Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Moonlight and Mr. CEO

Moonlight and Mr. CEO

Nicholas Liu adalah CEO furnitur sukses di Hong Kong yang masih melajang hingga muncul rumor miring tentang orientasinya. Hidupnya yang tenang terusik saat ia terpaksa merawat kucing putih milik sahabatnya, Hanna. Karena enggan, Nic membiarkan hewan itu di teras. Namun, di bawah cahaya bulan purnama yang menyilaukan, kucing itu lenyap secara misterius. Sebagai gantinya, muncul seorang gadis cantik tanpa busana yang mengubah takdir Nic selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Cahaya bulan purnama menyorot ke teras rumah Nic. Awalnya Nic menganggap cahaya bulan itu sebagai hal yang biasa saja. Namun cahaya itu semakin lama malah semakin terang dan menyilaukan. Nic terperangah dengan fenomena alam yang baru pertama kali dia lihat itu.

Dia memundurkan kursinya dan berjalan mendekati jendela. Kemudian, cahaya menyilaukan itu perlahan memudar. Nic menyipitkan matanya, mencari keberadaan Moonlight yang seharusnya masih melingkar di atas selimut.

“Oh no! Kucing itu – di mana kucing itu?” Nic merapatkan kedua tangannya ke jendela.

Detik berikutnya matanya terbelalak. Moonlight menghilang dari teras dan berganti dengan sosok gadis tanpa busana yang berdiri kebingungan. Seakan menyadari kalau dirinya telanjang, gadis itu segera berjongkok untuk menutupi tubuhnya.

“Sh –“ Nic mengumpat tertahan. “Siapa gadis tanpa busana itu? Apa? Gadis? Whaaaattt?!” Dia pun berlari dengan panik kelar dari ruang kerjanya.

Nic membuka pintu rumahnya dengan terburu-buru. Pemandangan pertama Nic adalah punggung seorang gadis yang tengah berjongkok dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Tubuh gadis itu mungil dan kulitnya seputih porcelain. Nic menelan ludahnya kasar.

“Hei! Siapa kau?” seru Nic dengan wajah tegang dan pipi panas.

Yang dipanggil menegakkan kepalanya dan menengok ke arah Nic. Manik mata gadis itu berwarna biru, persis mata kucing milik Hanna. Bibir merah muda gadis itu bergetar. Dia seolah hendak membalas seruan Nic tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

“Jawab aku! Siapa kau? Dan kemana perginya kucing putih yang tadi tidur di sana?” Nic menunjuk selimut yang masih tertata rapi.

Gadis itu kembali membenamkan wajah ke kakinya dan memeluk tubuhnya lebih erat. Nic kesal dengan banyaknya tanda tanya yang berseliweran di otaknya. Hal pertama yang terpikirkan hanyalah menarik selimut yang berada sejajar dengan pintu masuk dan menyelimuti tubuh polos gadis itu.

“Kita masuk! Udara di luar sangat dingin. Nanti baru kita bicarakan lagi siapa kau sebenarnya.” Nic merengkuh pundak gadis mungil itu dan menggiringnya ke dalam rumah.

“Di luar jangkauan! Di luar jangkauan! Astaga, Tuhan! Apa di mesir tidak ada sinyal?? Sialan!” Nic membanting ponselnya ke atas sofa. Gadis yang baru dipungutnya dari teras mengerjapkan matanya terkejut.

Nic terdiam, mengerucutkan bibirnya dengan dahi berkerut. Menatap gadis yang membungkus dirinya dengan selimut, seperti kepompong. Rambut gadis itu hitam legam, lurus panjang hingga ke pinggang. Salah satu kriteria wanita idaman Nic.

“Jangan diam saja! Jelaskan kepadaku, kau ini sebenarnya siapa?” Nic menyuar rambutnya dengan frustasi.

Gadis itu mengeluarkan sebelah tangannya dari dalam selimut. Dia membuka kepalan tangannya dan menunjukkan sebuah benda berbentuk kalung. Mata Nic membulat melihat benda di tangan gadis itu dan mengambilnya.

“Moon – light …” Nic membaca lambat nama yang terukir pada liontin emas kalung itu. “Kau – kau benar-benar kucing itu. Ka – kau kucing yang berubah menjadi gadis atau … gadis yang berubah menjadi kucing?”

Gadis itu menyunggingkan senyuman tipis. Seolah dia sendiri tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi dengan dirinya. Gadis itu memasukkan kembali sebelah tangannya ke dalam selimut dan menundukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku yakin apa yang terjadi malam ini hanya mimpi. Aku ketiduran di ruang kerjaku dan sekarang aku sedang dalam alam mimpi. Sekarang aku akan kembali tidur dan bangun besok pagi dank au sudah menghilang dari rumahku.” Nic menarik nafas dan mengembuskannya dengan kasar.

“Begitu … pasti begitu …” ucapnya lalu berjalan menuju kamar dan mengunci pintunya.

