
Mencari Seorang Gadis Selama 20 Tahun
Bab 2
Rasa sakit di kepala Axel berangsur mereda, digantikan oleh gelombang amarah yang membara. Dia menatap Reno, sosok yang selama ini ia anggap sebagai tangan kanan kepercayaannya, kini berdiri di hadapannya sebagai dalang di balik penculikan ini. Ruangan pengap itu terasa semakin menyesakkan, setiap sudutnya memancarkan aroma pengkhianatan.
"Kau pikir bisa lolos dengan semua ini, Reno?" suara Axel terdengar serak, namun tegas. "Perusahaan itu aku bangun dengan darah dan keringat. Tidak akan semudah itu kau merebutnya."
Reno hanya tertawa, tawa yang dingin dan merendahkan. "Oh, aku tahu seberapa besar kau mencintai perusahaanmu, Axel. Dan itu adalah kelemahanmu. Kau terlalu fokus membangun kerajaanmu, sampai lupa melihat ular yang melingkar di sekitarmu." Dia melangkah mendekat, mengamati Axel yang terikat dengan tatapan puas. "Kau selalu selangkah di depanku, selalu berhasil memenangkan setiap tender, setiap negosiasi. Sekarang, giliranmu merasakan bagaimana rasanya terikat dan tak berdaya."
Reno mulai membeberkan detail rencana jahatnya. Ternyata, dia tidak sendirian. Ada beberapa direktur lain yang terlibat, yang selama ini diam-diam bersekongkol. Mereka telah membentuk jaringan internal yang solid, memanfaatkan celah dalam sistem keamanan perusahaan dan memanipulasi data keuangan. Tujuan mereka adalah melemahkan posisi Axel, menciptakan kekacauan, lalu mengambil alih kekuasaan melalui kudeta direksi yang telah direkayasa.
"Pencarianmu tentang gadis masa lalumu itu," Reno melanjutkan, senyumnya semakin lebar, "adalah kado terindah bagiku. Kau sibuk dengan romansa masa lalumu, sementara kami sibuk menyiapkan makam untukmu di perusahaan. Kau terlalu sentimental, Axel. Bisnis itu kejam. Tidak ada tempat untuk hati."
Kata-kata Reno bagai pisau yang menusuk jantung Axel. Bukan hanya karena penghinaan itu, tetapi karena kebenaran pahit di baliknya. Ia memang terlalu fokus pada masa lalu, terlalu merindukan sosok "Mentari Kecilnya", sehingga lengah terhadap bahaya yang mengintainya. Pengkhianatan ini terasa dua kali lebih menyakitkan karena ia tahu, sebagian kesalahannya terletak pada dirinya sendiri.
Reno kemudian menunjukkan serangkaian dokumen palsu yang telah mereka siapkan. Dokumen-dokumen itu berisi tuduhan korupsi dan penyelewengan dana yang akan mereka jadikan bukti untuk menjatuhkan Axel di mata para pemegang saham. Mereka juga telah menyuap beberapa media massa untuk menyebarkan berita negatif tentang Axel, menghancurkan reputasinya.
"Sebentar lagi, dunia akan mengenalmu sebagai CEO korup yang lari dari tanggung jawab," ujar Reno sambil menunjuk sebuah artikel berita online yang telah dirancang. "Dan saat itu terjadi, kami akan tampil sebagai pahlawan yang menyelamatkan perusahaan."
Axel mengepalkan tangan, menahan emosi yang meluap. Dia merasa seperti terperangkap dalam labirin tanpa jalan keluar. Setiap langkah yang diambil Reno terasa begitu terencana, begitu sempurna. Namun, di balik kemarahannya, terbersit pula ide-ide untuk melarikan diri. Dia tidak akan membiarkan Reno dan komplotannya menang semudah itu.
Waktu berlalu lambat di ruangan itu. Reno dan anak buahnya pergi, meninggalkan Axel sendirian dalam kegelapan dan keheningan yang mencekam. Hanya suara detak jantungnya sendiri yang terdengar, berpacu dengan cepat.
