Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT

MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT

Sebulan pasca menikah, Rio justru berkhianat dengan menikahi siri Marta, sahabatku sendiri. Aku dianggap pajangan tak berarti di rumah kami, hingga suatu malam Rio merenggut paksa kehormatanku demi mengganti rugi mahar yang ia beri. Hancur karena dijadikan tumbal pernikahan tanpa cinta, aku mengadu pada orang tua namun tak mendapat pembelaan. Akhirnya, aku memilih pergi menjauh dan menghapus jejak demi menyembuhkan luka batin yang teramat perih ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah salat Subuh, berkutat di dapur. Sebenarnya seleraku tak jauh beda dengan Mas Rio, sama-sama suka makanan rumahan.

Entah kenapa terasa tidak kenyang kalau beli di luar, padahal aku tidak hobi masak apalagi pintar meracik makanan enak.

Kalau ini bukan termasuk salah satu kelemahan kan? Baiklah, katakan saja ini kelebihan. Artinya tidak perlu boros-boros beli makanan jadi. Karena kenyataanya memang aku tak punya sesuatu yang bisa dibanggakan.

Nasi goreng instan ala kadar bahan yang tersisa di kulkas telah siap. Sebelum menyantap, terlebih dahulu membersihkan bekas memasak tadi. Bukan takut diberi kata mutiara dari Marta, memicu percekcokan hanya semakin menambah hati kian keras. Mencegah menurutku lebih baik. Bukankah mengalah tak berarti kalah? Menurut bukan berarti pecundang?

“Siapin barangmu! Sebelum jam tujuh, kita berangkat.” Lelaki itu muncul dengan ponsel di tangan dan langsung duduk saat baru tiga sendok nasi masuk ke mulut. Sepintas matanya melirik piring di depanku.

Aku terus melakukan aktivitas makan tanpa perduli, malah sengaja membuat piring dan sendok sering beradu. Rasain kamu, Mas! Kini aku rida melihatmu kelaparan.

Sepertinya, memang diri ini harus belajar tega dan mesti selalu mempraktikkan jiwa tanpa belas kasih itu. Kalau tidak, pasti kebodohan hakiki yang sekarang kusandang, akan terus melabeli diriku. Apalagi di mata Mas Rio dan Marta.

Setelah merasa kenyang, aku memindahkan nasi goreng dengan wangi yang membuat cacing merontah membayangkannya. Kebetulan tersisa banyak, lebih tepat sengaja menyisakan banyak di rantang kecil. Rasa ibaku menguap untuk sekadar menawari hasil kerjaku.

Bukankah tangan ini dan semua perangkat tubuh yang lain, tak perlu mengurus semua tentangnya? Apa gunanya aturan yang dibuat mereka, kalau hanya aku saja yang menjalankannya? Betul-betul pembodohan yang masif dan teratur.

“Kamu jangan coba-coba salah ucap di depan mama atau papa nantinya, apalagi sampai mengadu!” ujar Mas Rio sengit.

Mungkin karena dicuekin dan tak ditawari nasi goreng tadi, dia tiba-tiba marah tak jelas. Halo, apa dan ke mana saja istri yang kau puja itu?

“Aku nggak mau ikut!” jawabku berusaha tenang dengan ekpresi dibuat santai.

“Apa maumu sebenarnya?” Tatapnya mulai nanar.

“Kita cerai!” jawabku berdiri mencuci tangan, sendok, dan piring.

“Apa kamu mau lihat mamaku kena serangan jantung, karena ulahmu?” Dia mendesis.

“Dan aku mati berdiri di sini karena keegoisanmu?” jawabku tak kalah sengit.

“Jadi, aku harus bagaimana?” Mas Rio tiba-tiba mendekat saat sejenak terdiam. Matanya nyalang bak menelanjangi tubuhku. Ada rasa ngeri melihat ekspresinya yang tak jauh beda dengan penjahat di film-film.

