
Mengasuh Bayi Mantanku
Bab 2
Ruangan terasa begitu sunyi setelah kehadiran wanita itu. Hanya terdengar suara samar bayi kecil yang menggeliat dalam boksnya.
Dirga Mahendra berdiri mematung di depan pintu, menatap sosok yang tidak pernah ia bayangkan akan muncul kembali dalam hidupnya. Keysha Adinata. Wanita yang dulu mengisi hari-harinya, yang dulu ia pikir akan menjadi masa depannya-sampai semuanya hancur dalam satu malam karena fitnah yang tidak pernah terbantahkan.
Dan sekarang, dia berdiri di sini.
Sebagai pengasuh anaknya.
"Dirga..." suara ibunya memecah keheningan. "Keysha adalah kandidat terbaik yang kami temukan. Dia punya pengalaman, dan dia bersedia mengurus cucumu."
Cucumu.
Bukan anakmu.
Dirga tahu ibunya memilih kata-kata dengan hati-hati. Semua orang di rumah ini sadar bahwa ia belum pernah benar-benar mengakui keberadaan anak itu.
Mata Dirga masih terkunci pada Keysha. Wanita itu tidak bergeming, meskipun ada ketegangan yang jelas di balik tatapan dinginnya.
"Apa ini semacam lelucon?" suara Dirga akhirnya terdengar, rendah dan penuh ketidakpercayaan. "Kau membawa dia ke sini... setelah apa yang terjadi?"
Diah Mahendra menghela napas, lelah dengan ketegangan di antara keduanya. "Dirga, kau harusnya sudah bisa melupakan masa lalu. Keysha hanya datang untuk bekerja, bukan untuk membahas apa yang terjadi bertahun-tahun lalu."
Keysha masih diam, tetapi ada kilatan tajam di matanya.
"Aku tidak punya urusan dengan masa lalu, Tuan Mahendra," ucapnya akhirnya, nada suaranya datar. "Aku hanya datang untuk mengasuh anakmu. Jika kau tidak setuju, aku bisa pergi sekarang juga."
Dirga menatapnya dengan tatapan menusuk. Perempuan ini... perempuan yang dulu pernah ia cintai dengan sepenuh hati... kini berbicara padanya seolah mereka tidak pernah memiliki sejarah bersama.
Dan itu membakar sesuatu di dalam dadanya.
"Aku tidak membutuhkan pengasuh untuk anak itu," katanya dingin. "Kau tidak harus ada di sini."
Keysha mengangkat dagunya sedikit, jelas tidak terpengaruh. "Sayangnya, aku sudah dikontrak oleh keluargamu. Jika kau ingin aku pergi, silakan urus sendiri dengan ibumu."
Tatapan Dirga beralih pada Diah, yang kini memandangnya dengan penuh ketegasan. "Keysha tetap di sini," kata wanita itu tegas. "Anak itu butuh seseorang untuk merawatnya, Dirga. Dan kau sudah cukup lama mengabaikan kewajibanmu sebagai ayah."
Dirga mengepalkan tangan. Ia ingin membantah, ingin mengusir Keysha saat itu juga. Tetapi tatapan ibunya penuh perintah, dan Dirga tahu ini adalah pertarungan yang tidak akan ia menangkan.
Sial.
Tanpa mengatakan apapun lagi, ia melangkah pergi, meninggalkan ruangan dengan rahang mengeras.
Beberapa jam kemudian
Keysha duduk di dalam kamar bayi, menatap bocah mungil yang sedang tidur dalam boksnya.
Bayi itu begitu kecil, wajahnya polos tanpa dosa, dengan rambut hitam lembut yang sedikit bergelombang. Bibir mungilnya bergerak-gerak seolah sedang bermimpi.
"Apa yang harus kupanggil padamu, hm?" gumam Keysha pelan. "Kau pasti belum punya nama panggilan, kan?"
Diah Mahendra sudah memberitahunya bahwa bayi ini bernama Nayla Aryasatya Mahendra. Sebuah nama yang indah... dan menyedihkan.
"Nayla," bisiknya, mengelus kepala bayi itu dengan lembut. "Ibumu pasti sangat mencintaimu."
Keysha tidak pernah bertemu dengan Safira secara langsung, tetapi ia tahu siapa wanita itu. Perempuan sempurna yang dulu dipilih oleh Dirga untuk menjadi pendampingnya. Perempuan yang ia pikir telah membuat Dirga bahagia.
Namun sekarang, wanita itu telah tiada.
Dan Dirga...
Keysha menghela napas panjang.
Melihat pria itu lagi setelah bertahun-tahun bukan sesuatu yang ia inginkan. Luka lama yang telah ia kubur bertahun-tahun lalu kini seakan kembali terbuka. Dulu, ia mencintai pria itu dengan sepenuh hati. Dulu, ia percaya bahwa mereka akan bersama selamanya.
Tapi Dirga tidak mempercayainya.
Satu tuduhan selingkuh menghancurkan semuanya, dan tanpa ragu, Dirga memilih meninggalkannya.
Dan kini, ia harus bekerja untuk pria yang sama-merawat anaknya.
Ironis sekali.
Beberapa hari kemudian
Dirga berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan keberadaan Keysha di rumahnya.
Setiap pagi, ia melihat wanita itu merawat Nayla, menggendongnya dengan penuh kasih sayang, membisikkan kata-kata lembut yang tidak pernah ia ucapkan pada putrinya sendiri.
Dan itu membuatnya semakin marah.
Bukan pada Keysha.
Tetapi pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau tetap di sini?" tanyanya suatu malam, saat ia akhirnya mendapati Keysha sendirian di dapur.
Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia meletakkan botol susu bayi yang baru saja ia cuci, lalu menoleh dengan ekspresi netral.
"Karena aku dibayar untuk berada di sini."
Jawaban itu menusuk.
Dirga menatapnya lama, mengamati setiap detail wajah yang dulu begitu ia kenal. Keysha masih secantik dulu, tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Dulu, mata itu selalu penuh cahaya setiap kali melihatnya.
Kini, yang tersisa hanyalah kehampaan.
"Aku masih tidak percaya kau benar-benar bisa bekerja di rumah ini, seolah tidak ada yang terjadi," gumamnya dingin.
Keysha mengangkat alis. "Dan aku tidak percaya kau masih menyimpan kebencian pada sesuatu yang bahkan tidak pernah kulakukan."
Dirga mengepalkan rahangnya. "Jangan mulai lagi, Keysha."
"Aku tidak pernah memulai," sahutnya tajam. "Aku hanya menjelaskan bahwa aku tidak peduli dengan masa lalu. Aku di sini hanya untuk Nayla. Bukan untukmu."
Ada sesuatu dalam kata-katanya yang membuat Dirga merasakan sengatan aneh di dadanya.
Keysha benar-benar sudah melupakannya.
Dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan... hal itu lebih menyakitkan daripada yang ia kira.
Anda Mungkin Juga Suka