Axel mulai mengamati sekelilingnya. Ruangan itu tampak seperti gudang tua, lembap dan berbau apek. Dindingnya terbuat dari beton kasar, dan hanya ada satu pintu besi kokoh yang tampaknya terkunci rapat dari luar. Jendela tidak ada, hanya ventilasi kecil di bagian atas yang terlalu tinggi untuk dijangkau.
Dia mencoba menggerakkan pergelangan tangannya yang terikat. Tali yang digunakan sangat kuat, namun tidak terlalu kasar. Ini mengindikasikan bahwa penculik tidak ingin melukainya secara fisik, setidaknya untuk saat ini. Mereka membutuhkannya hidup-hidup untuk rencana busuk mereka.
Axel menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Dia adalah seorang pengusaha ulung, terbiasa menghadapi tekanan dan memecahkan masalah pelik. Situasi ini memang berbeda, jauh lebih berbahaya, namun prinsip dasarnya tetap sama: menganalisis masalah, mencari celah, dan merencanakan langkah selanjutnya.
Pertama, dia harus membebaskan diri dari ikatan. Dengan sedikit gerakan, dia menggesek-gesekkan tali di pergelangan tangannya ke tepi kursi yang tajam. Perih terasa, namun dia terus melakukannya dengan gigih. Otot-ototnya tegang, peluh membasahi dahinya. Butuh waktu lama, sangat lama, dan rasa sakit yang tak terbayangkan. Namun, Axel tidak menyerah. Sedikit demi sedikit, serat tali mulai terkikis.
Sambil berusaha membebaskan diri, Axel juga mengumpulkan informasi. Dia mendengarkan setiap suara yang datang dari luar. Suara mesin, samar-samar percakapan, dan kadang-kadang suara tawa. Dari suara-suara itu, dia menduga lokasi penyekapannya tidak jauh dari keramaian, mungkin di pinggiran kota atau kawasan industri yang sepi di malam hari.
Beberapa jam kemudian, tepat saat tangannya mulai mati rasa, Axel merasakan talinya sedikit melonggar. Dengan gerakan terakhir yang kuat, dia berhasil melepaskan satu tangannya. Rasa lega bercampur sakit menjalar di pergelangan tangannya yang memerah dan lecet. Namun, dia tidak punya waktu untuk mengeluh. Dengan tangan yang bebas, dia segera membuka ikatan di tangan yang lain, lalu melonggarkan ikatan di kakinya.
Axel berdiri, kakinya terasa kaku dan sedikit gemetar. Dia meregangkan tubuhnya perlahan, mencoba mengembalikan aliran darah. Kebebasan fisik ini memberinya semangat baru. Dia harus keluar dari sini.
Dia mengendap-endap mendekati pintu besi. Pintu itu sangat tebal, jelas tidak bisa didobrak. Ada lubang intip kecil di bagian atas, namun terlalu tinggi untuk melihat keluar. Axel mencoba mendengarkan lagi. Suara-suara dari luar terdengar lebih jelas sekarang, menandakan ada orang yang berjaga tidak jauh dari pintu.
Dia mundur, mengamati ruangan sekali lagi. Matanya menatap ke arah lampu bohlam kotor yang menggantung di sudut. Kabelnya menjuntai dari langit-langit. Mungkin ada cara untuk memutus aliran listrik, menciptakan kekacauan yang bisa dia manfaatkan.
Dengan hati-hati, Axel mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai alat. Pandangannya jatuh pada sebuah batang besi berkarat yang tergeletak di sudut ruangan. Itu mungkin bekas tiang atau pipa. Dia mengambilnya, beratnya lumayan, cukup untuk menjadi senjata atau alat bantu.
Dengan batang besi itu, Axel mencoba mengetuk-ngetuk dinding, mencari bagian yang paling rapuh. Dia tahu ini adalah usaha yang putus asa, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia harus mencoba segalanya.
