
MENIKAM MENTAL SUAMI DAN GUNDIKNYA
Bab 3
Marah yang dirasakan oleh Sawitri kemarin adalah bentuk perasaan spontanitas seorang istri saat suaminya menodai pernikahan mereka.
Namun bila mas Burhan sudah memilih gundiknya itu dibandingkan dirinya, Sawitri bisa apa? Tak mungkin memaksakan perasaan cinta kan.
“Yang sabar, Bu Sawitri.” bu Fitri kawan guru di TK tempat Sawitri mengajar hanya bisa berkata demikian dengan nada getir.
Semua rekan sejawat di sekolah tempat Sawitri mengajar, sudah mengetahui gonjang ganjing masalah rumah tangga Sawitri. Mereka semua prihatin pada wanita dua puluh lima tahun ini. Sebenarnya beberapa rekan Sawitri sudah mencium gelagat tak beres dari Burhan. Sebab mereka ini tinggal di kota kecil yang pergerakan penduduknya bisa cepat diketahui, kemana saja dan sama siapa.
Bahkan bu Aini, ibu kepela sekolah TK pernah beberapa kali mendapati Burhan berjalan dengan wanita itu, namun beliau masih berfikir positif, mungkin rekan kerja.
Saat bu Aini, mendampingi suaminya yang memang serang tentara yang sedang ada kegiatan di salah satu hotel barulah bu Aini ngeh, saat melihat Burhan dan gundiknya itu keluar dari hotel sambil bergandengan tangan.
Namun sebagai ibu persit yang sudah diajar tata tertib bermasyarakat, tak serta merta bu Aini menyebarkan gosip ataupun memberitahu Sawitri tentang kelakuan suaminya.
“Ya mungkin sudah jalannya, Bu. Ini salah saya juga, sebab tak cermat memperhatikan penampilan.” Getir suara Sawitri mengucap itu. Mana sempat waktu untuk merawat dirinya. Setelah mengajar bahkan sering menghabiskan waktu di kebun belakang rumah suaminya.
“Pengen banget aku jambak perempuan itu, Bu.” Geram bu Fitria dengan wajah terlihat gemas.
Namun Sawitri hanya tersenyum kecut mendengarnya. Sawitri tak ingin ada ribut-ribut. Apalagi di hati suaminya sudah tak ada namanya. Sawitri tak akan memaksakan pernikahannya lagi. Biarlah bila akan berakhir. Sawitri siap tidak siap harus siap.
“Bu Sawitri harus berubah.” Bu Aini ikut memberi semangat.
“Iya, pokoknya ibu harus berubah, rawat diri, meski dengan bahan dan make up yang sederhana, insya Allah aku akan banyu Bu.” Bu Fitria menimpali lagi.
“Iya, kami bantu sebisa kami, tapi mohon maaf bila aku kasi baju-baju lamaku yang sudah nggak muat di badanku, apa bu Sawitri nggak tersinggung.” Bu Fitri yang seorang istri juragan sembako sedikit berbisik. Diantara rekan-rekakn guru memang bu Fitria ini yang paling stylish.
“Wah tentu tidak, Bu. Saya senang sekali dengan perhatian, Ibu.” Sahut Sawitri dengan wajah sedikit berbinar. Membayangkan bajunya yang itu-itu saja nanti bisa di ganti-ganti dengan baju pemberian bu Firia.
“Di rumah juga ada make up, yang Cuma kupakai separuh, besok kubawa buat, Ibu.” Kali ini bu Sari yang juga istri tentara yang bersuara.
“Ok, besok kita bawa semua yang akan kita beri untuk bu Sawitri, tapi kita harus bantu bu Sawitri mencari pekerjaan sampingan, bila sewaktu-waktu benar-benar ingin berpisah dengan mas Burhan, Financial bu Sawitri tetap tercukupi, jadi nggak mengahrap gaji honor yang dibayarkan tiga bulan sekali.” Tandas bu Aini. Perasaan iba juga dirasakan ibu berumur empat puluh lima tahun ini.
“Insya Allah, kalau kerja sampingan yang layak, nanti akan ada. Pokoknya bu Sawitri berbenah diri dulu. Kita ada siap membantu bu Sawitri.” Lagi bu Fitria memberi semangat yang luar biasa pada Sawitri yang pagi ini terlihat lemas dengan wajah sembab.
Lalu segaris senyum semangat juga terbit di wajah yang terlihat lelah itu. Tentu Sawitri harus siap-siap meninggalkan rumah suaminya, bila sudah tak diinginkan lagi. Mungkin akan kembali saja ke rumah bapaknya. Membersamai orang tuanya yang sekarang tinggal sendiri itu.
Ada lagi masalah yang Sawitri pikirkan, bagaimana cara memberitahu bapaknya, agar orang tua yang berprofesi sebagi petani itu tak sedih. Membayangkan wajah keriput dan kulit legamnya saja, sudah buat Sawitri berkaca-kaca lagi.
“Sudah, Bu jangan ditangisi lagi. Insya Allah setelah ini akan ada hidup yang baik untuk bu Sawitri.” Kembali bu Fitri yang lainnya menyemangati Sawitri.
“Lagian mertua bu sawitri cerewet dan judes pada ibu, kan.” Bu Aini pernah mendengar saat lewat depan rumah mertua Sawitri, terdengar tak ramah sekali mertua adik didiknya ini.
Lagi-lagi Sawitri hanya tersenyum getir, sebab yang bu Aini katakan adalah benar.
“Ayo, Ibu-ibu, murid -murid sudah banyak yang datang, kita sambut anak-anak dulu. Habis ngajar kita sambung lagi.” Bu Aini memberi komando pada guru-guru yang jumlahnya ada tujuh orang itu.
