
Miss Liar
Bab 3
Tugas pertama Sandra adalah menyiapkan bicang santai bersama para anak muda yang mempunyai pengaruh besar di sebuah perusahaan. Ia didapuk untuk menghubungi calon bintang tamu. Kali ini ia harus bertemu dengan CEO muda di Perusahaan Mikola.
“Sandra, ini adalah profil bintang tamu kita minggu depan. Kamu bisa menemui nya. Di sana lengkap tertera alamat dan no teleponnya. Bisa kamu hubungi dulu untuk janji bertemu, takutnya pas kamu ke kantor nya, orangnya nggak ada.” Perintah atasan Sandra pagi ini.
“Baik, Pak,” jawab Sandra cepat dan mengambil portofolio yang diberikan atasannya.
Ia membaca setiap rinci isi profil calon bintang tamu dalam acara nya. Tanpa buang waktu Sandra segera memohon izin menuju perusahaan Mikola. Pintu lift hampir tertutup, untungnya masih ada celah bagi tangan Sandra untuk masuk. Sandra terkejut ada sosok lelaki yang mengiriminya sepasang sepatu berada di lift yang sama. Ia hanya tersenyum lalu menundukkan kepala tanda menyapa. Lelaki berbadan tinggi kurus itu hanya membalas dengan senyum.
Lantai demi lantai dilalui. Satu persatu orang keluar. Lalu tibalah saat Sandra dan Hardy hanya berdua di dalam lift.
“Sepertinya sepatu itu nyaman digunakan?” tanya Hardy memulai percakapan.
“Terima kasih atas sepatunya, Pak. Saya sangat nyaman memakainya.” Kata Sandra sambil tersenyum.
“Kamu mau tugas keluar. Kebetulan saya juga akan keluar kantor. Sekalian saja saya antar.” Hardy mencoba mendekati Sandra dengan tatapan tajamnya.
Sandra salah tingkah melihat tatapan Hardy. “Saya bisa naik bus saja, Pak.”
“Kamu yakin?”
“Iya, Pak.”
“Sebagai gantinya, saya minta nomor telepon kamu.” Hardy menyodorkan telepon genggamnya kepada Sandra.
Sandra tidak berani menolak. Ia mengambil telepon genggam milik Hardy dan mulai mengetik angka demi angka nomor teleponnya.
“Ini, Pak.” Sandra memberikan telepon genggam Hardy
“Akan saya hubungi kamu. Saya suka melihat kamu ada di sini. Aura kamu yang saya suka.”
Pintu lift terbuka dan Hardy keluar dengan senyuman lebar. Sandra sedikit menjaga jarak. Ia mengatur detak jantungnya yang tidak karuan. Mencoba bersikap seperti biasa. Dalam pikirannya ia bisa memanfaatkan Hardy yang sedang terpesona olehnya.
***
“Pak Bayu dan Pak Roy dimana ya?” tanya Nina kepada staff nya.
“Pak Bayu dan Pak Roy barusan keluar, Bu. Katanya mau ke lokasi proyek.”
“Oke. Makasih ya.” Wanita cantik dan lembut itu segera mengambil gawainya untuk menelpon seseorang.
“Kalian di mana? Kenapa hanya aku yang nggak pernah di ajak ke lokasi proyek.” Protes Nina di balik teleponnya.
“Lo memangnya udah pulang dari Singapur?” tanya Bayu dari seberang telepon.
“Iya … gue udah di kantor. Buruan balik gue kangen kalian.”
“Kangen Roy kali. Sorean lah kita balik. Ketemu di café biasa aja.” Kata Bayu seraya menggoda Nina.
“Gue kangen lo. Puas lo!” Nina menutup teleponnya dengan kesal.
Ketika Nina bergumam sendiri karena ejekan Bayu. Ia tidak sadar ada Sandra yang sedari tadi memperhatikannya.
“Nina …?” tanya seorang wanita dihadapannya.
“Sandra …? Tanya Nina dengan wajah menerka-nerka.
“Aku nggak nyangka kita bisa ketemu lagi setelah sekian lama kamu menghilang.” Jelas Sandra dengan raut muka sinis.
“Kamu di Jakarta. Kamu kerja di Jakarta?” tanya Nina penasaran.
“Iya. Aku kerja di TVJ. Kamu kerja di sini ya. Kebetulan aku mau ketemu dengan CEO Mikola buat bintang tamu minngu depan. Bisa bantu aku ketemu?”
Nina hanya terdiam dan merasa tak percaya akan bertemu kembali dengan sahabat kecilnya.
"Nina!” Sandra menepuk bahu Nina.
“Oh iya … gimana, San?” tanya Nina dengan kebingungan.
“Aku mau ketemu sama CEO Mikola. Bisa?”
“Duh … lagi di luar, lagi lihat lokasi proyek. Baliknya sore. Besok kamu ke sini lagi deh.”
“Aku tungguin aja di café seberang kantor kamu. Temenin yuk” ajak Sandra.
“Maaf Sandra. Aku lagi banyak kerjaan. Aku nggak bisa temanin kamu. Kamu sendirian aja nggak apa-apa kan. Aku pamit duluan ya.” Nina melangkahkan kaki nya dengan cepat.