Tiba-tiba, dia mendengar langkah kaki mendekat. Axel segera bersembunyi di balik tumpukan kotak-kotak kosong yang ada di sudut ruangan. Jantungnya berdebar kencang. Pintu terbuka, dan seorang penjaga masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Penjaga itu, seorang pria bertubuh besar dengan tato di leher, meletakkan nampan di lantai dan melihat sekeliling. Dia tidak menyadari bahwa Axel sudah terlepas dari ikatannya. Penjaga itu kemudian berbalik untuk meninggalkan ruangan.
Ini adalah kesempatannya!
Axel melompat keluar dari persembunyiannya. Dalam gerakan cepat dan terlatih, dia membanting batang besi yang dipegangnya ke arah belakang kepala penjaga itu. Pria itu mengerang, oleng, dan kemudian jatuh tak sadarkan diri.
Axel tidak membuang waktu. Dia meraih kunci yang tergantung di ikat pinggang penjaga itu dan segera membuka pintu. Udara dingin malam langsung menyapa wajahnya. Dia berada di sebuah gudang yang sangat besar, penuh dengan tumpukan barang-barang dan mesin-mesin tua. Gudang itu remang-remang, hanya diterangi oleh beberapa lampu sorot yang redup.
Dia bisa mendengar suara percakapan dari kejauhan, mungkin dari pos penjagaan utama. Axel harus bergerak cepat dan tanpa suara. Dia mulai menyusuri celah-celah di antara tumpukan barang, bergerak seperti bayangan.
Gudang itu ternyata sangat luas, dan Axel merasa seperti tersesat di labirin. Dia mencoba mencari pintu keluar, sebuah celah untuk melarikan diri. Setiap suara kecil membuatnya terkesiap, setiap bayangan membuatnya waspada.
Akhirnya, di ujung gudang, dia melihat sebuah pintu gulir yang agak terbuka. Cahaya bulan samar-samar masuk dari celah itu, menandakan kebebasan. Axel mempercepat langkahnya, jantungnya berpacu dengan harapan.
Namun, saat dia hampir mencapai pintu, sebuah suara menggelegar menghentikannya.
"Berhenti di sana!"
Axel berbalik. Beberapa penjaga bersenjata telah muncul dari balik tumpukan barang, senapan mereka teracung ke arahnya. Mereka pasti mendengar suara penjaga yang tak sadarkan diri, atau mungkin ada sensor yang aktif.
Salah satu penjaga menembakkan peringatan ke udara. Suara tembakan itu memecah kesunyian malam, membuat burung-burung di luar beterbangan.
Axel menyadari bahwa melarikan diri secara diam-diam sudah tidak mungkin. Dia harus bertarung. Dengan bekal latihan bela diri yang ia dapatkan selama bertahun-tahun, ia bersiap. Tubuhnya mungkin masih sedikit kaku, tapi semangatnya membara.
Dia melemparkan batang besi yang dipegangnya ke arah lampu sorot terdekat. Lampu itu pecah berkeping-keping, membuat sebagian gudang kembali gelap. Momen kegelapan itu dia manfaatkan untuk melompat, menendang senapan salah satu penjaga, dan menjatuhkannya.
Pertarungan sengit pun pecah di tengah kegelapan gudang. Axel bergerak cepat, memanfaatkan keuntungan gelap dan pengetahuannya tentang titik-titik lemah tubuh manusia. Dia menghindari pukulan, menangkis tendangan, dan membalas dengan serangan balik yang tepat. Dia bukan seorang petarung profesional, tetapi dia punya pengalaman dalam pertahanan diri dan didorong oleh tekad yang kuat.
Satu per satu, penjaga-penjaga itu tumbang. Ada yang pingsan karena pukulan di kepala, ada yang meringis kesakitan karena tendangan di lutut. Axel bergerak seperti kilat, energinya seolah tak terbatas.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Dari pintu utama gudang, lebih banyak lagi penjaga bermunculan, sebagian dari mereka membawa senjata api otomatis. Axel tahu dia tidak bisa menghadapi mereka semua. Dia harus segera keluar.
