Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menuntut Balas

Menuntut Balas

Xavier terpaksa menyaksikan momen mengerikan saat nyawa ayahnya direnggut secara keji oleh kelompok mafia. Tragedi berdarah tersebut menyisakan luka mendalam dan amarah yang membara di hatinya. Enggan membiarkan para pelaku bebas begitu saja, ia bertekad menuntut balas. Xavier pun mulai mengasah kemampuan bela diri dengan keras demi mempersiapkan diri menghadapi organisasi kriminal yang telah menghancurkan hidupnya serta menuntaskan dendamnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sesampainya di panti asuhan, Xaviera melihat banyak sekali anak-anak yang sedang bermain.

Xavier memegang jemari adiknya sambil berjalan menuju ruangan kepala panti. Xaviera memandangi sekitarnya sambil memegang sebuah boneka beruang pemberian mendiang ayahnya.

Seorang anak menyapa Xaviera ketika melintasi taman. Xaviera pun membalas sapaan anak itu. Xavier yang melihat itu pun menawarkan pada adiknya untuk bergabung pada anak-anak panti yang sedang bermain. Xaviera pun setuju.

Dengan tidak ikutnya Xaviera ke ruangan kepala panti membuat Xavier lebih leluasa menceritakan kondisi mereka tetapi tetap menutupi identitas adiknya.

"Kamu bermain bersama mereka, ya!. Kakak mau ke ruangan itu," Xavier menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah bangunan yang merupakan kantor kepala panti, Xaviera hanya mengangguk.

Xaviera pun di ajak oleh teman-teman barunya menuju taman bermain mereka. Xavier memandangi punggung adiknya yang ketika itu berjalan menuju taman bermain.

"Semoga ini adalah tempat yang tepat buat kamu, Xaviera." gumam Xavier.

Xavier melanjutkan perjalanannya menuju ruang kepala panti.

Pintu ruangan di ketuk oleh Xavier, si pemilik ruangan pun meminta Xavier masuk. Sebelumnya Xavier sudah menghubungi ketua panti dan sudah sepakat untuk mengantarkan Xaviera ke panti asuhan itu.

Ketua panti meminta penjelasan alasan Xavier menempatkan adiknya di panti asuhan. Mendengar penjelasan dari Xavier, kepala panti pun mengizinkan agar Xaviera untuk tinggal di panti asuhan.

Ibu Ratna yang merupakan kepala panti dan Xavier keluar dari ruangan untuk mempertemukan bu Ratna dengan Xaviera. Mereka berjalan menuju taman bermain.

"Kakak!," teriak Xaviera kemudian Xavier melambaikan tangannya dari kejauhan.

Terlihat Xaviera berlari untuk menyusul Xavier.

"Sepertinya kamu sangat dekat dengan adik kamu," ucap bu Ratna.

"Adikku adalah harta paling berhargaku. Aku mohon pada ibu untuk menjaga adikku," sahut Xavier.

"Itu sudah pasti."

Tak lama Xaviera sampai di hadapan Xavier. Kemudian ia pun menundukkan badannya untuk menyambut adik kesayangannya.

"Apakah hari ini kamu bahagia?," tanya Xavier.

"Aku bahagia, kakak. Mereka teman-teman yang sangat menyenangkan," jawab Xaviera.

"Ayo di salam dulu bu Ratna nya. Ibu ini yang akan menjaga kamu di sini,"

Xaviera menoleh ke arah bu Ratna dengan senyuman khasnya dan menuruti perintah kakaknya untuk memberi salam pada ibu Ratna.

"Wah, cantik sekali adik Grizelle dan juga pintar." puji bu Ratna sambil tersenyum.

Kemudian bu Ratna mensejajarkan tubuhnya dengan Xaviera.

"Di sini ada banyak ibu yang akan menjaga kamu," ucap bu Ratna sambil mengusap puncak kepala Xaviera.

"Wah, Grizelle akan memiliki banyak ibu dong," ujar Xavier dengan ekspresi senang agar adiknya mau tinggal di panti asuhan.

Xaviera terdiam saat kakaknya menyebut namanya yang bukan lagi Xaviera melainkan Grizelle. Xaviera belum terbiasa dengan penyebutan nama tengahnya.

Bu Ratna mengajak Xavier dan Xaviera menuju kamar anak-anak panti untuk meletakkan barang-barang milik Xaviera. Tak lupa Xaviera menggandeng tangan kakaknya saat menuju ruangan.

