
Miss Liar
Bab 2
***
“Lo mencemaskan wanita depan kamar kita?” tanya Roy yang melihat Bayu keluar masuk kamar tinggal nya.
Bayu hanya terdiam. Sesekali ia keluar tanpa alasan lalu kembali dengan muka muram.
“Wanita itu tidak pernah gue lihat lagi. Apa terjadi sesuatu dengannya?” tanya Bayu dengan khawatir.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Ayo kita keluar.” Roy menarik tangan Bayu untuk mengikutinya.
“Mau apa, Bro?”
“Ikut aja!”
“Kenapa kita di sini? Mau apa?”
Roy sengaja mengajak Bayu menemui wanita yang Bayu sukai untuk tahu keadaannya. Tiga kali Roy mengetuk pintu. Namun, tidak ada yang menyahut dari dalam rumah. Mereka pun terkejut mengetahui sang pemilik rumah tepat di belakang mereka.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Ohh … Nona maaf kami sepertinya salah kamar.” Sahut Roy dan segera berlalu dari hadapan Sandra.
“Kamu lihat kan, wanita itu baik-baik saja.” Roy meyakinkan Bayu.
Bayu menghentikan langkahnya dan berbalik menuju Sandra.
“Nama saya Bayu. Bayu Santoso.” Bayu mengulurkan tangan kanan nya kepada Sandra.
Sandra hanya terdiam dan membuka kunci kamar tinggalnya, dan meninggalkan Bayu yang termangu dalam kebisuan.
***
Matahari pagi menyapa dengan kehangatannya melalui celah jendela yang sengaja dibuka oleh Sandra. Tangan kanannya memegang gelas berwarna putih berisikan teh hangat. Sesekali ia memeriksa berkas untuk persiapan wawancara kerja. Wanita kurus ini teringat saat terakhir bersama Raya.
“Ini berkas yang akan kamu butuhkan saat di Ibukota nanti.” Raya menyodorkan amplop besar berwarna coklat.
Sandra langsung membuka dan mendapati berkas ijazah, transkrip nilai, juga sertifikat, isi dari amplop itu.
“Semoga kamu berhasil mendapatkan pekerjaan bagus.” Raya menambahkan.
Sandra melihat kembali secara detail perlengkapan berkasnya. Ia yakin tidak ada yang akan mengetahui bahwa ijazah, transkrip nilai, dan sertifikat itu adalah palsu. Wanita ambisius ini yakin semua akan berjalan sesuai rencananya.
Jam dinding pun berbunyi menandakan tepat pukul tujuh pagi. Sandra bergegas menuju kantor TVJ sepagi mungkin, agar tidak terlambat. Saat pintu kamar tinggalnya ia buka. Bayu tepat berada di depan pintunya. Mereka berdua nampak kaget.
“Mau apa Anda pagi begini di depan pintu saya?” tanya Sandra.
“Maaf membuat Nona kaget. Saya ingin berbagi roti lapis ini untuk sarapan.” Bayu memberikan sebuah kotak kecil berwarna hijau dengan tutup transparan, sehingga roti lapis yang ada didalamnya terlihat jelas dan nampak menggiurkan.
“Terima kasih. Tapi maaf saya tidak menerima pemberian dari orang yang tidak di kenal.” Kata Sandra dengan muka datar dan segera berlalu meninggalkan Bayu.
Roy yang melihat temannya di tolak berkali-kali oleh wanita cantik itu tertawa terbahak-bahak dan mencibir Bayu.
“Udahlah, Bro. Ngapain harus susah payah ngejar wanita itu. Ayolah kita ke lokasi proyek. Ada banyak kerjaan menanti.” Ajak Roy pada Bayu.
***
“Kamu tahu ini apa? Kamu nggak lihat baju saya basah karna air kotor itu.” Bentak seorang wanita kepada office girl di lobi kantor.
Awalnya Sandra mendiamkan perbuatan karyawati itu. Namun, ia merasa terganggu karena ulah salah satu pegawai di TVJ memarahi office girl yang usianya terbilang cukup senja.
“Maaf mbak, ada apa ya. Saya lihat mbak dari tadi memarahi Ibu ini?” Sandra mencoba menengahi.
Karyawati itu melihat dalam-dalam tampilan Sandra dan memperhatikan pakaian yang Sandra kenakan.
“Kamu bukan karyawan sini kan. Ngapain ikut campur!” bentak wanita itu kepada Sandra.
“Tapi saya terganggu dengan sikap mbak kepada Ibu ini. Mungkin Ibu ini tidak sengaja. Harusnya mbak bisa lebih sabar dan menahan emosi.” Jelas Sandra.
Rupanya perselisihan ini dilihat oleh Hardy CEO TVJ yang baru tiba di kantor pagi ini. Ia memperhatikan secara seksama apa yang dilakukan karyawati kepada office girl dan Sandra yang mencoba menyudahi pertikaian itu. Hardy tertegun atas Tindakan yang dilakukan oleh Sandra.