Segera Sawitri berjalan ek arah pagar, sekolah hari ini tugas Sawitri menyambut murid-murid di pintu gerbang.
Keceriaan anak-anak yang memakai seragam hari senin itu sedikit menghibur hati Sawitri yang masih sedih. Mudah saja kawan-kawannya mengucap sabar, harus berubah dan nasehat lainnya pada Sawitri. Namun kesabaran Sawitri benar-benar diuji kali ini. Apakah harus mengamuk ataukah tetap sabar dalam lukanya. Dan insya Allah Sawitri memilih sabar. Ditambah kebaikan rekan-rekan guru tadi, semakin menambah semangat dan rasa sabar Sawitri menjalani kehidupan selanjutnya.
Satu-persatu anak-anak berumur tiga samapi lima tahunsetengah itu salim dan memeluk tubuh Sawitri. Hal yang sama juga dilakukan Sawitri, menyapa muridnya satu-persatu dan memeluk tubuh mungil mereka, sesekali menenangkan dan membujuk anak-anak yang masih merajuk yang enggan ditinggal orang tuanya.
Lalu muncullah Shafiya, salah satu murid perempuan umur empat tahun mungkin, dengan rambut dikucir satu, berjalan ke arah Sawitri sambil menangis. Di belakangnya ada ayahnya yang mengikuti. Pak Safar namanya, Sawitri tahu dan kenal wajah-wajah wali muridnya.
Tampak ayah Shafiya itu memakai kemeja kerja bergaris biru, nampak kurang licin setrikaanya, sebab sedikit kusut dimana-mana. Pak Safar ini bekerja di kantor Telkom kalau tak salah. Posisinya sebagai apa, Sawitri kurang tahu.
“Kenapa nangis, Sayang?” segera Sawitri menyongsong langkah pelan muridnya, lalu digendong dan ia usap air mata di pipi mungil itu.
“Ay…ayah nggak bikinin aku sarapan bunda, hu hu hu…” terisak namun tampak lucu muridnya ini.
“Lho, terus, yang ayah bawa di kotak itu apa dong?” tanya Sawitri melirik sekilas kotak bekal di tangan ayah Shafiya.
“It… itu ayah beli di warung, selalu itu aja makanannya, Bunda” lagi, bahkan tangisan Safiyah bertambah kejer, nampak sakit hati sekali. “Aku juga mau dimasakin kaya teman-teman Bunda, teman-teman suka ejak aku, kalau aku nggak punya mama.” Kali ini isakan Shafiya terbata-bata.
“Maaf, Bu saya kesiangan bangunnya, ibu saya juga kurang enak badan jadi tak sempat masak untuk kami.” Ucap pak Safar merasa tak enak hati, sesekali ia lirik arloji di pergelangan kirinya.
“Tidak apa-apa, Pak. Biar saya yang bujuk Safiyah.” Ucap Sawitri kembali menenangkan muridnya itu yang masih setia bergelayut di gendongannya.
“Terima kasih, Bu. Maaf sekali lagi. Sudah merepotkan.” Pak Safar kemudian menyerahkan kotak bekal berbentuk boneka doraemon itu pada Sawitri. Sejenak tatapan kedunya bersirobok, namun Sawitri segera memutus pandangan.
“Bapak, ditinggal kerja saja, biar saya yang urus dan anter Safiyah pulang. Dekatkan rumahnya.” Ucap Sawitri membuat lega di hati ayah muridnya itu.
“Tapi aku nggak kuat jalan kaki kaya Bunda, Bunda pulang pergi sekolah jalan kaki kan,” ucapan polos Safiyah sedikit membuat Sawitri merasa malu. Sebab jarak rumah suaminya yang dua kilo itu bila pulang pergi jalan kaki berarti dia jalan empat kilo tiap hari, mana kadang panas maupun hujan tetap jalan kaki. Bagimana kulitnya mau kinclong coba bila sinar matahari mengahajar kuning langsatnya itu tiap hari.
Pak Safar yang mendegar itu sedikit terhenyak.
“Benarkah demikian, Bu? Ibu jalan kaki tiap hari?” tanya pak Safar dengan rasa iba pada wanita yang terlihat wajah sembabnya ini. Dari tadi sebenarnya pak Safar memperhatikan wajah dan mata yang sembab itu.
“Iya, Pak. Tapi tak apa, sudah terbiasa jadi tak terasa capeknya.” Jawab Sawitri dengan perasaan malu sebenarnya.
“Aku, mau dimasakin mama juga, Bunda. Di rumah aku, nggak punya mama.” Kata-kata Safiyah menyela mereka.
“Memangnya mamanya kemana, Nak, sakitkah?” tanya Sawitri dengan lembut.
“Kata ayah, mama pergi sama orang lain.” Ucap Safiyah sendu. Buat Sawitri menatap murid dan ayahnya itu bergantian dengan wajah bingung.
“Ibunya Safiya sudah menikah lagi dan memilik bayi juga, Bu.” Ucap pak safar pelan dengan raut sedikit getir.
“Oh maafkan saya, Pak. Saya tak tahu.” Benar Sawitri tak tahu bila Safiyah ini anak broken home. Dipikirnya mamanya Safiyah ini, sibuk bekerja juga atau sibuk mengurus rumah mereka yang cukup besar itu. Rumah Safiyah ini dua lantai.
“Tak apa, Bu.”
“Aku mau punya mama kaya bunda, boleh?” tanya Safiyah polos. Pertanyaan dari seorang bocah yang haus kasih sayang seorang ibu, yang sukses membuat ayahnya dan gurunya itu saling pandang dengan perasaan yang entah.
Anda Mungkin Juga Suka