“Dasar sombong. Masih aja kayak nggak ada salah.” Umpat Sandra.
***
“Raya akhirnya kamu nelpon aku.” Kata Sandra melalui telepon genggamnya.
“Sebegitunya rindu sama aku.” Goda Raya dari seberang telepon.
“Banyak banget yang mau aku certain. Kamu ingat Nina kan. Kamu tahu, aku ketemu Nina barusan. Kayaknya dia benar-benar jadi orang kaya sekarang karena kejadian tujuh belas tahun lalu.” Kata Sandra dengan nada sedikit kesal.”
“Ngapain kamu masih ingat kejadian itu. Udah lama banget. Aku aja udah lupa.” Jawab Raya.
“Aku nggak akan bisa lupain, Ya. Nggak akan pernah bisa.”
“Dia nanyain kabar aku, nggak?” tanya Raya.
“Kabar aku aja nggak ada ditanya apa lagi kabar kamu. Ya, aku keterima kerja di TVJ sebagai tim kreatif. Dan kamu tahu. Aku dapat hadiah sepasang sepatu dari CEO nya.” Sandra sedikit pamer.
“Kok bisa?” tanya Raya dengan nada penasaran.
“Cerita nya lumayan lucu sech, dan tadi pagi dia minta nomor handphone ku. Ya aku kasih lah. Siapa tahu bisa aku manfaatin.” Sandra tertawa.
“Asal kamu bahagia. Tapi ingat hati-hati. Nanti istrinya marah.” Pesan Raya.
Sandra hanya tertawa. “Kabar Ayah gimana?”
“Aku nelpon kamu mau kasih tau kalo ayah kamu lagi sakit. Berapa hari ini aku nggak lihat Roki dan Marko. Kabarnya mereka ke Jakarta nyari kamu. Kamu harus waspada.”
Telepon genggam Sandra berbunyi menandakan ada sebuah pesan teks masuk yang menggangu teleponnya bersama Raya. Ketika di buka ternyata sebuah pesan dari Hardy untuk mengajak Sandra bertemu. Sandra tidak menghiraukan pesan nya dan kembali melanjutkan perbincangan bersama Raya di telepon.
“Aku kayaknya di kejar sama anak buahnya Roki pas sampai di stasiun, Ya. Mungkin preman itu langsung hubungi Roki dan ngasih tahu tempat tinggal ku. Aku harus gimana, Ya.” Nada suara Sandra berubah menjadi kalut.
“Baiknya kamu pindah daripada kamu ditangkap oleh Roki. Kamu bisa hubungi aku kapanpun kamu mau. Nggak usah nunggu aku nelpon duluan. Nomor kamu aman.” Kata Raya mencoba menenangkan sahabatnya.
“Makasih ya Raya. Kamu selalu ada buat aku.”
“Iya. Kamu hati-hati ya di sana. Semoga kamu bisa cepat ketemu sama ibu kandung kamu.” Raya memutuskan teleponnya.
Kali ini Sandra merasa ketakutan sendiri. Ia tidak tahu harus bersembunyi di mana agar Roki dan Marko tidak bisa menemukannya. Ia mencoba melihat kembali pesan teks dari Hardy. “Mungkin Pak Hardy bisa membantu.” Kata nya dalam hati.
Bisa, Pak. Sekarang saya akan kembali ke kantor. Sebuah balasan dari Sandra untuk Hardy.
Tidak lama kemudian telepon genggam Sandra berbunyi. Dilihatnya nama Hardy tertera di layar. Ia pun langsung menjawab.
“Selamat sore, Pak.” Sapa Sandra.
“Sandra, kamu temui saya di hotel labirin. Akan saya kirimkan alamatnya. Saya perlu teman cerita. Kamu nggak perlu kembali ke kantor. Kamu kan tugas luar juga. Kita ketemu di lobi hotel ya.” Hardy langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Sandra.
Wanita penuh ambisi ini awalnya merasa ragu. Namun, keteika ia ingat Roki dan Marko bisa saja menemukannya, Sandra bergegas beranjak dari kursi cafe dan menaiki taxi agar cepat sampai di tujuan.
Sandra menumpangi taxi dengan tidak henti melihat argo yang terus berjalan. Ia berharap uangnya cukup untuk membayarnya. Uang pemberian Raya sudah mulai menipis. Ia tidak tahu harus bagaimana biaya hidup untuk minggu depan. Hidup di kota besar sangat melelahkan baginya. Selain pengeluaran berpuluh kali lipat dengan biaya hidupnya di desa, debu dan polusi membuat Sandra gerah. Ia kembali terbayang penampilan Nina saat bertemu tadi, dari ujung rambut hingga ujung kaki semua seperti tertata begitu mewah. Sahabat kecilnya dulu kini telah berubah menjadi wanita anggun dan berkelas. Sangat berbeda dengan Sandra ataupun Raya.
“Mbak kita sudah sampai di tujuan.” Kata pengemudi taxi yang menyadarkan lamunan panjang Sandra.
Anda Mungkin Juga Suka