“Siapa wanita yang berkemeja putih itu. Sepertinya bukan karyawan di sini?” tanya Hardy kepada salah satu direktur TVJ.
“Wanita itu kayaknya salah satu kandidat untuk interview pagi ini, Pak.”
“Coba kamu kirimkan ke ruangan saya cv wanita itu secepatnya.” Perintah Hardy.
“Baik Pak.”
Ternyata sebelum memasuki lobi kantor. Hardy telah melihat Sandra di parkiran mobil. Sandra kala itu turun dari taxi sambil menenteng sepatunya. Lelaki dengan aura yang penuh pesona ini memperhatikan dari dalam mobil miliknya. Kemudian Sandra duduk sambil memukul hak salah satu sepatu yang sol nya agak terlepas. Hardy merasa simpati dengan apa yang dilakukan Sandra, ditambah ia melihat bahwa Sandra orang pemberani dan peka dengan lingkungan sekitar. Seperti perlakuan Sandra yang membela office girl di lobi tadi.
Lamunan Hardy pun buyar kala mendengar pintu ruangannya di ketuk.
“Pagi, Pak. Ini saya bawakan cv salah satu pelamar tadi.” Direktur tersebut menyerahkan amplop berisi data diri Sandra.
Hardy langsung membuka isi amplop tersebut dan mulai membaca tiap lembar dokumennya dengan wajah cerah lalu berkata, “Terima wanita ini. Pekerjakan dia. Saya ingin dia jadi salah satu karyawan TVJ.”
Direktur itu pun langsung terbelalak mendengar ucapan sang CEO secara langsung dan cepat memutuskan perihal penerimaan karyawan. Namun, ia tidak bisa menolak perintah, hanya bisa mengiyakan dan mewujudkan hal tersebut.
“Satu lagi. Setelah pelamar itu dinyatakan lulus. Saya ingin bertemu dengannya.” Hardy menambahkan.
“Baik, Pak.”
***
“Nona Sandra Amelia selamat Anda diterima di TVJ. Silahkan ikut saya karena ada yang ingin bertemu dengan anda.”
Rasa haru dan bahagia menyelimuti Sandra. Tanpa pikir panjang wanita cerdas ini mengikuti arahan tim HRD nya ke ruang Direktur untuk menemui CEO. Sandra pun ditinggal dan langsung mengetuk pintu ruangan. Ia pun disambut oleh Hardy yang telah menunggu.
“Selamat Sandra. Selamat bergabung di perusahaan TVJ. Saya harap kamu bisa berkontribusi dengan sangat baik.” Hardy pun mengulurkan tangan kanan nya kepada Sandra.
Dengan cepat Sandra menyambut uluran tangan dan menjabatnya erat dan berkata, “Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha dan bekerja keras.”
Hardy tersenyum dan sesaat ia merasakan pesona Sandra berbeda.
“Oh iya. Sepatu Nona apa ada masalah. Saya lihat pagi tadi di parkiran …”
“Oh … sepatu saya. Saya buru-buru tadi pagi takut terlambat. Jadi saya pakai sepatu asal saja. Taunya hak nya lepas.” Sandra berkelit agar tidak terlihat menyedihkan di depan atasannya.
Hardy tertawa mendengar penjelasan Sandra. Entah mengapa CEO yang banyak disukai wanita ini bertanya ukuran sepatu Sandra. Sandra sedikit terkejut mendengarnya.
“39, Pak,” jawab Sandra singkat.
“Mulai besok kamu sudah bisa bekerja di sini.” Lanjut Hardy dengan wajah puas.
Sandra pamit dan langsung pulang menuju rumahnya. Dalam perjalanan pulang. Ia ingin sekali membagikan cerita bahagia ini kepada Raya. Namun, ia takut nomor teleponnya diketahui oleh Roki atau Marko. Sandra hanya bisa menunggu Raya menelponnya.
Sesampainya di kamar tinggal, Sandra terkejut mendapati sebuah paper bag di depan pintu kamarnya. Ia segera memeriksa dan mendapati sebuah kotak sepatu. Sandra membuka nya. Ternyata isi nya adalah sepasang sepatu kerja berwarna coklat dengan hak tiga centimeter. Ada sebuah kartu yang berisikan identitas pengirim. Tertulis Hardy Caksono, CEO TVJ. Seperti mendapatkan keberuntungan besar. Sambil menyelam minum air. Pepatah itulah yang menjadi perumpamaan Sandra kini. Ia sudah menerka bahwa lelaki yang ingin berjumpa dengannya tadi terpikat olehnya. Sandra sengaja ikut terlibat dalam insiden kecil di lobi perusahaanya, agar seseorang yang punya pengaruh di TVJ melihat dan tertegun atas perbuatannya. Akhirnya upik abu berubah menjadi cinderela dengan memiliki sepasang sepatu kaca sebagai permulaan permainannya.
Anda Mungkin Juga Suka





