depanku. Rambutnya yang panjang dan hitam berkilau tergerai, dan senyumnya yang manis selalu bisa membuat hariku lebih cerah. Aku sering kali menjadikannya sebagai contoh murid yang berprestasi, meskipun tingkahnya kadang mengundang perhatian lebih dari sekadar guru dan murid.

Hari itu, setelah menyelesaikan beberapa tugas administratif, aku memutuskan untuk mengajak Siska berbicara,"Siska, bagaimana kalau kamu datang ke rumahku setelah pulang sekolah? Kita bisa belajar bersama, dan aku bisa membantumu dengan beberapa pelajaran yang mungkin belum kamu pahami"

Dia menatapku dengan mata besar yang penuh antusias.

"Serius, Pak? Boleh banget!" jawabnya dengan semangat. Hatiku berdebar mendengar jawabannya. Ada sesuatu yang berbeda saat melihatnya begitu bersemangat.

Setelah sekolah selesai, aku pulang lebih awal dan mempersiapkan segalanya. Aku tidak ingin ini hanya menjadi sesi belajar biasa. Aku ingin menciptakan suasana yang lebih intim, di mana kami bisa lebih dekat. Beberapa snack ringan sudah siap di meja, dan aku berharap Siska suka.

Tak lama setelah aku sampai di rumah, suara ketukan di pintu membuatku terbangun dari lamunan. Ketika membuka pintu, Siska sudah berdiri di sana, mengenakan baju kasual yang menonjolkan sosoknya yang ramping. "Hai, Pak!" sapanya ceria, dan aku merasakan getaran yang berbeda di antara kami.

Aku mengundangnya masuk dan duduk di ruang tamu. Percakapan kami berjalan hangat, dan aku bisa merasakan ketegangan di antara kami semakin meningkat. Siska terlihat nyaman dan percaya diri, sering kali menatapku dengan tatapan yang sedikit menggoda. Aku berusaha fokus pada pelajaran, tetapi pikiranku mulai melayang ke arah yang lebih dalam.

"Jadi, apa yang ingin kamu pelajari hari ini?" tanyaku sambil mencuri pandang ke arah Siska yang sedang memainkan ujung rambutnya.

"Hmm, mungkin kita bisa mulai dengan matematika, tapi...." Dia berhenti sejenak, senyumnya semakin lebar.

"Aku juga mau tahu, Pak, apakah ada pelajaran lain yang bisa kita lakukan?"

Pertanyaannya membuatku tersentak. Aku tahu ada banyak hal yang bisa kami diskusikan, dan lebih dari itu, ada banyak hal yang ingin aku tunjukkan padanya. Dengan suara pelan, aku menjawab,"Tentu saja. Ada banyak hal yang bisa kita eksplorasi bersama"

Kami melanjutkan obrolan yang semakin menjurus ke hal-hal yang lebih personal. Tawa dan candaan membuat suasana semakin hangat, dan tanpa sadar, jarak di antara kami semakin dekat. Aku bisa merasakan ketegangan yang menggairahkan, seperti ada magnet yang menarik kami satu sama lain.

"Pak, bolehkah aku bertanya?" Siska tiba-tiba bertanya dengan nada nakal.

"Apa pak Bowo tidak merasa kesepian? Maksudku, di rumah ini..."l"

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi tatapannya menyiratkan lebih dari sekadar pertanyaan biasa. Aku mengernyit, merasakan jantungku berdegup kencang.

"Aku... tidak tahu. Mungkin sedikit," jawabku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski hatiku bergetar.

"Kalau begitu, mungkin aku bisa membantu menghilangkan rasa kesepian itu," ujarnya sambil tersenyum genit, dan aku merasakan ada sesuatu yang mengalir di udara.

Malam itu, pelajaran kami mengambil arah yang berbeda, dan semua yang terjadi menjadi momen yang sulit untuk dilupakan.

Aku menatap Siska sejenak, merasakan kehangatan yang memenuhi ruang tamu. Suasana ini membuatku merasa nyaman, dan entah kenapa, ada dorongan untuk membuka diri.

"Kamu tahu, Siska," ucapku perlahan.

"sejak aku menjadi duda hampir setahun yang lalu, hidupku jadi terasa cukup sulit."

Siska mengangguk, wajahnya penuh empati.

"Aku bisa membayangkan itu, Pak. Pasti rasanya berat ya?" Dia mengatur posisi duduknya, seolah semakin mendekat untuk mendengarkan lebih baik.

Aku melanjutkan,"Banyak yang berubah. Kadang aku merasa kesepian dan kehilangan. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang, dan itu cukup menyakitkan."

