Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Missing You Like Crazy

Missing You Like Crazy

Kebahagiaan Rania bersama suaminya, Adipati, hancur seketika saat kecelakaan pesawat tragis merenggut pria itu. Di tengah duka dan kondisi hamil, Rania harus menghadapi kenyataan bahwa Adi dinyatakan hilang. Namun, titik terang muncul beberapa bulan kemudian saat ia melihat sosok yang sangat mirip dengan Adi bersama wanita lain. Rania pun terjebak dalam misteri besar: apakah pria itu benar suaminya yang selamat, ataukah hanya orang asing yang memiliki wajah serupa?
Bab
Bagikan

Bab 3

Nico meringis, ia tahu kakaknya pasti akan memarahi Rania. Rania pun mengangkat panggilan darurat dari kakak Nico.

"Selamat sore!" sapa Rania dengan nada tegas.

"Mengapa Nico tidak mengangkat teleponku, apa dia belum pulang?" tanya seseorang dibalik telpon Rania dengan ketus.

"Saya rasa anda menghubungi saya di waktu yang kurang tepat, karena jam sekolah sudah selesai dan di luar jam sekolah sudah bukan lagi tanggung jawab saya," jelas Rania lalu menutup panggilannya lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tak ingin terlalu panjang berdebat dengan kakak Nico yang bernama Nino.

"Aku sudah terlambat, berikan aku beberapa potong kue dan juga dua cappucino," pinta Rania.

Dengan segera Nico memberikan pesanan untuk Rania. Usai membayar dan mengambil pesanannya, Rania kembali menatap Nico dan berbisik, "Kita bahas masalah ini, besok!"

Nico tampak ketakutan, sementara Rania berjalan terburu-buru keluar lalu menuju perusahaan Zayn Group.

Sesampainya di sana, Rania langsung menuju ruangan yang dulu di tempati oleh Adi. Terlihat ibu mertuanya tengah melihat-lihat beberapa berkas.

Ruangan itu terlihat sedikit berantakan, Sarah lalu menutup berkas itu saat menyadari Rania masuk ke dalam ruangannya.

"Ada apa, bu?" tanya Rania yang melihat ibu mertuanya seperti sedang kebingungan.

"Keuangan perusahaan kita sedang menurun, beberapa investor mengundurkan diri semenjak Adi tiada," ujar Sarah lalu menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

Rania menghampiri Sarah lalu memeluk wanita paruh baya itu. "Bu, aku akan membantu perusahaan ini kembali naik."

Sarah bangkit, "Kita sebaiknya menjual perusahaan ini saja, Rania," ucap Sarah pasrah sambil menatap lekat menantunya itu.

"Tidak, Bu. Kita harus mempertahankan perusahaan ini. Kita tidak bisa menyerah begitu saja," ujar Rania.

"Lalu bagaimana?" tanya Sarah. Rania diam, ia sendiri pun tak tahu bagaimana cara mempertahankan perusahaan itu.

"Mas Adi akan kembali, Bu. Aku akan menjemputnya," ujar Rania tiba-tiba lalu meraih tas nya hendak keluar dari ruangan itu. Sarah segera menahan Rania.

"Rania, bisakah kau berhenti pergi ke sana? Kita hanya perlu menunggu saja," ujar mertuanya berusaha membujuk Rania agar tak lagi pergi ke bandara.

"Bu, dia memintaku untuk menjemputnya. Jadi aku harus pergi. Dia akan pulang," jawab Rania seraya meninggalkan mertuanya itu.

Mertuanya tak bisa menahan lagi Rania yang sudah beberapa hari ini tetap memaksakan diri pergi ke bandara.

"Kau seharusnya menunggu saja, Rania," gumam wanita paruh baya itu seraya meneteskan air matanya saat melihat foto anak lelakinya yang bernama Adipati Zainuri yang terpajang di tembok ruangan itu.

Sarah merasa sedih setiap kali melihat menantunya itu pergi ke bandara hanya untuk memastikan kepulangan suaminya yang tak kunjung kembali. Rania selalu pulang dengan air mata, karena Adi tak juga menepati janjinya untuk pulang.

