
Mengejar Cinta Calon Janda
Bab 2
Sesampainya di toko kue milik Sheril. Ia langsung menghampiri Sheril yang tengah berbincang dengan seorang laki-laki.
"Sheril?" panggil Divya lalu berdiri di samping perempuan itu.
Matanya membola usai melihat Darius lah yang tengah berbincang dengan Sheril. Lelaki itu kemudian melambaikan tangannya dan tersenyum hangat kepadanya.
"Kalian ... saling kenal?" tanya Sheril sembari menunjuk keduanya bergantian.
Divya mendekatkan wajahnya di telinga Sheril. "Siapa dia? Kok ada di sini, sih?" bisiknya bertanya kepada Sheril.
"Sepupu gue. Anaknya Om Bayu, kakaknya bokap gue."
Divya menelan salivanya. "Kok gue baru tahu, elo punya sepupu selain Meisya?"
"Meisya itu adiknya Darius, Divya. Dia baru pulang dari Jerman. Kenalan gih. Atau udah saling kenal?"
"Belum. Namanya siapa, Sher?" tanya Darius kemudian.
"Divya. Sahabat deket gue sama Meisya."
Darius manggut-manggut dengan pelan. "Hi! Akhirnya, tahu juga nama kamu. Divya. Nama yang cantik."
"Yeu! Gombal! Mentang-mentang kagak jadi tunangan. Main embat aja bini orang."
Divya menoleh cepat ke arah Sheril. Pun dengan Darius. Lelaki itu tampak terkejut dengan mode biasa saja padahal hatinya berteriak-teriak.
"Oh! Sudah punya suami," ucapnya dengan pelan.
Sheril mengangguk. "Iya. Nyari yang lain aja sono!" ucap Sheril kemudian menarik tangan Divya dan membawanya ke kerumunan orang-orang yang sudah tiba di sana.
Acara grand opening sudah selesai dilaksanakan. Toko kue yang diberi nama Beauty Cake sudah resmi dibuka dan sudah siap beroperasi.
"Lo kenal dari mana sih, sama Darius? Padahal baru tiga hari, dia di Indonesia," tanya Sheril ingin tahu.
Divya menghela napasnya dengan panjang. "Semalam gue ke club Gideon. Sekalian pesen kamar juga di sana. Kebetulan Zion juga gak ada di rumah dan elo juga tahu, dia gak pernah peduli gue di mana, sama siapa."
Sheril mengangguk. "Iya. Gue tahu itu. Zion nikahi elo cuma patuh sama orang tua dan jabatannya."
Divya tersenyum lirih. "Udah setahun, Sher. Gue sama dia nikah. Tapi, gue belum bisa luluhin hati dia. Dan masih berhubungan sama mantan tunangannya."
Sheril mengusapi lengan Divya. "Ya udahlah. Suatu saat nanti mertua elo bakalan lihat, mana yang bener dan mana yang salah. Elo udah berusaha semampu lo, tapi dia masih gitu. Biarin aja."
Divya tersenyum lirih. "Iya. Gue gak tahu awalnya kenapa gue sama Darius bisa kenal, Sher."
"Hah? Kok gitu? Maksudnya gimana coba?"
"Tadi lo bilang, dia batal tunangan. Kenapa?" tanyanya ingin tahu.
"Biasalah. Ceweknya hamil sama cowok lain."
Divya terkekeh pelan. "Kasihan banget."
"Dan elo belum jawab pertanyaan gue, kampret!" sengal Sheril kesal sebab Divya belum juga bercerita mengapa dia dan Darius bisa bertemu.
Divya menghela napasnya dengan panjang. "Dia salah masuk kamar gue. Kamar yang dia pesan nomor dua puluh dan bersebelahan sama kamar gue. Maybe, dia masuk ke kamar gue dan kita ... you know lah."
Sheril mengatup bibirnya menahan tawa mendengar cerita dari Divya.
"Are you kidding me? You and Darius ... oh my God. Kalian pake pengaman, kan?"
"Mana gue tahu, Sheril. Gue gak sempat lihat bekas sarung dia juga."
"Divya! Elo! Astaga! Kalau elo hamil gimana? Si Zion gak bolehin elo hamil, kan?" ucap Sheril dengan mata membola.
Divya menghela napas kasar. "Gak akan hamil. Gue udah dijaga sama pil kontrasepsi."
"Oh! Lega gue, Dyv." Sheril mengusapi dadanya sebab lega karena Divya tak lupa dengan pil kontrasepsi yang rutin ia minum karena titah dari Zion.
Pernikahannya yang tidak baik-baik saja membuatnya seolah tak menyesali perbuatannya semalam dengan Darius. Sebab selama ini ia tak pernah melakukan apa pun di belakang Zion.
Namun, lelaki itu masih sering menemui tunangannya. Mantan tunangan yang masih dianggap tunangan oleh lelaki itu.
Waktu sudah menunjuk angka lima sore. Divya masih betah di toko kue milik Sheril dan kini ia tengah menikmati satu potong redvelvet dengan segelas susu segar.
"Hi! Masih di sini rupanya." Darius menghampiri Divya.
Perempuan itu kemudian mengadah pelan dan tersenyum tipis. "Iya. Masih di sini," ucapnya pelan.
Darius kemudian menaruh ponselnya di atas mejanya. "Saya sudah minta nomor kamu ke Sheril. Boleh, saya mengabari kamu kapan saja?"
Divya menelan salivanya dengan pelan. "Kamu ingin suami saya memarahi kamu?"
"No! Saya tidak akan mengganggu rumah tangga kamu. Baiklah. Saya kirim nomor saya saja. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kapan pun boleh chat saya."
Darius lalu mengirim pesan kepada Divya agar menyimpan nomornya. "Kamu boleh simpan dengan nama apa saja. Donna juga boleh."
Divya terkekeh pelan. "Customer Darius."
"What?" Darius tampak bingung.
"Saya punya butik. Pakaian pria dan wanita juga menyediakan gaun pengantin. Jangan salah paham dulu."
Darius meringis pelan lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Terima kasih dan salam kenal," ucapnya lalu menjulurkan tangannya kepada Divya.
Melihat pria ini tampak baik dan pantang menyerah, Divya pun membalas uluran tangan itu.
"Divya."
"Darius." Lelaki itu kemudian menerbitkan senyumnya kepada Divya. 'Aku tidak pernah mendoakanmu yang buruk-buruk. Tapi, jika menunggu jandamu adalah pilihan terakhirku, maka akan aku lakukan,' ucapnya dalam hati.
Anda Mungkin Juga Suka





