Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT

MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT

Sebulan pasca menikah, Rio justru berkhianat dengan menikahi siri Marta, sahabatku sendiri. Aku dianggap pajangan tak berarti di rumah kami, hingga suatu malam Rio merenggut paksa kehormatanku demi mengganti rugi mahar yang ia beri. Hancur karena dijadikan tumbal pernikahan tanpa cinta, aku mengadu pada orang tua namun tak mendapat pembelaan. Akhirnya, aku memilih pergi menjauh dan menghapus jejak demi menyembuhkan luka batin yang teramat perih ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Di kota kelahiran Sang Bapak Teknologi, BJ Habibie inilah, aku dan Marta melewati masa remaja dan indahnya sebuah persahabatan.

Hampir setiap malam menikmati debur ombak di pantai Senggol sambal mencicipi kuliner khas daerah Bugis. Sebelum pulang, tak pernah alpa ke lapangan Andi Makkasau.

Di sudut pusat tempat acara-acara daerah itulah, patung Bapak Teknologi beserta sang istri tercinta Ibu Ainun, kokoh berdiri di tengah kolam, dikelilingi air mancur dengan senyum penuh wibawa, dipercantik berjenis lampu-lampu hias berkilauan.

Sungguh cinta beliau pada pasangan sangat pantas ditiru.

Rasanya ada yang kurang mengakhiri jalan-jalan tanpa menginjak icon kotaku itu.

Sayang sekali, buku kisah cintaku ini tak akan pernah menyamai Beliau meski hanya sampulnya saja. Hiks.

Di tingkat perkuliahan, aku dan Marta memilih jurusan sama walau berbeda universitas. Aku melanjutkan kuliah di kampus berbasic agama yang terletak di Lembah Harapan, sedang Marta di kampus tengah kota. Hubungan kami tetap harmonis. Sering mengunjungi perpustakaan Bapak Teknolog untuk mencari literatur.

Mungkinkah aku yang menghancurkan masa-masa itu? Bukankah jodoh tidak ditentukan dari adanya istilah pacaran? Bukankah setiap yang bernyawa sudah ditentukan takdirnya masing-masing?

Akhir-akhir ini begitu enggan pulang ke rumah. Masa salat Magrib dan Isya aku laksanakan di masjid Agung depan tugu makam pahlawan 40 ribu nyawa. Di tempat inilah paling sering menghitung jam-jam berlalu, apalagi saat gundah seperti sekarang.

Entah kenapa aku merasa asing dan tersesat di kota yang membesarkanku ini. Apa karena diri ini orangnya introvert? Atau karena tak berdaya dengan pernikahan bodoh yang dikatakan Mas Rio? Ah, kenapa otak ini seakan buntu untuk berfikir.

"Kenapa HP kamu nonaktifin?" Sosok Mas Rio muncul saat tangan ini memasukkan anak kunci ke kamarku, jam sudah menunjuk angka sembilan malam. Kali ini ada amarah di balik nada suaranya.

Terus melanjutkan pergerakan tangan. Toh, sepuluh harian sejak kehadiran Marta, aku tak pernah dianggap ada. Buat apa meladeninya, paling hanya diajak ribut saja.

"Punya telinga nggak?"

Sama, tak menjawab, membiarkan lelaki itu berbicara dengan makhluk astral seperti yang dia lakukan padaku adalah pilihan terbaik. Hitung-hitung memberi pelajaran gimana sakitnya tak dianggap sekaligus melampiaskan bentuk kekesalan yang mendesak di dada.

Sebenarnya aku bukan wanita pembangkang. Ibu yang melahirkanku dulunya seorang guru menggaji anak-anak TPA dekat rumah, selalu mengajarkan akan perbuatan baik meski orang lain menyakiti. Sungguh, amalan itu sangat berat dilakukan saat amarah memenuhi otak.

Sebelum pintu kamar kututup sempurna, jantung ini kaget saat tangan kekar lelaki beku itu menahannya.

"Bikinin aku makanan, sekarang!" titahnya dengan wajah kacau.