"Aku harus membawanya ke seorang psikiater. Dengan begitu, sedikit demi sedikit ia bisa belajar merelakan Adi," pungkasnya.

***

Sepekan sudah Adi tak ada kabar, tapi Rania masih berharap Adi pulang.

Rania berdiri di tempat tunggu seraya membawa seikat bunga dan juga banner bertuliskan "welcome back my husband, i miss you!". Itu yang dia lakukan setiap hari, selama sepekan ini.

Di kursi tunggu lain, seorang pria sedang duduk dan tengah asik dengan ponselnya. Pria itu baru saja datang dari Singapura, mendatangi sebuah seminar kedokteran.

"Kemana anak itu pergi?" tanya Nino pelan sambil melihat ponselnya dan beberapa kali menghubungi seseorang.

Terlihat seperti nya pria itu sedang menunggu seseorang, dan benar saja beberapa saat kemudian seseorang datang menghampiri pria itu dengan dua gelas kopi di tangannya.

"Dokter Nino, maaf membuatmu menunggu lama," ucap seorang pria yang terlihat lebih muda dari pria yang tengah menunggunya itu.

"Tak apa," jawab pria bermata sipit itu singkat, sambil berdiri dari tempat duduknya. Saat ia melangkahkan kakinya menuju keluar bandara, tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat sesosok wanita sedang berdiri sambil membawa seikat bunga sambil celingukan mencari seseorang.

"Ada apa, dokter?" tanya pria bernama Rangga yang berprofesi sebagai seorang dokter saraf itu. Tapi Nino, si dokter spesialis psikiater itu tak menjawabnya. Ia terus menatap Rania yang sedang berdiri tanpa mengerjapkan matanya.

"Wanita itu.. sepertinya ia sedang dalam keadaan yang tidak baik," ujar dokter bernama Nino yang belum melepaskan pandangannya pada Rania.

"Oh, aku dengar tentang wanita itu dari beberapa orang di sekitar sini saat aku membeli kopi untukmu, mereka mengatakan jika wanita itu telah menunggu suaminya pulang dari Singapura yang seharusnya telah kembali seminggu yang lalu. Kau tahu, suaminya adalah salah satu korban kecelakaan pesawat," jelas Rangga menceritakan semua yang ia dengar dari orang-orang.

"Apa? Bukankah semua korban telah di temukan meninggal?" tanya Nino yang masih tak beranjak dari tempatnya dan pandangannya masih menatap Rania.

"Satu korban masih dinyatakan menghilang, dan mereka mengatakan jika suami wanita itu lah yang diduga hilang," lanjut Rangga berbicara seolah tahu semua tentang Rania dan kejadian yang telah menimpa Adi.

"Oh begitu. Kalau begitu, ayo kita pergi!" Nino dan Rangga pun berjalan keluar dari bandara itu.

Saat ia hendak melangkah, ia mendengar seorang petugas bandara yang mencoba mengusir Rania.

"Maaf, nona, tapi semua penumpang dari Singapura sudah keluar semua," ujar petugas itu.

"Pasti suamiku masih di dalam." Rania memaksa untuk masuk, tapi petugas itu terus mencegahnya.

"Maaf, nona, kau harus keluar! Silahkan!" pinta petugas itu.

"Mas Adi!" teriaknya memanggil Adi, semua orang yang berada di sana pun menatap Rania.

"Pak, aku mohon, suamiku pasti masih di dalam."

"Maaf, nona. Silahkan keluar!"

Rania pun keluar sambil menangis, sementara itu, Nino hanya menatap Rania yang tengah dipaksa keluar dari bandara.

Tiba-tiba saja perut Rania terasa sakit dan kram. Ia pun meringis kesakitan. Nino yang melihatnya pun segera berlari dan memberikan kopinya pada Rangga.

"Hey, kau mau kemana?" tanya Rangga lalu menyusul Nino.

Nino segera menangkap tubuh Rania yang hampir terjatuh. "Kita ke rumah sakit," ujar Nino tiba-tiba membuat Rania terkejut sekaligus kebingungan mendapati orang asing mendekatinya.

"Tidak perlu, aku baik-baik saja!" Rania mencoba berdiri, tapi sakit di perutnya semakin menjadi. "Aaah!" teriaknya.