Keesokan harinya, Nic bangun tidur seperti biasanya. Berjalan sambil menguap menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Berkumur dengan cairan pembersih mulut rasa mint, mencuci wajahnya dengan facial foam merek terkenal dan menyisir rambutnya. Rutinitas pagi sebelum dia sarapan dan baru setelah itu mengguyur tubuh di bawah shower air hangat.

“Rasanya aku masih punya roti gandum dan selai stoberi. Aku sarapan itu saja deh …” Nic keluar dari kamar mengenakan celana pendek ketat dan bertelanjang dada. Maklum saja, dia kan bujangan. Hidup sendirian di rumah mewah yang terkadang terasa sunyi dan dingin.

Nic bersiul santai. Mengoleskan roti dengan mentega, menyusunnya di alat pemanggang roti dan menjepitnya. Hanya beberapa detik sampai sedikit ada bau gosong dari rotinya lalu Nic mengangkat rotinya. Wangi roti bakar menguar di seluruh penjuru rumah.

Dia pun membawa piring berisi roti dan segelas susu dingin ke ruang tengah rumahnya. Ada berita pagi yang harus dia tonton sebelum berangkat kerja. Dengan piring di tangan kanan dan gelas susu di tangan kiri Nic mendaratkan bokongnya di atas sofa.

“What is that??” Nic melompat lagi setelah bokongnya menyentuh sesuatu yang tidak lazim ada di rumahnya. “Siapa kau?”

Gadis yang kepalanya sempat tertindih bokong Nic menegakkan posisi tidurnya dan mengucek-ngucek matanya. Nic meletakkan piring dan gelasnya di atas meja. Seketika itu juga matanya tertuju pada kalung kucing yang semalam dia taruh sembarangan.

“Oh Tuhan! Ternyata kau nyata …” Nic meraup wajah dengan kedua tangannya. “Siapa namamu? Moonlight? Astaga! Sekarang apa yang harus aku lakukan padamu?”

Nic menengok kepada gadis yang masih membisu itu, mencoba mencari petunjuk selanjutnya. Namun yang dia temukan malah wajah gadis itu yang mulai merona sembari memandangi dirinya. Nic seketika menjadi salah tingkah. Dengan tubuh yang hanya memakai celana pendek ketat, kini dia berhadapan dengan seorang gadis yang hanya memakai selimut sebatas dadanya.

“Ini tidak bisa dibiarkan! Bagaimanapun juga aku ini pria dan dia wanita!” Nic berlari ke dalam kamarnya. Membongkar lemari dan mencari apapun yang bisa dipakai oleh Moonlight.

“Seingatku Hanna pernah meninggalkan salah satu gaunnya di sini deh. Aduuhh mana yaa??”

“Dapat!” Tangan Nic berhasil menggapai sebuah paper bag berisi gaun yang pernah Hanna tinggalkan setelah acara gala dinner yang membuat wanita itu tersiksa, lengkap dengan heels sepuluh centinya.

“Nah! Pakai ini. Kau boleh memakai kamar kosong yang di sebelah sana untuk berganti pakaian. Cepat!” Nic menjatuhkan paper bag itu di sebelah gadis itu.

Gadis yang masih membungkus tubuhnya dengan selimut itu hanya terbengong memandangi paper bag dan Nic bergantian. Nic memijat pangkal hidungnya.

“Bagus, Nic! Tentu saja dia tidak mengerti perkataanmu. Dia kan kucing! Kucing! Aarrgghhh!!” Nic meremas-remas jarinya, mencoba mencari cara untuk dapat berkomunikasi dengan gadis itu.

“Oke! Begini. Jadi …” Nic mengeluarkan gaun bermotif bunga dari dalam paper bag dan membuka lipatan gaunnya. Selembar gaun berbahan sutra tipis tergelar dihadapan Moonlight.

Lalu Nic menunjuk gadis itu. “Kau! Pakai …” Nic memantaskan gaun itu ke depan tubuhnya. “ …ini. Kau pakai gaun ini. Oke??”

Mulut gadis itu membulat. Seolah terpesona dengan gaun berbahan sutra yang diperlihatkan Nic, gadis itu mengulurkan tangannya hendak meraih gaun itu. Nic menghela nafas lega.

“Kau tahu apa maksudku kan? Nah – ambil ini dan pergi ke kamar itu! Ayoo …”

Moonlight memandangi gaun di tangannya dan menempelkan permukaan kain halus itu di pipinya. Dia memejamkan mata seolah yang baru saja dia terima itu adalah sesuatu yang sangat dia rindukan. Namun apa yang dilakukan gadis itu membuat Nic semakin tidak tenang.

Lekas dia menarik tangan Moonlight menuju kamar yang mungkin akan digunakan oleh gadis itu selama setahun kedepan. Gadis itu tertatih mengikuti Nic dengan satu tangan menahan selimut yang membungkus tubuhnya.

“Pakailah. Kalau sudah, aku akan menunggumu di ruang tengah,” ucap Nic lalu mendorong masuk tubuh Moonlight ke dalam kamar.

