
Missing You Like Crazy
Bab 3
Nico meringis, ia tahu kakaknya pasti akan memarahi Rania. Rania pun mengangkat panggilan darurat dari kakak Nico.
"Selamat sore!" sapa Rania dengan nada tegas.
"Mengapa Nico tidak mengangkat teleponku, apa dia belum pulang?" tanya seseorang dibalik telpon Rania dengan ketus.
"Saya rasa anda menghubungi saya di waktu yang kurang tepat, karena jam sekolah sudah selesai dan di luar jam sekolah sudah bukan lagi tanggung jawab saya," jelas Rania lalu menutup panggilannya lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tak ingin terlalu panjang berdebat dengan kakak Nico yang bernama Nino.
"Aku sudah terlambat, berikan aku beberapa potong kue dan juga dua cappucino," pinta Rania.
Dengan segera Nico memberikan pesanan untuk Rania. Usai membayar dan mengambil pesanannya, Rania kembali menatap Nico dan berbisik, "Kita bahas masalah ini, besok!"
Nico tampak ketakutan, sementara Rania berjalan terburu-buru keluar lalu menuju perusahaan Zayn Group.
Sesampainya di sana, Rania langsung menuju ruangan yang dulu di tempati oleh Adi. Terlihat ibu mertuanya tengah melihat-lihat beberapa berkas.
Ruangan itu terlihat sedikit berantakan, Sarah lalu menutup berkas itu saat menyadari Rania masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa, bu?" tanya Rania yang melihat ibu mertuanya seperti sedang kebingungan.
"Keuangan perusahaan kita sedang menurun, beberapa investor mengundurkan diri semenjak Adi tiada," ujar Sarah lalu menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Rania menghampiri Sarah lalu memeluk wanita paruh baya itu. "Bu, aku akan membantu perusahaan ini kembali naik."
Sarah bangkit, "Kita sebaiknya menjual perusahaan ini saja, Rania," ucap Sarah pasrah sambil menatap lekat menantunya itu.
"Tidak, Bu. Kita harus mempertahankan perusahaan ini. Kita tidak bisa menyerah begitu saja," ujar Rania.
"Lalu bagaimana?" tanya Sarah. Rania diam, ia sendiri pun tak tahu bagaimana cara mempertahankan perusahaan itu.
"Mas Adi akan kembali, Bu. Aku akan menjemputnya," ujar Rania tiba-tiba lalu meraih tas nya hendak keluar dari ruangan itu. Sarah segera menahan Rania.
"Rania, bisakah kau berhenti pergi ke sana? Kita hanya perlu menunggu saja," ujar mertuanya berusaha membujuk Rania agar tak lagi pergi ke bandara.
"Bu, dia memintaku untuk menjemputnya. Jadi aku harus pergi. Dia akan pulang," jawab Rania seraya meninggalkan mertuanya itu.
Mertuanya tak bisa menahan lagi Rania yang sudah beberapa hari ini tetap memaksakan diri pergi ke bandara.
"Kau seharusnya menunggu saja, Rania," gumam wanita paruh baya itu seraya meneteskan air matanya saat melihat foto anak lelakinya yang bernama Adipati Zainuri yang terpajang di tembok ruangan itu.
Sarah merasa sedih setiap kali melihat menantunya itu pergi ke bandara hanya untuk memastikan kepulangan suaminya yang tak kunjung kembali. Rania selalu pulang dengan air mata, karena Adi tak juga menepati janjinya untuk pulang.
"Aku harus membawanya ke seorang psikiater. Dengan begitu, sedikit demi sedikit ia bisa belajar merelakan Adi," pungkasnya.
***
Sepekan sudah Adi tak ada kabar, tapi Rania masih berharap Adi pulang.
Rania berdiri di tempat tunggu seraya membawa seikat bunga dan juga banner bertuliskan "welcome back my husband, i miss you!". Itu yang dia lakukan setiap hari, selama sepekan ini.
Di kursi tunggu lain, seorang pria sedang duduk dan tengah asik dengan ponselnya. Pria itu baru saja datang dari Singapura, mendatangi sebuah seminar kedokteran.
"Kemana anak itu pergi?" tanya Nino pelan sambil melihat ponselnya dan beberapa kali menghubungi seseorang.
Terlihat seperti nya pria itu sedang menunggu seseorang, dan benar saja beberapa saat kemudian seseorang datang menghampiri pria itu dengan dua gelas kopi di tangannya.
"Dokter Nino, maaf membuatmu menunggu lama," ucap seorang pria yang terlihat lebih muda dari pria yang tengah menunggunya itu.
