Sampul Novel A.M.O.R.E.G.A

A.M.O.R.E.G.A

8.3 / 10.0
Waktu membawa kita pada pertemuan yang tak terduga, namun perpisahan sering kali menjadi misteri yang sulit dipahami. Melalui kehilangan, kita dipaksa menyadari betapa berartinya kehadiran seseorang bagi hati kita. Meski rasa sakit bisa disembuhkan, luka yang tertinggal akan tetap membekas selamanya. Apa yang telah patah tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala, meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan emosional yang penuh makna ini.

A.M.O.R.E.G.A Bab 1

Mimpi itu datang lagi, selalu mengganggu tanpa henti sampai tidurnya tak pernah nyenyak beberapa tahun ini.

Siapa dia yang hanya bisa mengelus dada, mengeluh pun dia salah apalagi berputus asa? Tak ada gunanya. Begini lebih baik, dihantui mimpi-mimpi itu sekali lagi bukanlah hal yang pertama, yang dia mimpikan bukanlah hal baru yang datang mengganggu tidurnya. Itu justru bunga tidur yang membuatnya sadar akan siapa dirinya. Dari mana asalnya dan bagaimana itu terjadi.

Dia harus tahu agar mengerti tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti kedua orang tuanya.

Karena cinta? Cih, basi! Itu hanya omong kosong yang justru membuat perutnya semakin lapar di tengah malam begini.

Dia terbangun untuk ke sekian kalinya setelah puas berselancar dalam dunia mimpi yang selalu datang, mimpi itu tidak akan membuatnya mati. Ya, dia harus kembali mengingat mimpi bertahun-tahun lalu yang hampir membuatnya serasa mau mati.

Anak sekecil itu tidak tahu apa-apa, tapi dia harus merasakan sakit bagai di neraka.

"Dasar anak tak tahu diri. Anak tak tahu diuntung"

"Aku hanya ingin mengambilmu untuk mendapatkan uang saja. Bukan mengasuh dan mengurusmu sehingga membuatku harus kehilangan banyak hal" Suara itu kembali terdengar, dia hampir saja tersengal jika tidak mendengar suara kucing di bawah kakinya.

"Dasar tidak berguna. Kamu hanyalah malapetaka bagiku"

Sesak di dadanya tak bisa dia tahan hingga membuat dia muntah dan berlari ke kamar mandi di dekat kamarnya.

Jangan pikirkan rumah ini besar dengan lantai dua yang megah televisi dan ruangan di mana-mana. Begitu juga dapur yang megah, kitchen set yang lengkap, kabinet dan wastafel. Dapurnya hanya sepetak memiliki satu kompor biasa dan tidak ada lemari pendingin, hanya lemari tempat barang dapur dan rak piring yang dia dapat dari kerja paruh waktu.

Begitu juga kamarnya yang hanya ranjang kecil muat untuk dirinya sendiri meski jika ditiduri dua orang masih muat, tetapi akan terasa tidak nyaman.

Rumah ini cocok disebut flat, kos-kosan wanita sepetak dengan ukuran 25 meter saja. Cukup dapur dan tempat tidur yang tidak memiliki sekat serta kamar mandi tepat di samping tempat tidur, tidak di dalamnya tapi berdampingan. Kamar mandi kecil hanya cukup untuk satu ember dan gayung tapi bersih karena setiap hari dibersihkannya.

Kehidupan ini sudah berlangsung satu tahun lamanya sebelum dia memasuki Sekolah Menengah Atas. Dia harus terbiasa. Ya, begini lebih baik daripada rumah besar dan megah tapi bagai tak berpenghuni. Selalu saja teriakan kekerasan dan hinaan caci maki yang dia terima. Dia takut jika di sana tak sanggup bertahan sampai akhir.

Kenapa mereka menyelamatkannya jika hanya untuk menyiksanya? Mengapa mereka mengambilnya jika memang hanya untuk dicaci maki serta dipukul sampai titik terendah hidupnya?

Tuhan, dia masih anak-anak saat itu tidak tahu apa-apa. Tidak mengerti apa yang terjadi. Ayah yang dia harapkan menjaga dan melindunginya bahkan membenci. Saat berpapasan justru membuang muka padanya. Ibu yang dia anggap sebagai tempat untuk mengadu, melindungi dan memberi kehangatan selalu memukulnya tanpa henti. Setelah ibunya membuangnya lalu dia tinggal bersama ayahnya justru tak ada beda. Ibu tirinya selalu memarahi dan memfitnahnya.

"Kamu itu anak haram. Tidak pantas untuk hidup. Sama seperti ibumu yang penggoda itu, mungkin saja dia menyesal telah melahirkan anak sepertimu." Perkataan itu dilontarkan kepada anak yang berumur tujuh tahun. Apa yang dia tahu? Mungkin saja dia tahu bahwa dia anak yang tidak diharapkan. Ibunya seorang penggoda. Menggoda ayahnya hingga memiliki anak sepertinya kala ayahnya masih memiliki seorang istri yang cantik.

Jelas saja, kamu lahir di luar kehendak dan tidak akan pernah bahagia karena tidak diinginkan, batinnya dulu selalu mengatakan itu.

