
Merenda Cinta
Bab 3
Sebuah mobil SUV warna hitam melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat kejadian. Tak sempat melihat nomor polisinya, kini gadis dengan rok lipit warna dusty itu fokus pada sosok renta yang terjatuh di pinggir jalan. Ia menoleh kanan kiri berusaha mencari bantuan. Namun, situasi sangat sepi.
Ia melihat motor matic melaju dengan kecepatan sedang tengah melintas. Gegas ia menyetopnya. Memintanya untuk membawa korban tabrak lari ke rumah sakit terdekat. Setelah memesan taksi online, tubuh renta sang kakek segera dibawa ke rumah sakit.
“Help me, please. Kakek ini perlu bantuan. Bawa ke rumah sakit, ya. Aku ada acara sama teman-temanku. Ini mungkin diperlukan saat di rumah sakit nanti.”
Gadis berbaju putih mutiara itu menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada lelaki di hadapannya. Namun, dengan sopan lelaki muda yang masih menggunakan helm fullface-nya itu menolaknya.
Merasa tak dibutuhkan lagi, gadis itu melenggang meninggalkan pengemudi kendaraan roda dua yang telah dihentikannya tadi.
“Ih, kemana aja, sih. Dicariin dari tadi.”
“Ditelpon berulangkali juga kagak diangkat.”
“Ready? Yuk.” Tanpa merasa bersalah Aileen langsung memasuki mobil berwarna merah silver itu. Dua sahabatnya cuma geleng-geleng melihat sikap cueknya yang masih saja belum berubah.
“Come on, guys! Kemana kita sekarang? How about—“
“Santana Cafe? Kafe Daun Hijau? Gu—“
Drrrt drrrt.
“Iya, Mi?”
[Sekarang juga pulang! Se-ka-rang. Nggak pake lama.]
“I-iya, Mi.”
“Ada apa, Chik?”
“Tolong antar aku pulang Cyn.”
“Your Mom?” Pertanyaan Aileen langsung dijawab Cindy dengan sekali anggukan. Aileen segera mengelus bahu sahabatnya itu untuk memberi kekuatan.
Menurut kabar dari Cyndy beberapa bulan yang lalu, Mommy Chika mengalami depresi. Papinya tertangkap menjalani hubungan tanpa ikatan. Mommy Cindy ingin menggugat cerai, tapi mama dan mama mertuanya melarang. Akhirnya dia mencoba tetap bertahan. Namun, ternyata hal itu menyebabkan dirinya mengalami tekanan batin yang hebat dan berujung pada depresi.
Usai mengantar Chika, Cindy mengarahkan kendaraannya ke pusat kota. Mengantar sahabat SMA-nya itu pergi ke salon perawatan kecantikan langganannya. Setelah selesai, mereka melanjutkan mencari pakaian ke butik langganan mama Aileen. Demi memberikan penampilan yang terbaik, gadis bermata bulat itu rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk mendapatkan semuanya.
“Nanti malam jangan lupa datang, ya guys. Temenin aku.”
“Tenang.”
“Cindy ...” ucapnya ragu. Ada keinginan untuk menceritakan tentang perjodohan yang dilakukan papanya, tapi khawatir menambah beban sahabat di depannya itu.
Sejak satu tahun yang lalu, Cindy menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Ayahnya dipenjara karena korupsi di perusahaan tempat kerjanya. Dua adiknya masih SMP dan SMA. Sementara mamanya kini sakit-sakitan karena memikirkan papanya.
Aileen masih menatap ramainya pengunjung di pusat jajanan di salah satu mal di pusat kota. Sambil menikmati makanan kesukaannya, kentang goreng plus saus mayonise.
“Heh, bengong. Gue dicuekin!”
“Eh, eng-enggak.”
“Udahan, yuk.” Aileen menyudahi makannya lalu ke kasir. Setelah itu Cindy melajukan roda empatnya mengantar sahabatnya pulang.
“Dont forget to my party to night.” Gadis berkerudung pashmina itu sekali lagi mengingatkan sahabatnya.
Dari balik kemudi gadis berbaju dress selutut itu mengangkat dua jempolnya sebagai jawaban.
“Bye-bye.”
***
Kesibukan kecil terlihat di keluarga abi Hasby. Ummi dan Nissa terlihat sibuk menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga Hadiwidjaya. Sedangkan Abi dan Hasby sedang mengecek mobil sedannya yang sudah berumur tua.
Tepat pukul 15.00 mereka meninggalkan rumah. Sebenarnya jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh. Namun, mengingat hampir di setiap ruas jalan kemacetannya mengular, maka mereka sepakat untuk berangkat jauh kebih awal.
Sampai di tempat acara tepat ketika adzan Maghrib berkumandang. Usai melaksanakan kewajiban tiga rakaat di musala kecil di rumah mewah itu, keluarga Hasby disambut hangat oleh keluarga Hadiwidjaya.
Undangan lain sudah banyak yang berdatangan. Memenuhi ruang tamu dan teras samping yang kini telah berubah menjadi tempat acara yang indah dan megah. Beberapa buket bunga hidup terpajang di beberapa titik ruangan. Menambah segar suasana yang bernuansa hijau dan putih itu.
Sepuluh menit lagi acara di mulai. Namun, tak satu pun dua dari sahabatnya kelihatan batang hidungnya. Akhirnya Aileen menelepon kembali untuk mengingatkan. Namun beberapa kali melakukan panggilan, panggilanya tidak terangkat.
“Ck. Kemana mereka?” Gadis yang mengenakan celana bahan warna hitam dipadu dengan pashmina warna abu-abu muda ini masih mematut diri di depan kaca besar di kamarnya yang luas. Lalumenyempurnakan riasan wajahnya dengan lipstik warna nude kesukaannya.
“Sudah, yuk. Acara sudah mau dimulai, tuh.” Suara laki-laki yang sangat dikenalnya itu terdengar seiring langkahnya yang mendekat ke arahnya. Menyejajari dirinya di depan cermin. “Hmm, cantiknya. Beruntung sekali calon suaminya.” Tangannya merangkul bahu adik semata wayangnya. “Paan, sih.” Aileen memukul lengan kakaknya hingga meringis kesakitan. “Cakep juga, tuh, calonmu.”
“Hah, emang dia datang juga?”
“Sekeluarga.” Sontak gadis berkulit putih itu menoleh ke laki-laki di sampingnya. “Serius? Wait, emang Kakak tau?” Yang ditanya hanya mengedikkan bahunya.
Tomy siap menggandeng Aileen ke tempat acara di lantai satu. Gadis yang sebenarnya menahan kantuk akibat jetlack itu berusaha tampil ceria. Aileen dan kakaknya berjalan beriringan menuju tempat papa dan mamanya berada. Setelah itu MC segera memulai acara sesuai rencana.
***
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