“Pikirkan sendiri! Kamu, kan, manusia bijak,” sindirku sambil gegas meninggalkan pria egois itu dengan wajah memerah. Tak lupa membawa nasi goreng enak tadi yang telah kumasukkan ke rantang.

Sebenarnya hati kecil protes, yang kulakukan ini salah. Apalagi memang aku telah terbiasa dengan sikap mengalah dan menerima apa adanya di antara ke empat adik-adikku.

Mungkin itulah alasan bapak dan ibu memberi nama Bulan. Agar menjadi doa, supaya si penyandang nama bersikap lembut, selembut sinar bulan yang menyinari tanpa membuat kulit terbakar. Lalu? Apa yang kulakukan sekarang?

Andai Mas Rio dan Marta mau bersikap lembut, atau minimal dibicarakan baik-baik, dalam mencari solusi rumit ini.

Maka dengan statusku yang sekarang telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar Mas Rio secara sah, tentu memudahkan mencari cara mempersatukan mereka. Setelahnya, aku pergi dari kehidupan barunya secara baik-baik pula. Yang jelas, saat masa perjodohan itu sangat mustahil dilakukan.

“Cepatan!” Terdengar teriakan Mas Rio dari luar.

Dua tas besar telah terkemas, rencana sepulang nanti langsung cari rumah sewa. Satu tas ukuran sedang, kuisi lima pasang baju sebagai bawaan, tak lupa pernak-pernik khas wanita.

Kali ini aku memutuskan ke rumah orang tua Mas Rio. Selain ibu dan mama mertua baru saja menelepon untuk hadir, juga berencana terus ke rumah orang tuaku. Jarak dua tempat itu hanya dipisah satu desa.

Sarung tangan, jaket, kacamata, dan helm telah lengkap terpasang saat keluar kamar. Aku memilih mengendarai motor sendiri. Perjalanan dua jam setengah, sudah biasa kulalui sejak kuliah dulu.

Lalu, kenapa tatap lelaki itu tampak aneh melihatku? Ada yang salah kah?

“Kita naik mobil!” titahnya percaya diri.

“Setan nggak bisa sejalan dengan malaikat,” ujarku terus menyindir, sambil tetap melangkah ke halaman.

“Kenapa sih kamu selalu ngajak gelud urat leher, Ha?!” Mas Rio melangkah lebar mengikutiku.

“Jangan khawatir! Tujuan kita sama. Hanya cara sampai yang berbeda.” Wah, ternyata dalam keadaan baper pun kalimatku bisa puitis. Semoga pria pencipta kekacauan itu tak gagal paham.

“Kenapa juga kamu selalu mempersulit hidup Mas Rio? Ngeyel banget.” Marta tiba-tiba muncul dengan nada meremehkan saat aku duduk di atas jok yang memanaskan mesin motor.

Rambutnya masih dijepit dalam keadaan acak-acakan dan suaranya terdengar parau. Ternyata dia baru bangun tidur. Jadi, begini kerjaan istri yang dicintai saat waktu libur?

“Kirain hidupmu saja yang bermasalah, tenyata telingamu lebih parah,” ujar Marta lagi saat aku pura-pura tak dengar.

'Astagfirullah hal adzim.' Aku menekan dada agar bersabar, sambil terus mengucap istigfar dalam hati.

“Tanyain ke istri tersayangmu itu, jangan suka campuri urusan orang. Apalagi orang tersebut tak pernah mengusiknya.” Kutatap sejoli itu bergantian. Sengaja kalimat yang keluar dari bibir ini kubumbuhi cabai pedas.

Bukankah mereka yang mengawali menaikkan bendera perang? Kalau kata pepatah, kamu jual, aku beli. Meski sepenuhnya belum yakin mampu melakukan perlawanan. Tak apalah mencoba, walau akhirnya tumbang tak dikenang.

“Bulan!” Lagi, pria yang katanya pandai berdiplomat itu hanya memanggil namaku saat terdesak. Saat tak mampu berbicara dengan baik. Saat hanya mampu menyalahkanku saja.