Nic menunggu dengan gelisah. Sudah lebih dari lima belas menit, Moonlight belum juga keluar dari kamar. Jangan-jangan gadis itu tidak tahu cara menggunakan gaunnya? Aduh! Padahal itu kan hanya gaun tali satu yang sederhana dan rendah di bagian dada.

Tunggu! Nic bangun dari tempat duduknya. Seingatnya, bentuk gaun itulah yang membuat Hanna merasa tersiksa selama menghadiri gala dinner yang diselenggarakan ayahnya. Karena Hanna merasa setiap orang yang dia ajak bicara selalu mengarahkan mata ke bagian dadanya.

“Celaka! Moonlight!” Nic berseru sembari melangkah ke depan pintu kamar. “Moon …”

Pintu kamar terbuka. Moonlight – gadis berwajah oriental dengan kulit seputih dan semulus porcelain, rambut hitam legam terurai sampai ke pinggang. Keluar kamar dengan mengenakan dress berbahan sutra tipis bermotif bunga.

Nic merasa tenggorokannya tiba-tiba kering. “Seharusnya aku membelikan lebih dulu pakaian dalam, sebelum menyuruhmu memakai gaun itu …” Mata Nic tidak bisa lepas dari bentuk tubuh Moonlight yang tercetak sempurna.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel FENGYING LIE
8.7
Kejadian tak terduga menimpa Fengying saat dirinya tiba-tiba diserang oleh dua pria misterius. Pukulan keras salah satu dari mereka membuatnya jatuh tersungkur hingga pergelangan tangannya terluka. Dengan penuh amarah, Fengying bangkit dan memaki pelaku yang menyerangnya. Namun, lawan justru memberikan ancaman mematikan. Mereka menuntut Fengying untuk segera menyerahkan pedang miliknya, atau nyawanya akan dihabisi di tempat itu juga tanpa ampun.
Sampul Novel Gundik Alpha-ku, Makam Tak Bertanda Putraku
8.9
Kehancuran menyelimuti hatiku saat mengetahui Alpha Damian, pasanganku, menyembunyikan keluarga rahasia. Pengkhianatannya berujung maut; putraku tewas karena ketakutan melihat aksi bejatnya. Tak cukup membunuh anakku, Damian dan ibunya menyiksaku, membuang abu putraku, lalu membiarkanku mati di tangan Rogue. Aku berhasil selamat dari maut, namun alih-alih membalas dendam, aku memilih sihir terlarang untuk menghapus seluruh memori menyakitkan tentangnya.
Sampul Novel Jadi Istri Kedua Sang Ceo
9.4
Dunia Lania Herbert hancur saat Fero, kekasihnya, tewas demi menyelamatkannya dari kecelakaan maut. Didera rasa bersalah yang mendalam, Lania mencoba mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri ke mobil. Namun, ia justru terbangun di dimensi baru yang mengerikan di mana monster muncul dari Dungeon. Di tengah kekacauan dunia modern yang luluh lantak ini, Lania harus bertahan hidup dalam peran baru yang tak terduga sebagai istri kedua dari seorang CEO tangguh.
Sampul Novel Jodohnya yang Tak Diinginkan, Sihirnya yang Terlarang
9.2
Lima tahun mendampingi Alpha Bram, aku hanya mendapat pengkhianatan. Saat insiden lampu gantung maut terjadi, Bram justru menjadikanku tameng demi melindungi selingkuhannya, Bella. Tubuhku hancur dan roh serigalaku lumpuh, namun Bram justru tega melakukan ritual pemutusan ikatan suci kami. Rasa sakit itu menghentikan jantungku tepat saat sebuah rahasia besar terungkap: aku sedang mengandung ahli warisnya. Kini, penyesalan Bram tak lagi berarti bagi nyawaku yang hilang.
Sampul Novel Obat Omega Tak Dikehendaki Sang Alpha
9.7
Tiga tahun menjadi penyembuh kutukan Alpha Kaelan berakhir tragis. Meski menjanjikan komitmen, Kaelan justru memilih Lila dan mencampakkan aku tepat di hari ulang tahunku. Di bawah pengaruh licik Lila, Kaelan berubah menjadi penyiksa kejam yang tega menyakiti keluargaku demi fitnah. Saat ia mencoba memaksaku kembali, aku memilih memutus ikatan. Kini, aku berpaling ke kawanan lawan demi pasangan takdir sejatiku yang baru saja bangkit dari koma panjang.
Sampul Novel PANTHER & DEA
9.0
Panther, pembunuh bayaran yang menghabisi orang tuanya sejak kecil, jenuh dengan dunia gelap dan ingin pensiun. Namun, hartanya dikuras oleh mafia Edward Elmund. Demi uang tebusan, Panther menculik Natalia, putri Edward, tapi sang ayah menolak membayar. Di tengah pelarian, Sophie yang ia cintai justru berkhianat demi harta. Saat terpojok, muncul Dea, informan lama yang membantunya meraih kebebasan. Akankah Panther layak mendapatkan hidup normal setelah masa lalunya?