"Rangga, cepat bantu aku! Bawa dia ke rumah sakit!" teriak Nino yang meminta agar Rangga membantu mengangkat Rania. Tapi, Rangga kebingungan karena kedua tangannya tengah menggenggam kopi.

"Cepat!" teriak Nino, lalu Rangga menaruh kopi itu di sembarang tempat dan membantu mengangkat tubuh Rania.

Rania pun akhirnya hanya bisa pasrah saat Rangga dan Nino membawanya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Nino dan Rangga segera membawa Rania ke unit gawat darurat dan memanggil dokter lain untuk memeriksa keadaan Rania.

Setelah selesai memeriksa Rania, dokter itu pun keluar dan menemui Nino dan juga Rangga yang masih menemani Nino.

"Dia sedang hamil, dan dia mengalami kram perut karena mungkin terlalu banyak pikiran," ujar dokter bernama Nirwan.

"Apa? Hamil?"

"Siapa diantara kalian yang bertanggung jawab?" tanya dokter Nirwan itu dengan tatapan seolah tengah menyelidiki kedua dokter muda di depannya itu.

"Kami menemukannya di bandara tadi," jawab Nino dingin. Melihat ekspresi Nino yang datar pun membuat Nirwan terkekeh.

"Iya, aku tahu kalian masih lajang, temui dia! Aku harus pergi!"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PJM" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PJM
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel [BUKAN] PELAKOR
8.0
Irish harus menelan pil pahit saat penantiannya selama empat tahun dikhianati. Galen, pria yang menjanjikan kesetiaan, justru memilih bersanding dengan wanita lain. Terluka oleh janji manis yang berubah menjadi empedu, Irish tak tinggal diam. Demi cinta dan masa depan, ia nekat mengambil peran sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Galen. Irish bertekad merebut kembali hatinya. Akankah Galen pulang, ataukah perjuangan nekat Irish berakhir sia-sia?
Sampul Novel Delayed Love
9.1
Lima tahun berlalu sejak Reina Valeria berjuang mengubur luka hati dan melupakan sosok pria dari masa lalunya. Namun, takdir berkata lain saat ia justru dipertemukan kembali dengan Rian Nataharja, yang kini menjabat sebagai manajernya di kantor. Pertemuan ini membangkitkan memori lama saat mereka masih sekolah. Apa rahasia di balik hubungan si siswa teladan dan siswi bodoh ini? Reina pun harus menghadapi kembali perasaan yang sempat tertunda.
Sampul Novel Dikhianati Manager Diperjuangkan Dokter
9.4
Winda menemukan bukti mengejutkan yang memicu kecurigaan bahwa suaminya menjalin hubungan gelap dengan ibu kandungnya sendiri. Namun, saat ia mencoba membongkar skandal tersebut, sebuah pengakuan tak terduga dari sang suami justru mematahkan semua dugaannya. Teka-teki mengenai sosok selingkuhan yang sebenarnya pun mulai terkuak. Sanggupkah Winda menghadapi kenyataan pahit ini? Akankah ia memaafkan pengkhianatan itu atau justru memilih melabuhkan hatinya pada sosok lain?
Sampul Novel Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok
8.2
Gala adalah pria yang dihantui rasa takut akan luka emosional, sementara Lingga merupakan sosok haus popularitas yang justru membenci sanjungan. Di balik topeng kemunafikan, keduanya terjebak dalam hubungan penuh ancaman dan pemerasan untuk meraih kebahagiaan semu. Kolaborasi antara jiwa yang fasik dan munafik ini melahirkan dinamika cinta yang destruktif, di mana mereka saling menyakiti demi memuaskan hasrat batin serta obsesi gelap masing-masing.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Amber Lim, sosialita cantik dengan reputasi buruk sebagai perusak hubungan, memutuskan untuk bertobat. Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, ia nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Namun, Amber dirampok dan terdampar di hutan beku. Satu-satunya harapan hidupnya adalah pria misterius bernama Tuan Dingin. Duda yang membenci wanita ini dicap kanibal oleh warga sekitar. Akankah Amber mampu meluluhkan hatinya atau justru menjadi korban kebencian sang pria?