“Kita selesaikan di rumah mama, papa,” kataku melajukan motor. Meninggalkan mereka dengan mimik entah. Lagian buat apa menunggunya? Menunggu mereka mempertontonkan perpisahan yang sok dramatis? Saling susah berpisah, kata rindu, peluk, cium, dan ... ah, lebay!

***

Sepanjang perjalanan, mobil Mas Rio terus membuntuti. Karena jalanan sepi dan waktu masih panjang sampai ke tujuan, aku santai saja mengendarai, bahkan sengaja beberapa kali singgah memberi camilan di kios pinggir jalan, dan berlama-lama memakannya di situ. Berharap pria aneh itu melewati.

Sungguh tak nyaman dikawal, bak putri dari pohon pisang saja.

Sepertinya Mas Rio memang berbakat jadi penguntit, hampir tak ada kendaraan yang berada antara motorku dan mobilnya. Aku jadi penasaran, seperti apa sih dia di tengah keluarga besar? Sampai segitunya.

Benarlah perkataan sebagian orang. Biasanya orang yang terlalu menjaga image, ada bangkai yang berusaha ditutupi.

Untung setiap orang tidak sama semua. Jadi, masih ada yang benar-benar menjaga akhlaknya karena takwa kepada sang Pencipta.

Saat berbelok ke lorong masuk kampung, tiba-tiba badan pria egois itu menghadang di depan. Entah kapan dia melewatiku. Untung otak dan iman masih sejalan. Kalau tidak, entah apa yang terjadi. Mungkin badannya sudah kujadikan aspal, sekalian membalaskan sakit hatiku.

Tinggal aku berkilah bila ditanya, dia bunuh diri. Aku hanya dijadikan korban. Astagfirullah, apa yang kupikirkan, Ya, Allah?

“Hei, apa yang kau lakukan?” Aku melotot sambil meraih kunci yang dia sambar, seketika mesin motor pun ikut mati.

“Ikut di mobil, atau …,” ancamnya dengan tatap tajam.

“Atau apa?” Aku menekan suara agar tak mengundang perhatian orang-orang.

“Aku buang ini?” Tangannya menggoyang kunci motor di atas kepalanya. Dia ancang-ancang melempar ke tengah sawah.

“Oke,” jawabku cepat saat tangan itu siap melempar.