What? Apa dia lupa dengan kata-katanya? Apa saja yang dilakukan istri tercintanya? Pertanyaan ini kusimpan dalam hati sambil menilik gesturnya dan menelusuri seluruh ruangan dengan bola mata mencari wujud wanita idamannya.

"Masakan setan tak dapat dimakan manusia. Beli aja di luar, biasanya juga gitu," jawabku ketus membuang asal pandangan sekaligus mengingatkan perlakuannya padaku.

"Itulah kenapa akhir-akhir ini maagku kambuh. Aku tak biasa makan makanan luar." Nadanya mulai melemah, malah terdengar curhatan. Apa dia kira aku Mama Dedeh?

"Marta mana?" tanyaku masih protes.

"Bukannya kamu tlah diberi tahu tentang kelemahanku yang nggak bisa makan di luaran sama mama?" sanggahnya tak menjawab penasaranku kemana perginya Marta.

Sungguh aneh pria di depanku ini. Wejangan yang menyangkut tentang kebaikan dan kesehatannya diingat. Tapi, lupa wejangan gimana menjaga dan membahagiakan istri. Egois level tiga puluh memang.

Meski dongkol tetap jua kuikuti keinginannya. Andai dia tidak menyebut mamanya, yang kini mertuaku. Hati ini rido dia kelaparan. Memang aku tak pernah sanggup menolak keinginan wanita bijak dan dermawan itu, apalagi papa mertuaku. Kebaikannya yang tulus menghipnotis setiap orang. Sungguh berbanding terbalik dengan putranya.

Makanan Mas Rio sebenarnya tidak ribet. Kol, wortel, daun sop, dan bawang goreng ditumis dengan sedikit air sebagai sayur. Sedang pauknya cukup menggoreng ikan jenis apa saja yang disiram jeruk nipis dan kamangi. Maka dia akan melahapnya tanpa sisa.

Setelah menata di atas meja, aku menuju ke kamar. Masih sempat meliriknya duduk depan laptop di ruang keluarga.

Sebulan lebih seatap dengannya, kuakui dia tipe pria pekerja ulet. Ditambah posisi starategisnya menjadi incaran semua karyawan di sebuah NV show room mobil yang pemiliknya salah satu keluarga yang pernah menjabat sebagai wakil presiden negeri tercinta ini. Menuntutnya lebih kreatif, inovatif, dan cerdas.

Lalu ke mana Marta? Bukankah mereka seperti lemari satu badan dua pintu. Kemana-mana selalu bergandengan? Ditambah pekerjaan Marta sebagai sekertaris sebuah pembiayaan, hampir mirip kerjaannya. Kian tersisihlah aku yang hanya seorang penerus toko bangunan milik keluarga.

Ah, sudahlah! Kenapa mesti repot memikirkan mereka. Toh, hasilnya hanya kesia-siaan yang hakiki.

***

"Nggak usah makan kalau nggak bisa ngeberesin peralatan masak. Memang aku pembantu?"

Suara Marta menghentikan pergerakan tanganku yang hendak membuka kulkas untuk mengambil bahan makanan buat sarapan. Apa maksud kalimatnya?

"Beli aja, kek. Jadi, nggak ngotorin kayak semalam. Atau nggak punya duit?" Oh, jadi itu yang dipersoalkan? Hanya gara-gara kelupaan setelah menjawab telepon semalam dan akhirnya ketiduran, menyebabkan pagi ini mendapat kata mutiara?

"Tanyain aja ke suami tersayanngmu itu!" jawabku meninggalkan dapur. Masih sempat kutangkap dengan ekor mata mereka menikmati nasi kuning warung depan rumah. Lalu Mas Rio? Sepertinya hanya berani padaku saja. Sungguh cinta telah membutakan matanya. Bahkan menjelaskan kebenaran dia pun tidak sanggup.

Jam menunjuk di angka enam lewat lima menit, saat aku memacu motor keluar rumah. Gumpalan sesak dan amarah membatalkan niat tadi meracik sarapan sesuai selera sekaligus terpaksa berangkat ke toko sedini begini. Serasa ada perih melewati setiap pori yang berpusat di balik benda lunak bernama hati di balik dada.

