
Mengasuh Bayi Mantanku
Bab 3
Pagi itu, suasana rumah mewah milik keluarga Mahendra terasa hampa. Hanya suara langkah kaki Keysha yang terdengar di sepanjang lorong, mengantarkan dirinya menuju kamar bayi yang kini menjadi tempat ia menghabiskan sebagian besar waktunya. Dirga sudah pergi ke kantor, seperti biasa, dengan ekspresi serius yang tidak pernah berubah. Namun, hari-hari terakhir ini, ada sesuatu yang berbeda di antara mereka-sesuatu yang semakin sulit untuk diabaikan.
Keysha berhenti di depan pintu kamar Nayla, mengetuk pelan sebelum masuk. Bayi itu tidur dengan tenang, tubuh kecilnya terbungkus selimut yang lembut. Keysha tersenyum samar, melangkah mendekat dan duduk di kursi goyang yang sudah ia tempatkan di samping boks bayi. Ia memandang Nayla dengan penuh kasih, mengelus rambut hitam halus yang sedikit bergelombang itu.
Nayla, bayi yang begitu polos dan tak berdosa, menjadi alasan Keysha bertahan di rumah ini. Dirga mungkin tidak menyadari, tapi Keysha sangat memahami betapa rapuhnya kehidupan seorang anak tanpa seorang ibu. Nayla membutuhkan kasih sayang, dan Keysha tidak bisa membiarkan gadis kecil itu tumbuh tanpa perlindungan, tanpa perhatian.
"Semoga kau tumbuh menjadi perempuan yang kuat," gumam Keysha pelan. "Seperti ibumu. Aku akan menjaga kamu, Nayla."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan suara pelan. Keysha menoleh, dan di sana berdiri Dirga, mengenakan jas hitam yang masih terpasang rapi di tubuhnya. Wajahnya keras, namun ada sesuatu yang terlihat lebih gelap dalam sorot matanya. Keysha merasa matanya menajam, seolah menunggu sesuatu.
"Ada apa?" tanya Keysha, nada suaranya tenang, meskipun dalam hatinya ada perasaan yang campur aduk.
Dirga berdiri di sana beberapa detik, seolah ragu. Ada ketegangan yang mengalir di antara mereka, ketegangan yang sudah lama ada namun tidak pernah terungkap dengan jelas. Dirga akhirnya menghela napas, langkah kakinya mantap menuju tempat tidur bayi, berdiri di sisi Keysha. Dengan ekspresi dingin yang masih ada, ia mengamati Nayla yang sedang tidur.
"Dia terlihat sangat mirip ibunya," ujar Dirga, suara seraknya menunjukkan sedikit kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan. "Kadang, aku merasa seperti melihat Safira lagi."
Keysha menatap Dirga dari samping. Di matanya, ia bisa melihat sebuah luka, sebuah perasaan yang telah lama terpendam. Selama ini, Dirga mencoba menyangkal kenyataan bahwa ia kehilangan lebih dari sekadar seorang istri. Ia kehilangan segalanya dalam hidupnya-dan Keysha tahu, meskipun ia berusaha keras untuk menjaga jarak, ia tetap merasakan beban yang sama.
"Saya tahu," jawab Keysha pelan. "Nayla adalah bagian dari Safira. Tapi, dia juga bagian dari Dirga." Suaranya kali ini terdengar lebih lembut, lebih penuh pengertian. "Dia membutuhkanmu, Dirga."
Dirga terdiam, menatap bayi yang tidur dengan tenang. Seakan ada angin dingin yang meniupnya, menghantarkan rasa kehilangan yang jauh lebih dalam. Ia mengangkat tangannya, menepuk pelan kepala Nayla tanpa benar-benar menyentuhnya.
"Saya tidak tahu bagaimana merawatnya," kata Dirga, suaranya semakin lemah. "Saya tidak tahu bagaimana bisa menjadi ayah yang baik untuknya."
Keysha merasa hatiannya mencelos. Ia tahu betapa beratnya beban yang Dirga pikul, meskipun selama ini ia mencoba untuk tidak terlihat. Pria itu, yang tampaknya selalu kuat dan tegar, kini terlihat rapuh. Ketika ia mengalihkan pandangannya, matanya berkaca-kaca.
"Saya tidak tahu harus mulai dari mana," lanjut Dirga, dan dalam suaranya, Keysha mendengar kebingungan yang tak terungkapkan sebelumnya.
Keysha menatapnya lama, dan untuk sejenak, ia melihat Dirga bukan sebagai pria yang pernah meninggalkannya, tetapi sebagai seorang ayah yang kebingungannya begitu nyata. Hatinya, yang sebelumnya keras dan tertutup, mulai merasakan sebuah simpati yang tak terduga. Namun, itu hanya sementara. Luka yang ditinggalkan oleh Dirga masih terlalu besar untuk bisa sembuh dalam sekejap.
"Tidak ada yang mengharuskanmu untuk tahu semuanya," jawab Keysha dengan suara lembut namun penuh ketegasan. "Setiap langkah yang kau ambil akan menjadi pelajaran. Jangan terlalu keras pada diri sendiri."
Dirga menunduk, menghela napas dalam-dalam. Keysha bisa melihat raut wajahnya yang penuh penyesalan dan ketidakpastian. Ia menginginkan lebih banyak dari Dirga, ia menginginkan Dirga menjadi pria yang ia kenal dulu-pria yang selalu melindunginya, yang selalu membuatnya merasa aman. Tetapi kenyataan yang ada membuatnya sadar bahwa pria itu sudah berubah, dan ia tak bisa kembali ke masa lalu.
"Kenapa kau datang kembali?" Dirga akhirnya bertanya, suaranya sedikit bergetar. "Kenapa kau kembali ke hidupku setelah semuanya?"
Keysha menoleh, menatap Dirga dengan mata yang seakan menyimpan sebuah jawaban yang sulit diungkapkan. "Karena ini bukan hanya tentangmu, Dirga. Ini tentang Nayla. Tentang memberikan dia kesempatan untuk tumbuh dengan kasih sayang yang layak dia dapatkan."
Dirga terdiam lama, tidak berkata apa-apa. Dalam keheningan itu, Keysha merasa ada sesuatu yang mengalir di antara mereka, sebuah kesepakatan yang tidak terucapkan. Dirga mungkin tidak bisa lagi menjadi pria yang ia kenal dulu, tetapi ia bisa menjadi ayah untuk Nayla-meskipun itu membutuhkan waktu.
"Terima kasih," Dirga akhirnya berkata pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Terima kasih karena sudah ada untuknya."
Keysha mengangguk perlahan, senyumnya tipis namun penuh makna. "Saya hanya melakukan apa yang perlu dilakukan."
Di dalam kamar itu, sebuah perasaan yang rumit mulai tumbuh, seiring dengan keputusan yang harus diambil oleh keduanya. Meskipun masa lalu mereka penuh dengan luka dan kebohongan, masa depan-terutama masa depan Nayla-menuntut mereka untuk berdamai dengan kenyataan. Namun, apakah mereka mampu?
Anda Mungkin Juga Suka





