
Misteri Bangku Kosong
Bab 3
....
Aku semakin bingung, jadi aku bertanya pada Laura, "Laura, kamu kenal Nadia?"
Laura menunjuk meja di sebelahnya, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Aku lalu menepuk bahu siswa laki-laki yang duduk di depanku.
Dia berbalik dan menatapku bertanya-tanya.
"Nadia yang sering kalian panggil-panggil itu siapa? Setahuku, nggak ada yang namanya Nadia di kelas, 'kan?"
Kelas sangat ramai. Karena takut dia tidak mendengar ucapanku dengan jelas, aku agak mengeraskan suaraku.
Tapi kelas seketika sunyi. Siswa yang duduk di depanku buru-buru menoleh ke belakang dengan wajah pucat, memegangi kepalanya dan bergumam.
"Bukan salahku. Aku nggak tahu, aku nggak tahu."
Paula memaksakan senyum dan berkata, "Farah, kamu ini gimana? Nadia 'kan di sebelah Laura, kamu nggak lihat?"
Kelas menjadi hidup kembali.
Semua orang memperkenalkan Nadia dengan kata-kata masing-masing.
"Nadia sangat cantik. Kulitnya putih, matanya lebar, paling cantik di kelas kita! Masa kamu nggak merhatiin?"
"Iya, Farah, Nadia itu favorit di kelas kita. Jangan cuekin dia."
"Kulit Nadia mulus, alisnya tipis melengkung. Alis alami, bukan make-up. Ya 'kan, Nadia?"
"Aku iri sama warna bibir Nadia. Merahnya cerah alami. Lihat bibirku, jelek banget."
Mereka berebut untuk bicara, seperti takut terlambat.
Ketika aku menoleh ke belakang, meja dan kursi yang kosong masih tetap kosong.
Matahari tengah hari sedang terik-teriknya. Garis-garis sinarnya jatuh ke atas meja itu, membingkai kata "pelacur".
Laura tersenyum tipis.
Tampak persis seperti Nadia cantik yang mereka gambarkan.
Pelajaran olahraga sore itu gabungan dari dua kelas. Saat waktu bebas, Bastian menarik pergelangan tangan Laura, memaksa ditemani ke ruang peralatan untuk mengambil bola basket.
"Ayo Laura, waktu kita terakhir ke ruang peralatan itu asyik, 'kan?"
Mata Laura diwarnai rasa takut. Dia berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman Bastian.
Aku buru-buru melangkah maju dan melindungi tubuh Laura.
"Bastian, ambil benda seringan bola basket saja perlu ditemani anak perempuan?"
Bastian melepaskan pergelangan tangan Laura dan pergi dengan marah.
Sebelum aku sempat berkata apa-apa, Laura berkata dengan pandangan tertunduk, "Terima kasih."
Aku takut dia akan diganggu lagi, jadi aku berkata, "Aku bisa melawannya, Laura. Jangan takut aku kena masalah, panggil aku kapan saja kalau kamu butuh sesuatu."
Dia tiba-tiba mendongak, bekas tamparan yang masih membekas di wajahnya tampak sangat mencolok. Matanya yang cokelat gelap memeram banyak emosi yang tidak dapat kumengerti, termasuk benci, amarah, dan rasa tersentuh.
Dia menarik napas dalam-dalam. "Farah, kamu anak baik. Jangan pedulikan aku."
Melihat wajahku yang tidak mengerti, dia membisikkan sesuatu yang tidak dapat kupahami.
"Kamu tadi pagi bilang kalau kamu nggak bisa lihat Nadia. Kata-katamu itu membuat gembok di tubuhnya terbuka."
Aku segera bertanya apa maksudnya.
Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menggelengkan kepalanya tanpa suara dan berbalik pergi, duduk di dekat petak bunga.
Seorang siswa laki-laki kelas sebelah menghampiriku setelah melihat Laura pergi. "Kamu anak pindahan itu, ya?"
Dia memegangi bola basket dan tersenyum cerah, terlihat seperti anak yang supel.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan balik bertanya dengan sedikit bersemangat, "Kamu tahu ada yang namanya Nadia di kelas kami?"
Dia menggaruk kepalanya dan mencoba mengingat-ingat.
"Nadia ... ingat, ingat! Dia anak yang dulu mencontek waktu ujian. Memangnya kenapa? Kamu anak pindahan, 'kan? Harusnya kamu nggak tahu dia. Dia sudah meninggal."
Meninggal?
Lalu siapa yang mereka ajak bicara setiap hari?
Nadia itu tidak ada!
Ketika anak laki-laki itu melihat wajahku tiba-tiba pucat, dia menyodorkan kola yang masih tersegel kepadaku. "Kenapa? Lemas belum makan siang? Minum ini."
Aku menolak tawarannya, mencoba mengendalikan suaraku yang gemetar.
"Dia meninggal kenapa?"
"Kayaknya kecelakaan? Aku dengar dari anak-anak kelas kalian kalau Nadia itu secantik Laura. Tapi aneh, kenapa aku nggak pernah lihat gadis secantik itu sejak masuk?"
"Tapi," bisiknya sambil mencondongkan tubuh lebih dekat padaku. "Aku dengar katanya Nadia ini sangat terkenal. Sampai-sampai dia meninggalkan meja dan kursinya di kelas sebagai kenang-kenangan setelah kematiannya. Beneran ada meja kursi kosong punya dia di kelasmu?"
Benar.
Meja dan kursi tua berwarna merah yang dicoret-coret.
Langit kembali mendung.
Anda Mungkin Juga Suka





