
Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
Bab 2
"Tante Sinta, maaf kami kirain siapa datang malam-malam begini... "Sahut Abang Ali ketika sudah membuka pintu.
"Masuk Tan, hmmm..." Sambil senyum menyambut Tante aku. Emang sih Tante aku suka banget ke rumah membawa makanan atau sayuran mentah hasil dari ladang. Tante Sinta adalah kakak tertua mama aku.
"Ini saya bawain opor ayam lho, kebetulan Tante syukuran habis panen padi kemarin." Jawabnya sambil meletakkan rantang makanan di atas meja tamu.
"Loh, kok Tante gak ngundang sih, kan bisa ke rumah aja, gak perlu repot-repot Tante bawain ke sini. Apalagi klo ke sana sendiri bisa makan lebih banyak lagi, kan? Hehehe..." Kekehku pada Tante Sinta, ambil ngamok rantang makanan tadi.
"Isshhh, kamu nih, bisa saja. Cuman kecil-kecilan saja kok, om kamu sendiri tuh yang selamatan hidangan makanannya." Sahutnya, sambil memukul lenganku saat hendak beranjak ke dapur.
"Tunggu ya Tan, aku pindahin dulu opornya ya." Teriakku dari bilik dapur.
"Yoo.."
"Oh ya Tante, tadi tuh kirain itu yang datang lagi sampai ngetik pintu berkali-kali. Soalnya kejadian kemarin malam ada yang ngetok pintu gitu, tapi gak ada siapa-siapa di sana!"
"Lah, jangan-jangan..." Tante jadi merinding lalu mengangkat bahunya.
"Apaan sih Tan?" Tanya Bang Ali, tiba-tiba muncul dari ruang dapur, iya sejak tadi Abang Ali tuh kebelet buang air.
"Li, kamu enggak dari sana kan?" Maksud Tante, kami tuh sudah tau. Yang pasti kalau ada kejadian aneh seperti ini, asalnya pasti dari sumber mata air kembar itu.
"Aku cuman datang ke sana untuk mandi kok!" Jawab Abang Ali, tapi keliatan ragu seperti menyembunyikan sesuatu.
"Iya saya tahu, tapi kamu pasti habis melakukan sesuatu di sana, kan?" Tanya Tante Sinta serius.
"Jawab bang!" Sahutku, menimpahi.
Anda Mungkin Juga Suka