Apakah dengan menangis menandakan seseorang itu lemah? Apakah menjaga kebahagian orang tua meski seorang anak menderita dikatakan juga lemah?

Oke! Silahkan kalian melabeliku apa. Biarkanlah genangan di pipi ini mengalir. Biarkanlah isakan ini terdengar. Mudah-mudahan setelahnya, aku bisa memutuskan sesuatu.

***

"Kamu nggak malu dengan jilbabmu, setiap malam keluyuran?" Kali ini Mas Rio menghadangku di pintu utama saat pulang lambat seperti malam-malam kemarin. Marta berdiri di belakangnya dengan tatap intimidasi.

Lagi, aku tak indahkan dua orang sok suci itu. Selain tak ingin mengganggu tetangga kompleks akibat pertengkaran kami, juga takut pertahananku lemah akibat air mata tak dapat ditahan apabila membela diri dalam keadaan emosi. Entah kenapa sumber air itu nggak bisa diajak damai ketika baper. Anehnya, kalimat-kalimat yang bertengger di otak baru lancar keluar apabila dikawal air mata. Kekurangan yang sangat fatal.

"Bulan ... !" Setengah berteriak Mas Rio memanggil namaku. Sepertinya ini kali pertama pria bertubuh tinggi itu menyebut nama istri pertamanya setelah akad nikah.

"Kenapa semua yang kulakukan salah di mata kalian?" sengitku dengan bibir bergetar. "Apa kalian merasa bersih dari dosa dan salah di dunia ini?"

Akhirnya yang kutakutkan terjadi, butiran bening itu membasahi pipi.

Mas Rio dan Marta terlihat kaget mendengar perkataanku yang selalu lembut dan banyak diam kini keras menantang.

"Nggak usah khawatir. Besok aku akan tinggalkan rumah ini," ujarku lagi sambil mengusap pipi dengan punggung tangan secara kasar.

"Jangan macam-macam. Besok mama papa nyuruh kita ke kampung," jawab Mas Rio dengan nada masih sama.

"Trus, apa peduliku sekarang?" tanyaku tak kalah tinggi, lalu tanpa menunggu jawabnya, menutup pintu kamar setengah membanting. Tak kuhiraukan kepanikan di wajah kedua orang di luar, pun ketika menggedor pintu untuk kubuka. Biarlah dia galau dengan ulah mereka sendiri.