"Kak. Ketika bertemu ayah nanti, katakan aku merindukannya. Jangan lupa,ya!" pesan Xaviera pada Xavier.

Ucapan Xaviera membuat hati Xavier semakin teriris. Ingin rasanya ia segera membalas dendam pada mafia itu karena sudah merenggut kebahagiaan mereka. Ayah mereka adalah sumber kebahagiaan mereka.

"Iya. Nanti akan aku sampaikan pada ayah," ujar Xavier.

Saat membuka pintu ruangan, terlihat ada banyak tempat tidur dan lemari yang berjajar dengan rapinya.

"Wah, Grizelle tidur tidak sendiri lagi. Ada banyak teman yang akan menemani Grizelle tidur." Lagi-lagi Xavier mengubah ekspresinya menjadi ekspresi bahagia.

"Wah, asyiknya." Xaviera terlihat sangat bahagia.

Setelah menyusun barang-barang milik Xaviera di lemari, Xavier pun pamit untuk pergi. Awalnya Xaviera tidak mau melepaskan kepergian kakaknya dengan bujuk rayu dari kepala panti, akhirnya Xaviera pun merelakan kakaknya untuk pergi.

"Jangan lupa sampaikan pada ayah, aku merindukannya !" teriak Xaviera pada Xavier yang saat itu sambil terisak dan wajahnya di penuhi air mata.

Xavier tidak berani menoleh ke arah adiknya. Ia tidak ingin adiknya menyaksikan air matanya yang jatuh membasahi pipinya.

"Akan kakak sampaikan," sahut Xavier sambil melambaikan tangannya tanpa melihat ke arah adiknya.

Hati Xavier memang sudah hancur berkeping-keping ketika ayahnya di habisi para mafia. Kalau tidak ada adiknya, mungkin sudah tidak ada lagi semangat hidupnya.

Melihat Xavier yang sudah semakin jauh, bu Ratna pun mengajak Xaviera untuk bermain kembali dengan teman-temannya. Dengan langkah gontai, ia pun menuruti ajakan bu Ratna.

Dari kejauhan Xavier masih dapat melihat adiknya yang sedang bermain bersama teman-temannya tetapi tidak sebahagia sewaktu awal mereka datang.

"Kakak akan kembali lagi setelah menyelesaikan tugas yang harus kakak laksanakan, menghabisi orang-orang yang telah membunuh ayah," batin Xavier.

Sebelum pergi meninggalkan rumah, Xavier memberitahukan ke tetangganya bahwa rumah mereka akan di sewakan. Hal itu ia lakukan untuk menghindari ancaman dari mafia yang kemungkinan akan kembali lagi ke rumah mereka dan juga uang sewa rumah itu akan di gunakan Xavier untuk bertahan hidup sampai ia menemukan pekerjaan baru.

Tak butuh waktu lama, tetangga pun memberitahukan bahwa ada yang ingin menyewa rumah mereka. Xavier pun meminta agar penyewa bersedia menyewa rumah mereka selama sepuluh tahun. Penyewa menyetujui permintaan Xavier.

Xavier bersiap-siap mengemasi barang-barangnya karena besok rumah mereka akan mulai di tempati penyewa. Xavier tidak memberitahukan kepada tetangganya kemana ia akan pergi untuk menghindari para mafia yang kemungkinan akan datang kembali.

Xavier pergi ke luar kota. Sesampainya di sana ia tidak tahu hendak pergi kemana karena ia belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di daerah itu.

Merasa perutnya mulai minta di isi ulang, Xavier pun menuju rumah makan yang berada di sekitar posisinya saat ini.

Selesai makan ia mulai mencari tempat tinggal dengan harga murah. Ia pun mulai mencari melalui aplikasi pencarian dan akhirnya ia pun menemukan tempat yang ia inginkan. Bermodal dengan ponsel dan juga bertanya pada setiap orang yang ia temui, akhirnya ia sampai di tempat tujuannya. Sebuah rumah dengan ukuran kecil yang jauh dari padat penduduk.

Terlihat rumah itu sudah lama tidak di tinggalin dan pemilik rumah itu pun memberi harga sewa yang sangat murah agar rumah itu tidak terbengkalai.

