
Misteri Bangku Kosong
Bab 2
Baru setelah bel berbunyi, dia berlari ke tempat duduknya, seakan-akan baru terbangun dari mimpi.
Aku menatap Laura dengan bingung. "Kenapa dia?"
Laura tidak menjawab. Matanya melebar dan kosong. Setelah beberapa saat, dia memaksakan senyum.
"Farah, jangan pedulikan meja ini. Jangan pedulikan aku."
"Dia akan kembali lagi."
Di kelas XI IPA 7, Laura adalah anak yang paling sering di-bully.
Meski dia cantik, pendiam, dan kalem, dia adalah siswa tidak mampu penerima beasiswa. Para siswa yang merasa lebih tinggi tidak mau menerimanya.
Aku tidak mengerti mengapa mereka harus mem-bully salah seorang siswa di kelas.
Dia menyuruhku untuk tidak memedulikannya, tapi aku tidak bisa.
Aku ingin menarik anggrek putih itu keluar dari lumpur dan membantunya mekar kembali.
Suara kapur di papan tulis berhenti. Guru selesai memberikan pekerjaan rumah dan membubarkan kelas.
Langit di luar jendela mendung meski bukan musimnya. Angin menderu menghantam bingkai jendela. Para siswa yang duduk di sebelah jendela terkena rintik-rintik hujan yang tertiup angin. Mereka buru-buru menutup jendela.
Langit menjadi gelap gulita dalam sekejap. Petir membelah awan, menyinari ruang kelas yang lampunya belum dinyalakan.
Wajah Paula pucat pasi. Bibirnya membuka dan menutup mengatakan sesuatu. Aku terlalu jauh dan tidak bisa mendengarnya, tapi aku dapat melihat dengan jelas dari gerak mulutnya bahwa dia berkata, "Maafkan aku."
Para siswa akhirnya berkemas, membawa buku-buku pelajaran yang berat dan mengunci pintu kelas.
Mereka tampak gugup, tapi mereka memasang senyum lebar. Satu per satu berjalan menuju meja dan kursi merah tua di sebelah Laura dan berpamitan.
"Sampai jumpa besok, Nadia!"
"Sampai jumpa, Nadia!"
....
Mereka berbaris seolah sedang menyelesaikan suatu tugas. Setelah berpamitan, mereka satu per satu meninggalkan kelas melalui pintu belakang.
Akhirnya, hanya aku dan Laura yang tersisa di dalam kelas.
Lampu masih belum dinyalakan. Saat petir menyambar, aku menangkap ekspresi di wajah Laura.
Wajahnya yang pucat semakin pucat. Senyum sinis mengembang di bibirnya.
Bibir indahnya terbuka lembut, "Sampai ketemu besok, Nadia."
Siapa Nadia?
Siapa yang mereka ajak bicara?
Suara guntur menggelegar.
Tampak ada seorang gadis duduk di meja dan kursi berwarna merah tua. Dia berlumuran darah dan sudut mulutnya terbelah membentuk lengkungan mengerikan yang melebihi batas.
Aku berkedip dan mencoba melihat lebih jelas, tapi sosok itu tidak terlihat lagi. Seolah aku sedang berhalusinasi.
Sensasi rasa dingin menjalar di punggungku. Aku mengambil tasku dan bergegas keluar dari kelas seakan-akan melarikan diri.
Keesokan harinya, aku memanfaatkan waktu istirahat siang untuk pergi ke ruang arsip sekolah, mencari foto-foto siswa dari tahun-tahun sebelumnya.
Memang ada seorang gadis bernama Nadia Larasati dalam foto kelas X IPA 7. Dia sangat mirip dengan sosok hantu yang kulihat kemarin.
Dia memakai kacamata dan berambut pendek sedagu. Dia terlihat biasa saja dan pemalu.
Petugas pengelola arsip melihatku memandangi foto kelas X IPA 7 dengan tatapan kosong. Dia menghampiriku dan berkata, "Oh, kelas ini. Ada anak yang nilainya sangat bagus, tapi sayangnya hasil nyontek."
Aku tidak penasaran dengan gosip semacam ini. Aku hanya mengangguk dan mengeluarkan ponsel untuk memotret foto itu.
Mata Nadia yang ada di ponselku berubah mengeluarkan air mata darah dan sudut mulutnya pecah-pecah. Seperti ada yang memotong kedua sisi mulutnya.
Aku kaget dan buru-buru ingin menekan tombol hapus, tapi Nadia kembali menjadi wajah malu-malunya seperti semula.
Mungkin aku terlalu lelah karena pindah rumah dan pindah sekolah, sehingga sering melihat yang tidak-tidak.
Aku kembali ke kelas aku dan mendapati bahwa anak-anak di kelas sering berbicara ke bangku itu.
"Nadia, makanan di kantin siang ini enak?"
"Nadia, kamu sudah ngerjain soal ini? Aku nggak bisa."
Anda Mungkin Juga Suka