Ah, untuk apa memikirkan yang telah lalu? Bukankah hidup harus terus berjalan?

"Hai kucing, kamu pasti lapar ya, Bembi? Ini makanmu." Dia memberikan makanan kepada kucing liar yang diambilnya kemudian dirawat hingga seperti sekarang.

"Meong" Kucing itu mengeong setelah diberi makan, berterima kasih, mengenduskan kepalanya di bawah kaki Amor sehingga dia tersenyum karena lembutnya kulit Bembi.

Ketika pertama kali melihat Bembi, dia mendapati ada darah di bulunya yang tegak dan kasar. Mengeong seorang diri di pinggir jalan seolah meminta pertolongan. Membuat Amor tentang diri dan juga hidupnya yang sebatang kara.

"Kamu lapar banget ya? Maaf, Bem, aku lupa memberimu makan tadi siang. Sampai rumah pun aku sudah gelap. Dan langsung tertidur. Bersyukurlah mimpi sialan itu membangunkanku untuk bisa memberimu makan." Amor mengelus kucing itu lembut seakan dia takut kehilangan.

Dia pernah kehilangan sekali, dan tidak akan lagi dia mengulang hal yang sama. Karena sakitnya tak akan pernah dia lupa.

Baginya lebih baik memilih teman seekor kucing daripada manusia tapi tak memiliki hati nurani, tak berperasaan.

Tidak heran jika dia berbicara dengan kucing atau apa pun itu. Lebih memilih dipandang aneh agar tak ada orang mendekat adalah pilihannya.

Bukan sekali dua kali jika dia dianggap gila oleh orang sekitar. Namun, dia merasa lebih baik begitu. Dijauhi dengan segala keterbatasan kekurangannya dari pada harus disukai jika untuk menyakiti. Berpura-pura.

Kembali melangkah menuju ranjang setelah puas mengelus kucing yang selalu menjadi temannya beberapa bulan ini. Dia sudah terbiasa.

"Pukul 03.00 pagi, mimpinya datang kelamaan. Biasa juga gak bisa tidur," gumamnya.

"Pukul 05.00 bangun cukup kali ya dua jam aja. Biar nganterin bude ke pasar dan ke panti lagi nganterin pesanan ibu," monolognya.

Setelah memutuskan untuk apa yang akan dilakukannya nanti ketika bangun, dia pun mencoba tidur dalam remangnya kamar sepetak itu.

Mencoba peruntungannya semoga saja mimpi itu tidak lagi datang untuk sementara.

A.M.O.R.E.G.A

@Fatamorgana16

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi A.M.O.R.E.G.A

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil yang polos menemukan sebuah patung beruang di jalanan dan memutuskan untuk membawanya pulang. Ia merawat benda itu dengan penuh kasih sayang tanpa menyadari identitas aslinya. Tak disangka, patung tersebut merupakan inkarnasi sosok pria muda yang perkasa. Hingga Melinda tumbuh menjadi gadis cantik, wujud beruang itu tetap bertahan sampai muncul ketegangan yang mengubah segalanya. Akankah hubungan unik antara manusia dan dewa ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya mengira pernikahannya dengan Adnan akan membawa kebahagiaan abadi, namun realitanya justru menjadi neraka penuh kekerasan. Adnan melampiaskan dendamnya terhadap mertua dengan menyiksa istrinya secara keji setiap hari. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang mendalam, sosok dari masa lalu Saschya tiba-tiba muncul kembali. Akankah kehadiran mereka membantu Saschya lepas dari belenggu Adnan, atau justru menambah konflik baru dalam hidupnya yang hancur?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan asmara Raka kini berada di ambang kehancuran akibat kehadiran Nadia. Sebagai kekasih, Raka merasa diabaikan karena Cherry selalu memprioritaskan sahabatnya yang berkacamata tebal itu. Amarahnya meledak saat ia menyadari posisinya hanya menjadi yang kedua bagi Cherry. Namun, kecemburuan buta ini justru membawa Raka menuju sebuah titik balik yang tak terduga dalam hidupnya. Akankah perasaan mereka bertahan saat prioritas Cherry terbagi?
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
William, putra mafia kejam, rela menempuh cara apa pun demi ambisinya. Namun, pengkhianatan fatal merenggut nyawa ayahnya, Ferdinand, dalam insiden tragis. Rosemary yang selama ini tidak tahu sisi gelap suaminya mulai menyadari rahasia tersembunyi. William kini bertekad membalas dendam dan membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah keji. Meski seorang polisi wanita terus menghalangi langkahnya, William takkan berhenti hingga peluru terakhir menentukan segalanya.
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Baskara memaksaku mendonorkan sumsum tulang demi tunangannya, Rania. Meski tumbuh bersama, dia kini membenciku. Rania menjebakku hingga Baskara menyiksaku dengan kejam, bahkan menculik orang tuaku akibat fitnah video asusila. Aku dipaksa menonton mereka jatuh dari gedung tinggi hingga tewas. Di tengah sakit parah yang kurahasiakan, Baskara justru menyuruhku mengakhiri hidup. Tanpa ragu, aku menyanggupi permintaannya dan melompat menuju kehampaan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan