
Missing You Like Crazy
Bab 2
***
Sarah Wijaya, wanita berusia 58 tahun yang kembali harus berduka setelah kehilangan orang tercintanya 15 tahun lalu, dan kini ia kembali harus kehilangan putera semata wayangnya yang meninggalkan seorang isteri dalam keadaan mengandung cucunya.
Setiap hari, ia harus mengingatkan Rania untuk tak lagi pergi ke bandara dan menjemput Adi yang masih belum ditemukan.
Setiap hari Sarah selalu menemani Rania tidur, karena pernah suatu hari, Rania tiba-tiba bangun tengah malam dan teringat Adi dan berniat untuk pergi ke bandara.
Lima tahun yang lalu, Sarah mempercayakan perusahaannya pada Adi. Setelah 10 tahun usai kepergian suaminya, ia yang melanjutkan perusahaan. Setelah dirasa Adi cukup mampu menggantikannya, ia pun menyerahkan semuanya pada anak tunggalnya itu.
Saat ini, Sarah terbaring berdua bersama menantunya. Ia mengusap rambut Rania yang terurai berantakan di atas bantal. Wanita berlesung pipi itu tengah tertidur pulas di sampingnya.
"Apapun yang terjadi, tetaplah bahagia, Rania." Sarah berbisik pelan dan tanpa terasa air matanya menetes. Dengan segera ia menyekanya, lalu memutuskan untuk tidur, karena besok ia harus kembali memeriksa perusahaan.
***
Pagi hari Rania sudah bersiap mengajar seperti biasanya, ia pun membereskan buku-buku yang akan ia bawa ke sekolah.
Saat itu, Sarah masuk dan membawa secangkir susu hangat dan juga beberapa potong roti di atas nampan untuk Rania sarapan.
"Rania, sebelum ke sekolah kau harus sarapan dulu," ujar Sarah lalu menaruh nampan itu di atas meja kerja Rania.
Rania tersenyum ke arah Sarah dan berkata, "Mengapa repot membawa ke kamar, Bu? Kita bisa sarapan bersama di meja makan, kan?" tanya Rania.
"Hari ini, ibu akan pergi ke kantor. Ibu harus melihat perkembangan perusahaan semenjak Adi tiada," jawab Sarah.
Rania menundukkan kepalanya, lalu tak lama ia kemudian mendongakkan wajahnya dan menatap wajah mertuanya itu. "Aku ikut, ya?" tanya Rania.
"Nanti saja kau menyusul usai kau mengajar."
"Baiklah."
"Kalau begitu, ibu pergi dulu. Kau hati-hati di jalan," ucap Sarah.
Sebelum pergi, Sarah mengelus perut Rania dan mensejajarkan wajahnya dengan perut Rania. "Nenek pergi dulu, ya? Baik-baik di perut ibu."
Hati Rania terasa hancur, saat melihat perlakuan mertuanya. Seharusnya, Adi juga turut melakukan hal itu. Mengelus perutnya dan mengajak buah hati mereka berbincang, tapi sayangnya, Rania hanya bisa berharap saja.
***
Rania sampai di sekolah tempatnya mengajar. Saat ia keluar dari mobil, ia dikejutkan oleh seorang siswa yang tiba-tiba muncul di depannya dengan setangkai bunga Lily di tangannya.
"Selamat pagi, Bu guru cantik!" sapa siswa bernama Nicholas atau biasa di panggil Nico.
"Selamat pagi!" ucap Rania lalu mengambil setangkai bunga kesukaan dia dan suaminya dari genggaman Nico.
"Kau pulang ke rumah, kan?" tanya Rania sambil berjalan beriringan dengan siswa yang ukuran tubuhnya lebih tinggi darinya itu.
"Mmm.. kakakku tidak menteror Bu guru, kan?" tanya Nico seraya menoleh ke arah wanita yang berjalan dengannya itu.
"Tidak. Kau belum menjawab pertanyaan ku!" Rania lalu menghentikan langkahnya dan balas menatap tajam Nico.
"Aku pulang, bu. Kau tanyakan saja pada kakakku!" ujar Nico berusaha meyakinkan Rania bahwa ia pulang ke apartemennya semalam.
"Syukurlah! Kembali ke kelas, aku harus pergi ke ruang guru." Rania pun berlalu begitu saja, meninggalkan Nico yang masih berdiri di tempatnya.
Rania memasuki ruang guru, ia adalah wali kelas di kelas 3a. Hampir semua siswa sangat menyukainya, karena pribadinya yang hangat. Ia sering kali dijadikan tempat berbagi cerita oleh para siswanya.