"Tak apa," jawab pria bermata sipit itu singkat, sambil berdiri dari tempat duduknya. Saat ia melangkahkan kakinya menuju keluar bandara, tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat sesosok wanita sedang berdiri sambil membawa seikat bunga sambil celingukan mencari seseorang.
"Ada apa, dokter?" tanya pria bernama Rangga yang berprofesi sebagai seorang dokter saraf itu. Tapi Nino, si dokter spesialis psikiater itu tak menjawabnya. Ia terus menatap Rania yang sedang berdiri tanpa mengerjapkan matanya.
"Wanita itu.. sepertinya ia sedang dalam keadaan yang tidak baik," ujar dokter bernama Nino yang belum melepaskan pandangannya pada Rania.
"Oh, aku dengar tentang wanita itu dari beberapa orang di sekitar sini saat aku membeli kopi untukmu, mereka mengatakan jika wanita itu telah menunggu suaminya pulang dari Singapura yang seharusnya telah kembali seminggu yang lalu. Kau tahu, suaminya adalah salah satu korban kecelakaan pesawat," jelas Rangga menceritakan semua yang ia dengar dari orang-orang.
"Apa? Bukankah semua korban telah di temukan meninggal?" tanya Nino yang masih tak beranjak dari tempatnya dan pandangannya masih menatap Rania.
"Satu korban masih dinyatakan menghilang, dan mereka mengatakan jika suami wanita itu lah yang diduga hilang," lanjut Rangga berbicara seolah tahu semua tentang Rania dan kejadian yang telah menimpa Adi.
"Oh begitu. Kalau begitu, ayo kita pergi!" Nino dan Rangga pun berjalan keluar dari bandara itu.
Saat ia hendak melangkah, ia mendengar seorang petugas bandara yang mencoba mengusir Rania.
"Maaf, nona, tapi semua penumpang dari Singapura sudah keluar semua," ujar petugas itu.
"Pasti suamiku masih di dalam." Rania memaksa untuk masuk, tapi petugas itu terus mencegahnya.
"Maaf, nona, kau harus keluar! Silahkan!" pinta petugas itu.
"Mas Adi!" teriaknya memanggil Adi, semua orang yang berada di sana pun menatap Rania.
"Pak, aku mohon, suamiku pasti masih di dalam."
"Maaf, nona. Silahkan keluar!"
Rania pun keluar sambil menangis, sementara itu, Nino hanya menatap Rania yang tengah dipaksa keluar dari bandara.
Tiba-tiba saja perut Rania terasa sakit dan kram. Ia pun meringis kesakitan. Nino yang melihatnya pun segera berlari dan memberikan kopinya pada Rangga.
"Hey, kau mau kemana?" tanya Rangga lalu menyusul Nino.
Nino segera menangkap tubuh Rania yang hampir terjatuh. "Kita ke rumah sakit," ujar Nino tiba-tiba membuat Rania terkejut sekaligus kebingungan mendapati orang asing mendekatinya.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja!" Rania mencoba berdiri, tapi sakit di perutnya semakin menjadi. "Aaah!" teriaknya.
"Rangga, cepat bantu aku! Bawa dia ke rumah sakit!" teriak Nino yang meminta agar Rangga membantu mengangkat Rania. Tapi, Rangga kebingungan karena kedua tangannya tengah menggenggam kopi.
"Cepat!" teriak Nino, lalu Rangga menaruh kopi itu di sembarang tempat dan membantu mengangkat tubuh Rania.
Rania pun akhirnya hanya bisa pasrah saat Rangga dan Nino membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Nino dan Rangga segera membawa Rania ke unit gawat darurat dan memanggil dokter lain untuk memeriksa keadaan Rania.
Setelah selesai memeriksa Rania, dokter itu pun keluar dan menemui Nino dan juga Rangga yang masih menemani Nino.
"Dia sedang hamil, dan dia mengalami kram perut karena mungkin terlalu banyak pikiran," ujar dokter bernama Nirwan.
"Apa? Hamil?"
"Siapa diantara kalian yang bertanggung jawab?" tanya dokter Nirwan itu dengan tatapan seolah tengah menyelidiki kedua dokter muda di depannya itu.
"Kami menemukannya di bandara tadi," jawab Nino dingin. Melihat ekspresi Nino yang datar pun membuat Nirwan terkekeh.
"Iya, aku tahu kalian masih lajang, temui dia! Aku harus pergi!"
Anda Mungkin Juga Suka