Setiap kata yang kuucapkan keluar dengan mudah, seolah Siska adalah tempat yang aman untukku menumpahkan semua isi hati.

"Apakah bapak tidak ingin mencari seseorang untuk berbagi? Mungkin seorang teman?" Siska bertanya, suara lembutnya mengusik pikiranku.

Aku terdiam sejenak, berpikir,"Kadang aku merasa ragu. Takut tidak menemukan seseorang yang bisa mengerti atau menerima diriku dengan semua kekuranganku"

Dia tersenyum dengan cara yang menggoda"Tapi, Pak, kadang kita hanya perlu mencoba. Bagaimana kalau aku menjadi teman yang bapak cari? Aku bisa mendengarkan, dan mungkin... bisa lebih dari itu?"

*****

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi MURIDKU KENIKMATAN KU

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Andai Aku Boleh Memilih
7.9
Kenanga Wulan, mahasiswi berprestasi, menderita akibat tekanan ibu tirinya, Mirna, hingga akhirnya diusir dari rumah. Mirna sengaja menyembunyikan kekayaan kiriman ibu kandung Kenanga demi memisahkan Bastian dari kenangan mantan istrinya. Di sisi lain, Firda mendesak putranya, Ghaffarel, untuk menikahi Kenanga demi menyelamatkannya dari hubungan tak wajar dengan Raiya. Meski Kenanga mencintai Arkatama, ia terjebak dalam skema pernikahan yang penuh rahasia dan pengkhianatan.
Sampul Novel Dendam Cinta dan wanita
8.3
Zheyya hanyalah gadis sederhana, sementara Kanha dikenal sebagai pemuda playboy. Meski berasal dari latar belakang kontras, kebencian di antara mereka perlahan berubah menjadi benih cinta. Di tengah dinamika obsesi dan keikhlasan, mereka belajar tentang arti mempertahankan serta melepaskan perasaan. Kisah ini mengeksplorasi emosi mendalam layaknya hujan di gurun pasir yang gersang. Akankah cinta mereka berhasil berlabuh di muara yang sama pada akhirnya?
Sampul Novel Jodohnya yang Tak Diinginkan, Sihirnya yang Terlarang
9.2
Lima tahun mendampingi Alpha Bram, aku hanya mendapat pengkhianatan. Saat insiden lampu gantung maut terjadi, Bram justru menjadikanku tameng demi melindungi selingkuhannya, Bella. Tubuhku hancur dan roh serigalaku lumpuh, namun Bram justru tega melakukan ritual pemutusan ikatan suci kami. Rasa sakit itu menghentikan jantungku tepat saat sebuah rahasia besar terungkap: aku sedang mengandung ahli warisnya. Kini, penyesalan Bram tak lagi berarti bagi nyawaku yang hilang.
Sampul Novel Obsesi CEO Kejam
9.6
Pasca pengkhianatan tunangan dan sahabatnya, Amelia Riversun terjebak dalam obsesi Damian Earl Lucas. Pria berkuasa ini menggunakan berbagai taktik manipulatif untuk memaksa Amelia bekerja di bawah kendalinya. Meski Amelia berusaha melarikan diri setelah menyadari sifat asli Damian yang mengerikan, segalanya sudah terlambat. Hubungan mereka pun terjalin dalam jerat kebohongan dan perbedaan dunia yang berbahaya, membawa ancaman bagi keselamatan Amelia.
Sampul Novel Terjebak Jurang Penyesalan
9.5
Dalam novel modern Terjebak Jurang Penyesalan, sebuah ketidaksengajaan membawa ketegangan yang mendalam. Saat sang protagonis pria terkunci di dalam studio tari bersama guru tari putrinya, atmosfer di antara mereka berubah menjadi sangat canggung dan ambigu. Demi mencairkan suasana yang kaku, sang guru memutuskan untuk menunjukkan kebolehannya menari secara privat. Gerakan tubuhnya yang luwes dan memikat justru memicu gairah yang tak tertahankan dalam diri sang pria, menguji batas pertahanan dirinya yang hampir runtuh di ruang tertutup itu.
Sampul Novel The Betrayal
7.9
Persahabatan Malika, Shereen, dan Silva yang semula harmonis kini hancur karena cinta. Kehadiran Erga memicu konflik saat Malika mengaku menyukai pria tersebut di depan Silva. Pengakuan jujur yang penuh penyesalan itu menjadi awal keretakan hubungan mereka. Kini Erga terjebak dalam pilihan sulit antara Malika atau Silva, sementara Shereen berusaha menjadi penengah. Akankah ikatan mereka bertahan di tengah badai pengkhianatan dan dilema asmara ini?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan