Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya

Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya

Maura tak tinggal diam saat mendapati suaminya berkhianat. Alih-alih meratap, ia justru memanggil warga untuk menggerebek dan memaksa pasangan gelap itu segera menikah. Sang suami dan selingkuhannya merasa sangat bahagia karena impian mereka bersatu terwujud dengan mudah. Namun, mereka tidak menyadari bahwa semua itu adalah bagian dari rencana cerdik Maura untuk menghancurkan hidup mereka lewat cara yang paling mematikan dan tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah kata sah keluar, semua warga langsung pamit pulang. Banyak yang menatap iba Maura, tetapi wanita itu memamerkan senyuman. Saat menutup pintu, sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Maura berusaha menguasai emosi, lalu berbalik menatap dalam Hamdan.

"Mas ... lepaskan! Aku ngantuk, mau tidur." Maura sekuat tenaga menahan air mata yang hendak menetes.

"Ra ... maafkan Mas. Mas sudah menyakiti kamu." Kata itu terlontakan oleh bibir pria yang sekarang memiliki istri dua tersebut.

"Mas akan berusaha adil. Mas mencintai Mawar dan juga kamu." Maura tersenyum kecut saat mendengar ucapan Hamdan yang lancar tanpa hambat.

"Sudalah, Mas. Aku sangat mengantuk," ucap Maura. Ia berusaha menjauh dari tubuh Hamdan karena mereka tidak ada jarak sedikitpun.

Saat melangkah menuju kamar, Hamdan mengusapkan sesuatu.

"Mas ikut tidur bersamamu, setelah Mas mengantarkan Mawar ke kamarnya." Perkataan Hamdan membuat Maura membulatkan mata, ia langsung berbalik sambil berkata.

"TIDAKKK!" pekik Maura membuat Hamdan dan Mawar terkejut.

"Mas tidur saja bersama, Mawar. Ini, kan, malam pertama kalian," ucap Maura seraya menyindir membuat Mawar menunduk.

"Ya sudah, Mas tidur bersama Mawar. Mimpi indah, Sayang," seloroh Hamdan memegang pipi Maura dan mengecup kening istri pertamanya.

"Ayo Massss, aku sangat mengantuk," ajak Mawar. Wanita itu bergelayut manja di lengan Hamdan membuat Maura muak.

"Mbak, kami mau tidur dulu ya," kata Mawar. Maura langsung pergi tanpa menjawab ucapan adik madunya.

"Sayang, sekarang kita bisa melakukannya tanpa sembunyi-sembunyi. Mas sangat senang." Percakapan pengantin dadakan itu terdengar karena Maura mengintip mereka.

"Kalian boleh bersenang-senang, bersiaplah untuk besok Mawar. Kamu berani-beraninya masuk ke dalam rumah tanggaku," gumam Maura pelan. Lalu berbalik melanjutkan langkahnya ke kamar, di bilik itu Maura mengeluarkan semua air mata tanpa suara.

Maura tertidur saat jam menunjuk angka satu dini hari. Wanita tersebut langsung terbangun saat mendengar azan subuh, melakukan kewajiban sebagai umat muslim tanpa menunggu sang suami. Lelaki itu pasti tengah kelelahan melewati malam pertamanya, memikirkan hal itu membikin hati Maura sakit. Perempuan bermukena hijau, mencurahkan semua yang hinggap dalam kehidupan.

Suara dering ponsel mengalihkan tatapan Maura. Beruntung wanita itu selesai berdoa, dengan merapikan mukena ia langsung meraih benda pipih tersebut. Nama Mama mertuanya tertera, dia lekas menerima panggilan.

"Walaikumsalam, Mah," balas Maura, lalu ia menoleh saat pintu kamar terbuka.

"Siapa, Ra?" tanya Hamdan masih memakai setelan koko dan sarung.

"Mama, Mas," sahut Maura membuat Hamdan membulatkan matanya, ia langsung mendekat. Takut sang istri mengadu atas kelakukannya.

"Mama, di mana Delia?" tanya Hamdan merebut handphone Maura dari tangan wanita itu.

Maura mendengkus, ketahuan sekali pria itu takut Maura mengadu pada Wulan. Maura langsung tersenyum saat suara cempreng Delia terdengar di ponsel. Dia lekas berdiri di samping Hamdan sambil melambaikan tangan ke handphone.

"Sayang, kamu senang di rumah Oma?" tanya Maura mengulas senyum, kesedihannya meluap menjadi kebahagiaan saat mendengar celotehan putri pertamanya.

"Lia senang di rumah Oma, Bunda. Tapi Lia kangen Bunda," kata Delia membuat Maura meneteskan air matanya, teringat pengkhianatan sang suami.

"Sekarang Bunda jemput ya, sudah habis masa liburmu, Sayang," seru Maura dibalas anggukan lucu oleh Delia, gadis kecil itu tertawa bahagia tanpa beban.

"Sayang, Bunda akan memperjuangkan hakmu!" Batin Maura berseru lalu menyudahi perbincangan mereka, karena Hamdan harus bersiap berkerja.

"Sayang, mana pakaian kerjaku?" pinta Hamdan setelah mematikan sambungan video call.

"Kamu tidak mengadu pada Mama, kan?" tanya Hamdan menyelidiki, setelah menaruh ponsel Maura ke nakas.

"Untuk apa, ini masalahku. Aku tidak mau melibatkan mereka," sahut Maura ketus lalu mengambilkan setelan pakaian kerja dan berlalu pergi meraih tas slempang.

"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Hamdan saat Maura memegang gagang pintu.

