
Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
Bab 3
"Iya Abang habis ngelempar batu ke semak-semak, kirain ada ular di sana, rumput dan dahan-dahan daun kayu berisik banget saat aku sedang mandi. Yah, jadi aku lemparin deh!" Sahutnya.
"Ya Allah bang. Kan udah di bilangin jangan macam-macam di sana. Tau sendiri kan akibatnya."
Kebetulan suamiku, Abang Ali emang orang dari luar desa kami. Menikah denganku, karena kami tak sengaja ketemu di saat berlibur ke daerah lain. Kami sedang berpapasan dan dia gak sengaja menabrak ku, dan akhirnya dia meminta maaf lalu mentraktirku makan sebagai wujud permintaan maafnya. Kemudian kami bertukar kontak dan sering berkomunikasi dengan pendekatan masing-masing. Setahun aja kenalan, baru dia ngelamar aku saat itu.
Namaku Lia, anak sulung dari bapak Rahman dan ibu Ami. Kebetulan kami sudah memiliki rumah sendiri di kampung ini. Aku mengajak Abang Ali bertani di kampung ini, untuk menyambung hidup. Mama dan papaku juga ada di kampung dusun sebelah, jaraknya gak terlalu jauh hanya sekitar 2 kilometer.
Kami sekaligus ingin belajar hidup mandiri setelah berkeluarga. Tapi kami juga belum di karuniai anak padahal nikahnya udah hampir setahun lamanya.
Meskipun kami berada di bawah lereng gunung yang menjulang tinggi, tapi banyak menyimpan harta Karun, hasil cocok tanam sangatlah subur, tapi juga menyimpan banyak cerita misteri keanehan yang sering terjadi di kampung kami. Padahal kalau melihat dari suasananya, seperti biasa-biasa aja sih.
Bahkan ada satu kuburan yang sangat dianggap sakral, tepatnya berada di bukit gak terlalu jauh dari pemukiman warga. Berada di pinggir jalan yang menghubungkan satu desa ke desa lain. Tapi sangat jarang dilalui orang-orang karena jalannya masih rusak, licin jika turun hujan.
Katanya kuburan itu adalah petinggi kampung terdahulu, istilah di kampung kami adalah kuburan "PUANG" Derajatnya yang dianggap tinggi, sangat dihormati, bisa dikatakan keturunan ningrat atau berdarah biru.
Menurut cerita, jika ada yang lewat di sana melewati kuburan PUANG itu, dengan mengendarai kuda, pengendaranya harus turun berjalan kaki sambil menggiring kuda nya. Tujuannya untuk menghargai beliau yang dianggap wali itu. Klo enggak, bakal terjadi rintangan yang dihadapi mereka di jalan. Sehingga tempat kuburannya sangatlah istimewa di beri rumah-rumah kecil yang menaunginya.
Tak terlalu jauh dari kuburan PUANG itu, terdapat tempat angker juga yang berada di tengah jalanan, jika ada yang melewatinya sering mereka mendapati keanehan.
Pernah suatu ketika...
"Mau kemana, Kek?" Tanya seorang pengendara yang lewat situ, saat di waktu malam hari. Seorang kakek tua berdiri tepat di pinggir jalan, dari penampilannya seperti orang biasa saja.
Anda Mungkin Juga Suka