Setelah serah terima kunci, rumah dengan halaman yang di tumbuhi ilalang itu pun segera di bersihkan oleh Xavier. Pada saat memasuki ruangan dalam rumah, sempat bulu kuduk Xavier bergidik. Rumah yang telah lama kosong sehingga meninggalkan kesan angker. Tapi apa boleh buat hanya rumah ini yang bisa di tempati Xavier dengan anggaran sesuai kantong Xavier.

Tak lama datang si pemilik rumah dengan membawa beberapa cat tembok dan sebuah kasur dari rumahnya. Segera Xavier mengecat dinding-dinding rumah dengan warna cat yang cerah untuk menghilangkan kesan horor pada rumah itu.

Xavier mulai merasa lelah karena setibanya di sini, ia sama sekali belum istirahat. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan di esok hari dan memikirkan rencana yang akan ia jalankan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ADA DARAH DI DALAM AIR
8.8
Seorang pemuda bertekad menuntut balas atas kematian tragis ibunya yang dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri. Namun, targetnya bukanlah orang biasa, melainkan pemimpin MBR, organisasi mafia paling kuat dan ditakuti di seluruh Asia. Di tengah bayang-bayang kekuasaan besar sang ayah, mampukah ia menuntaskan dendam membara tersebut? Ataukah perlawanan nekat ini justru akan berbalik menjadi bumerang mematikan yang menghancurkan hidupnya selamanya?
Sampul Novel Dekapan Gairah Mafia Kejam
9.7
Isabella Moretti kehilangan segalanya saat Lorenzo Ricciardi, mafia sadis, menghabisi orang tuanya. Bukannya dibunuh, Isabella justru dijadikan tawanan pribadi sang penguasa dunia bawah tanah. Meski Lorenzo dikenal kejam, sisi lembutnya mulai meluluhkan hati Isabella hingga tumbuh gairah di tengah dendam. Namun, situasi rumit saat Isabella hamil anak Lorenzo. Kini ia terjebak antara misi balas mati keluarga atau menyerah pada cinta sang iblis yang telah mencuri hatinya.
Sampul Novel GADIS TAWANAN SANG MAFIA
8.9
Selena terjebak dalam nestapa setelah diculik Jeno Kusuma, putra pemimpin mafia Sembilan Naga yang bengis. Aksi nekat ini adalah bentuk balas dendam Jeno karena ayah Selena dianggap bertanggung jawab atas kematian papanya sekaligus mencuri stempel rahasia organisasi. Di tengah siksaan menjadi pemuas nafsu, Selena mencoba berbagai cara termasuk mengakhiri hidup demi lepas dari cengkeraman Jeno. Akankah ia berhasil bebas, atau justru terpaksa tunduk selamanya?
Sampul Novel Gairah Liar sang Mafia
8.0
Arnius Nagendra dihantui masa lalu kelam akibat ulah Janied Marques, sepupunya yang mengepalai sindikat perdagangan manusia. Demi membalas kematian istrinya, Arnius menyamar jadi guru dan melibatkan seorang guru TK cantik dalam misi berbahaya ini. Identitas aslinya pun tersembunyi di balik dunia abu-abu. Akankah kerja sama ini memicu benih cinta di tengah dendam yang membara, atau justru menyeret sang wanita ke dalam lingkaran hitam yang mematikan?
Sampul Novel Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit
8.9
Tiga tahun aku membuang karier hukumku demi menjadi istri idaman Baskara Wijoyo. Namun, kesetiaanku dibalas luka saat dia lebih memilih melindungi mantan kekasihnya, Aurelia, dari tumpahan kopi panas hingga membiarkan lenganku melepuh parah. Saat itulah aku memutuskan untuk pergi. Kini, aku kembali ke ruang sidang sebagai Nemesis, pengacara legendaris yang tak terkalahkan. Aku siap menghancurkan reputasi Baskara dalam kasus terbesar yang pernah ia hadapi.
Sampul Novel Kembali Bangkit Hancurkan Para Pengkhianat
9.1
Sepuluh tahun lumpuh demi Gunawan, aku justru dikhianati. Tunanganku berselingkuh dengan Vivian, sementara adikku, Keenan, menutupi aksi busuk itu demi uang. Mereka mengira aku tetap tak berdaya, namun faktanya aku sudah pulih dan menyaksikan semuanya. Kini, tujuh tahun setelah menghilang, aku bangkit kembali sebagai Alena Kusuma. Dengan identitas investor kaya, aku siap menghancurkan hidup para pengkhianat yang telah menghancurkan masa laluku.