Dia melihat celah di antara tumpukan peti. Dengan dorongan terakhir, dia menembus celah itu, berlari sekuat tenaga menuju pintu gulir yang sedikit terbuka. Tembakan mulai berderu di belakangnya, peluru-peluru melesat melewati kepalanya.
Dengan napas terengah-engah, Axel berhasil melewati pintu itu. Dia mendapati dirinya berada di luar, di sebuah area terbuka yang dikelilingi pagar tinggi. Di kejauhan, dia bisa melihat lampu-lampu kota. Kebebasan terasa begitu dekat.
Namun, sebuah bayangan tiba-tiba melesat di depannya. Sebuah mobil SUV hitam melaju kencang, menghalangi jalannya. Jendela mobil terbuka, dan Reno menyeringai dari dalam.
"Kau pikir bisa lari dariku, Axel?" teriak Reno, suaranya dipenuhi amarah. "Kau tidak akan pernah lepas dari genggamanku!"
Anak buah Reno yang lain keluar dari mobil, senjata mereka teracung ke arah Axel. Dia terpojok. Tidak ada jalan keluar.
Axel mundur selangkah, napasnya tersengal. Dia sudah berjuang keras, tapi nasib seolah tidak berpihak padanya. Apakah ini akhirnya? Apakah dia akan kembali menjadi tawanan?
Tiba-tiba, dari kegelapan di belakang SUV Reno, sebuah suara melengking memecah keheningan malam. Suara itu adalah sirene polisi!
Reno dan anak buahnya terkejut. Mereka tidak menyangka polisi akan datang. Mereka pasti panik. Axel pun terkejut, siapa yang memanggil polisi? Mungkinkah ada pihak lain yang membantunya?
Di tengah kebingungan itu, Axel melihat kesempatan. Saat perhatian Reno dan anak buahnya terpecah oleh kedatangan polisi, Axel berlari sekuat tenaga ke arah pagar, mencari bagian yang paling rendah.
Reno berteriak murka, "Tangkap dia! Jangan biarkan dia lari!"
Peluru-peluru kembali berderu di sekitar Axel. Dia merasakan perih di bahunya. Sebuah peluru menyerempetnya, namun dia tidak berhenti. Rasa sakit itu justru memicunya untuk berlari lebih cepat.
Dia berhasil melompati pagar. Di sisi lain, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Itu bukan langkah kaki Reno atau anak buahnya. Itu adalah suara polisi.
"Tuan Narendra! Kami datang untuk membantu!" seru seorang polisi.
Axel tidak tahu harus percaya atau tidak. Siapa yang memberitahu polisi? Apakah ini jebakan lain? Namun, dia tidak punya pilihan lain. Dia harus mempercayai mereka.
Dia ambruk di tanah, napasnya terengah-engah. Bahunya terasa nyeri, darah mulai merembes dari luka goresan. Beberapa polisi segera mengerumuninya, membantu mengangkatnya.
Di belakang pagar, Axel bisa melihat Reno dan anak buahnya mencoba melarikan diri. Baku tembak pun terjadi antara polisi dan para penculik. Suasana menjadi kacau.
Axel dibawa menjauh dari lokasi. Di dalam mobil polisi, dia duduk terdiam, napasnya masih terengah-engah. Dia berhasil lolos, setidaknya untuk saat ini. Tapi pertarungan belum berakhir. Reno masih bebas, dan jaring pengkhianatan di perusahaannya masih belum terungkap sepenuhnya.
Axel memejamkan mata, memikirkan kembali semua yang terjadi. Siapa yang memanggil polisi? Apakah ini ada hubungannya dengan pencariannya terhadap "Mentari Kecilnya"? Atau ada pihak lain yang diam-diam memantau pergerakan Reno?
Misteri semakin dalam, namun satu hal yang pasti: Axel Narendra tidak akan menyerah. Dia akan mencari tahu siapa di balik semua ini, menghancurkan jaringan pengkhianatan, dan menemukan gadis masa lalunya. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan Axel tahu, ini akan menjadi pertarungan terberat dalam hidupnya.
Anda Mungkin Juga Suka