Bukankah wanita lemah dan bodoh ini tak ada artinya sama sekali? Bukankah setiap orang punya hak untuk menentukan sikap sendiri?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berakhir Menjadi Tawanan
9.5
Hidup di ibu kota memaksa Liana bekerja keras demi menghidupi adik-adiknya. Dari berpindah kontrakan hingga menjadi pacar kontrak, semua ia lakoni demi uang. Namun, rencana hidupnya berantakan saat bertemu Arsen, pemilik kos barunya. Pria misterius ini tidak hanya mengusik ketenangan Liana, tetapi juga menyeretnya ke dalam situasi pelik yang tak terbayangkan. Kini, kehadiran Arsen menjadi badai besar yang bisa menghancurkan atau justru menyelamatkan masa depan Liana.
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pernah Padam
8.3
Dua tahun Nayara terkurung dalam pernikahan tanpa cinta akibat paksaan ibu Ravian. Sebagai pemimpin perusahaan yang dingin, Ravian Aditya Maheswara hanya menganggap hubungan ini kewajiban belaka. Namun, saat Nayara menyerah dan meminta cerai, sikap Ravian berubah drastis. Alih-alih setuju, ia justru mulai mempermainkan perasaan Nayara, menjebaknya dalam teka-teki hati yang membingungkan tepat saat ia ingin pergi menjauh dari bayang-bayang pria itu.
Sampul Novel DERITA PERNIKAHAN PAKSA
9.3
Hidup Vivian hancur setelah terikat pernikahan paksa dengan Maximilian Windsor. Setiap hari ia harus menanggung siksaan fisik dan batin yang meninggalkan trauma mendalam. Di tengah penderitaan tersebut, muncul River, pria lembut yang menjadi pelindung sekaligus penyemangat hidupnya. Namun, obsesi Max yang kian gila memicu insiden tak terduga hingga Vivian mengandung anak dari pria yang paling ia benci. Kini ia terjebak di antara cinta tulus River atau Max yang merupakan ayah dari bayinya.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Hubungan Cinta Terlarang dengan Ibu Rina
8.7
Rina adalah seorang guru sejarah di sebuah SMA. Dia berusia 30 tahun, bercerai tanpa anak. Orang bilang dia mirip Demi Moore di film "Striptease". Tingginya 170 cm, berat 50 kg, dan payudara 36B. Semua muridnya, terutama yang laki-laki, sangat ingin melihat tubuh polosnya. Suatu hari, Rina harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya untuk tes rias wajah. Anto harus mengulang ulangan karena ketahuan menyontek di kelas. Anto juga dikenal dengan tubuhnya yang kekar karena sudah berlatih bela diri sejak SD sehingga harus menjaga kebugaran fisiknya. Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Dia diam-diam naksir dia. Itu sebabnya dia bermaksud memberinya beberapa "pelajaran tambahan" pada Minggu sore ini. "Sudah selesai, Anto?" Rina kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto sendirian selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang dilontarkannya. "Hampir, Nona." "Kalau sudah selesai, datanglah ke ruang tamu. Aku akan berada di belakang." "Oke." "Mbak Rina, aku sudah selesai," Anto memasuki ruang tamu dengan pekerjaannya. "Dimana Kak Rina?" "Dia di kamarnya Anto, sebentar," Rina mencoba membetulkan kausnya. Ia sengaja melepas branya untuk membangkitkan gairah muridnya. Di balik baju longgarnya, bentuk payudaranya terlihat jelas, terutama putingnya yang menonjol. Begitu dia pergi, mata Anto hampir melotot melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai, tidak seperti penampilannya biasanya di depan murid-muridnya. “Kenapa kamu tidak duduk dulu, biar aku periksa…” Wajah Anto memerah karena malu saat Rina tersenyum saat tatapannya terfokus pada payudaranya. "Bagus... bagus... Kamu bisa berbuat curang seperti itu?" “Maaf, Nona. Saya lupa belajar hari itu.” "Ah, benarkah?" "Anto, bisakah kamu membantuku?" Rina mendekat padanya di atas karpet. “Ada apa, Nona?” Tubuh Anto gemetar saat tangan gurunya memeluknya, sementara tangan Rina yang lain membelai area miliknya. "Tolong, bantu aku, dan berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa pun." "Tapi...tapi...aku..." "Kenapa? Oh...kamu masih perawan?" Wajah Anto memerah mendengar perkataan Rina. "Ya." "Tidak apa-apa. Biarkan aku membimbingmu." Rina lalu duduk di pangkuan Anto dan Anto hanya menurut saja saat tubuh hangat gurunya menempel di tubuhnya. Dia bisa merasakan dada Rina mengeras. Keduanya berciuman mesra. Setelah memuaskan diri, Rina berdiri di hadapan muridnya yang masih tertegun. Rambut panjangnya tergerai seperti sutra di tubuhnya. "Ah, cepatlah Anto," erang Rina tak sabar. Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Anto...letakkan tanganmu di dadaku," dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina, merasakannya naik turun.
Sampul Novel Kabut Cinta Riana
9.2
Riana yang cantik jelita harus menelan pil pahit saat harapannya hancur berkeping-keping. Sang kekasih justru memilih wanita lain, meninggalkan luka mendalam yang mengubah hatinya menjadi sedingin es. Meski dikhianati, ia terus berjuang dengan ketabahan dan pengorbanan yang luar biasa. Akankah ketulusan Riana mampu menyibak kabut duka dan menuntunnya menemukan cinta sejati yang selama ini ia dambakan di tengah dinginnya kesendirian?