"Apa kamu menjadi tuli? Sudah dengar bukan, aku mau menjemput Delia," seloroh Maura menatap kesal Hamdan, membuat pria itu salah tingkah.

Maura mengambil roti dan selai, hari ini ia ingin memakai itu. Terlihat Hamdan dan Mawar berjalan bersamaan menuju meja, Maura lebih memilih melahap makanannya dari pada memikirkan manusia yang sedang di dekat meja makan. Hamdan menatap beberapa selembar roti di meja, tidak dioles apapun.

"Sayang, mana sarapannya? Kenapa hanya roti saja," protes Hamdan menjatuhkan bokongnya ke kursi.

"Itu ada selai, oles saja dengan itu. Aku sedang malas masak, suruh aja istri barumu memasak," seloroh Maura membuat Mawar melotot pasalnya ia tak bisa memasak, ia membawa makanan hasil membeli di rumah makan.

"Oh ya, kamu, War. Jangan mengaku sebagai istri Mas Hamdan, apalagi menyuruh Delia memanggil Mama. Kamu hanya akan aku kenalkan sebagai pembantu rumah ini, status kalian tidak boleh diketahui oleh keluarga," tutur Maura tanpa gemetar sedikit pun, ia sudah menguatkan hatinya.

"Tidak bisa, Mbak! Mbak tidak boleh seperti itu, aku ini istrinya Mas Hamdan sekarang bukan pembantu," protes Mawar dengan nada menggebu-gebu.

"Iya, Sayang, kasian Mawar kalau dianggap pembantu," bela Hamdan membuat Mawar tersenyum.

"Kalau Delia mengamuk bagaimana? Dan bertanya-tanya kenapa dia bisa memiliki dua Ibu. Apa kalian mau tanggung jawab! Apalagi kalau Mama dan Ayah mengetahui kelakuan putranya," hardik Maura menatap tajam kedua manusia itu, sambil napas yang terengah-engah karena berucap dengan nada tinggi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Seroja
8.2
Seroja Wijaya adalah kembang desa rupawan anak petani di tanah Sunda. Meski banyak pria desa hingga kota ingin meminangnya, ia selalu menolak demi menunda pernikahan. Suatu hari, sang abah menjodohkannya dengan juragan sayur dari kampung tetangga. Sayangnya, pernikahan itu berakhir cerai karena Seroja hanya merasa kecewa. Di tengah luka, ia bertemu Alzidan, teman masa kecil yang sempat pindah ke kota. Pertemuan itu membawa mereka ke pelaminan dan hidup bahagia.
Sampul Novel Cinta Yang Terenggut
7.9
Sepuluh tahun menikah, rumah tangga Jonathan dan Theresia hancur karena depresi akibat kemandulan. Jonathan yang lelah disiksa secara fisik dan mental akhirnya menggugat cerai. Di tengah proses itu, ia jatuh hati pada Karin, sekretarisnya yang lembut dan kontras dengan sang istri. Namun, Theresia berusaha keras mempertahankan hubungan mereka. Akankah Jonathan berhasil pergi, ataukah ada niat tersembunyi di balik ketulusan Karin yang tampak naif?
Sampul Novel Cintaku Bagai Layangan Putus
8.1
Delapan tahun pernikahan Bella hancur setelah mengetahui suaminya, mafia Alvaro Winata, berselingkuh dengan saudara tirinya, Cindy Martadina. Alvaro mengkhianati Bella demi memperkuat posisinya di keluarga, menganggap sang istri hanya alat pelindung. Alih-alih menangis, Bella memilih bertindak senyap. Lewat kesepakatan rahasia di pasar ilegal, ia bersiap menghilang selamanya dari dunia dalam dua minggu, meninggalkan semua pengkhianatan di belakangnya.
Sampul Novel Gadis Tanpa Ayah
8.8
Suci didera guncangan batin hebat setelah mengungkap rahasia kelam di balik kelahirannya. Kenyataan pahit bahwa dirinya adalah buah dari tindakan pemerkosaan membuatnya hancur dan kehilangan arah. Di tengah krisis identitas tersebut, sang kekasih yang berprofesi sebagai polisi datang membawa lamaran pernikahan. Namun, luka masa lalu itu memicu keraguan besar dalam hati Suci untuk melangkah ke pelaminan dan membangun masa depan bersama pria pilihannya.
Sampul Novel KANDAS!
9.4
Segala pengorbanan dan upaya keras yang telah dikerahkan demi mempertahankan hubungan asmara selama ini ternyata harus menemui jalan buntu. Meskipun seluruh tenaga dan perasaan telah dicurahkan untuk menjaga keutuhan cinta tersebut, takdir berkata lain. Kisah romansa yang diperjuangkan dengan penuh kesungguhan itu akhirnya terhenti di tengah jalan dan hancur berantakan. Harapan yang dulu dipupuk kini sirna saat jalinan kasih itu resmi dinyatakan kandas.
Sampul Novel Kematian Berujung Perceraian
8.0
Setelah memohon 99 kali, sang ibu akhirnya membujuk Rizald Pratama untuk membawa putri mereka berkemah saat ulang tahunnya. Namun esoknya, sang anak ditemukan tewas di kaki gunung sambil memegang erat foto keluarga. Di tengah duka, sang ibu melihat unggahan media sosial suaminya bersama teman masa kecilnya dan seorang bocah lain. Foto bahagia menikmati matahari terbenam itu rupanya dipotret oleh mendiang putrinya sendiri sebelum meninggal, menyisakan misteri dan pengkhianatan yang memilukan.