Terutama Nico, yang merasa hidupnya selalu sendiri. Ibunya telah meninggal usai melahirkannya, ayahnya pula meninggal karena kecelakaan saat Nico berusia lima tahun dan meninggalkannya bersama seorang kakak yang bersikap kurang baik padanya.
Saat bertemu Rania, Nico merasa menemukan sosok pengganti ibu baginya. Tak ada tempat untuk ia membagi keluh kesahnya, selain Rania.
Nico tumbuh menjadi anak yang penyendiri, ia bahkan hampir tak pernah bicara dengan kakaknya, jika bukan hal yang mendesak. Kakaknya selalu menganggap bahwa dirinya adalah seorang pembawa sial yang telah menyebabkan kedua orangtua mereka meninggal.
Karena itulah, Nico tak pernah pulang ke rumah dengan teratur, kadang ia tak pulang. Akibatnya, Rania yang selaku wali kelas Nico selalu menjadi sasaran amarah kakaknya karena Nico tak pernah menjadi anak yang baik.
Tapi Rania selalu menghadapi kakak Nico dengan tenang, dan selalu mengatakan jika tak hanya pendidik yang harus mendidik anak, tapi juga peran keluarga.
Nico mendatangi kelas dan menghampiri salah satu temannya yang bernama Daniel yang tengah membaca sebuah buku.
"Daniel, apa kau punya informasi tentang pekerjaan paruh waktu untukku?" tanya Nico sambil melihat sekeliling, takut jika Rania datang tiba-tiba ke kelas dan mendengar percakapan antara dia dan Daniel.
"Kerja paruh waktu? Kita sudah kelas tiga, harus fokus untuk ujian akhir," jawab Daniel sambil menutup buku yang sedari tadi ia baca.
"Aku tahu, tapi aku butuh uang."
"Butuh uang? Kakakmu kan seorang dokter, kau tak pernah diberi uang olehnya?" tanya Daniel.
"Jika kau tak mau memberi ku pekerjaan, jangan membahas tentang kakakku!" ujar Nico lalu pergi menuju tempat duduknya. Ia pun mencari-cari lowongan pekerjaan paruh waktu melalui internet.
Nico pun tersenyum saat melihat sebuah lowongan pekerjaan dan berniat untuk pergi ke sana usai pulang sekolah.
***
Jam sekolah telah usai, Rania keluar dari ruang guru dan bersiap untuk pulang. Ia pun berjalan beriringan dengan Sovia menuju tempat parkir sekolah.
"Kau ada waktu? Aku dan suamiku ingin mengajakmu makan malam bersama ibu mertuamu," ajak Sovia ia berencana untuk mencoba menghibur Rania yang pasti masih merasa terluka karena suaminya yang tak kunjung ditemukan.
"Aku tidak bisa, aku harus menjemput Adi di band...." ucapannya terhenti. Ia ingat jika ia belum menerima kabar terbaru dari Tim SAR tentang suaminya. "Maksudku, aku harus ke kantor. Ibu mertuaku sedang mengontrol perusahaan," jelasnya.
"Oh, begitu. Baiklah, lain kali kita jadwalkan makan malam bersama," ujar Sovia yang sedikit merasa kecewa, tapi ia harus paham posisi Rania saat ini.
"Tentu. Kalau begitu, aku pergi duluan."
"Ya, hati-hati. Salam pada ibu mertuamu."
Rania bergegas menuju mobilnya, saat ia membuka pintu mobil, ia melihat Nico terlihat buru-buru dan berlari saat keluar dari gerbang sekolah.
"Semoga anak itu tak membuat masalah lagi," gumamnya lalu masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi menuju kantor.
Saat di perjalanan, ia melihat jam menunjukkan pukul 14.00, ia pun berniat untuk membeli beberapa makanan dan juga minuman untuk ia bawa ke kantor, khawatir jika ibunya belum makan sesuatu.
Ia pun mampir di sebuah toko kue yang juga menjual kopi.
"Selamat datang!" Suara yang tak asing bagi Rania terdengar dari balik etalase.
Dengan cepat Rania menoleh dan melihat seseorang yang ia kenal tengah sibuk menata kue hangat di etalase toko.
"Nico, sedang apa kau di sini?" tanya Rania saat melihat Nico tengah memakai celemek hitam. Nico hanya membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat sosok Rania yang datang untuk membeli kue di sana.
"Aku..." Nico menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. "Aku.. bekerja di sini," jawabnya terbata.
Rania menghela nafasnya dengan halus, ia mendapat firasat jika sebentar lagi, akan ada yang menelponnya.
Kring! Kring!
Terdengar bunyi ponsel Rania dan terpampang nama 'Wali Nico'. Rania menunjukkan layar ponselnya pada Nico.
"Kau dalam masalah!" ucap Rania dengan ketus.
Anda Mungkin Juga Suka