Ya, Rabbi ..., mengapa hambamu yang hina ini hanya diciptakan untuk menuruti keadaan. Mungkinkah aku tak punya hak atas hidup ini meski hanya sesaat?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berakhir Menjadi Tawanan
9.5
Hidup di ibu kota memaksa Liana bekerja keras demi menghidupi adik-adiknya. Dari berpindah kontrakan hingga menjadi pacar kontrak, semua ia lakoni demi uang. Namun, rencana hidupnya berantakan saat bertemu Arsen, pemilik kos barunya. Pria misterius ini tidak hanya mengusik ketenangan Liana, tetapi juga menyeretnya ke dalam situasi pelik yang tak terbayangkan. Kini, kehadiran Arsen menjadi badai besar yang bisa menghancurkan atau justru menyelamatkan masa depan Liana.
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pernah Padam
8.3
Dua tahun Nayara terkurung dalam pernikahan tanpa cinta akibat paksaan ibu Ravian. Sebagai pemimpin perusahaan yang dingin, Ravian Aditya Maheswara hanya menganggap hubungan ini kewajiban belaka. Namun, saat Nayara menyerah dan meminta cerai, sikap Ravian berubah drastis. Alih-alih setuju, ia justru mulai mempermainkan perasaan Nayara, menjebaknya dalam teka-teki hati yang membingungkan tepat saat ia ingin pergi menjauh dari bayang-bayang pria itu.
Sampul Novel DERITA PERNIKAHAN PAKSA
9.3
Hidup Vivian hancur setelah terikat pernikahan paksa dengan Maximilian Windsor. Setiap hari ia harus menanggung siksaan fisik dan batin yang meninggalkan trauma mendalam. Di tengah penderitaan tersebut, muncul River, pria lembut yang menjadi pelindung sekaligus penyemangat hidupnya. Namun, obsesi Max yang kian gila memicu insiden tak terduga hingga Vivian mengandung anak dari pria yang paling ia benci. Kini ia terjebak di antara cinta tulus River atau Max yang merupakan ayah dari bayinya.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Hubungan Cinta Terlarang dengan Ibu Rina
8.7
Rina adalah seorang guru sejarah di sebuah SMA. Dia berusia 30 tahun, bercerai tanpa anak. Orang bilang dia mirip Demi Moore di film "Striptease". Tingginya 170 cm, berat 50 kg, dan payudara 36B. Semua muridnya, terutama yang laki-laki, sangat ingin melihat tubuh polosnya. Suatu hari, Rina harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya untuk tes rias wajah. Anto harus mengulang ulangan karena ketahuan menyontek di kelas. Anto juga dikenal dengan tubuhnya yang kekar karena sudah berlatih bela diri sejak SD sehingga harus menjaga kebugaran fisiknya. Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Dia diam-diam naksir dia. Itu sebabnya dia bermaksud memberinya beberapa "pelajaran tambahan" pada Minggu sore ini. "Sudah selesai, Anto?" Rina kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto sendirian selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang dilontarkannya. "Hampir, Nona." "Kalau sudah selesai, datanglah ke ruang tamu. Aku akan berada di belakang." "Oke." "Mbak Rina, aku sudah selesai," Anto memasuki ruang tamu dengan pekerjaannya. "Dimana Kak Rina?" "Dia di kamarnya Anto, sebentar," Rina mencoba membetulkan kausnya. Ia sengaja melepas branya untuk membangkitkan gairah muridnya. Di balik baju longgarnya, bentuk payudaranya terlihat jelas, terutama putingnya yang menonjol. Begitu dia pergi, mata Anto hampir melotot melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai, tidak seperti penampilannya biasanya di depan murid-muridnya. “Kenapa kamu tidak duduk dulu, biar aku periksa…” Wajah Anto memerah karena malu saat Rina tersenyum saat tatapannya terfokus pada payudaranya. "Bagus... bagus... Kamu bisa berbuat curang seperti itu?" “Maaf, Nona. Saya lupa belajar hari itu.” "Ah, benarkah?" "Anto, bisakah kamu membantuku?" Rina mendekat padanya di atas karpet. “Ada apa, Nona?” Tubuh Anto gemetar saat tangan gurunya memeluknya, sementara tangan Rina yang lain membelai area miliknya. "Tolong, bantu aku, dan berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa pun." "Tapi...tapi...aku..." "Kenapa? Oh...kamu masih perawan?" Wajah Anto memerah mendengar perkataan Rina. "Ya." "Tidak apa-apa. Biarkan aku membimbingmu." Rina lalu duduk di pangkuan Anto dan Anto hanya menurut saja saat tubuh hangat gurunya menempel di tubuhnya. Dia bisa merasakan dada Rina mengeras. Keduanya berciuman mesra. Setelah memuaskan diri, Rina berdiri di hadapan muridnya yang masih tertegun. Rambut panjangnya tergerai seperti sutra di tubuhnya. "Ah, cepatlah Anto," erang Rina tak sabar. Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Anto...letakkan tanganmu di dadaku," dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina, merasakannya naik turun.
Sampul Novel Kabut Cinta Riana
9.2
Riana yang cantik jelita harus menelan pil pahit saat harapannya hancur berkeping-keping. Sang kekasih justru memilih wanita lain, meninggalkan luka mendalam yang mengubah hatinya menjadi sedingin es. Meski dikhianati, ia terus berjuang dengan ketabahan dan pengorbanan yang luar biasa. Akankah ketulusan Riana mampu menyibak kabut duka dan menuntunnya menemukan cinta sejati yang selama ini ia dambakan di tengah dinginnya kesendirian?